Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Oh, daya tahan yang melemah, refleks yang melambat, Amycus,” kata Dumbledore. “Usia tua, singkatnya … suatu hari, barangkali, ini juga akan terjadi padamu … kalau kau beruntung …”

“Apa maksudnya itu, kalau begitu, apa maksudnya?” teriak si Pelahap Maut, mendadak garang. “Masih sama saja rupanya kau, Dumby, ngomong terus dan tidak melakukan apa-apa. Aku tak tahu kenapa Pangeran Kegelapan mau repot-repot membunuhmu! Ayo, Draco, lakukan!”

Namun pada saat itu terdengar lagi langkah-langkah kaki dari bawah dan suara yang berteriak, “Mereka memblokir tangga-Reducto! REDUCTO!”

Hati Harry terlonjak girang: jadi keempat Pelahap Maut ini belum mengalahkan semua musuh, melainkan hanya kabur dari pertempuran ke puncak Menara, dan kalau didengar dari teriakan tadi, menciptakan rintangan di belakang mereka–

Sekarang, Draco, cepat!” kata si laki-laki bertampang-brutal berang.

Namun tangan Malfoy gemetar hebat sekali sehingga mengacungkan tongkat sihirnya ke sasaran pun dia tak bisa.

“Biar aku saja,” gertak Greyback, bergerak ke arah Dumbledore dengan tangan terjulur, memamerkan giginya.

“Kubilang tidak!” teriak si tampang-brutal. Ada kilatan cahaya dan si manusia serigala terlempar. Dia menghantam tembok benteng dan terhuyung, tampangnya murka. Jantung Harry berdentum-dentum keras sekali, sehingga rasanya tak mungkin tak ada orang yang mendengarnya berdiri di sana, terperangkap oleh mantra Dumbledore kalau saja dia bisa bergerak, dia bisa meluncurkan kutukan dari bawah Jubah-nya

“Draco, lakukan, kalau tidak, minggir, supaya salah satu dari kami-” kata si perempuan dengan suara menciut-ciut, namun tepat saat itu pintu menuju benteng menjeblak terbuka sekali lagi dan di sana berdiri Snape, tongkat sihirnya tercengkeram di tangan ketika mata hitamnya menyapu pemandangan itu, dari tubuh Dumbledore yang merosot di tembok, ke empat Pelahap Maut, termasuk si manusia serigala yang marah, dan Malfoy.

“Kita punya masalah, Snape,” kata si gendut Amycus yang mata maupun tongkat sihirnya tertuju ke Dumbledore, “anak ini tampaknya tak sanggup”

Namun ada orang lain yang memanggil nama Snape, cukup pelan.

“Severus…”

Suara itu menakutkan Harry lebih dari segala yang telah dialaminya malam itu. Untuk pertama kalinya, Dumbledore memohon.

Snape tidak berkata apa-apa, namun berjalan maju dan mendorong Malfoy dengan kasar agar menyingkir. Ketiga Pelahap Maut mundur tanpa kata. Bahkan si manusia serigala tampak ketakutan.

Sesaat Snape memandang Dumbledore, dan kejijikan serta kebencian terpahat pada garis-garis keras wajahnya.

“Severus … tolong …”

Snape mengangkat tongkat sihirnya dan mengacungkannya tepat ke arah Dumbledore.

“Avada Kedavra!”

Pancaran sinar hijau meluncur dari ujung tongkat sihir Snape dan menghantam Dumbledore tepat di dadanya. Jeritan ngeri Harry tidak pernah meninggalkan mulutnya; tak bisa bersuara dan tak bisa bergerak, dia terpaksa hanya bisa mengawasi ketika Dumbledore terlempar ke atas, selama sepersekian detik tampaknya Dumbledore menggantung di bawah tengkorak yang bersinar, dan kemudian perlahan dia jatuh ke belakang, seperti boneka kain besar, melewati benteng, dan lenyap dari pandangan.

-oO0O0-

28. KABURNYA PANGERAN

Harry merasa seolah dia juga meluncur di angkasa. Itu tidak terjadi … itu tak mungkin terjadi …

“Keluar dari sini, cepat,” kata Snape.

Dia menyambar Malfoy pada tengkuknya dan memaksanya masuk lewat pintu lebih dulu dari yang lain. Greyback dan si kakak-beradik gemuk pendek mengikuti; dua yang disebut belakangan ini terengah-engah bersemangat. Selagi mereka menghilang lewat pintu Harry menyadari dia bisa bergerak lagi; yang sekarang menahannya tetap lumpuh bersandar ke dinding bukannya sihir, melainkan kengerian dan shock.

