Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Mulut Malfoy mengeriut di luar kemauannya, seakan dia baru saja menelan sesuatu yang sangat pahit.

“Nah, tentang malam ini” Dumbledore melanjutkan, “aku agak bingung bagaimana terjadinya … kau tahu aku telah meninggalkan sekolah? Tapi tentu saja,” dia menjawab pertanyaannya sendiri. “Rosmerta melihatku pergi, dia memberitahumu lewat koin pintar itu, aku yakin …”

“Betul,” kata Malfoy. “Tapi dia bilang Anda Cuma keluar untuk minum, Anda akan pulang …”

“Yah, memang aku betul-betul minum … dan aku pulang … selewat beberapa waktu,” gumam Dumbledore. “Jadi, kau memutuskan untuk memasang perangkap untukku?”

“Kami memutuskan memasang Tanda Kegelapan di atas Menara dan membuat Anda bergegas pulang ke sini, untuk melihat siapa yang sudah dibunuh,” kata Malfoy. “Dan ternyata berhasil!”

“Yah … ya dan tidak …” kata Dumbledore. “Tapi, kalau begitu, ini berarti tak ada yang terbunuh?”

“Ada yang mati” kata Malfoy dan suaranya naik satu oktaf ketika dia mengatakan itu. “Salah satu dari orang-orang Anda … saya tidak tahu siapa dia, soalnya gelap … saya menginjak tubuhnya … saya sebenarnya harus menunggu di atas sini saat Anda pulang, hanya saja phoenix Anda menghalangi …”

“Ya, mereka melakukan itu,” kata Dumbledore.

Terdengar, ledakan dan teriakan-teriakan dari bawah, lebih keras daripada sebelumnya. Kedengarannya seperti orang-orang bertempur di tangga spiral yang menuju ke tempat Dumbledore, Malfoy, dan Harry berada, dan jantung Harry bergemuruh tak terdengar dalam dadanya yang tak kelihatan … ada yang mati … Malfoy menginjak tubuhnya … tapi siapa dia?

“Waktunya tinggal sedikit, dengan cara bagaimanapun juga,” kata Dumbledore. “Jadi, mari kita diskusikan pilihanmu, Draco.”

“Pilihan saya!” kata Malfoy keras. “Saya berdiri di sini memegang tongkat sihir saya akan membunuh Anda”

“Anakku yang baik, mari kita jangan berpura-pura lagi soal itu. Kalau memang akan membunuhku, kau sudah melakukannya waktu kau melucutiku tadi, kau tidak akan berhenti dulu untuk obrolan menyenangkan tentang cara dan sarana ini.”

“Saya tak punya pilihan!” kata Malfoy, dan mendadak dia sepucat Dumbledore. “Saya harus melakukannya! Dia akan membunuh saya! Dia akan membunuh seluruh keluarga saya!”

“Aku menghargai kesulitan posisimu,” kata Dumbledore. “Kalau tidak, kenapa menurutmu aku tidak mengkonfrontasimu sebelum ini? Karena aku tahu kau akan dibunuh jika Lord Voldemort menyadari aku mencurigaimu.”

Malfoy berjengit mendengar nama itu.

“Aku tidak berani bicara denganmu soal misi yang aku tahu telah dipercayakan kepadamu, siapa tahu dia menggunakan Legillimency terhadapmu,” Dumbledore melanjutkan. “Tetapi sekarang akhirnya kita bisa saling bicara terbuka … belum ada kerugian, kau belum mencelakakan siapa-siapa, meskipun kau sangat beruntung anak-anak yang tak sengaja menjadi korbanmu selamat … aku bisa membantumu, Draco.”

“Tidak, Anda tak bisa,” kata Malfoy, tongkat sihirnya bergetar hebat. “Tak ada yang bisa membantu saya. Dia menyuruh saya melakukannya, kalau tidak dia akan membunuh saya. Saya tak punya pilihan.”

“Menyeberanglah ke pihak yang benar, Draco, dan kami bisa menyembunyikanmu lebih sempurna daripada yang bisa kaubayangkan. Lagi pula, aku bisa mengirim anggota-anggota Orde ke ibumu malam ini untuk menyembunyikannya juga. Ayahmu aman saat ini di Azkaban … kalau waktunya tiba kami bisa melindunginya juga … menyeberanglah ke pihak yang benar, Draco … kau bukan pembunuh …”

Malfoy memandang Dumbledore.

