Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Tiba-tiba saja muncul rantai tebal hijau seperti dari tembaga, menjulur dari dalam air ke kepalan tangan Dumbledore. Dumbledore mengetuk rantai itu, yang mulai meluncur dari kepalannya seperti ular, bergulung sendiri di tanah dengan bunyi dentang yang bergema keras dari dinding-dinding karang, menarik sesuatu dari kedalaman air yang gelap. Harry tersentak kaget ketika remang-remang haluan sebuah perahu kecil membelah permukaan air, menyala hijau seperti rantainya, dan meluncur, nyaris tanpa riak, ke pantai tempat Harry dan Dumbledore berdiri.

“Bagaimana Anda tahu perahu itu ada?” tanya Harry keheranan.

“Sihir selalu meninggalkan jejak,” kata Dumbledore, ketika perahu pelan membentur tepi danau, “kadang-kadang jejak yang sangat jelas. Aku yang mengajar Tom Riddle. Aku tahu gayanya.”

“Apakah … apakah perahu ini aman?”

“Oh ya, kukira demikian. Voldemort perlu menciptakan sarana untuk menyeberangi danau tanpa membangkitkan kemarahan makhluk-makhluk yang sudah dipasangnya di dalamnya, siapa tahu dia ingin mengunjungi atau memindahkan Horcrux-nya.”

“Jadi, benda-benda dalam air itu tidak akan berbuat apa-apa jika kita menyeberang dengan perahu Voldemort?”

“Kurasa kita harus menerima kenyataan bahwa mereka, pada batas tertentu; akan menyadari kita bukan Lord Voldemort. Namun sejauh ini kita telah berhasil baik. Mereka mengizinkan kita mengangkat perahu ini.”

“Tetapi kenapa mereka membiarkannya?” tanya Harry, yang tak bisa menyingkirkan bayangan tentakel menjulur keluar dari air yang gelap begitu mereka tak ada lagi di pantai itu.

“Voldemort mestinya cukup yakin, tak seorang pun kecuali penyihir hebat akan bisa menemukan perahu itu,” kata Dumbledore. “Kurasa dia siap mengambil risiko terhadap, yang menurut pendapatnya, kemungkinan paling tidak mungkin bahwa ada orang lain yang akan menemukannya, mengingat dia sudah memasang rintangan-rintangan lain di depan yang hanya bisa ditembus olehnya. Kita akan lihat nanti apakah dia benar.”

Harry menunduk memandang perahu. Perahu itu betul-betul sangat kecil.

“Kelihatannya perahu ini tidak dibuat untuk dua orang. Kuatkah dia mengangkut kita berdua? Apakah kita berdua tidak terlalu berat?”

Dumbledore tertawa kecil.

“Voldemort tidak akan peduli tentang berat badan, melainkan tentang besarnya kekuatan sihir yang menyeberangi danaunya. Aku cenderung berpikir perahu ini sudah dimantrai sehingga setiap kali hanya satu penyihir yang bisa menaikinya.”

“Tetapi kalau begitu?”

“Kurasa kau tidak masuk hitungan, Harry; kau masih di bawah umur dan belum berkualifikasi. Voldemort tak akan pernah menyangka anak berusia enam belas tahun bisa mencapai tempat ini; kurasa kekuatan sihirmu tak akan tercatat dibanding dengan kekuatanku.”

Kata-kata ini tak membuat semangat Harry terpompa. Barangkali Dumbledore tahu ini, karena dia menambahkan, “Kekeliruan Voldemort, Harry, kekeliruan Voldemort … orang dewasa bodoh dan pelupa kalau dia meremehkan yang muda … sekarang, kau lebih dulu kali ini, dan hati-hati, jangan menyentuh air.”

Dumbledore minggir dan Harry hati-hati naik ke perahu. Dumbledore menyusul, menggulung rantai di lantai perahu. Mereka berdesakan. Harry tak bisa duduk nyaman. Dia hanya bisa berjongkok, kedua lututnya menganjur di atas tepi perahu. Perahu segera mulai bergerak. Tak ada suara kecuali desir haluan perahu yang membelah air. Perahu itu bergerak tanpa bantuan mereka, seolah ada tali tak kelihatan yang menariknya ke arah cahaya di tengah danau. Segera mereka tak bisa lagi melihat dinding-dinding gua. Mereka seperti berada di laut, hanya saja tak ada ombak.

