Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Dumbledore sudah berdiri lagi, sama pucatnya dengan Inferi di sekeliling mereka, namun lebih tinggi daripada semuanya juga, api menari-nari di matanya, tongkat sihirnya terangkat seperti obor dan dari ujungnya keluar lidah api, seperti laso tebal, mengelilingi mereka semua dengan kehangatan.

Para Inferi saling tabrak, berusaha, membabi-buta, untuk menghindari api yang melingkungi rnereka …

Dumbledore menyauk kalung dari dasar baskom dan menyimpannya di dalam jubahnya. Tanpa kata, dia memberi isyarat agar Harry datang ke sisinya. Perhatian mereka teralih oleh api, para Inferi tampaknya tak sadar buruan mereka pergi, ketika Dumbledore membawa Harry kembali ke perahu, lingkaran api bergerak bersama mereka. Di sekeliling mereka, para Inferi yang bingung menemani mereka ke tepi air, di mana mereka bersyukur meluncur kembali dengan anggun ke dalam air gelap mereka.

Harry, yang seluruh tubuhnya gemetar, sekilas mengira Dumbledore tidak akan bisa naik ke perahu. Dumbledore terhuyung sedikit ketika dia berusaha naik ke perahu, semua usahanya tampaknya diarahkan untuk mempertahankan perlindungan lingkaran api yang mengelilingi mereka. Harry menyambarnya dan membantunya duduk kembali di tempat duduknya. Begitu mereka berdua sudah aman berdesakan di dalamnya, perahu mulai bergerak kembali menyeberangi air gelap, menjauhi karang, yang masih dikelilingi lingkaran api, dan tampaknya para Irtiferi yang mengapung di bawah mereka tidak berani muncul lagi.

“Sir,” engah Harry, “Sir, saya lupa-tentang api mereka mendatangi saya dan saya panik-”

“Bisa dimengerti,” gumam Dumbledore. Harry cemas sekali mendengar betapa lemahnya suaranya.

Mereka tiba di tepi danau dengan benturan kecil dan Harry merompat naik, kemudian berbalik untuk membantu Dumbledore. Begitu Dumbledore menginjak pantai, dibiarkannya tongkat sihirnya terjatuh; lingkaran api lenyap, namun para Inferi tidak berani muncul lagi dari dalam air. Perahu kecil itu tenggelam lagi ke dalam air, berdentang dan bergemerincing, rantainya meluncur kembali ke dalam danau juga. Dumbledore melepas napas lega dan bersandar ke dinding gua.

“Aku lemah …” katanya.

“Jangan kuatir, Sir,” kata Harry segera, mencemaskan Dumbledore yang pucat pasi dan tampak kelelahan bukan kepalang. “Jangan kuatir, saya akan membawa kita pulang … bersandarlah pada saya, Sir …”

Dan melingkarkan lengan Dumbledore yang tidak terluka ke bahunya, Harry memapah kepala sekolahnya meninggalkan danau, menyangga sebagian besar berat tubuhnya.

“Proteksinya … ternyata … didesain dengan bagus,” kata Dumbledore lemah. “Satu orang saja tidak akan berhasil … tindakanmu hebat, Harry, hebat sekali …”

“Jangan bicara sekarang,” kata Harry, takut mendengar betapa suara Dumbledore sudah menjadi sangat tidak jelas, betapa kakinya terseret, “simpan tenaga Anda, Sir … kita akan segera keluar dari sini …”

“Gerbang-lengkungnya pasti sudah menutup lagi … pisauku …”

“Tak perlu, saya terluka di karang,” kata Harry tegas, “beritahu saja di mana …”

“Di sini …”

Harry menyekakan lengannya yang tergores pada dinding karang. Setelah menerima darah …, gerbang lengkung langsung membuka. Mereka menyeberangi bagian depan gua dan Harry membantu Dumbledore kembali ke air laut sedingin es yang memenuhi celah di karang terjal.

“Semuanya akan beres, Sir,” kata Harry berkali-kali, menjadi lebih cemas dikarenakan diamnya Dumbledore dibanding suaranya yang melemah. “Kita hampir sampai … saya bisa meng-Apparate kita berdua pulang … jangan kuatir …”

“Aku tidak kuatir, Harry,” kata Dumbledore, suaranya sedikit lebih kuat, kendati airnya sedingin es. “Aku bersamamu.”