“Tapi saya berhasil sampai sejauh ini, kan?” kata Draco perlahan. “Mereka mengira saya akan mati dalam usaha saya, tapi saya di sini … dan Anda dalam kekuasaan saya … saya yang memegang tongkat sihir … Anda dalam belas kasihan saya …”

“Tidak, Draco,” kata Dumbledore pelan. “Belas kasihankulah, bukan belas kasihanmu, yang penting sekarang.”

Malfoy tidak bicara. Mulutnya ternganga, tongkat sihirnya masih gemetar. Harry melihat tongkat itu menurun sedikit

Namun mendadak terdengar gemuruh langkah-langkah menaiki tangga dan sesaat kemudian Malfoy terdorong minggir ketika empat orang berjubah hitam menerjang keluar dari pintu ke benteng. Masih lumpuh, matanya menatap tanpa berkedip, Harry memandang ngeri keempat orang asing itu. Tampaknya Pelahap Maut telah memenangkan pertempuran di bawah.

Seorang laki-laki gendut tak-berbentuk dengan lirikan juling, terkekeh menciut-ciut.

“Dumbledore tersudut!” katanya, dan dia berpaling pada wanita kekar kecil yang kelihatannya bisa jadi adiknya dan yang sedang menyeringai senang. “Dumbledore tanpa tongkat sihir, Dumbledore sendirian! Bagus sekali, Draco, bagus sekali!”

“Selamat malam, Amycus,” kata Dulnbledore kalem, seakan menyambut orang itu dalam jamuan minum teh. “Dan kau mengajak Alecto juga … menyenangkan ….”

Perempuan itu terkekeh marah.

“Kau kira lelucon kecil ini akan membantumu di akhir hidupmu, begitu?” cemoohnya.

“Lelucon? Bukan, bukan, ini sopan santun,” jawab Dumbledore.

“Lakukan,” kata orang asing yang berdiri paling dekat dengan Harry, tinggi besar dengan rambut dan kumis kelabu berantakan, jubah Pelahap Maut-nya tampak sesak tak nyaman. Belum pernah Harry mendengar suara seperti suara laki-laki ini, seperti gonggongan serak. Harry bisa mencium bau tajam campuran antara tanah, keringat, dan tak salah lagi, darah, menguar dari tubuhnya. Tangannya yang kotor berkuku panjang-panjang kekuningan.

“Kaukah itu, Fenrir?” tanya Dumbledore.

“Betul,” jawabnya serak. “Senang melihatku, Dumbledore?”

“Tidak, tak bisa kukatakan aku senang …”

Fenrir Greyback menyeringai, memperlihatkan giginya yang runcing-runcing. Darah menetes-netes ke dagunya dan dia menjilat bibirnya perlahan, dengan kurang ajar.

“Tapi kau tahu aku suka sekali anak-anak, Dumbledore.”

“Benarkah dugaanku bahwa kau menyerang bahkan tanpa bulan purnama sekarang? Ini sangat tidak lazim … kau sudah sedemikian gemar daging manusia sehingga tidak bisa hanya dipuaskan sebulan sekali?”

“Betul,” kata Greybackz. “Kau shock, kan, Dumbledore? Takut?”

“Yah, aku tak bisa berpura-pura itu tidak membuatku ku agak jijik,” kata Dumbledore. “Dan ya aku agak shock bahwa Draco justru mengundangmu, ke sekolah tempat teman-temannya tinggal …”

“Saya tidak mengundangnya,” desah Malfoy. Dia tidak memandang Greyback, tampaknya dia bahkan tak mau mengerlingnya. “Saya tak tahu dia akan datang …”

“Mana mau aku ketinggalan piknik ke Hogwarts, Dumbledore,” kata Greyback parau. “Di sini ada banyak nyak leher yang bisa dikoyak … lezat, lezat …”

Dan dia mengangkat jarinya yang berkuku kuning dan mencukil-cukil giginya, melirik Dumbledore.

“Kau bisa kujadikan makanan penutup, Dumbledore …”

“Tidak,” kata Pelahap Maut keempat tajam. Wajahnya berat dan brutal. “Kita sudah mendapat perintah. Draco yang harus melakukannya. Sekarang, Draco, dan cepat.”

Malfoy memperlihatkan keengganan yang lebih besar daripada sebelumnya. Tampaknya dia ketakutan ketika memandang wajah Dumbledore, yang sangat pucat, dan lebih rendah, karena dia sudah semakin merosot di dinding benteng.

“Umurnya toh tak akan lama lagi, kalau kau tanya aku!” kata si laki-laki juling, disusul cekikikan adik perempuannya yang mendesis-desis. “Lihat saja dia kau kenapa, Dumby?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.