Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Terima kasih,” kata Harry penuh rasa terima kasih, namun Dumbledore sudah mengalihkan lagi perhatiannya ke dinding gua yang padat. Dia tidak mencoba sihir lagi, namun hanya berdiri di sana memandangnya lekat-lekat, seakan ada sesuatu yang luar biasa menarik tertulis di sana. Harry berdiri bergeming; dia tak ingin memecah konsentrasi Dumbledore.

Kemudian, selewat dua menit penuh, Dumbledore berkata pelan, “Oh, masa begini. Kasar sekali.”

“Ada apa, Profesor?”

“Kupikir” kata Dumbledore, memasukkan tangannya yang tidak luka ke dalam jubahnya dan mengeluarkan pisau perak pendek seperti yang biasa digunakan Harry untuk mengiris bahan ramuan, “kita diwajibkan memberi pembayaran untuk bisa lewat.”

“Pembayaran?” kata Harry. “Anda harus memberi sesuatu kepada pintu itu?”

“Ya,” kata Dumbledore. “Darah, kalau aku tak begitu keliru.”

“Darah?”

“Kukatakan tadi, ini kasar,” kata Dumbledore, yang kedengarannya merendahkan, bahkan kecewa, seolah Voldemort jauh di bawah standar yang diharapkan Dumbledore. “Maksudnya, seperti yang aku yakin telah kau perkirakan, musuhmu harus membuat dirinya lemah untuk bisa masuk. Sekali lagi, Lord Voldemort gagal memahami bahwa ada banyak hal yang lebih mengerikan daripada luka fisik.”

“Yeah, tetapi kalau Anda bisa menghindarinya …” kata Harry, yang sudah mengalami cukup banyak kesakitan sehingga tak menginginkannya lagi.

“Kadang-kadang, meskipun demikian, ini tak bisa dihindari,” kata Dumbledore, menggoyang ke belakang lengan bajunya dan memperlihatkan lengan bawah tangannya yang terluka.

“Profesor!” protes Harry, bergegas maju ketika Dumbledore mengangkat pisaunya. “Saya saja, saya-”

Harry tak tahu apa yang akan dikatakannya lebih muda, lebih fit? Namun. Dumbledore hanya tersenyum. Ada kilatan perak dan semburan merah. Permukaan karang menjadi berbintik-bintik butiran gelap, berkilauan.

“Kau baik sekali, Harry,” kata Dumbledore, sekarang melewatkan ujung tongkat sihirnya di atas sayatan dalam yang telah dibuatnya di lengannya sendiri, sehingga luka itu langsung sembuh, sama seperti ketika Snape menyembuhkan luka-luka Malfoy. “Tetapi darahmu lebih berharga daripada darahku. Ah, rupanya usaha kita berhasil.”

Garis perak gerbang-lengkung telah muncul lagi di dinding, dan kali ini tidak menghilang; karang yang terciprat darah di dalam garis itu lenyap begitu saja, meninggalkan lubang menuju kegelapan total.

“Aku lebih dulu, kurasa,” kata Dumbledore, dan dia memasuki gerbang-lengkung diikuti Harry, yang buru-buru menyalakan tongkat sihirnya sembari berjalan.

Pemandangan menyeramkan menyambut mereka; mereka berdiri di tepi danau hitam besar, bukan main besarnya sehingga Harry tak bisa melihat pantai di seberangnya, di dalam gua yang sangat tinggi, sehingga langit-langitnya juga tak terlihat. Cahaya kehijauan berkabut bersinar jauh di tempat yang tampaknya tengah danau. Cahayanya dipantulkan oleh air tenang yang sama sekali tak beriak di bawahnya. Hanya cahaya kehijauan dan sinar dari kedua tongkat sihir itulah yang memecah kegelapan yang amat gulita, meskipun sinar mereka tidak menembus sejauh yang diperkirakan Harry. Kegelapan ini entah bagaimana lebih pekat daripada kegelapan normal.

“Mari kita berjalan,” kata Dumbledore pelan. “Berhati-hatilah agar jangan sampai melangkah ke dalam air. Dekat-dekatlah padaku.”

Dumbledore berjalan mengelilingi tepi danau dan Harry mengikuti rapat di belakangnya. Langkah-langkah kaki mereka membuat bunyi berkecipak yang bergaung di tepian karang yang mengelilingi air. Terus saja mereka berjalan, namun pemandangan tidak berubah; di satu sisi mereka, dinding gua yang kasar; di sisi lain, hamparan kegelapan tak berbatas yang licin dan berkilau, yang di tengahnya bersinar cahaya ken hijauan yang misterius. Tempat itu dan kesunyiannya membuat Harry merasa sesak napas, ngeri.

