Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Itukah yang dilakukannya?” kata Slughorn. “Perempuan idiot. Aku tak pernah suka padanya.”

Harry tertawa tertahan dan baik Dumbledore maupun Slughorn menoleh menatapnya.

“Aneh ya, hal seperti itu kadang-kadang terjadi,” kata Slughorn.

“Tidak aneh,” kata Harry dingin.

Slughorn memandangnya keheranan.

“Pasti kau mengira aku berprasangka!” katanya. “Tidakz, tidak, tidak! Bukankah sudah kukatakan ibumu salah satu muridku yang paling kufavoriti? Dan ada Dirk Cresswell di tahun sesudah ibumu-sekarang Kepala Kantor Hubungan Goblin – dia juga kelahiran Muggle, murid yang sangat berbakat, dan masih memberiku informasi orang dalam tentang apa yang terjadi di Gringotts!”

Dia melompat-lompat sedikit, tersenyum berpuas diri, dan menunjuk ke banyak pigura foto berkilat di atas lemari hias, masing-masing isinya bergerak-gerak.

“Semua mantan murid, semua ditandatangani. Kaulihat itu, Barnabas Cuffe, editor Daily Prophet, dia selalu tertarik mendengar komentarku tentang berita yang ditampilkan. Dan Ambrosius Flume, pemilik Honeydwukes – selalu kirim sekeranjang permen setiap ulang tahunku, hanya karena aku yang memperkenalkannya kepada Ciceron Harkziss, yang memberinya pekerjaannya yang pertama! Dan di belakang itukau bisa melihatnya kalau kau menjulurkan lehermuperempuan itu Gwenog Jones, kapten Holyhead Harpies tentu … orang heran mendengar aku saling panggil nama depan dengan para Harpies, dan mendapat tiket gratis kapan saja aku menginginkannya!”

Pikiran ini tampak membuatnya sangat senang.

“Dan semua orang ini tahu di mana menemukan Anda, untuk mengirimi Anda macam-macam?” tanya Harry, yang mau tak mau bertanya-tanya dalam hati kenapa para Pelahap Maut belum berhasil melacak Slughorn jika sekeranjang permen, tiket Quidditch, dan para tamu yang mendambakan nasihat dan pendapatnya bisa menemukannya.

Senyum menghilang dari wajah Slughorn secepat darah menghilang dari dindingnya.

“Tentu saja tidak,” katanya, menunduk menatap Harry. “Aku sudah putus hubungan dengan, semua orang selama setahun.”

Harry mendapat kesan kata-kata itu mengejutkan Slughorn sendiri; dia tampak terguncang sesaat. Kemudian dia mengangkat bahu.

“Apa boleh buat … penyihir bijaksana harus berhati-hati dalam situasi seperti ini. Gampang saja Dumbledore bicara, tapi menjadi guru di Hogwarts sekarang ini sama saja dengan menyatakan secara terbuka bahwa aku berpihak kepada Orde Phoenix! Dan walaupun aku yakin mereka sangat mengagumkan dan pemberani dan segalanya yang baik-baik, secara pribadi aku tidak suka akan tingginya tingkat kematiannya.”

“Anda tidak harus bergabung dengan Orde untuk mengajar di Hogwarts,” kata Harry, yang tak bisa mencegah nada mencemooh dalam suaranya. Sulit bersimpati dengan kehidupan nyaman Slughorn jika dia teringat Sirius, meringkuk dalam gua, dan hidup dengan makan tikus. “Sebagian besar guru bukan anggota Orde dan tak seorang pun dari mereka terbunuh-yah, kecuali kalau Anda memperhitungkan Quirrell, dan dia layak menerima kematiannya mengingat dia bekerjasama dengan Voldemort.”

Dumbledore bangkit agak mendadak

“Kau sudah mau pergi?” tanya Slughorn segera, penuh harap.

“Belum, aku minta izin menggunakan kamar mandimu,” kata Dumbledore.

“Oh,” kata Slughorn, tampak jelas kecewa. “Pintu kedua di sebelah kiri di aula itu.”

Dumbledore menyeberangi ruangan. Begitu pintu tertutup di belakangnya, suasana jadi sunyi. Selewat beberapa saat Slughorn bangkit berdiri, namun tampak tak yakin mau melakukari apa. Dia melirik Harry secara sembunyi-sembunyi, kemudian berjalan ke perapian dan berdiri membelakanginya, menghangatkan bagian belakang tubuhnya yang lebar.

“Jangan dikira aku tak tahu kenapa dia mengajakmu,” katanya mendadak.

Harry hanya menatap Slughorn. Mata Slughorn yang berair melewati bekas luka Harry, kali ini menandang sisa wajahnya.

