Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Dia muncul dari Kamar kira-kira satu jam setelah kami mulai berjaga,” kata Ginny. “Dia sendirian, memegangi tangan berkerut yang mengerikan itu”

“Tangan Kemuliaan-nya” kata Ron. “Hanya memberi penerangan kepada pemegangnya, ingat?”

“Bagaimanapun juga,” Ginny melanjutkan, “dia pastilah mengecek apakah keadaan cukup aman untuk mengeluarkan para Pelahap Maut, karena begitu melihat kami dia melemparkan sesuatu ke udara dan suasana langsung gelap gulita”

“Bubuk Kegelapan Instan dari Peru,” kata Ron getir. “Jualan Fred dan George. Aku harus bicara dengan mereka soal siapa saja yang sebaiknya mereka izinkan membeli produk mereka.”

“Kami mencoba segalanya — Lumos, Incendio,” kata Ginny. “Tak ada yang berhasil menembus kegelapan itu; yang bisa kami lakukan hanyalah meraba-raba untuk keluar dari koridor itu, dan sementara itu kami bisa mendengar orang berlarian melewati kami. Jelas Malfoy bisa melihat karena Tangan tu dan memandu mereka, tapi kami tidak berani menggunakan kutukan atau apa pun, karena takut mengenai teman sendiri, dan ketika kami tiba di koridor yang terang, mereka sudah pergi.”

“Untungnya,” kata Lupin parau, “Ron, Ginny, dan Neville segera bertemu kami dan memberitahu kami apa yang terjadi. Kami menemukan para Pelahap Maut itu beberapa menit kemudian, menuju ke arah Menara Astronomi. Malfoy jelas tak mengira ada lebih banyak orang yang berjaga; tampaknya dia sudah kehabisan Bubuk Kegelapan-nya, bagaimanapun juga. Pertempuran langsung terjadi, mereka menyebar dan kami mengejar. Salah satu dari mereka, Gibbon, memisahkan diri dan menuju tangga Menara”

“Untuk memasang Tanda?” tanya Harry.

“Mestinya begitu, ya, mereka pasti sudah mengatur begitu sebelum meninggalkan Kamar Kebutuhan,” kata Lupin. “Tapi kurasa Gibbon tidak suka disuruh menunggu Dumbledore sendirian di sana, karena dia berlari menuruni tangga lagi untuk ikut bertempur dan tersambar Kutukan Maut yang luput mengenaiku.”

“Jadi, kalau Ron mengawasi Kamar Kebutuhan dengan Ginny dan Neville,” kata Harry, berpaling kepada Hermione, “apakah kau?”

“Di luar kantor Snape, ya,” bisik Hermione, matanya berkilauan digenangi air mata, “dengan Luna. Kami di luar kantor itu lama sekali dan tak ada yang terjadi … kami tidak tahu apa yang terjadi di atas. Peta Perampok-nya dibawa Ron … sudah hampir tengah malam ketika Profesor Flitwick datang berlari ke ruang bawah tanah. Dia berteriak ada Pelahap Maut di dalam kastil. Kurasa waktu itu dia tidak benar-benar menyadari ada Luna dan aku di sana, dia hanya menerjang masuk kantor Snape dan kami mendengarnya mengatakan bahwa Snape harus ikut bersamanya dan membantu, dan kemudian kami mendengar bunyi debam keras dan Snape berlari keluar dari ruangannya dan dia melihat kami dan — dan”

“Apa?” Harry mendorongnya.

“Aku bodoh sekali, Harry!” kata Hermione dalam bisikan nyaring. “Dia bilang Profesor Flitwick pingsan dan kami harus mengurusnya sementara dia — sementara dia pergi membantu melawan para Pelahap Maut”

Hermione menutupi wajahnya dengan malu dan melanjutkan bicara melalui jari-jarinya, sehingga suaranya teredam.

“Kami masuk ke kantornya untuk melihat kalau-kalau kami bisa menolong Profesor Flitwick dan menemukannya pingsan di lantai … dan, oh, sekarang jelas sekali, Snape pastilah memingsankan Flitwick, tapi kami tidak menyadarinya, Harry, kami tidak menyadarinya, kami membiarkan Snape pergi begitu saja!”

“Itu bukan salah kalian,” kata Lupin tegas. “Hermione, seandainya kalian tidak mematuhi Snape dan menghalanginya, dia barangkali telah membunuhmu dan Luna.”

