Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Di suatu tempat di kedalaman kastil di bawah Harry mendengar teriakan samar. Malfoy menegang dan menoleh.

“Ada yang melawan dengan gigih,” kata Dumbledore sambil lalu. “Tapi tadi kau mengatakan … ya, kau berhasil memasukkan Pelahap Maut ke dalam sekolahku, yang, harus kuakui, kupikir tidak mungkin … bagaimana kau melakukannya?”

Namun Malfoy tidak berkata apa-apa. Dia masih mendengarkan apa pun yang terjadi di bawah dan tampaknya hampir sama lumpuhnya seperti Harry.

“Barangkali kau harus melanjutkan melaksanakan tugasmu sendirian,” saran Dumbledore. “Bagaimana kalau pendukungmu berhasil dirintangi oleh penjagaku? Seperti yang mungkin telah kau sadari, ada anggota-anggota Orde Phoenix juga di sini malam ini. Lagi pula, kau tidak memerlukan bantuan … aku tak punya tongkat sihir saat ini … aku tak bisa membela diri.”

Malfoy hanya menatapnya.

“Ah, begitu rupanya,” kata Dumbledore ramah, ketika Malfoy tidak bergerak maupun bicara. “Kau takut bertindak sebelum mereka bergabung denganmu.”

“Saya tidak takut!” gertak Malfoy, meskipun dia masih belum berbuat apa-apa untuk melukai Dumbledore. “Anda-lah yang seharusnya takut!”

“Tapi kenapa? Menurutku kau tidak akan membunuhku, Draco. Membunuh tidak semudah yang dikira orang-orang yang tak tahu apa-apa … jadi, ceritakan padaku, sementara kita menunggu teman-temanmu … bagaimana kau menyelundupkan mereka ke sini? Kelihatannya kau perlu waktu lama untuk memecahkan bagaimana melakukannya.”

Malfoy tampak seperti sedang berusaha keras menahan desakan untuk berteriak, atau muntah. Dia menelan ludah dan menarik napas dalam-dalam beberapa kali, menatap galak Dumbledore, tongkat sihirnya teracung tepat ke jantung Dumbledore. Kemudian, seakan tak bisa menahan diri lagi, dia berkata, “Saya harus membetulkan Lemari Pelenyap yang sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun. Lemari tempat Montague hilang tahun lalu.”

“Aaaah.”

Desah Dumbledore itu sekaligus setengah erangan. Sesaat dia memejamkan matanya.

“Pintar sekali … ada kembarannya, kukira?”

“Satunya ada di Borgin and Burkes,” kata Malfoy, “dan keduanya membentuk semacam lorong di antara mereka. Montague memberitahu saya, ketika dia terkurung dalam lemari yang di Hogwarts, keadaannya tak menentu, tapi kadang-kadang dia bisa mendengar apa yang sedang terjadi di sekolah, dan kadang-kadang apa yang sedang terjadi di toko, sepertinya lemari itu berpindah-pindah antara dua tempat itu, namun dia tidak bisa membuat orang lain mendengarnya … pada akhirnya dia berhasil ber-Apparate keluar, meskipun dia tidak lulus ujian Apparition-nya. Dia nyaris mati melakukan itu. Semua orang menganggap ceritanya benar-benar seru, tapi saya satu-satunya yang menyadari apa artinya itu bahkan Borgin tidak tahu-sayalah yang menyadari mungkin ada jalan masuk Hogwarts lewat kedua Lemari itu kalau saya membetulkan yang rusak.”

“Bagus sekali,” gumam Dumbledore. “Jadi, para Pelahap Maut bisa lewat dari Borgin and Burkes ke dalam sekolah untuk membantumu … rencana yang cerdik, sangat cerdik … dan, seperti yang kau katakan, tepat di depan hidungku.”

“Yeah,” kata Malfoy yang, sungguh aneh, tampaknya mendapatkan keberanian dan penghiburan dari pujian Dumbledore. “Yeah, memang begitu!”

“Tetapi bukankah ada saat-saat,” Dumbledore melanjutkan, “ketika kau tidak yakin kau akan berhasil membetulkan Lemari itu? Dan kau mengambil tindakan lain yang kasar dan kurang pertimbangan, seperti mengirimiku kalung terkutuk yang pastilah akan jatuh ke tangan orang lain … meracuni mead, padahal kemungkinan aku meminumnya sangatlah kecil …”

“Yeah, tapi Anda tidak menyadari siapa di belakang semua itu, kan?” cemooh Malfoy, ketika Dumbledore merosot sedikit di tembok benteng, kekuatan di kakinya rupanya berkurang, dan Harry berjuang sekuat tenaga, sia-sia, tanpa suara, untuk melepaskan diri dari mantra yang mengikatnya.

