Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Lupin dan Tonks buru-buru berdiri dan mundur supaya Mr dan Mrs Weasley bisa lebih dekat ke tempat tidur. Mrs Weasley membungkuk di atas anaknya dan mengecup dahinya yang berdarah.

“Katamu Greyback menyerangnya?” Mr Weasley bertanya kepada Profesor McGonagall dengan pikiran kacau. “Tapi dia tidak sedang bertransformasi? Jadi, apa artinya itu? Apa yang akan terjadi pada Bill?”

“Kami belum tahu,” kata Profesor McGonagall, memandang Lupin dengan tak berdaya.

“Mungkin akan ada kontaminasi, Arthur,” kata Lupin. “Ini kasus aneh, barangkali malah unik … kami tidak tahu bagaimana tingkah lakunya kalau dia sadar nanti …”

Mrs Weasley mengambil salep berbau-tak-enak dari Madam Pomfrey dan mulai mengolesi luka-luka Bill. “Dan Dumbledore …” kata Mr Weasley. “Minerva, betulkah … apakah dia benar-benar …?”

Ketika Profesor McGonagall mengangguk, Harry merasa Ginny bergerak di sampingnya dan Harry menoleh memandangnya. Mata Ginny agak menyipit memandang tajam Fleur, yang sedang menunduk menatap Bill dengan ekspresi beku pada wajahnya.

“Dumbledore telah pergi,” bisik Mr Weasley, namun perhatian Mrs Weasley sepenuhnya tercurah kepada putra sulungnya. Dia mulai terisak, air matanya jatuh ke wajah Bill yang rusak.

“Tentu saja tak jadi soal bagaimana wajahnya … itu tidak b-begitu penting … tapi waktu kecil dia ttampan sekali … selalu sangat tampan … dan dia tadinya sudah akan menikah!”

“Dan apa maksud Anda berkata begitu?” tanya Fleur tiba-tiba dan keras. “Apa maksud Anda, dia tadinya sudah akan menikah?”

Mrs Weasley mengangkat mukanya yang bersimbah air mata, tampak tercengang.

“Yah hanya bahwa-”

“Anda pikir Bill tidak lagi ingin menikahi saya?” tuntut Fleur. “Anda pikir, gara-gara luka-luka itu, dia tidak akan mencintai saya?”

“Tidak, bukan itu yang ku-”

“Karena dia akan tetap mencintai saya!” kata Fleur, berdiri tegak dan melempar rambut panjangnya yang keperakan ke belakang. “Perlu lebih dari manusia serigala untuk menghentikan Bill mencintai saya!”

“Oh, ya, aku yakin,” kata Mrs Weasley, “tapi kupikir barangkali mengingat bagaimana-bagaimana dia-”

“Anda mengira saya tak ingin menikah dengannya? Atau barangkali, Anda berharap begitu?” kata Fleur, cuping hidungnya mengembang. “Apa peduli saya bagaimana tampangnya? Saya cukup cantik untuk kami berdua, menurut saya! Semua luka ini hanya menunjukkan bahwa suami saya pemberani! Dan saya yang akan melakukan itu!” dia menambahkan dengan sengit, mendorong minggir Mrs Weasley dan menyambar salep darinya.

Mrs Weasley terdorong mundur menabrak suaminya dan mengawasi Fleur menyeka luka-luka Bill dengan ekspresi yang sangat aneh pada wajahnya. Tak ada yang membuka suara. Harry tak berani bergerak. Seperti yang lain, dia menunggu terjadinya ledakan.

“Bibi-buyut kami Muriel,” kata Mrs Weasley setelah lama hening, “punya tiara yang sangat bagus buatan goblin aku yakin bisa membujuknya untuk meminjamkannya kepadamu untuk perkawinan nanti. Dia sangat menyayangi Bill, kau tahu, dan tiara itu akan tampak cantik dengan rambutmu.”

“Terima kasih,” kata Fleur kaku. “Pasti akan cantik.”

Dan kemudian Harry tak paham bagaimana terjadinya kedua wanita itu sama-sama menangis dan saling berpelukan. Bingung bukan kepalang, bertanya-tanya dalam hati apakah dunia sudah gila, Harry berpaling. Ron tampak sama terperangahnya seperti yang dirasakan Harry, dan Ginny dan Hermione saling bertukar pandang keheranan.

“Kau lihat!” kata suara tegang. Tonks memandang tajam Lupin. “Dia masih ingin menikahinya, meskipun dia sudah digigit. Dia tidak peduli!”

