Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Kapan munculnya?” tanya Dumbledore, dan tangannya mencengkeram bahu Harry dengan amat menyakitkan, ketika dia berusaha berdiri.

“Mestinya beberapa menit yang lalu, tanda itu belum ada ketika aku mengeluarkan kucing, tapi ketika aku tiba di atas-”

“Kita harus segera kembali ke kastil,” kata Dumbledore. “Rosmerta,” dan meskipun dia terhuyung sedikit, tampaknya dia menguasai situasi sepenuhnya, “kami memerlukan transportasi-sapu-”

“Ada dua di balik bar,” katanya, tampak sangat ketakutan. “Bagaimana kalau aku lari mengambil?”

“Tidak usah, Harry bisa melakukannya.” Harry langsung mengangkat tongkat sihirnya.

“Accio sapu Rosmerta.”

Sedetik kemudian mereka mendengar bunyi gedubrakan keras ketika pintu depan rumah minum menjeblak terbuka, dua sapu meluncur ke jalan dan berlomba mencapai sisi Harry, di tempat itu mereka langsung berhenti, agak bergetar, setinggi pinggangnya.

“Rosmerta, tolong kirim pesan ke Kementerian,” kata Dumbledore, seraya menaiki sapu yang paling dekat dengannya. “Mungkin belum ada seorang pun di dalam Hogwarts menyadari ada yang tidak beres … Harry, pakailah Jubah Gaib-mu …”

Harry menarik keluar Jubah-nya dari dalam sakunya dan menyelubungkannya ke tubuhnya sebelum menaiki sapunya. Madam Rosmerta sudah berjalan kembali terhuyung-huyung menuju rumah minumnya ketika Harry dan Dumbledore menjejak tanah dan naik mengangkasa. Ketika mereka meluncur menuju kastil, Harry mengerling Dumbledore, siap menangkapnya kalau-kalau dia jatuh, namun melihat Tanda Kegelapan rupanya bereaksi terhadap Dumbledore seperti obat kuat: dia membungkuk rendah di atas sapunya, matanya terpancang pada Tanda itu, rambut perak dan jenggotnya yang panjang berkibar di belakangnya di dalam udara malam. Dan Harry juga memandang tengkorak itu, dan ketakutan menggelembung di dalam dirinya, seperti gelembung beracun, menekan paru-parunya, menyingkirkan semua ketidaknyamanan lain dari pikirannya …

Berapa lama sudah mereka pergi? Apakah keberuntungan Ron, Hermione, dan Ginny sudah memudar sekarang? Apakah salah satu dari mereka yang menyebabkan Tanda itu dipasang di atas sekolah, ataukah Neville atau Luna, atau anggota LD yang lain? Dan kalau betul begitu … dialah yang menyuruh mereka berpatroli di koridor-koridor, dia yang meminta mereka meninggalkan tempat tidur mereka yang aman … apakah dia akan bertanggung jawab, lagi, atas kematian seorang teman?

Selagi mereka terbang di atas jalan gelap berkelok-kelok yang mereka lewati dengan berjalan kaki tadi, Harry mendengar, di atas desing udara malam di telinganya, Dumbledore bergumam dalam bahasa yang aneh lagi. Rasanya dia memahami kenapa ketika dia merasa sesaat sapunya bergetar sewaktu mereka terbang melewati tembok pembatas memasuki halaman sekolah. Dumbledore melepas sihir yang dipasangnya sendiri di sekitar sekolah, supaya mereka bisa masuk dengan cepat. Tanda Kegelapan berpendar tepat di atas Menara Astronomi, menara kastil yang paling tinggi. Apakah itu berarti kematian terjadi di sana?

Dumbledore sudah melewati benteng pertahanan Menara Astronomi dan sedang turun dari sapunya. Harry mendarat di sebelahnya beberapa detik sesudahnya dan memandang berkeliling.

Benteng itu kosong. Pintu ke tangga spiral yang turun menuju ke dalam kastil tertutup. Tak ada tanda-tanda perlawanan, pertempuran maut, ataupun mayat.

“Apa artinya ini?” Harry bertanya kepada Dumbledore, mendongak memandang tengkorak hijau dengan lidah ular bersinar mengerikan di atas mereka. “Apakah itu Tanda yang sebenarnya? Apakah sudah pasti ada yang Profesor?”

Dalam keremangan pendar cahaya hijau dari Tanda, Harry melihat Dumbledore mencengkeram dadanya dengan tangannya yang menghitam.