“Profesor?” katanya akhirnya. “Menurut Anda Horcrux-nya di sini?”

“Oh ya,” kata Dumbledore. “Ya, aku yakin di sini. Masalahnya adalah, bagaimana kita bisa sampai ke Horcrux itu.”

“Kita tak bisa … tak bisa mencoba menggunakan Mantra Panggil?” tanya Harry, yakin bahwa itu pertanyaan bodoh, tetapi, walaupun segan mengakuinya, dia sebetulnya sudah ingin segera meninggalkan tempat ini.

“Tentu saja bisa,” kata Dumbledore, berhenti sangat mendadak sampai Harry hampir menabraknya. “Kenapa kau tidak mencobanya?”

“Saya? Oh … oke …”

Harry tidak menyangka ini, namun dia berdeham dan berkata keras, dengan tongkat sihir terangkat, “Accio Horcrux!”

Dengan bunyi seperti ledakan, sesuatu yang sangat besar dan pucat muncul dari air yang gelap kira-kira enam meter dari mereka; sebelum Harry bisa melihat benda apa itu, benda itu sudah menghilang lagi dengan ceburan keras yang meninggalkan riak besar dan dalam pada permukaan air yang seperti cermin gelap. Harry melompat mundur dengan shock dan menabrak dinding gua; jantungnya masih berdentum-dentum ketika dia menoleh kepada Dumbledore.

“Apa itu?”

“Sesuatu, yang menurut perkiraanku akan siap bereaksi jika kita berusaha mengambil Horcrux.”

Harry kembali memandang air. Permukaan danau sekali lagi seperti kaca gelap yang bersinar; riaknya sudah menghilang dengan kecepatan tak wajar. Namun jantung Harry masih berdebar keras.

“Apakah Anda sudah mengira itu akan terjadi, Sir?”

“Aku menduga sesuatu akan terjadi jika kita terang-terangan berusaha mengambil Horcrux. Idemu tadi bagus sekali, Harry; cara yang paling sederhana untuk mengetahui apa yang kita hadapi.”

“Tetapi kita tidak tahu benda apa tadi,” kata Harry, menatap air tenang yang menyeramkan.

“Benda-benda tadi, maksudmu,” kata Dumbledore.

“Aku sangat meragukan hanya ada satu. Kita jalan lagi?”

“Profesor?”

“Ya, Harry?”

“Apakah menurut Anda kita harus masuk ke dalam danau?”

“Masuk ke dalam danau? Hanya kalau kita sangat sial.”

“Menurut Anda, Horcrux-nya tidak di dasar danau?” “Oh tidak … menurutku Horcrux-nya ada di tengahnya.”

Dan Dumbledore menunjuk ke arah cahaya hijau berkabut di tengah danau.

“Jadi, kita harus menyeberangi danau untuk mendapatkannya?”

“Ya, kukira begitu.”

Harry tidak berkata apa=apa. Pikirannya dipenuhi monster-air, ular raksasa, jin, kelpie-hantu air, dan peri …

“Aha,” kata Dumbledore, dan dia berhenti lagi. Kali ini Harry benar-benar menabraknya dan nyaris terjungkal ke dalam air yang gelap. Tangan Dumbledore yang tidak terluka memegangi lengannya erat-erat, menariknya dari tepi danau. “Maaf, Harry, mestinya aku memberi peringatan. Mundurlah ke dinding gua, tolong. Kurasa aku telah menemukan tempatnya.”

Harry sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud Dumbledore. Bagian pantai di tempat ini setahunya sama saja seperti yang lain, namun Dumbledore tampaknya telah mendeteksi sesuatu yang istimewa di sini. Kali ini dia menjalankan tangannya tidak di atas dinding karang, melainkan di udara kosong, seolah mengharapkan menemukan dan memegang sesuatu yang tak kelihatan.

“Oho,” kata Dumbledore girang, beberapa detik kemudian. Tangannya memegang sesuatu yang tak bisa dilihat Harry di udara. Dumbledore mendekat ke air. Harry mengawasi dengan gugup ketika ujung sepatu Dumbledore yang bergesper menginjak tepian danau yang paling pinggir. Tangan satunya masih memegang sesuatu di udara, Dumbledore mengangkat tongkat sihirnya dengan tangan yang lain dan mengetuk kepalan tangannya dengan ujung tongkat itu.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.