Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Setelah memandang lukisan ini sekali, Profesor McGonagall membuat gerakan aneh seolah menguatkan diri, kemudian berjalan mengitari meja untuk menghadapi Harry, wajahnya tegang dan berkerut.

“Harry,” katanya, “aku ingin tahu apa yang dilakukan kau dan Profesor Dumbledore malam ini ketika kalian meninggalkan sekolah.”

“Saya tidak bisa memberitahu Anda, Profesor,” kata Harry. Dia sudah menyangka akan mendapat pertanyaan ini dan sudah menyiapkan jawabannya. Disinilah, di dalam ruangan ini, Dumbledore memberitahunya bahwa dia tak boleh menyampaikan isi pelajaran mereka kepada siapa pun, kecuali Ron dan Hermione.

“Harry, itu mungkin penting,” kata Profesor McGonagall.

“Memang penting,” kata Harry, “sangat, tapi beliau tidak ingin saya memberitahu siapa pun.”

Profesor McGonagall mendelik kepadanya.

“Potter” (Harry menyadari nama keluarganya kini digunakan lagi) “sehubungan dengan meninggalnya Profesor Dumbledore, kurasa kau harus tahu Situasinya telah berubah”

“Menurut saya tidak,” kata Harry, mengangkat bahu. “Profesor Dumbledore tidak pernah memberitahu saya untuk berhenti menaati perintahnya kalau beliau meninggal.”

“Tapi-”

“Meskipun demikian, ada satu hal yang perlu Anda ketahui sebelum orang-orang Kementerian tiba di sini. Madam Rosmerta berada di bawah Kutukan Imperius, dialah yang membantu Malfoy dan para Pelahap Maut, begitulah caranya kalung dan mead beracun”

“Rosmerta?” kata Profesor McGonagall tercengang, tapi sebelum dia bisa melanjutkan, terdengar ketukan di pintu di belakang mereka dan Profesor Sprout, Flitwick, dan Slughorn masuk, diikuti Hagrid, yang masih tersedu-sedu, sosoknya yang besar gemetar saking sedihnya.

“Snape!” seru Slughorn, yang tampak paling terguncang, pucat dan berkeringat. “Snape! Aku mengajarnya! Kupikir aku mengenalnya!”

Namun sebelum salah satu dari mereka bisa menanggapi, ada suara tajam berbicara dari tempat tinggi di dinding: penyihir laki-laki bermuka pucat dengan poni pendek hitam baru saja berjalan memasuki kanvasnya yang kosong.

“Minerva, Menteri akan datang sebentar lagi, dia baru saja ber-Disapparate dari Kementerian.”

“Terima kasih, Everard,” kata Profesor McGonagall, dan dia cepat-cepat berpaling kepada guru-gurunya.

“Aku ingin membicarakan tentang apa yang terjadi pada Hogwarts sebelum mereka tiba di sini,” katanya cepat. “Aku pribadi tak yakin sekolah harus dibuka lagi tahun depan. Kematian Kepala Sekolah di tangan salah satu rekan kerja kita sungguh noda buruk bagi sejarah Hogwarts. Mengerikan.”

“Aku yakin Dumbledore akan menginginkan sekolah tetap buka,” kata Profesor Sprout. “Menurutku kalau ada satu murid saja yang ingin datang, maka sekolah harus buka untuk murid itu.”

“Tapi apakah akan ada murid setelah ini?” kata Slughorn, sekarang mengusap keningnya yang berkeringat dengan saputangan sutra. “Para orangtua akan menginginkan anak-anak mereka tetap di rumah dan tak bisa kubilang aku menyalahkan mereka. Aku pribadi tidak berpendapat kita lebih berbahaya di Hogwarts daripada di tempat lain, tapi kalian tak bisa mengharap para ibu berpikir seperti itu. Mereka ingin keluarga mereka tetap berkumpul, ini wajar.”

“Aku setuju,” kata Profesor McGonagall. “Lagi pula, tidak benar mengatakan bahwa Dumbledore tidak pernah menghadapi situasi yang membuat Hogwarts mungkin ditutup. Ketika Kamar Rahasia terbuka lagi dia mempertimbangkan penutupan sekolah dan harus kukatakan bahwa pembunuhan Profesor Dumbledore lebih mengerikan bagiku daripada adanya monster Slytherin yang hidup tak terdeteksi di perut kastil …”

“Kita harus berkonsultasi dengan pemerintah,” kata Profesor Flitwick dengan suaranya yang nyaring melengking; ada memar besar di dahinya, namun selain itu tampaknya tak ada luka lain yang diakibatkan oleh pingsannya di kantor Snape. “Kita harus mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan. Jangan membuat keputusan yang terburu-buru.”