“Kau mirip sekali ayahmu.”

“Yah, banyak yang bilang begitu,” kata Harry.

“Kecuali matamu. Matamu seperti-”

“Mata ibu saya, yeah.” Harry sudah mendengarnya kelewat sering sampai dia bosan.

“Humph. Ya. Sebagai guru kita tidak boleh punya favorit, tentu saja, tapi dia salah satu murid favoritku. Ibumu,” Slughorn menambahkan, menjawab pandanganya Harry. “Lily Evans. Salah satu yang terpintar yang pernah kuajar. Periang, kau tahu. Gadis yang sangat menarik. Berkali-kali kukatakan kepadanya, dia seharusnya di asramaku. Jawaban yang kudapat biasanya sangat kurang ajar.”

“Yang mana asrama Anda?”

“Aku Kepala Asrama Slytherin,” kata Slughorn. “Oh, sudahlah,” dia meneruskan buru-buru, melihat ekspresi di wajah Harry dan menggoyangkan jari gemuk pendek ke arahnya, “jangan menyalahkanku karena itu! Kau Gryffindor seperti dia, kukira? Ya, biasanya menurun dalam keluarga. Tapi tidak selalu. Pernah dengar tentang Sirius Black? Pastilah beberapa tahun belakangan ini dia muncul di koran-koran meninggal beberapa minggu lalu-”

Rasanya ada tangan tak kelihatan membetot isi perut Harry dan mencengkeramnya kuat-kuat.

“Nah, dia sobat ayahmu di sekolah. Seluruh keluarga Black masuk asramaku, tapi Sirius masuk Gryffindor! Sayang dia anak berbakat. Aku mendapatkan Regulus, adiknya, ketika dia masuk Hogwarts, tapi aku akan lebih senang mendapatkan keduanya.”

Dia kedengaran seperti kolektor antusias yang kalah dalam lelang. Tampak tenggelam dalam kenangan, dia memandang dinding di seberangnya, bergerak-gerak di tempat untuk memastikan seluruh punggungnya kebagian panas yang merata.

“Ibumu kelahiran Muggle, memang. Aku tak percaya ketika baru tahu. Kukira dia berdarah-murni, dia pintar sekali.”

“Salah seorang sahabat saya kelahiran-Muggle,” kata Harry, “dan dia yang paling pintar dalam angkatan kami.”

“Aneh ya, hal seperti itu kadang-kadang terjadi,” kata Slughorn.

“Tidak aneh,” kata Harry dingin.

Slughorn memandangnya keheranan.

“Pasti kau mengira aku berprasangka!” katanya. “Tidak, tidak, tidak! Bukankah sudah kukatakan ibumu salah satu muridku yang paling kufavoriti? Dan ada Dirk Cresswell di tahun sesudah ibumu sekarang Kepala Kantor Hubungan Goblin dia juga kelahiran Muggle, murid yang sangat berbakat, dan masih memberiku informasi orang dalam tentang apa yang terjadi di Gringotts!”

Dia melompat-lompat sedikit, tersenyum berpuas diri, dan menunjuk ke banyak pigura foto berkilat di atas lemari hias, masing-masing isinya bergerak-gerak.

“Semua mantan murid, semua ditandatangani. Kaulihat itu, Barnabas Cuffe, editor Daily Prophet, dia selalu tertarik mendengar komentarku tentang berita yang ditampilkan. Dan Ambrosius Flume, pemilik Honeydukes selalu kirim sekeranjang permen setiap ulang tahunku, hanya karena aku yang memperkenalkannya kepada Ciceron Harkiss, yang memberinya pekerjaannya yang pertama! Dan di belakang itu kau bisa melihatnya kalau kau menjulurkan lehermu perempuan itu Gwenog Jones, kapten Holyhead Harpies tentu … orang heran mendengar aku saling panggil nama depan dengan para Harpies, dan mendapat tiket gratis kapan saja aku menginginkannya!”

Pikiran ini tampak membuatnya sangat senang.

“Dan semua orang ini tahu di mana menemukan Anda, untuk mengirimi Anda macam-macam?” tanya Harry, yang mau tak mau bertanya-tanya dalam hati kenapa para Pelahap Maut belum berhasil melacak Slughorn jika sekeranjang permen, tiket Quidditch, dan para tamu yang mendambakan nasihat dan pendapatnya bisa menemukannya.

Senyum menghilang dari wajah Slughorn secepat darah menghilang dari dindingnya.

“Tentu saja tidak,” katanya, menunduk menatap Harry. “Aku sudah putus hubungan dengan semua orang selama setahun.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.