Dia menyingkirkan Jubah Gaib-nya ketika si Pelahap-Maut berwajah-brutal, yang terakhir meninggalkan puncak Menara, sedang menghilang lewat pintu.

“Petrificus Totalus!”

Si Pelahap Maut melengkung ke depan seolah punggungnya terhantam sesuatu yang keras, dan roboh ke bawah, kaku seperti patung lilin. Baru saja tubuhnya menyentuh lantai, Harry melompatinya dan berlari menuruni tangga yang gelap.

Teror mencabik hati Harry … dia harus pergi ke Dumbledore dan dia harus menangkap Snape … entah bagaimana dua hal ini berkaitan … dia bisa membalikkan apa yang telah terjadi jika keduanya bisa dia satukan … Dumbledore tak mungkin sudah meninggal.

Dia melompati sepuluh anak tangga terakhir tangga spiral dan berhenti di tempatnya mendarat, tongkat sihirnya terangkat koridor yang berpenerangan remang-remang dipenuhi debu; separo langit-langitnya tampaknya sudah runtuh dan pertempuran sedang berlangsung seru di hadapannya, namun ketika dia sedang berusaha melihat siapa melawan siapa, didengarnya suara yang dibencinya itu berteriak, “Sudah selesai, waktunya pergi!” dan dilihatnya Snape menghilang di tikungan di ujung koridor; dia dan Malfoy tampaknya berhasil menerabas pertempuran tanpa terluka. Ketika Harry berlari mengejar mereka, salah satu musuh melepaskan diri dari pertempuran dan menyerangnya. Ternyata si manusia serigala, Greyback. Dia sudah menerkam Harry sebelum Harry sempat mengangkat tongkat sihirnya. Harry terjatuh ke belakang, dengan rambut kotor-kusut di wajahnya, bau busuk keringat dan darah memenuhi hidung dan mulutnya, napas rakus panas di tenggorokannya–

“Petrificus Totalus!”

Harry merasa Greyback ambruk di atasnya; dengan susah payah didorongnya manusia serigala itu dari tubuhnya ke lantai, ketika pancaran sinar hijau meluncur ke arahnya. Dia membungkuk menghindar dan berlari, dengan kepala lebih dulu, memasuki pertempuran. Kakinya tersandung sesuatu yang basah dan licin di lantai dan dia terhuyung. Ada dua sosok tubuh tergeletak di sana, tengkurap dalam genangan darah, namun tak ada waktu untuk memeriksanya. Harry sekarang melihat rambut merah berkibar seperti lidah api di depannya. Ginny sedang bertempur melawan si Pelahap Maut gendut, Amycus, yang melancarkan kutukan demi kutukan sementara Ginny menghindarinya. Amycus terkekeh, menikmati permainan ini: “Crucio-Crucio-kau tak bisa menari-nari selamanya, cantik-”

“Impedimenta!” teriak Harry.

Kutukannya menghantam Amycus di dada. Dia mendengking seperti babi kesakitan, terangkat dari lantai dan menghantam dinding di seberang, merosot turun dan menghilang di balik Ron, Profesor McGonagall, dan Lupin, yang masing-masing melawari Pelahap Maut berbeda. Di belakang mereka, Harry melihat Tonks melawan penyihir laki-laki superbesar berambut pirang yang meluncurkan kutukan ke segala jurusan, sehingga kutukan-kutukannya terpantul dari dinding di sekitar mereka, meretakkan batu, menghancurkan jendela terdekat–

“Harry, kau muncul dari mana?” Ginny berseru, namun tak ada waktu. untuk menjawabnya. Harry menundukkan kepala dan berlari maju, nyaris saja terkena ledakan yang meledak di atas kepalanya, menghujani mereka semua dengan serpihan dinding, Snape tak boleh kabur, dia harus mengejar Snape–

“Rasakan ini!” teriak Profesor McGonagall, dan Harry sekilas melihat si Pelahap Maut perempuan, Alecto, berlari sepanjang koridor dengan tangan di atas kepalanya, kakaknya tepat di belakangnya. Harry berlari mengejar mereka, namun kakinya terantuk sesuatu dan detik berikutnya dia terkapar di atas kaki seseorang. Ketika dia menoleh, dilihatnya wajah Neville yang bundar, pucat, rata mencium lantai.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.