“Pergilah bangunkan Severus,” kata Dumbledore lemah namun jelas. “Ceritakan kepadanya apa yang terjadi dan bawa dia kepadaku. Jangan melakukan hal lain, jangan bicara kepada siapa pun, dan jangan melepas Jubah-mu. Aku akan menunggu di sini.”

“Tapi-”

“Kau sudah bersumpah akan mematuhiku, Harry pergilah!”

Harry bergegas ke pintu yang menuju tangga spiral, namun baru saja tangannya memegang cincin besi pintu itu, didengarnya langkah-langkah berlari di baliknya. Dia berpaling memandang Dumbledore, yang memberi isyarat agar dia mundur. Harry mundur, sambil mencabut tongkat sihirnya.

Pintu menjeblak terbuka dan ada yang menyerbu keluar dan berteriak, “Expelliarmus!”

Tubuh Harry langsung kaku dan tak bisa bergerak, dan dia merasa dirinya terjatuh ke belakang ke dinding Menara, bersandar seperti patung goyah, tak mampu bergerak ataupun berbicara. Dia tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi-Expelliarmus bukanlah Mantra Pembeku.

Kemudian, diterangi cahaya Tanda, dilihatnya tongkat sihir Dumbledore terbang melengkung melewati tepian benteng dan dia mengerti … Dumbledore telah membuat Harry tak bergerak tanpa kata, dan detik yang digunakannya untuk melakukan mantra itu telah membuatnya kehilangan kesempatan untuk melindungi dirinya sendiri.

Berdiri bersandar di benteng, dengan wajah sangat pucat pasi, Dumbledore masih tetap tidak menunjukkan tanda-tanda panik ataupun bingung. Dia hanya memandang orang yang melucuti senjatanya dan berkata, “Selamat malam, Dwraco.”

Malfoy melangkah maju, memandang ke sekitarnya dengan cepat untuk mengecek dia dan Dumbledore hanya berdua saja. Terpandang olehnya sapu kedua.

“Siapa lagi yang ada di sini?”

“Pertanyaan yang bisa juga kuajukan kepadamu. Atau apakah kau bertindak sendiri?”

Harry melihat mata pucat Malfoy kembali memandang Dumbledore dalam sinar kehijauan Tanda.

“Tidak,” katanya. “Saya punya pendukung. Ada Pelahap Maut di sini di sekolah Anda malam ini.”

“Wah, wah,” kata Dumbledore, seolah Malfoy sedang memperlihatkan kepadanya PR proyek yang ambisius. “Sungguh bagus sekali. Kau menemukan cara untuk memasukkan mereka, rupanya?”

“Yeah,” kata Malfoy, yang terengah. “Tepat di depan hidung Anda dan Anda tak pernah menyadarinya!”

“Sungguh banyak akal,” kata Dumbledore. “Tapi … maaf … di mana mereka sekarang? Kau tampak tak terkawal.”

“Mereka bertemu beberapa penjaga Anda. Mereka sedang bertempur di bawah sana. Tak akan lama lagi … saya keluar lebih dulu. Saya-saya punya tugas yang harus saya laksanakan.”

“Nah, kalau begitu, teruskan dan laksanakan tugasmu, Nak,” kata Dumbledore lembut.

Sunyi. Harry berdiri terpenjara dalam tubuhnya yang tak kelihatan dap lumpuh, menatap mereka berdua, telinganya ditajamkannya untuk mendengar pertempuran para Pelahap Maut di kejauhan, dan di hadapannya, Draco Malfoy tidak melakukan apa-apa kecuali memandang Albus Dumbledore, yang tak bisa dipercaya, tersenyum.

“Draco, Draco, kau bukan pembunuh.”

“Bagaimana Anda tahu?” kata Malfoy segera.

Rupanya dia menyadari betapa kekanak-kanakan kata-katanya tadi terdengar. Harry melihat wajahnya memerah dalam cahaya kehijauan Tanda.

“Anda tak tahu saya sanggup berbuat apa saja,” kata Malfoy, lebih kuat, “Anda tak tahu apa yang telah saya lakukan!”

“Oh, ya, aku tahu,” kata Dumbledore lunak. “Kau nyaris membunuh Katie Bell dan Ronald Weasley. Kau mencoba, dengan keputusasaan yang semakin meningkat, untuk membunuhku sepanjang tahun ini. Maafkan aku, Draco, tapi usaha-usahamu itu lemah … sangat lemah, jujur saja, sehingga aku bertanya-tanya sendiri apakah kau melakukannya dengan sepenuh hati …”

“Dengan sepenuh hati!” kata Malfoy berapi-api. “Saya mengerjakannya sepanjang tahun, dan malam ini-“

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.