Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Tampangnya agak mirip beruang laut dan dia dulunya Kepala Asrama Slytherin,” kata Harry. “Ada yang tidak beres, Hermione?”

Hermione mengamatinya seakan mengharap gejala-gejala aneh akan muncul setiap saat. Dia buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi senyum kurang meyakinkan.

“Tidak, tentu saja tidak! Jadi, apakah kelihatannya Slughorn akan jadi guru yang baik?”

“Entahlah,” kata Harry. “Dia tak bisa lebih parah daripada Umbridge, kan?”

“Aku tahu orang yang lebih parah daripada Umbridge,” terdengar suara dari pintu. Adik bungsu Ron berjalan masuk dengan lesu, tampak kesal. “Hai, Harry.”

“Kenapa kau?” tanya Ron.

“Dia tuh,” kata Ginny, mengenyakkan diri di tempat tidur Harry. “Dia membuatku sebal.”

“Kenapa lagi dia?” tanya Hermione penuh simpati.

“Caranya ngomong denganku itu lho kalian akan mengira umurku tiga tahun!”

“Aku tahu,” kata Hermione, merendahkan suaranya. “Dia menganggap dirinya penting sih.”

Harry tercengang mendengar Hermione bicara tentang Mrs Weasley seperti ini dan tak bisa menyalahkan Ron yang berkata berang, “Tidak bisakah kalian berdua tidak menjelek-jelekkannya lima detik saja?”

“Oh, bagus, bela dia,” bentak Ginny. “Kami semua tahu kau tak puas-puasnya memandangnya.”

Sungguh komentar aneh kalau itu untuk ibu Ron. Merasa ada yang tak diketahuinya, Harry berkata, “Siapa yang kalian?”

Namun pertanyaannya sudah terjawab sebelum dia menyelesaikannya. Pintu kamar terbuka lagi dan Harry secara refleks menarik bedcover sampai ke dagunya, keras sekali sampai Hermione dan Ginny merosot dari tempat tidur ke lantai.

Seorang gadis berdiri di pintu. Gadis yang kecantikannya luar biasa sehingga kamar rasanya jadi kehilangan udara. Dia jangkung dan langsing dengan rambut pirang panjang dan tampaknya memancarkan sinar lembut keperakan. Menyempurnakan penampilan ini, dia membawa nampan penuh sarapan.

“Arry” katanya dengan suara serak-serak basah. “Sudah kelewat lama!”

Ketika dia melangkahi ambang pintu menuju Harry, tampaklah Mrs Weasley berjalan di belakangnya, kelihatan agak jengkel.

“Tak perlu membawa naik nampan itu, aku baru saja akan membawanya.”

“Tidak apa-apa,” kata Fleur Delacour, meletakkan nampan itu di atas pangkuan Harry dan kemudian menunduk mengecupnya di pipi kanan dan kiri. Harry merasa tempat yang telah disentuh bibirnya terbakar. “Saya ingin bertemu dengannya. Kau ingat adikku, Gabrielle? Dia tak pernah berhenti bicara tentang ‘Arry Potter´. Dia akan senang sekali bertemu kau lagi.”

“Oh … dia di sini juga?” suara Harry parau.

“Tidak, tidak, anak bodoh,” kata Fleur dengan tawa merdu. “Maksudku musim panas tahun depan, kalau kami tapi tidakkah kau tahu?”

Mata birunya yang besar melebar dan dengan pandangan mencela dia menatap Mrs Weasley, yang berkata, “Kami belum sempat memberitahunya.”

Fleur kembali memandang Harry, mengayunkan rambutnya yang keperakan sehingga mengenai wajah Mrs Weasley.

“Bill dan aku akan menikah!”

“Oh,” kata Harry bego. Dia mau tak mau melihat bagaimana Mrs Weasley, Hermione, dan Ginny dengan sengaja saling mengalihkan pandang. “Wow. Er-selamat ya!”

Fleur membungkuk dan mengecupnya lagi.

“Bill sibuk sekali saat ini, bekerja keras, dan aku cuma kerja paro-waktu di Gringotts untuk melatih bahasa Inggrisku, jadi dia membawaku ke sini selama beberapa ‘ari agar bisa berkenalan dengan keluarganya. Aku senang sekali waktu mendengar kau akan datang tak banyak yang bisa dikerjakan di sini, kecuali kalau kau senang masak dan senang ayam! Nahselamat sarapan, ‘Arry!”

Dengan kata-kata tersebut dia berbalik dengan anggun dan kelihatannya seperti melayang keluar kamar, menutup pintunya pelan di belakangnya.

