Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Mestinya itu akan menjadi liburan yang menyenangkan dan damai, seandainya saja tak ada cerita-cerita tentang orang-orang yang lenyap, kecelakaan-kecelakaan aneh, bahkan tentang kematian yang sekarang muncul nyaris setiap hari di Prophet. Kadang-kadang Bill dan Mr Weasley membawa pulang kabar bahkan mendengarnya. Mrs Weasley kecewa karena perayaan perayaan ulang tahun keenam belas Harry dirusak leh kabar mengerikan yang dibawa ke pesta dirusak oleh Remus Lupin, yang tampak kurus kering dan muram, rambut cokelatnya banyak ditumbuhi uban di sana-sini, pakaiannya lebih compang-camping dan lebih banyak tambalannya daripada sebelumnya.

“Ada beberapa serangan Dementor lahi,” dia mengumumkan, sementara Mrs weasley mengangsurkan sepotong besar kue ulang tahun kepadanya. “Dan mereka telah menemukan mayat Igor Karkaroff di sebuah gubuk tua di utara. Tanda kegelapan dipasang di atas gubuk itu – yah, terus terang, aku heran dia bertahan hidup bahkan setahun setelah meninggalkan Pelahap Maut. Adik Sirius, Regulus, hanya bisa bertahan beberapa hari, seingatku.”

“Ya,” kata Mrs Weasley, mengernyit “barangkali sebaiknya kita bicara soal la-”

“Apa kau mendengar tentang Florean Fortescue, Remus?” tanya Bill, yang sedang disodori anggur oleh Fleur. “Orang yang punya-”

“-toko es krim di Dwiagon Alley?” Harry menyela dengan perasaan hampa, tak nyaman, di dasar perutnya. “Dia selalu memberiku es krim. Apa yang terjadi padanya?”

“Dibawa dengan paksa, kalau melihat keadaan tokonya.”

“Kenapa?” tanya Ron, sementara Mrs Weasley menatap tajam Bill.

“Siapa yang tahu? Dia pastinya telah membuat mereka merasa terganggu. Dia orang baik, Florean.”

“Bicara soal Diagon Alley,” kata Mr Weasley, “kelihatannya Ollivander telah menghilang.”

“Si pembuat tongkat sihir?” tanya Glinny, tampak kaget.

“Betul. Tokonya kosong. Tak ada tanda-tanda perlawanan. Tak ada yang tahu apakah dia pergi dengan suka rela atau diculik?”

“Tapi tongkat sihir bagaimana kalau orang perlu tongkat sihir?”

“Mereka terpaksa mencari pembuat tongkat sihir yang lain,” kata Lupin. “Namun Ollivander adalah yang terbaik, dan jika pihak lain mendapatkannya, ini tak begitu baik bagi kita.”

Hari berikut setelah perayaan ulang tahun yang suram ini, surat-surat beserta daftar buku mereka tiba dari Hogwarts. Surat Harry ada kejutannya: dia di angkat sebagai Kapten Quidditch.

“Ini memberimu status yang sama dengan prefek!” seru Hermione senga. “Kau bisa memakai kamar mandi spesial kami sekarang, dan segalanya yang lain!”

“Wow, aku ingat waktu Charlie memakai lencana semacam iru, kata Ron, mengamati lencana Harry dengan girang. “Harry, ini cool banget deh, kau kaptenku kalau kau mengizinkan aku masuk tim lagi, tapi, ha ha …”

“Yah, kurasa kita tak bisa lebih lama lagi menunda kunjungan ke Diagon Alley sekarang, setelah kalian menerima ini,” kata Mrs Weasley menghela napas, menatap daftar buku Ron. “Kita pergi hari Sabtu asal ayahmu tidak harus kerja lagi. Aku tak mau ke sana tanpa dia.”

“Mum, apa Mum benar-benar mengira Kau-Tahu-Siapa akan ngumpet di belakang rak buku di Flourish and Blotts?” Ron terkikik.

“Fortescue dan Ollivander pergi berlibur, kan?” kata Mrs Weasley, langsung naik darah. “Kalau kaukira tindakan pengamanan soal main-main, kau boleh tinggal di rumah saja, biar aku yang membelikan keperluanmu”

“Tidak, aku ikut, aku mau lihat tokonya Fred dan George!” kata Ron buru-buru.

