Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Harry mendapat kesan kata-kata itu mengejutkan Slughorn sendiri; dia tampak terguncang sesaat. Kemudian dia mengangkat bahu.

“Apa boleh buat … penyihir bijaksana harus berhati-hati dalam situasi seperti ini. Gampang saja Dumbledore bicara, tapi menjadi guru di Hogwarts sekarang ini sama saja dengan menyatakan secara terbuka bahwa aku berpihak kepada. Orde Phoenix! Dan walaupun aku yakin mereka sangat mengagumkan dan pemberani dan segalanya yang baik-baik, secara pribadi aku tidak suka akan tingginya tingkat kematiannya.”

“Anda tidak harus bergabung dengan Orde untuk mengajar di Hogwarts,” kata Harry, yang tak bisa mencegah nada mencemooh dalam suaranya. Sulit bersimpati dengan kehidupan nyaman Slughorn jika dia teringat Sirius, meringkuk dalam gua, dan hidup dengan makan tikus. “Sebagian besar guru bukan anggota Orde dan tak seorang pun dari mereka terbunuh yah, kecuali kalau Anda memperhitungkan Quirrell, dan dia layak menerima kematiannya mengingat dia bekerjasama dengan Voldemort.”

Harry yakin Slughorn termasuk penyihir yang tak tahan mendengar nama Voldemort disebut, dan dia tidak dikecewakan. Slughorn bergidik dan menguak memprotes, yang diabaikan Harry.

“Saya kira staf Hogwarts lebih aman daripada kebanyakan orang lain karena Dumbledore adalah kepala sekolahnya; bukankah beliau satu-satunya yang ditakuti Voldemort?” Harry melanjutkan.

Slughorn menatap kosong selama beberapa saat; tampaknya dia memikirkan kata-kata Harry.

“Ya, memang benar bahwa Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut tidak pernah mencari perkara dengan Dumbledore,” gumamnya enggan. “Dan kurasa orang tak bisa membantah bahwa karena aku tidak bergabung menjadi Pelahap Maut, Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut tak bisa menganggapku teman … Dalam hal ini, aku mungkin lebih aman kalau sedikit lebih dekat dengan Albus … Aku tak bisa berpurapura bahwa kematian Amelia Bones tidak membuatku terguncang … kalau dia, dengan kontak-kontak dan perlindungan dari Kementerian …”

Dumbledore kembali memasuki ruangan dan Slughorn terlonjak, seakan dia lupa Dumbledore ada di rumah itu.

“Oh, kau, Albus,” katanya. “Kau lama sekali. Sakit perut?”

“Tidak, aku cuma membaca majalah-majalah Muggle,” kata Dumbledore. “Aku suka sekali motif-motif rajutan. Nah, Harry, kita telah menyalahgunakan keramahan Horace cukup lama, kurasa sudah waktunya kita pulang.”

Sama sekali tak segan mematuhi ajakan ini, Harry langsung melompat berdiri. Slughorn tampak terkejut.

“Kalian mau pulang?”

“Ya, betul. Kurasa aku tahu kalau aku kalah.”

“Kalah …?”

Slughorn tampak gelisah. Dia memutar-mutar ibu jari tangannya yang gemuk dan resah ketika Dumbledore mengancingkan mantel bepergiannya dan Harry menarik ritsleting jaketnya.

“Yah, sayang kau tidak menginginkan pekerjaan itu, Horace,” kata Dumbledore, mengangkat tangannya yang tak terluka memberi salut selamat tinggal. “Hogwarts akan senang sekali melihatmu kembali. Walaupun tingkat keamanan Hogwarts sangat diperketat, kau selalu boleh datang berkunjung, kalau kau mau.”

“Ya … kau … baik sekali …”

“Selamat tinggal, kalau begitu.”

“Bye,” kata Harry.

Mereka baru tiba di pintu depan ketika terdengar teriakan dari belakang mereka.

“Baik, baik, aku mau!”

Dumbledore menoleh dan melihat Slughorn berdiri menahan napas di pintu ruang duduk.

“Kau bersedia meninggalkan pensiunmu?”

“Ya, ya,” kata Slughorn tak sabar. “Aku pasti sinting, tapi ya.”

“Bagus sekali,” kata Dumbledore berseri-seri. “Kalau begitu, Horace, kita akan bertemu lagi pada tanggal satu September.”

“Ya, kita pasti bertemu lagi,” gerutu Slughorn.

Ketika mereka sedang berada di jalan setapak, suara Slughorn mengejar mereka. “Aku minta kenaikan gaji, Dumbledore!”

