Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Kita tak perlu masuk,” gumam Dumbledore, memandang ke sekitarnya. “Asal tak ada yang melihat kita pergi … sekarang letakkan tanganmu di lenganku, Harry. Tak perlu mencengkeram kuat-kuat, aku hanya memandumu. Pada hitungan ketiga–satu … dua … tiga …”

Harry berputar. Langsung saja dia merasakan sensasi seakan dia dijejalkan ke dalam pipa karet tebal. Dia tidak dapat menarik napas, semua bagian tubuhnya ditekan sampai nyaris tak tertahankan dan kemudian, tepat ketika dia mengira akan mati lemas, pengikat tak kelihatan itu seperti terlepas, dan dia berdiri dalam kegelapan yang sejuk, menghirup dalam-dalam udara segar yang asin.

-oO0O0-

26. GUA

Harrry bisa mencium bau garam dan mendengar gemuruh gelombang. Angin dingin sepoi-sepoi memburai rambutnya ketika dia memandang laut yang diterangi cahaya bulan dan langit bertabur bintang. Dia berdiri di atas karang gelap yang muncul tinggi di atas permukaan laut, air berbuih dan menggelegak di bawahnya. Dia menoleh. Di belakangnya ada karang menjulang, terjal, hitam, dan tak berbentuk. Beberapa gumpalan besar karang, seperti tempat Harry dan Dumbledore berdiri, tampak seakan pecah dari permukaan karang besar itu pada suatu waktu di masa lampau. Pemandangan yang suram dan keras. Melulu laut dan karang, tanpa ada nya pohon, rumput ataupun pasir yang melembutkan. “Bagaimana menurut pendapatmu?” tanya Dumblodore. Seakan dia menanyakan pendapat Harry tentang apakah tempat itu baik untuk piknik.

“Mereka membawa anak-anak panti asuhan ke sini?” tanya Harry, yang tak bisa membayangkan tempat yang lebih tidak nyaman untuk berwisata.

“Tidak ke sini, persisnya,” kata Dumbledore. “Ada semacam desa kira-kira separo jalan deretan karang di belakang kita. Kukira anak-anak yatim piatu dibawa ke sana supaya bisa menghirup sedikit hawa laut dan melihat ombak. Tidak, kukira hanya Tom Riddle dan korban kecilnya yang pernah mengunjungi tempat ini. Tak ada Muggle yang bisa mencapai karang ini, kecuali mereka pendaki gunung yang luar biasa, dan kapal tidak bisa mendekati karang; air di sekitarnya terlalu berbahaya. Kubayangkan Riddle menuruni karang itu, sihir berfungsi lebih baik daripada tali. Dan dia membawa dua anak kecil bersamanya, barangkali dia mendapatkan kesenangan dengan meneror mereka. Kukira perjalanannya saja sudah akan membuat mereka ketakutan, kan?”

Harry mendongak memandang karang terjal itu lagi dan merasa merinding, bulu kuduknya berdiri.

“Namun tujuan akhirnya dan tujuan akhir kita terletak sedikit lebih jauh lagi. Mari.”

Dumbledore memberi isyarat agar Harry ke tepi karang, di mana sederet ceruk bergerigi membentuk tempat berpijak yang turun menuju batu-batu besar yang separo, terbenam dalam air dan mendekat ke karang terjal. Jalan turun yang sangat berbahaya dan Dumbledore, terhambat sedikit oleh tangannya yang kisut, bergerak pelan. Karang-karang di bawah licin tersiram air laut. Harry merasakan mukanya kena cipratan air asin yang dingin.

“Lumos,” kata Dumbledore, ketika dia tiba di batu yang paling dekat permukaan karang. Seribu titik cahaya keemasan berkelip di atas permukaan air yang gelap sekitar semeter di bawah tempatnya berjongkok. Dinding karang hitam di sebelahnya juga ikut diterangi.

“Kau lihat?” kata Dumbledore pelan, memegang tongkat sihirnya sedikit lebih tinggi. Harry melihat celah di bukit karang, ke dalamnya air gelap berpusar.

“Kau tidak keberatan basah sedikit?”

“Tidak,” kata Harry.

“Kalau begitu bukalah Jubah Gaib-mu-tak diperlukan lagi sekarang dan ayo kita terjun.”

