Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Wajar saja, saat itu dia mengira kampanye yang lama dan ketegangan pemilihan telah membuatnya sinting. Dia ngeri sekali ada lukisan berbicara kepadanya, ketika ada orang yang menyatakan diri sebagai penyihir melompat keluar dari perapian dan menjabat tangannya. Dia bungkam seribu bahasa selama Fudge menjelaskan bahwa ada penyihir yang masih tinggal secara rahasia di seluruh dunia, dan meyakinkan bahwa dia tak perlu memusingkan hal ini karena Kementerian Sihir bertanggung jawab untuk seluruh komunitas sihir dan mencegah populasi non-sihir tahu soal adanya penyihir ini. Ini, kata Fudge, pekerjaan sulit yang mencakup segala sesuatu dari pengaturan soal pertanggung jawaban penggunaan sapu terbang sampai mengendalikan populasi naga (Perdana Menteri ingat dia mencengkeram meja mencari pegangan agar tak jatuh mendengar ini). Fudge kemudian menepuk bahu Perdana Menteri yang masih kaget dengan gaya kebapakan.

“Tak perlu kuatir,” katanya, “kemungkinan Anda tak akan bertemu saya lagi. Saya hanya akan mengganggu Anda jika ada sesuatu yang benar-benar serius terjadi di tempat kami, sesuatu yang akan berpengaruh terhadap Muggle—populasi non-sihir, menurut hemat saya. Kalau tidak, kita hidup sendiri-sendiri dalam damai. Dan harus saya katakan, Anda menerima ini jauh lebih baik daripada orang yang Anda gantikan. Dia berusaha melempar saya keluar dari jendela, mengira saya ini olok-olok yang dikirim oleh partai lawan.”

Mendengar ini, akhirnya Perdana Menteri bisa bicara lagi.

“Jadi, Anda bukan olok-olok?”

Itu harapannya yang terakhir, harapan dalam keputusasaan.

“Bukan,” kata Fudge lembut. “Bukan, sayang bukan. Lihat.”

Dan dia mengubah cangkir teh Perdana Menteri menjadi tikus kecil.

“Tapi”, kata Perdana Menteri menahan napas, mengawasi cangkirnya mengunyah-ngunyah, “tetapi kenapa—kenapa tak ada yang memberitahu saya–?”

“Menteri Sihir hanya memperlihatkan diri kepada Perdana Menteri Muggle yang sedang menjabat,” kata Fudge, menyelipkan kembali tongkat sihirnya ke dalam jaketnya. “Kami menganggap itu cara terbaik untuk menjaga kerahasiaan.”

“Tapi kalau begitu,” Perdana Menteri mengembik, “kenapa tak ada mantan perdana menteri yang memperingatkan saya–?”

Mendengar ini, Fudge betul-betul tertawa.

“Perdana Menteri yang baik, apakah Anda akan memberitahu orang lain?”

Masih terkekeh, Fudge melemparkan sejumput bubuk ke dalam perapian, melangkah ke dalam lidah api hijau-zamrud, dan menghilang dengan bunyi deru. Perdana Menteri berdiri tertegun, tak bergerak, dan sadar bahwa dia tak akan pernah, seumur hidupnya, berani menyebut-nyebut pertemuan ini kepada orang lain, karena siapa sih di dunia ini yang akan mempercayainya?

Keterkejutannya perlu beberapa waktu untuk memudar. Selama beberapa waktu dia berusaha meyakinkan diri bahwa Fudge betul-betul halusinasi yang disebabkan oleh kekurangan tidur selama kampanye pemilihan yang sangat meletihkan. Dalam usaha sia-sia untuk menyingkirkan semua yang mengingatkannya akan pertemuan yang membuat tidak nyaman ini, dia memberikan tikus kecilnya kepada keponakannya yang senang sekali dan menginstruksikan kepada sekretaris pribadinya untuk menurunkan lukisan laki-laki kecil jelek yang telah mengumumkan kedatangan Fudge. Meskipun demikian, betapa kecewanya Perdana Menteri, lukisan itu ternyata tak mungkin dipindahkan. Ketika beberapa tukang kayu, satu atau dua ahli bangunan, seorang sejarawan seni, dan ketua bendahara semuanya telah mencoba tanpa hasil mencopot lukisan itu dari dinding, Perdana Menteri menyerah dan hanya berharap lukisan itu tetap bergeming dan tak bersuara selama sisa masa jabatannya. Kadang-kadang dia yakin sekali melihat dari sudut matanya penghuni lukisan itu menguap atau menggaruk hidungnya; bahkan, sekali atau dua kali, dia berjalan keluar begitu saja dari lukisannya dan hanya meninggalkan sehelai kanvas berwarna cokelat-lumpur. Meskipun demikian Perdana Menteri telah melatih diri agar tidak terlalu sering melihat lukisan itu, dan selalu memberitahu dirinya dengan tegas bahwa matanya mempermainkannya jika sesuatu seperti ini terjadi.