Mrs Weasley mengeluarkan suara yang kedengarannya seperti “tchah!”

“Mum membencinya,” kata Ginny pelan.

“Aku tidak membencinya,” kata Mrs Weasley dalam bisikan galak. “Aku hanya menganggap mereka terburu-buru bertunangan, cuma itu.”

“Mereka sudah saling kenal selama setahun,” kata Ron, yang anehnya tampak grogi dan menatap hampa pintu yang tertutup.

“Yah, itu tidak lama! Aku tahu kenapa itu terjadi, tentu saja. Ini semua gara-gara ketidakpastian dengan munculnya kembali Kau-Tahu-Siapa, orang-orang mengira mereka bisa mati besok, jadi mereka terburu-buru membuat segala macam keputusan yang normalnya perlu waktu untuk dipertimbangkan dulu. Ini sama saja dengan waktu terakhir kali dia berkuasa, orang-orang kawin lari di mana-mana”

“Termasuk Mum dan Dad,” kata Ginny licik.

“Ya, tapi ayahmu dan aku memang ditakdirkan berjodoh, apa gunanya menunggu?” kata Mrs Weasley. “Sedangkan Bill dan Fleur … yah … apa sih persamaan mereka? Bill pekerja keras dan orang yang sederhana, sedangkan dia …”

“Parah,” kata Ginny, mengangguk. “Tapi Bill tidak begitu sederhana sih. Dia pemunah-kutukan kan, dia menyukai sedikit petualangan, sedikit glamour … kurasa itulah sebabnya dia jatuh hati pada si Dahak.”

“Jangan panggil dia begitu lagi, Ginny,” kata Mrs Weasly tajam, sementara Harry dan Hermione tertawa. “Yah, aku sebaiknya turun … makan telurmu selagi masih hangat, Harry.”

Tampak lelah, Mrs Weasley meninggalkan kamar itu. Ron masih tampak seperti orang yang sedikit mabuk; dia mencoba menggelengkan kepala, seperti anjing yang berusaha mengeluarkan air dari telinganya.

“Apakah kau tidak menjadi terbiasa dengannya kalau dia tinggal serumah denganmu?” Harry bertanya.

“Yah, memang sih,” kata Ron, “tapi kalau dia mendadak muncul, seperti baru saja …”

“Menyedihkan;” kata Hermione geram, melangkah sejauh mungkin dari Ron dan berbalik menghadapinya dengan tangan bersedekap setelah dia tiba di dinding.

“Kau tidak menghendaki dia di sini selamanya, kan?” Ginny menanyai Ron tak percaya. Ketika Ron hanya mengangkat bahu, Ginny berkata, “Mum akan menghentikannya kalau bisa, aku berani taruhan.”

“Bagaimana caranya?” tanya Harry.

“Dia tak hentinya berusaha mengundang Tonkzs makan malam. Kurasa dia berharap Bill akan tertarik pada Tonks alih-alih si Dahak. Kuharap begitu. Aku lebih suka punya kakak ipar Tonks.”

“Yeah, pasti berhasil,” sindir Ron. “Dengar, tak ada cowok waras yang akan naksir Tonks kalau ada Fleur. Maksudku, penampilan Tonks oke kalau dia tidak melakukan hal-hal konyol pada rambut dan hidungnya, tapi …”

“Dia jauh lebih menyenangkan daripada Dahak,” kata Ginny.

“Dan dia lebih pintar, dia Auror!” kata Hermione dari sudut.

“Fleur tidak bodoh, dia cukup hebat untuk ikut Turnamen Triwizard,” kata Harry.

“Masa kau juga sih!” kata Hermione getir.

“Kurasa kau suka cara si Dahak memanggilmu ‘Arry, kan?” tanya Ginny mencemooh.

“Tidak,” kata Harry, menyesal sudah bicara. “Aku cuma bilang Dahak-maksudku, Fleur …”

“Aku jauh lebih suka punya kakak ipar Tonks,” kata Ginny. “Paling tidak dia suka tertawa.”

“Belakangan ini dia tidak banyak tertawa,” kata Ron. “Setiap kali aku melihatnya, dia makin seperti Myrtle Merana.”

“Itu tidak adil,” bentak Hermione. “Dia belum bisa mengatasi apa yang terjadi … kau tahu … maksudku, dia kan sepupunya!”

Hati Harry mencelos. Mereka akhirnya tiba pada topik Sirius. Dia mengambil garpu dan mulai memasukkan telur aduk ke dalam mulutnya, berharap mengelakkan ajakan bergabung dalam pembicaraan ini.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.