Harry menunduk dan melihat pantulan emas cahaya tongkat sihirnya berkelap-kelip dan gemerlap di air yang hitam ketika mereka lewat. Perahu membuat riak dalam di atas permukaan air yang berkilat, alur di kaca gelap …

Dan kemudian Harry melihatnya, seputih pualam, mengapung beberapa senti di bawah permukaan. “Profesor!” serunya, dan suaranya yang kaget bergaung keras di atas air yang sunyi. “Harry?”

“Rasanya saya melihat tangan di air-tangan manusia!”

“Ya, aku yakin kau melihatnya,” kata Dumbledore kalem.

Harry memandang ke dalam air, mencari tangan yang lenyap, dan rasa mual naik ke lehernya.

“Jadi benda yang tadi melompat dari air?”

Namun Harry sudah memperoleh jawabannya sebelum Dumbledore sempat menjawab. Cahaya tongkat sihir meluncur melewati bagian air yang lain dan memperlihatkan kepadanya, kali ini, mayat manusia mengapung tertelentang beberapa senti di bawah air, matanya yang terbuka berkabut seakan disaput benang labah-labah, rambut dan jubahnya melayang di sekitarnya seperti asap.

“Ada mayat-mayat di sini!” kata Harry, dan suaranya terdengar lebih nyaring dari biasanya dan sama sekali tidak seperti suaranya.

“Ya,” kata Dumbledore tenang, “tetapi kita tidak perlu mencemaskan mereka saat ini.”

“Saat ini?” Harry mengulangi, mengalihkan pandangan dari air untuk menatap Dumbledore.

“Tidak, sementara mereka hanya mengapung damai di bawah kita,” kata Dumbledore. “Tak ada yang perlu ditakuti dari mayat, Harry, sama halnya seperti tak ada yang perlu ditakuti dari kegelapan. Lord Voldemort, yang tentu saja diam-diam takut akan dua-duanya, tidak setuju dengan pendapat ini. Namun sekali lagi dia memperlihatkan kekurang bijaksanaannya. Ketidaktahuanlah yang kita takuti jika kita memandang kematian dan kegelapan, tak lebih dari itu.”

Harry diam saja; dia tak ingin membantah, namun dia ngeri ada mayat-mayat mengapung di sekitar mereka, dan lebih-lebih lagi, dia tak -percaya mereka tidak berbahaya.

“Tapi salah satu dari mereka melompat,” katanya, berusaha membuat suaranya sama datar dan kalemnya seperti suara Dumbledore. “Sewaktu saya mencoba memanggil Horcrux, ada mayat yang melompat dari dalam danau!”

“Ya,” kata Dumbledore. “Aku yakin begitu kita mengambil Horcrux, mereka tidak akan sedamai itu. Meskipun demikian, seperti banyak makhluk yang tinggal dalam kedinginan dan kegelapan, mereka takut akan cahaya dan kehangatan, yang akan kita panggil untuk membantu kita jika diperlukan. Api, Harry,” Dumbledore menambahkan dengan senyum, sebagai tanggapan atas ekspresi kebingungan Harry.

“Oh … begitu …” kata Harry cepat-cepat. Dia menolehkan kepalanya memandang cahaya kehijauan. Perahu dengan pasti meluncur ke arah cahaya itu. Dia tak bisa berpura-pura, sekarang, bahwa dia tidak takut. Danau yang besar dan gelap, dipenuhi mayat … rasanya sudah berjam-jam yang lalu ketika dia bertemu Profesor Trelawney, dia memberikan Felix Felicis kepada Ron dan Hermione … tiba-tiba dia menyesal tidak mengucapkan selamat tinggal yang lebih baik kepada mereka … dan dia belum bertemu Ginny sama sekali …

“Hampir sampai,” kata Dumbledore riang.

Betul saja, cahaya kehijauan tampaknya semakin besar akhirnya, dan dalam waktu beberapa menit, perahu berhenti, membentur sesuatu yang awalnya tak bisa Harry lihat, namun ketika dia mengangkat tongkat sihirnya yang menyala dia melihat mereka telah tiba di pulau kecil berupa karang rata di tengah danau.

“Hati-hati, jangan sampai menyentuh air,” Dumbledore memperingatkan lagi ketika Harry keluar dari perahu.

Pulau itu tak lebih besar daripada kantor Dumbledore; hamparan batu datar gelap, yang di atasnya tidak ada apa-apa kecuali sumber cahaya kehijauan itu, yang cahayanya jauh lebih cemerlang dilihat dari dekat. Harry menyipitkan mata mengawasinya. Awalnya dia mengira itu semacam lampu, tetapi kemudian dilihatnya cahaya itu datangnya dari baskom batu agak mirip Pensieve, yang diletakkan di atas tumpuan.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.