Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Dia memandang Lupin dengan bimbang.

“Tidak, kurasa Bill tidak akan betul-betul menjadi manusia serigala,” kata Lupin, “tapi itu tidak berarti tak akan ada kontaminasi. Itu luka-luka kutukan. Tak mungkin bisa sembuh sepenuhnya, dan–dan Bill mungkin akan punya beberapa karakter serigala sejak saat ini.”

“Dumbledore mungkin tahu sesuatu yang bisa manjur,” kata Ron. “Di mana dia? Bill melawan maniak-maniak itu atas perintah Dumbledore. Dumbledore berutang padanya, dia tak bisa membiarkan Bill dalam keadaan begini”

“Ron-Dumbledore sudah meninggal,” kata Ginny.

“Tidak!” Lupin memandang liar dari Ginny ke Harry, seolah berharap yang disebut belakangan akan mengkontradiksi ucapan ini, namun ketika ternyata tidak, Lupin terenyak di kursi di sebelah tempat tidur Bill, tangannya menekap wajahnya. Harry tak pernah melihat Lupin kehilangan kontrol diri sebelumnya. Dia merasa seakan mencampuri urusan yang pribadi, yang tak pantas dilihat orang lain. Dia berpaling dan bertatap mata dengan Ron, dalam diam bertukar pandang yang mengonfirmasikan apa yang telah dikatakan Ginny.

“Bagaimana dia meninggal?” bisik Tonks. “Bagaimana terjadinya?”

“Snape membunuhnya,” kata Harry. “Aku di sana, aku melihatnya. Kami tiba kembali di Menara Astronomi karena di situlah Tanda-nya … Dumbledore sedang sakit, dia lemah, tapi kurasa dia menyadari itu jebakan ketika kami mendengar langkah-langkah berlarian menaiki tangga. Dia membuatku tidak bisa bergerak, aku tak bisa melakukan apa-apa, aku di bawah Jubah Gaib-ku dan kemudian Malfoy keluar dari pintu dan melucuti tongkat sihirnya dengan Mantra Pelepas Senjata”

Hermione menekapkan tangan ke mulutnya, dan Ron mengerang. Bibir Luna gemetar.

“-lebih banyak Pelahap Maut muncul dan kemudian Snape dan Snape melakukannya. Kutukan Avada Kedavra.” Harry tak bisa melanjutkan.

Madam Pomfrey menangis. Tak ada yang peduli kecuali Ginny, yang berbisik, “Shh! Dengarkan!” Menahan sedu, Madam Pomfrey menekankan jari-jari tangan ke mulutnya, matanya terbeliak. Di suatu tempat dalam kegelapan, burung phoenix bernyanyi dengan cara yang tak pernah didengar Harry sebelumnya: ratapan pilu yang indah mengerikan. Dan Harry merasa, seperti yang pernah dirasakannya terhadap nyanyian phoenix, bahwa musik itu ada dalam dirinya, bukan di luarnya: itu kesedihannya sendiri yang diubah secara gaib menjadi nyanyian yang bergaung di seluruh halaman dan masuk melalui jendela-jendela kastil.

Berapa lama mereka semua berdiri di sana, mendengarkan, dia tak tahu, demikian juga dia tak tahu kenapa kesedihannya sedikit mereda dengan mendengarkan ratapan nestapa ini, namun rasanya sudah lama sekali berlalu ketika pintu rumah sakit terbuka lagi dan Profesor McGonagall memasuki ruangan. Seperti yang lain, ada bekas-bekas pertempuran pada tubuhnya: ada goresan-goresan luka di wajahnya dan jubahnya robek.

“Molly dan Arthur sedang dalam perjalanan kemari,” katanya, dan pesona sihir musik itu buyar. Semua orang seperti baru tersadar dari trans, menoleh lagi memandang Bill, atau menggosok mata mereka sendiri, menggelengkan kepala. “Harry, apa yang terjadi? Menurut Hagrid kau sedang bersama Profesor Dumbledore ketika dia-ketika itu terjadi. Dia bilang Profesor Snape terlibat dalam”

“Snape membunuh Dumbledore,” kata Harry.

Profesor McGonagall menatapnya sesaat, kemudian terhuyung nyaris jatuh. Madam Pomfrey, yang rupanya sudah menguasai diri, berlari mendekat, menyihir kursi dari udara kosong, yang disorongkannya ke bawah McGonagall.