-oO0O0-

27. MENARA TERSAMBAR PETIR

Begitu berada kembali di bawah langit bertabur bintang, Harry mengangkat Dumbledore ke atas batu yang paling dekat, kemudian dia sendiri berdiri. Basah kuyup dan menggigil kedinginan, masih menyangga berat tubuh Dumbledore, Harry berkonsentrasi trasi lebih keras daripada yang pernah dilakukannya ke tempat tujuannya, Hogsmeade. Memejamkan matanya, memegang lengan Dumbledore kuat-kuat, dia melangkah memasuki perasaan dimampatkan yang sangat tidak menyenangkan.

Dia tahu dia berhasil sebelum membuka matanya: bau garam, angin laut telah lenyap. Dia dan Dumbledore menggigil dengan air masih menetes-netes dari tubuh mereka di tengah jalan utama yang gelap d] Hogsmeade. Selama sesaat yang mengerikan imajinasi Harry memperlihatkan lebih banyak Inferi merayap mendekatinya dari sisi toko-toko, namun dia mengerjapkan mata dan melihat tak ada yang bergerak. Semuanya diam, di mana-mana gelap, kecuali ada beberapa lampu jalan dan jendela atas yang lampunya menyala.

“Kita berhasil, Profesor!” Harry berbisik dengan sulit; tiba-tiba dia menyadari dadanya sakit seperti terbakar. “Kita berhasil! Kita mendapatkan Horcrux-nya!”

Dumbledore terhuyung menabraknya. Sekejap Harry mengira Apparition-nya yang kurang sempurna membuat Dumbledore kehilangan keseimbangan; kemudian dilihatnya wajah Dumbledore, lebih pucat dan lebih lembap dalam cahaya lampu jalan di kejauhan.

“Sir, Anda tak apa-apa?”

“Biasanya lebih baik,” kata Dumbledore lemah, meskipun ujung-ujung mulutnya menyeringai. “Cairan tadi … bukan minuman kesehatan …”

Dan betapa ngerinya Harry, Dumbledore merosot ke tanah.

“Sir-tak apa-apa, Sir, Anda akan baik-baik saja, jangan kuatir-”

Harry memandang ke sekitarnya dengan putus asa, mencari bantuan, namun tak ada orang yang terlihat dan yang bisa dipikirkannya hanyalah, entah bagaimana dia harus membawa Dumbledore secepatnva ke rumah sakit.

“Kita harus membawa Anda ke sekolah, Sir … Madam Pomfrey …”

“Tidak,” kata Dumbledore. “Profesor Snape … dialah yang kuperlukan … tapi kupikir … aku tidak bisa berjalan jauh sekarang …”

“Baik-Sir, begini-saya akan mengetuk pintu, mencari tempat Anda bisa tinggal kemudian saya akan berlari memanggil Madam-”

“Severus,” kata Dumbledore jelas. “Aku perlu Severus …”

“Baiklah kalau begitu, Snape tapi terpaksa saya harus meninggalkan Anda sebentar supaya bisa-”

Namun sebelum Harry bisa bertindak, dia mendengar langkah-langkah berlari mendekat. Hatinya terlonjak gembira. Ada yang melihat, ada yang tahu mereka memerlukan bantuan dan ketika berpaling dia melihat Madam Rosmerta berlari sepanjang jalan yang gelap menuju mereka, memakai sandal berbulu berhak tinggi dan baju rumah berbordir naga-naga.

“Aku melihat kalian ber-Appparate ketika sedang menutup gorden jendela kamarku! Untunglah, untunglah, aku tak tahu harus-tapi kenapa Albus?”

Dia berhenti, terengah-engah, dan menunduk, terbelalak memandang Dumbledore.

“Dia terluka,” kata Harry. “Madam Rosmerta, bisakah kah dia tinggal di Three Broomsticks sementara saya ke sekolah dan mencari bantuan untuknya?”

“Kau tak bisa ke sana sendirian! Apakah kau tak tahu kalian belum melihat?”

“Jika Anda membantu saya memapahnya,” kata Harry, tidak mendengarkan Madam Rosmerta, “saya rasa kita bisa membawanya ke dalam”

“Apa yang terjadi?” tanya Dumbledore. “Rosmerta, ada apa?”

“Tanda-Tanda Kegelapan, Albus.”

Dan dia menunjuk ke langit, ke arah Hogwarts, Ketakutan melanda Harry mendengar kata-kata itu, dia berbalik dan memandang.

Itu dia, menggantung di langit di atas sekolah: tengkorak hijau menyala dengan lidah ular, tanda yang ditinggalkan Pelahap Maut setiap kali mereka memasuki suatu bangunan … setiap kali mereka habis membunuh …

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.