“Jadi, kemudian dia ke atas,” kata Harry, yang dalam benaknya mengawasi Snape berlari menaiki tangga pualam; jubah hitamnya melambai di belakangnya seperti biasa, mencabut tongkat sihirnya dari balik jubahnya sembari naik, “dan dia menemukan tempat kalian semua sedang bertempur …”

“Kami sedang dalam kesulitan, kami mulai kalah,” kata Tonks dengan suara rendah. “Gibbon sudah ambruk, tapi sisa Pelahap Maut yang lain tampaknya siap bertarung sampai mati. Neville sudah terluka, Bill sudah diserang dengan biadab oleh Greyback … tempat itu gelap gulita … kutukan berseliweran ke mana-mana … si Malfoy sudah menghilang, dia pastilah menyelinap, menaiki tangga ke Menara … kemudian lebih banyak Pelahap Maut yang berlari mengikutinya, namun salah satu dari mereka memblokir tangga di belakang mereka dengan semacam kutukan … Neville berlari menabrak kutukan itu dan terlempar ke udara”

“Tak seorang pun dari kami berhasil menembusnya,” kata Ron, “dan si Pelahap Maut gede itu masih terus meluncurkan kutukan ke mana-mana, kutukan-kutukannya memantul dari dinding dan nyaris saja mengenai kami …”

“Dan kemudian Snape muncul,” kata Tonks, “dan kemudian menghilang”

“Aku melihatnya berlari ke arah kami, tapi kutukan si Pelahap Maut gede nyaris mengenaiku, aku membungkuk dan tak tahu apa yang terjadi,” kata Ginny.

“Aku melihatnya berlari menembus rintangan-kutukan seolah tidak ada apa-apa,” kata Lupin. “Aku mencoba menyusulnya, tapi terlempar seperti Neville …”

“Pastilah dia tahu mantra yang tidak kita ketahui,” bisik McGonagall. “Bagaimanapun juga-dia guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam … aku mengira dia mengejar para Pelahap Maut yang kabur ke Menara …”

“Memang,” kata Harry liar, “namun untuk membantu mereka, bukan melawan mereka … dan saya berani bertaruh kalian harus punya Tanda Kegelapan untuk bisa melewati rintangan itu-jadi apa yang terjadi ketika dia turun lagi?”

“Nah, si Pelahap Maut besar baru saja meluncurkan kutukan yang menyebabkan separo langit-langit runtuh, dan juga membuyarkan kutukan yang memblokir tangga,” kata Lupin. “Kami semua berlari ke tangga kami — kami yang masih bisa berdiri, paling tidak dan kemudian Snape dan anak itu muncul dari dalam kepulan debu jelas, tak seorang pun dari kami menyerang mereka”

“Kami membiarkan mereka lewat begitu saja,” kata Tonks dengan suara hampa, “kami sangka mereka dikejar para Pelahap Maut dan berikutnya, Pelahap Maut yang lain dan Greyback kembali dan kami bertempur lagi kupikir aku mendengar Snape meneriakkan sesuatu, tapi aku tak tahu apa”

“Dia berteriak, ‘Sudah selesa┬┤” kata Harry. “Dia sudah melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.”

Mereka semua terdiam. Ratapan Fawkes masih bergema di halaman di luar. Ketika musik ini berkumandang di udara, pikiran tak diundang muncul begitu saja di benak Harry … sudahkah mereka membawa pergi jenazah Dumbledore dari kaki Menara? Apa yang akan terjadi berikutnya? Di mana jenazah akan disemayamkan? Harry mengepalkan tangan kuat-kuat di dalam sakunya. Buku-buku jari tangan kanannya menyentuh gumpalan kecil Horcrux palsu.

Pintu rumah sakit menjeblak terbuka lagi, membuat mereka semua terlonjak. Mr dan Mrs Weasley memasuki bangsal, Fleur di belakang mereka, wajahnya yang cantik ketakutan.

“Molly-Arthur!” kata Profesor McGonagall, melompat bangun dan bergegas menyongsong mereka. “Aku ikut sangat prihatin”

“Bill,” bisik Mrs Weasley, berlari melewati Profesor McGonagall ketika dia melihat wajah Bill yang tercabik-cabik. “Oh, Bill!”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.