“Ini berbeda,” kata Lupin, hampir tidak menggerakkan bibirnya dan mendadak tampak tegang. “Bill tidak akan menjadi manusia serigala sepenuhnya. Kasusnya sama sekali”

“Tapi aku juga tak peduli, aku tak peduli!” kata Tonks, menyambar bagian depan jubah Lupin dan mengguncangnya. “Sudah kukatakan kepadamu sejuta kali …”

Dan makna Patronus Tonks dan rambutnya yang berwarna bulu-tikus, dan alasan kenapa dia langsung berlari datang mencari Dumbledore ketika dia mendengar desas-desus ada orang yang diserang Greyback, semuanya tiba-tiba menjadi jelas bagi Harry. Ternyata Tonks bukan jatuh cinta kepada Sirius …

“Dan sudah kukatakan kepadamu sejuta kali,” kata Lupin, menolak menatap mata Tonks, melainkan memandang lantai, “bahwa aku terlalu tua untukmu … terlalu miskin … terlalu berbahaya ….”

“Aku sudah bilang alasanmu itu konyol, Remus,” kata Mrs Weasley dari atas bahu Fleur, seraya membelai-belai punggung gadis itu.

“Aku tidak konyol,” kata Lupin mantap. “Tonks layak mendapat orang yang muda dan utuh.”

“Tapi dia menginginkanmu,” kata Mr Weasley, tersenyum kecil. “Dan, lagi pula, Remus, orang muda dan utuh tidak selamanya tetap begitu.” Dengan sedih dia menunjuk anaknya yang terbaring di antara mereka.

“Ini … bukan saat yang tepat untuk mendiskusikannya,” kata Lupin, menghindari mata semua orang ketika dia memandang berkeliling dengan bingung. “Dumbledore meninggal …”

“Dumbledore akan lebih berbahagia daripada siapapun, mengetahui bahwa ada sedikit tambahan cinta di dunia,” kata Profesor McGonagall pendek, tepat ketika pintu rumah sakit terbuka lagi dan Hagrid masuk.

Sebagian kecil wajahnya yang tidak tertutup rambut atau berewoknya basah dan bengkak. Hagrid gemetar menangis, tangannya memegang saputangan besar bermotif polkadot.

“Su-sudah kulakukan, Profesor,” isaknya. “P-pindahkan dia. Profesor Sprout sudah suruh anak-anak kembali ke tempat tidur. Profesor Flitwick sedang istirahat, tapi katanya sebentar lagi dia baik, dan Profesor Slughorn bilang Kementerian sudah diberitahu.”

“Terima kasih, Hagrid,” kata Profesor McGonagall, langsung berdiri dan berbalik memandang grup yang mengelilingi tempat tidur Bill. “Aku akan menemui orang-orang Kementerian kalau mereka sudah tiba di sini. Hagrid, tolong beritahu para Kepala Asrama Slughorn bisa mewakili Slytherin bahwa aku ingin bertemu mereka di kantorku segera. Aku ingin kau hadir juga.”

Sementara Hagrid mengangguk, berbalik dan berjalan dengan kaki terseret meninggalkan bangsal lagi, Profesor McGonagall menunduk memandang Harry.

“Sebelum bertemu mereka aku ingin bicara sebentar denganmu, Harry. Ikut aku …”

Harry bangkit, bergumam, “Sebentar ya,” kepada Ron, Hermione, dan Ginny, dan menyusul Profesor McGonagall ke pintu. Koridor-koridor di luar kosong dan satu-satunya suara yang terdengar hanyalah nyanyian phoenix di kejauhan. Beberapa menit kemudian baru Harry sadar bahwa mereka tidak menuju ke kantor Profesor McGonagall, melainkan ke kantor Dumbledore, dan masih perlu beberapa detik lagi untuk menyadari bahwa, tentu saja, tadinya Profesor McGonagall adalah wakil kepala sekolah … tentunya sekarang dia kepala sekolah … jadi, ruang di belakang gargoyle itu sekarang kantornya …

Dalam diam mereka menaiki tangga spiral yang berputar dan masuk ke ruang bundar itu. Harry tak tahu apa yang diharapkannya: ruangan ditutup kain hitam, barangkali, atau bahkan jenazah Dumbledore mungkin disemayamkan di sana. Ternyata kantor itu hampir persis sama seperti ketika dia dan Dumbledore meninggalkannya hanya beberapa jam yang lalu: peralatan perak berputar dan mengeluarkan asap di atas meja-meja yang berkaki panjang-kurus, pedang Gryffindor dalam lemari kaca berkilauan dalam cahaya bulan, Topi Seleksi di rak di belakang meja. Namun tempat hinggap Fawkes kosong, dia masih melantunkan ratapannya di halaman. Dan sebuah lukisan baru telah bergabung dengan jajaran lukisan para kepala sekolah Hogwarts yang sudah meninggal. Dumbledore sedang tidur dalam pigura keemasan di atas mejanya, kacamata bulan-separonya bertengger di atas hidung-bengkoknya, tampak damai dan tak terganggu.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.