“Kalau begitu simpan ide-idemu, sebelum aku memutuskan kau belum cukup dewasa untuk ikut kami!” kata Mrs Weasley berang, menyambar jamnya, yang kzesembilan jarumnya masih menunjuk ke bahaya maut, dan menaruhnya di atas setumpuk handuk yang baru dicuci. “Dan itu berlaku untuk kembali ke Hogwarts juga!”

Ron menoleh dan memandang Harry tak percaya ketika ibunya mengangkat keranjang cucian beserta jam yang bergoyang mau jatuh dan melesat meninggalkan ruangan.

“Astaga … bahkan bergurau pun tak bisa lagi di sini …”

Namun Ron berhati-hati agar tidak berkomentar sembrono lagi tentang Voldemort selama beberapa hari berikutnya. Hari Sabtu tiba tanpa ledakan kemarahan lagi dari Mrs Weasley, walaupun dia tampak sangat tegang ketika sarapan. Bill, yang akan tinggal di rumah bersama Fleur (Hermione dan Ginny senang sekali karenanya), mengangsurkan satu kantong-uang berisi penuh kepada Harry di seberang meja.

“Jatahku mana?” Ron langsung menuntut, matanya melebar.

“Itu uang Harry, idiot,” kata Bill. “Aku mengambilkannya dari lemari besimu, Harry, karena perlu kira-kira lima jam bagi masyarakat umum untuk mengambil uangnya saat ini, para goblin meningkatkan keamanan secara gila-gilaan. Dua hari yang lalu Arkie Philpott harus mengalami Detektor Kejujuran ditusukkan ke … yah, percayalah, cara ini jauh lebih mudah.”

“Trims, Bill,” kata Harry, mengantongi emasnya.

“Dia memang bijaksana,” dengkur Fleur memuja, mengelus hidung Bill. Ginny berlagak muntah ke dalam serealnya di belakang Fleur. Harry tersedak cornflake-nya dan Ron menggebuk punggungnya.

Hari itu mendung dan suram. Salah satu mobil khusus Kementerian Sihir, yang pernah Harry naiki sekali sebelumnya, menunggu mereka di halaman depan ketika mereka muncul dari dalam rumah, seraya memakai mantel mereka.

“Bagus Dad bisa meminjam ini lagi,” kata Ron senang, meregangkan tubuh dengan nikmat selagi mobil meluncur mulus meninggalkan The Burrow.

Bill dan Fleur melambai dari jendela dapur. Ron, Harry, Hermione, dan Ginny duduk nyaman di tempat duduk belakang yang lebar.

“Jangan terbiasa dengan ini, ini hanya karena Harry,” kata Mr Weasley menoleh. Dia dan Mrs Weasley di depan, bersama sopir Kementerian. Tempat duduk depan telah memanjang menjadi mirip sofa dua tempat duduk. “Dia diberi status pengamanan top. Dan kita akan bergabung dengan keamanan tambahan di Leaky Cauldron juga.”

Harry tidak berkata apa-apa. Dia tak begitu senang berbelanja sementara dikelilingi sebatalion Auror. Dia telah memasukkan Jubah Gaib ke dalam ranselnya dan merasa bahwa, jika itu sudah cukup baik bagi Dumbledore, harusnya itu cukup baik juga untuk Kementerian, meskipun setelah dipikir lagi, dia tak yakin apakah Kementerian tahu tentang Jubah-nya.

“Nah, sudah sampai,” kata si pengemudi, untuk pertama kalinya bicara, ketika dia melambat di Charing Cross Road dan berhenti di depan Leaky Cauldron. Mengejutkan karena rasanya baru sebentar. “Saya disuruh menunggu kalian. Berapa lama kira-kira?”

“Sekitar dua jam, kurasa,” kata Mr Weasley. “Ah, bagus, dia sudah ada!”

Harry meniru Mr Weasley, mengintip dari jendela. Hatinya melonjak gembira. Tak ada Auror yang menunggu di depan losmen. Alih-alih Auror, yang ada sosok raksasa Rubeus Hagrid yang berjenggot-hitam, pengawas satwa liar di Hogwarts, memakai mantel panjang dari kulit berang-berang, berseri-seri melihat wajah Harry dan tak menyadari pandangan kaget para Muggle yang lewat.

“Harry!” suaranya menggelegar, menyambar Harry dalam pelukan meremukkan-tulang begitu Harry turun dari mobil. “Buckbeak-Witherwings, maksudku kau harus lihat dia, Harry, dia senang sekali bisa bebas di udara terbuka”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.