Dumbledore tertawa kecil. Pintu pagar menutup di belakang mereka dan mereka menuruni bukit menembus kabut gelap yang melayang-layang.

“Bagus sekali, Harry,” kata Dumbledore.

“Saya tidak melakukan apa-apa,” Harry keheranan.

“Oh ya, kau melakukan sesuatu. Kau menunjukkan kepada Horace betapa banyak keuntungan yang diperolehnya dengan kembali ke Hogwarts. Kau menyukainya?”

“Er …”

Harry tak yakin apakah dia menyukai Slughorn atau tidak. Menurutnya Slughorn cukup menyenangkan, tapi dia tampaknya juga sok dan kendatipun mengatakan sebaliknya, kelewat heran bahwa orang kelahiran-Muggle bisa jadi penyihir hebat.

“Horace,” kata Dumbledore, membebaskan Harry dari tugas menyebutkan semua itu, “senang hidup nyaman. Dia juga senang berada bersama para penyihir terkenal, sukses, dan berkuasa. Dia menikmati perasaan bahwa dia memengaruhi orang-orang ini. Dia sendiri tak pernah ingin duduk di tahta; dia memilih duduk di kursi belakang lebih banyak ruang untuk melebarkan sayap, soalnya. Dia dulu selalu punya murid favorit di Hogwarts, kadang karena ambisi atau otak mereka, kadang karena pesona atau bakat mereka, dan dia punya kecakapan luar bias, untuk memilih mereka yang nantinya akan menonjol dalam berbagai bidang mereka. Horace membentuk semacam klub bagi para murid favoritnya, dengan dia sendiri di pusatnya, saling memperkenalkan mereka, menjalin kontak berguna di antara para anggotanya, dan selalu menuai keuntungan sebagai imbalannya, entah sekotak gratis permen nanas favoritnya atau kesempatan untuk merekomendasikan anggota yunior berikutnya ke Kantor Hubungan Goblin.”

Di benak Harry mendadak tergambar jelas seekor labah-labah besar gemuk, merajut jaring di sekitarnya, menarik benang di sana-sini untuk menarik lalat gemuk dan segar sedikit lebih dekat.

“Semua ini kuceritakan kepadamu,” Dumbledore melanjutkan, “bukan agar kau tidak menyukai Horace atau seperti sepantasnya kita sekarang memanggilnya, Profesor Slughorn tetapi untuk membuatmu waspada. Tak diragukan lagi dia akan berusaha mengoleksimu, Harry. Kau akan menjadi permata koleksinya: Anak yang Bertahan Hidup … atau, seperti panggilan mereka untukmu sekarang, Sang Terpilih.”

Mendengar kata-kata ini, rasa dingin yang tak ada hubungannya dengan kabut di sekitar mereka, menjalari Harry. Dia jadi ingat kata-kata yang didengarnya beberapa minggu yang lalu, kata-kata yang punya makna khusus dan mengerikan baginya.

Yang satu tak bisa hidup sementara yang lain bertahan…

Dumbledore telah berhenti berjalan, di depan gereja yang tadi mereka lewati.

Di sini cukup, Harry. Silakan pegang lenganku.” Kali ini Harry sudah siap ber-Apparate, namun tetap saja merasa tak nyaman. Ketika tekanan menghilang dan dia sudah bisa bernapas lagi, dia berdiri di sebuah jalan pedesaan di sebelah Dumbledore dan memandang ke siluet miring bangunan favoritnya nomor dua di dunia: The Burrow. Kendati perasaan takut baru saja melandanya, semangatnya mau tak mau bangkit melihat rumah itu. Ron ada di situ dan juga Mrs Weasley, yang bisa memasak lebih lezat daripada siapa pun yang dikenalnya …

“Kalau kau tak keberatan, Harry,” kata Dumbledore, ketika mereka melewati pintu pagar, “aku mau bicara denganmu sebelum kita berpisah. Berdua saja. Mungkin di dalam situ?”

Dumbledore menunjuk bangunan batu tak terpelihara yang sebetulnya kakus di luar rumah, tapi kini digunakan keluarga Weasley untuk menyimpan sapu mereka. Agak bingung, Harry mengikuti Dumbledore melewati pintunya yang berderit, masuk ke dalam ruangan yang sedikit lebih kecil dari ukuran lemari rata-rata. Dumbledore menyalakan ujung tongkat sihirnya, sehingga menyala seperti obor, dan menunduk tersenyum kepada Harry.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.