Kemudian, tiga tahun yang lalu, pada malam yang mirip sekali dengan malam ini, Perdana Menteri sedang sendirian di dalam kantornya ketika lukisan itu sekali lagi mengumumkan Fudge sebentar lagi akan datang. Fudge muncul begitu saja dari perapian, basah kuyup dan dalam keadaan cukup panik. Sebelum Perdana Menteri sempat bertanya kenapa air menetes-netes dari pakaiannya membasahi karpetnya, Fudge sudah mulai berteriak-teriak tentang penjara yang belum pernah didengar Perdana menteri, seorang laki-laki bernama “Serius” Black, sesuatu yang kedengarannya seperti Hogwarts dan seorang anak laki-laki bernama Hary Potter, tak satu pun masuk akal bagi Perdana Menteri.

“…Saya baru datang dari Azkaban,” kata Fudge terengah, menuangkan cukup banyak air dari pinggiran topi bowlernya ke dalam sakunya. “Di tengah Laut Utara, Anda tahu, pelarian yang sangat gawat…para Dementor gempar—“dia bergidik “—belum pernah ada yang berhasil kabur dari sana. Bagaimanapun juga, saya harus datang kepada Anda, Perdana menteri. Black diketahui sebagai pembunuh Muggle dan mungkin merencanakan bergabung dengan Anda-Tahu-Siapa!” Dia menatap Perdana Menteri tanpa harapan selama beberapa saat, kemudian berkata, “Nah, duduklah, duduklah, sebaiknya saya beritahu Anda…silahkan minum wiski…”

Perdana Menteri agak sebal disuruh duduk di kantornya sendiri, apalagi ditawari wiskinya sendiri, namun dia toh duduk juga. Fudge telah mencabut tongkat sihirnya, menyihir dua gelas penuh cairan kekuningan dari udara kosong, mendorong salah satunya ke tangan Perdana Menteri, dan menarik kursi.

Fudge berbicara selama lebih dari satu jam. Dia menolak menyebutkan satu nama tertentu, dan alih-alih menyebutnya dia menuliskannya pada secarik perkamen, yang kemudian disorongkannya ke tangan Perdana Menteri yang bebas-wiski. Ketika akhirnya Fudge berdiri untuk pergi, Perdana Menteri juga berdiri.

“Jadi menurut Anda…” dia menyipitkan mata membaca nama di tangan kirinya, “Lord Vol—”

“Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut!” gertak Fudge.

“Maaf…menurut Anda, Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut nasih hidup, kalau begitu?”

“Yah, kata Dumbledore begitu,” kata Fudge, seraya mengancingkan mantel bergarisnya di bawah dagunya, ´tapi kami belum pernah berhasil menemukannya. Jika Anda tanya pendapat saya, dia tidak berbahaya kecuali dia punya pendukung. Jadi, Black-lah yang harus kita cemaskan. Nah, saya harap kita tidak bertemu lagi, Perdana Menteri! Selamat malam!”

Nyatanya mereka bertemu lagi. Kurang dari setahun yang lalu, Fudge yang tampak kacau muncul begitu saja entah dari mana Ruang Kabinet untuk memberitahu Perdana Menteri bahwa ada gangguan dalam Piala dunia Kwidditch (kedengarannya begitu) dan bahwa beberapa Muggle “terlibat”, namun Perdana Menteri diminta agar tidak khawatir, fakta bahwa Tanda Kau-Tahu-Siapa terlihat lagi tidka berarti apa-apa. Fudge yaakin itu insiden yang tak ada hubungannya dan Kantor Hubungan Muggle sedang menangani semua modifikasi memori sementara mereka berbicara itu.

“Oh, dan saya hampir lupa,” Fudge menambahkan. “Kami mengimpor tiga naga asing dan satu sphinx untuk Turnamen Triwizard, cukup rutin, tapi Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk-Makhluk Gaib memberitahu saya, dalam buku peraturan tercantum bahwa kami harus memberitahu Anda kalau kami memasukkan makhluk-makhluk sangat berbahaya ke dalam negara ini.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.