“Snape,” ulang McGonagall pelan, terjatuh di kursi. “Kami semua selama ini bertanya-tanya … tapi dia memercayainya … selalu … Snape … aku tak bisa percaya …”

“Snape Odumens yang sangat hebat,” kata Lupin, suaranya kasar, tak seperti biasanya. “Kita dari dulu tahu itu.”

“Tapi Dumbledore bersumpah dia di pihak kita!” bisik Tonks. “Dari dulu aku menyangka Dumbledore tahu sesuatu tentang Snape yang tak kita ketahui …”

“Dia selalu memberi indikasi bahwa dia punya alasan kuat untuk memercayai Snape,” gumam Profesor McGonagall, sekarang menekan-nekan kedua ujung matanya yang berair dengan saputangan berpelipit kotak-kotak. “Maksudku … dengan masa lalu Snape … tentu saja orang-orang jadi bertanya-tanya … tapi Dumbledore memberitahuku dengan jelas bahwa penyesalan Snape betul-betul tulus … tak mau mendengar satu celaan pun terhadap Snape!”

“Aku ingin tahu apa yang dikatakan Snape yang membuat Dumbledore seyakin itu,” kata Tonks.

“Aku tahu,” kata Harry, dan mereka semua berpaling menatapnya. “Snape menyampaikan informasi kepada Voldemort yang membuat Voldemort memburu ibu dan ayahku. Kemudian Snape memberitahu Dumbledore dia tidak menyadari apa yang dilakukannya, dia betul-betul menyesal telah melakukannya, menyesal mereka meninggal.”

“Dan Dumbledore memercayai itu?” tanya Lupin tak percaya. “Dumbledore percaya Snape menyesal James meninggal? Snape membenci James …”

“Dan dia juga menganggap ibuku tak berharga,” kata Harry, “karena dia kelahiran-Muggle … ‘Darahlumpur’, begitu dia memanggilnya …”

Tak seorang pun bertanya bagaimana Harry bisa tahu semua ini. Semuanya tampaknya kena shock hebat, berusaha mencerna kenyataan mengerikan yang telah terjadi.

“Ini semua kesalahanku,” kata Profesor McGonagall tiba-tiba. Dia tampak bingung, memilin-milin saputangan basah di tangannya. “Kesalahanku. Aku mengirim Filius untuk menjemput Snape malam ini. Aku yang menyuruhnya datang dan membantu kita! Kalau aku tidak memberitahu Snape apa yang sedang terjadi, dia barangkali tidak akan pernah bergabung dengan para Pelahap Maut. Kukira dia tidak tahu mereka ada di sini sebelum Filius memberitahunya, kukira dia tidak tahu mereka akan datang.”

“Itu bukan salahmu, Minerva,” kata Lupin tegas. “Kita semua menginginkan lebih banyak bantuan, kita senang menyangka Snape akan datang membantu kita …”

“Jadi, waktu tiba di tempat pertempuran dia bergabung ke pihak para Pelahap Maut?” tanya Harry, yang menginginkan semua detail sikap bermuka-dua dan keburukan Snape, bergesa-gesa mengumpulkan lebih banyak alasan untuk membencinya, untuk membalas dendam.

“Aku tak tahu bagaimana persisnya terjadinya,” kata Profesor McGonagall bingung. “Semuanya serba membingungkan … Dumbledore telah memberitahu kami bahwa dia akan meninggalkan sekolah selama beberapa jam dan kami diminta berpatroli di koridor untuk berjaga-jaga … Remus, Bill, dan Nymphadora diminta bergabung dengan kami … maka kami pun berpatroli. Semua tampak sunyi. Semua lorong rahasia yang menuju ke luar sekolah dijaga. Kami tahu tak seorang pun bisa masuk. Ada sihir perlindungan yang kuat sekali di semua jalan masuk ke kastil. Aku masih tak tahu bagaimana mungkin para Pelahap Maut bisa masuk …”

“Saya tahu,” kata Harry, dan dia menjelaskan, dengan ringkas, tentang sepasang Lemari Pelenyap dan jalan gaib yang dibentuk oleh dua lemari itu. “Jadi, mereka masuk lewat Kamar Kebutuhan.”

Hampir di luar kemauannya dia mengerling dari Ron ke Hermione. Keduanya tampak sangat terpukul.

“Aku bikin kacau, Harry” kata Ron muram. “Kami melakukan seperti yang kausuruh: kami mengecek Peta Perampok dan kami tak bisa melihat Malfoy di peta itu, jadi kami pikir dia pastilah ada dalam Kamar Kebutuhan, maka aku, Ginny, dan Neville berjaga di sana … tapi Malfoy berhasil melewati kami.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.