Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Hagrid terdiam, rupanya yang dipikirkannya terlalu mengerikan untuk diucapkan keras-keras. Harry berjalan di sebelahnya, merasakan sakit dan ngilu-ngilu di wajah dan kakinya, yang dalam setengah jam terakhir terkena berbagai serangan, namun rasanya aneh, sepertinya ada orang lain di sebelahnya yang menderita. Yang nyata dan tak bisa dihindari adalah perasaan tertekan menyakitkan di dadanya …

Dia dan Hagrid bergerak, seperti dalam mimpi, menerobos kerumunan yang bergumam sampai ke depan, tempat anak-anak dan para guru yang kaget sampai tak bisa bicara telah meninggalkan celah.

Harry mendengar erang sedih dan shock Hagrid, namun dia tidak berhenti. Dia berjalan-perlahan sampai tiba di tempat Dumbledore terbaring, dan berlutut di sebelahnya.

Harry sudah tahu tak ada harapan lagi begitu Kutukan Ikat-Tubuh yang dikenakan Dumbledore kepadanya terangkat, tahu bahwa itu hanya bisa terjadi karena si pengirim mantra itu meninggal; namun tetap saja dia tak siap melihatnya di sini, terkapar dengan kaki tangan terentang, hancur: penyihir terbesar yang pernah, atau akan pernah, dijumpai Harry.

Mata Dumbledore terpejam; kalau bukan karena posisi aneh lengan dan kakinya, dia bisa disangka sedang tidur. Harry menjulurkan tangan, meluruskan kacamata bulan-separo di atas hidung-bengkoknya dan menyapu setetes darah dari mulutnya dengan lengan bajunya sendiri. Kemudian ditatapnya wajah tua yang bijaksana itu dan dia berusaha menyerap kenyataan hebat dan tak bisa dipahami ini: bahwa tak akan pernah lagi Dumbledore bicara kepadanya; tak akan pernah lagi dia bisa menolong …

Kerumunan orang bergumam di belakang Harry. Setelah waktu yang rasanya berlangsung lama, dia menyadari bahwa dia berlutut di atas sesuatu yang keras, dan dia menunduk.

Kalung yang berhasil mereka curi berjam-jam yang lalu telah terjatuh dari dalam saku Dumbledore. Liontinnya terbuka, barangkali karena terbanting keras ketika terjatuh ke tanah. Dan meskipun Harry tak bisa merasa lebih shock, atau ngeri, atau sedih daripada yang sudah dirasakannya, dia tahu, ketika memungut kalung itu, bahwa ada yang tidak beres …

Dia membalikkan liontin kalung itu di tangannya. Ini tidak sebesar kalung yang pernah dilihatnya dalam Pensieve, dan juga tak ada pahatannya, tak ada huruf S berhiasan yang dianggap sebagai tanda Slytherin. Lagi pula, tak ada apa-apa di dalam liontin itu, kecuali secarik perkamen yang dilipat dan dijejalkan ke tempat yang seharusnya berisi potret.

Secara otomatis, tanpa berpikir apa yang dilakukannya, Harry mencabut carikan perkamen itu, membukanya dan membacanya dalam penerangan banyak tongkat sihir yang sekarang telah dinyalakan di belakangnya.

Kepada Pangeran Kegelapan

Aku tahu aku sudah lama mati ketika kau membaca ini, tetapi aku ingin kau tahu bahwa akulah yang menemukan rahasiamu, aku telah mencuri Horcrux yang sebenarnya dan bermaksud menghancurkannya secepat aku bisa. Kuhadapi kematian dengan harapan bahwa ketika kau bertemu lawanmu, kau sudah jadi orang biasa lagi, yang bisa mati.

R.A.B

Harry tidak tahu dan tidak peduli apa arti pesan itu. Hanya satu hal yang berarti: ini bukan Horcrux. Sia-sia saja Dumbledore telah membuat dirinya lemah dengan meminum racun mengerikan itu. Harry meremas perkamen di tangannya dan matanya memanas dipenuhi air mata sementara di belakangnya Fang mulai melolong.

-oO0O0-

29. RATAPAN PHOENIX

“Ayo Harry …”

“Tidak.”

“Kau tak bisa di sini terus, Harry … ayolah …”

“Tidak.”

Harry tidak ingin meninggalkan sisi Dumbledore, dia tak ingin pindah ke mana pun. Tangan Hagrid di bahunya gemetar. Kemudian ada suara lain berkata, “Yuk, Harry.”