Dan mendadak dengan kegesitan pria yang jauh lebih muda, Dumbledore meluncur dari batu, mendarat di laut dan mulai berenang, dengan gaya dada yang sempurna, menuju celah gelap di permukaan karang terjal, tongkat sihirnya yang menyala dalam gigitannya. Harry melepas Jubah-nya, menjejalkannya ke dalam sakunya, dan mengikutinya.

Airnya sedingin es. Pakaian Harry yang dipenuhi air menggelembung di sekitarnya dan menahan kecepatannya. Menarik napas dalam-dalam yang membuat lubang hidungnya dipenuhi air asin yang tajam dan ganggang laut, dia berenang menuju cahaya berkelap-kelip yang semakin mengecil masuk makin jauh ke dalam karang terjal.

Celah itu tak lama kemudian membuka menjadi terowongan gelap yang Harry tahu akan dipenuhi air pada waktu pasang naik. Dinding-dindingnya yang licin hanya berjarak sekitar satu meter dan berkilat seperti ter basah ketika dilewati cahaya tongkat sihir Dumbledore. Setelah masuk sedikit, terowongan berkelok ke kiri dan Harry melihat bahwa terowongan itu masuk jauh ke dalam karang. Dia terus berenang di belakang Dumbledore, ujung jari-jarinya yang beku kedinginan menyentuh karang yang kasar dan basah.

Kemudian dilihatnya Dumbledore mentas dari air di depan, rambutnya yang keperakan dan jubah hitamnya berkilat-kilat. Ketika tiba di tempat itu Harry menemukan tangga yang menuju ke sebuah gua besar. Dia menaiki tangga itu, air mengucur dari pakaiannya yang basah kuyup, dan muncul, gemetar tak terkendali, ke dalam udara yang tenang dan amat dingin.

Dumbledore berdiri di tengah gua, tongkat sihirnya dipegang tinggi-tinggi sementara dia berputar pelan di tempat, mengamati dinding dan langit-langit.

“Ya, ini tempatnya,” kata Dumbledore.

“Bagaimana Anda bisa tahu?” Harry berbicara dalam bisikan.

“Tempat ini sudah pernah kena sihir,” kata Dumbledore sederhana.

Harry tak tahu apakah dia menggigil karena rasa dingin yang menembus sampai ke tulang sumsum ataukah karena sadar akan adanya sihir. Dia mengawasi ketika Dumbledore meneruskan berputar di tempat, jelas sekali sedang berkonsentrasi pada halhal yang tak bisa dilihat Harry.

“Ini hanyalah bagian depan, aula depan,” kata Dumbledore selewat beberapa saat. “Kita harus masuk ke ruangan dalam … sekarang rintangan buatan Lord Voldemort yang menghalangi kita, bukan buatan alam …” Dumbledore mendekati dinding gua dan mengelusnya dengan ujung jari-jarinya yang menghitam, menggumamkan kata-kata dalam bahasa yang tak dimengerti Harry. Dua kali Dumbledore berjalan mengelilingi gua, menyentuh sebanyak mungkin karang kasar, kadang-kadang berhenti, menjalankan jari-jarinya maju-mundur pada tempat tertentu, sampai akhirnya dia berhenti, tangannya menekan dinding.

“Di sini,” katanya. “Kita masuk dari sini. Jalan masuknya disembunyikan.”

Harry tidak bertanya bagaimana Dumbledore tahu.

Dia belum pernah melihat penyihir memecahkan masalah seperti ini, hanya dengan memandang dan menyentuh. Namun Harry sudah lama tahu bahwa ledakan dan asap lebih sering merupakan tanda ketidakcakapan, bukannya kemahiran.

Dumbledore mundur dari dinding gua dan mengacungkan tongkat sihirnya ke karang itu. Sesaat muncul garis gerbang-lengkung di sana, menyala putih seakan ada cahaya terang benderang di belakang celah.

“Anda b-berhasil!” kata Harry dengan gigi bercatrukan, namun sebelum kata-kata itu meninggalkan bibirnya, gerbang-lengkung itu sudah hilang, meninggalkan dinding karang tetap kosong dan padat seperti semula. Dumbledore berbalik.

“Harry, maaf sekali, aku lupa,” katanya. Diacungkannya tongkat sihirnya ke Harry dan segera saja pakaian Harry menjadi hangat dan kering, seakan baru digantung di depan api yang berkobar.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.