“Hagrid, kau belum mengatakan apa-apa,” kata Profesor McGonagall. “Bagaimana pandanganmu, haruskah Hogwarts tetap buka?”

Hagrid, yang sepanjang pembicaraan ini menangis diam-diam ke dalam saputangan polkadotnya, sekarang mengangkat matanya yang merah dan bengkak dan berkata parau, “Aku tak tahu, Profesor … terserah keputusan para Kepala Asrama dan Kepala Sekolah saja …”

“Profesor Dumbledore selalu menghargai pandanganmu,” kata Profesor McGonagall dengan baik hati, “dan begitu juga aku.”

“Yah, aku akan bertahan di sini,” kata Hagrid, air mata besar-besar masih mengalir dari sudut-sudut matanya dan menetes ke berewoknya yang kusut. “Ini rumahku, ini sudah jadi rumahku sejak aku berumur tiga belas tahun. Dan kalau ada anak-anak yang ingin aku mengajar mereka, akan kulakukan. Tapi … entahlah … Hogwarts tanpa Dumbledore …”

Dia tersedu dan menghilang di balik saputangannya lagi, dan suasana hening.

“Baiklah” kata Profesor McGonagall, mengerling ke luar jendela ke halaman, mengecek apakah Menteri sudah mendekat, “kalau begitu aku harus setuju dengan Filius bahwa hal paling tepat untuk dilakukan adalah berkonsultasi dengan pemerintah, yang akan mengambil keputusan final.

“Nah, sedangkan soal memulangkan anak-anak … ada pendapat dilakukan lebih cepat lebih baik. Kita bisa mengatur supaya Hogwarts Express datang besok pagi kalau perlu”

“Bagaimana dengan pemakaman Dumbledore?” tanya Harry, akhirnya berbicara.

“Yah …” kata Profesor McGonagall, ketegarannya berkurang sedikit ketika suaranya bergetar, “aku-aku tahu bahwa keinginan Dumbledore-lah untuk diistirahatkan di sini, di Hogwarts”

“Kalau begitu itu yang akan terjadi, kan?” kata Harry tegas.

“Kalau Kementerian menganggapnya tepat,” kata Profesor McGonagall. “Belum pernah ada kepala sekolah yang-”

“Belum pernah ada kepala sekolah lain yang memberi lebih banyak kepada sekolah ini” geram Hagrid.

“Hogwarts harus jadi tempat peristirahatan terakhir Dumbledore,” kata Profesor Flitwick.

“Betul,” kata Profesor Sprout.

“Dan dalam hal ini” kata Harry, “Anda tak boleh mengirim murid-murid pulang sebelum pemakaman usai. Mereka pasti ingin mengucapkan”

Kata terakhir tersekat di tenggorokannya, namun Profesor Sprout menyelesaikan kalimat itu untuknya.

“Selamat tinggal.”

“Dikatakan dengan bagus sekali,” lengking Profesor Flitwick. “Sungguh dikatakan dengan bagus! Murid-murid kita harus memberikan penghormatan terakhir, pantasnya begitu. Kita bisa mengatur transportasi untuk pulang sesudahnya.”

“Setuju,” kata Profesor Sprout.

“Kurasa … ya,” kata Slughorn dengan suara agak gelisah, sementara Hagrid menyatakan persetujuannya dengan isakan tertahan.

“Dia datang,” kata Profesor McGonagall tiba-tiba, memandang ke halaman. “Menteri … dan kelihatannya, dia membawa delegasi …”

“Boleh saya pergi, Profesor?” tanya Harry segera.

Dia sama sekali tak ingin bertemu, atau diinterogasi oleh, Rufus Scrimgeour malam ini.

“Boleh,” kata Profesor McGonagall, “dan cepat.”

Dia berjalan ke pintu dan membukanya untuk Harry. Harry buru-buru menuruni tangga spiral dan berjalan sepanjang koridor kosong. Jubah Gaib-nya tertinggal di atas Menara Astronomi, tapi tak apa, tak ada orang di koridor yang melihatnya lewat, bahkan tidak Filch, Mrs Norris, ataupun Peeves. Dia tidak bertemu orang lain sampai dia berbelok ke lorong yang menuju ke ruang rekreasi Gryffindor.

“Betulkah?” bisik si Nyonya Gemuk ketika Harry mendekat. “Betulkah? Dumbledore-meninggal?”

“Ya,” kata Harry.

Si Nyonya Gemuk meratap, dan tanpa menunggu kata kunci; dia mengayun ke depan agar Harry bisa masuk.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.