Tangan yang jauh lebih kecil dan lebih hangat telah menggenggam tangannya dan menariknya berdiri. Dia mematuhi desakan tangan itu tanpa benar-benar memikirkannya. Baru ketika berjalan begitu saja menembus kerumunan dia menyadari, dari aroma bunga-bunga di udara, bahwa Ginny-lah yang membawanya kembali ke kastil. Suara-suara yang tak dipahaminya menderanya, isakan dan teriakan dan ratapan membelah malam, namun Harry dan Ginny berjalan terus, menaiki undakan masuk ke Aula Depan: wajah-wajah berenang-renang di tepian penglihatan Harry, orang-orang memandangnya, berbisik-bisik, bertanya-tanya, dan batu-batu rubi Gryffindor berkilauan di lantai seperti tetesan darah ketika mereka melewatinya menuju ke tangga pualam.

“Kita ke rumah sakit,” kata Ginny.

“Aku tidak luka,” kata Harry.

“Ini perintah McGonagall,” kata Ginny. “Yang lain semua di sana, Ron dan Hermione dan Lupin dan semuanya deh”

Ketakutan bergolak lagi di dada Harry: dia telah melupakan tubuh-tubuh tak bergerak yang tadi ditinggalkannya.

“Ginny, siapa lagi yang meninggal?”

“Jangan kuatir, tak seorang pun dari kita.”

“Tapi Tanda Kegelapan-Malfoy berkata dia melangkahi tubuh”

“Dia melangkahi Bill, tapi tak apa, dia hidup.”

Meskipun demikian, ada sesuatu dalam suara Ginny, yang Harry tahu menyiratkan hal buruk.

“Kau yakin?”

“Tentu saja aku yakin … dia agak berantakan, cuma itu. Greyback menyerangnya. Madam Pomfrey bilang dia-penampilannya tak akan sama lagi …” Suara Ginny agak bergetar. “Kami tidak benar-benar tahu apa akibatnya nanti maksudku, Greyback kan manusia serigala, tapi tidak sedang bertransformasi tadi.”

“Tapi yang lain … ada tubuh-tubuh lain di lantai …”

“Neville ada di rumah sakit, tapi menurut Madam Pomfrey dia akan sembuh total,, dan Profesor Flitwick tadi pingsan, tapi dia tak apa-apa, hanya sedikit terguncang. Dia berkeras akan mengurus anak-anak Ravencladw. Dan seorang Pelahap Maut mati, dia terkena Kutukan Maut yang dilancarkan si pirang ke segala jurusan Harry, kalau kami tidak minum ramuan Felix-mu, kurasa kami semua pasti sudah terbunuh, tapi segalanya luput dari kami”

Mereka telah tiba di rumah sakit. Mendorong pintunya, Harry melihat Neville terbaring, tampaknya sedang tidur, di tempat tidur dekat pintu. Ron, Hermione, Luna, Tonks, dan Lupin mengerumuni tempat tidur lain di ujung ruangan. Mendengar bunyi pintu terbuka, mereka semua mengangkat muka. Hermione berlari menyongsong Harry dan memeluknya. Lupin juga mendekat, tampak cemas.

“Kau tak apa-apa, Harry?”

“Aku baik-baik saja … bagaimana Bill?”

Tak ada yang menjawab. Harry melongok melewati bahu Hermione dan melihat wajah yang tak bisa dikenali terbaring di atas bantal Bill, tersayat dan tercabik-cabik parah sekali sehingga bentuknya sangat aneh. Madam Pomfrey sedang mengolesi luka-lukanya dengan salep hijau berbau tajam. Harry teringat bagaimana Snape menyembuhkan luka Sectumsempra Malfoy secara mudah sekali menggunakan tongkat sihirnya.

“Tak bisakah Anda menyembuhkannya dengan mantra atau apa?” tanyanya kepada si matron. `

“Tak ada mantra yang manjur untuk luka-luka ini” kata Madam Pomfrey. “Aku sudah mencoba segala yang aku tahu, tapi tak ada obat untuk luka-luka gigitan manusia serigala.”

“Tapi dia tidak digigit pada waktu bulan purnama,” kata Ron, yang menatap wajah kakaknya seakan dengan memandang begitu dia entah bagaimana bisa memaksa luka-luka itu sembuh. “Greyback tidak bertransformasi, jadi mestinya Bill tidak akan jadi-jadi?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.