“Sebetulnya, aku tahu,” kata Dumbledore. “Aku yakin kaulah orangnya.”

“Kenapa Anda tidak menghentikan saya, kalau begitu?” tuntut Malfoy.

“Aku mencoba, Draco. Profesor Snape selama ini mengawasimu atas perintahku”

“Dia tidak melakukan perintah Anda, dia berjanji kepada ibu saya”

“Tentu saja itu yang akan dikatakannya kepadamu, Draco, tapi”

“Dia agen-ganda, laki-laki tua bodoh, dia tidak bekerja untuk Anda, Anda saja yang mengira begitu!”

“Kita harus sepakat bahwa kita berbeda pendapat dalam hal ini, Draco. Aku kebetulan memercayai Profesor Snape”

“Anda mulai kacau kalau begitu!” ejek Malfoy. “Dia menawarkan banyak bantuan kepada saya menginginkan semua kemuliaan untuk dirinya ingin ikut ambil bagian dalam apa yang saya lakukan. Apa yang kau lakukan? Kau yang mengirim kalung itu, itu tindakan bodoh, bisa menggagalkan segalanya. Tapi saya tidak memberitahunya apa yang saya lakukan di Kamar Kebutuhan, dia akan bangun esok pagi dan semuanya sudah berakhir dan dia tak lagi jadi favorit Pangeran Kegelapan, dia bukan apa-apa dibanding dengan saya, bukan apa-apa!”

“Sangat memuaskan,” kata Dumbledore lunak. “Kita semua senang mendapat apresiasi untuk kerja keras kita, tentu saja … tapi kau pastilah punya kaki tangan … punya orang di Hogsmeade, yang bisa memberikan kepada Katie kalung-kalung-aaaah …”

Dumbledore memejamkan matanya lagi dan mengangguk-angguk, seolah-olah dia akan tertidur.

“… tentu saja … Rosmerta. Berapa lama sudah dia di bawah pengaruh Kutukan Imperius?”

“Paham juga akhirnya,” ejek Malfoy.

Terdengar teriakan lain dari bawah, lebih keras daripada sebelumnya. Malfoy menoleh gugup lagi, kemudian kembali memandang Dumbledore, yang melanjutkan, “Jadi, kasihan Rosmerta, disuruh bersembunyi di toiletnya sendiri dan memberikan kalung itu kepada murid Hogwarts mana saja yang masuk ke toilet sendirian? Dan mead beracun … yah, tentu saja Rosmerta bisa meracuninya untukmu sebelum dia mengirim botol itu kepada Slughorn, mengira itu hadiah Natal untukku … ya, sangat rapi … sangat rapi … Mr Filch yang malang tentu saja tidak akan berpikir untuk mengecek botol kiriman Rosmerta … beritahu aku, bagaimana kau bisa berkomunikasi dengan Rosmerta? Kupikir semua cara komunikasi masuk dan keluar dari sekolah sudah dimonitor.”

“Koin yang disihir,” kata Malfoy, seakan dia terpaksa harus terus bicara, meskipun tongkat sihirnya gemetar hebat sekali. “Saya pegang satu dan dia pegang yang lain dan saya bisa mengirim pesan-pesan kepadanya”

“Bukankah itu cara komunikasi rahasia yang digunakan grup yang menamakan diri Laskar Dumbledore tahun lalu?” tanya Dumbledore. Suaranya ringan seperti mengobrol biasa, namun Harry melihatnya merosot lagi dua setengah senti di dinding ketika dia mengatakan itu.

“Yeah, saya mendapatkan idenya dari mereka,” kata Malfoy, dengan senyum masam. “Saya mendapatkan ide meracuni mead dari si Darah-lumpur Granger juga, saya mendengarnya ngomong di perpustakaan tentang Filch yang tidak mengenali racun …”

“Tolong jangan gunakan kata tidak sopan itu di depanku,” kata Dumbledore.

Malfoy tertawa kasar.

“Anda masih peduli saya menyebut ‘Darah-lumpur’, padahal saya sudah akan membunuh Anda?”

“Ya,” kata Dumbledore, dan Harry melihat kakinya menggelincir sedikit di lantai selagi dia berusaha agar tetap tegak. “Sedangkan soal kau akan membunuhku, Draco, kau sudah melewatkan beberapa menit sekarang. Kita cuma berdua. Aku lebih tak berdaya daripada yang bisa kau harapkan, dan tetap saja kau belum bertindak …”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.