Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Harry?” dia mengulang bimbang.

Barangkali wajah Harry pucat pasi, sampai Profesor Trelawney tampak begitu cemas dan ketakutan. Harry berdiri bergeming selagi gelombang shock menerjangnya, gelombang demi gelombang, menyapu segalanya kecuali informasi yang selama ini disembunyikan darinya …

Snape-lah yang telah mencuri-dengar ramalan itu. Snape-lah yang telah membawa kabar tentang ramalan itu kepada Voldemort. Snape dan Peter Pettigrew-lah yang membuat Voldemort memburu Lily dan James dan anak mereka …

Tak ada hal lain yang penting bagi Harry saat itu.

“Harry?” kata Profesor Trelawney lagi. “Harry katanya kita akan sama-sama menemui Kepala Sekolah?”

“Anda tinggal di sini,” kata Harry dengan bibir mati rasa.

“Tetapi, Nak … aku mau menceritakan kepadanya bagaimana aku diserang di Kamar Ke-”

“Anda tinggal di sini!” Harry mengulang gusar.

Profesor Trelawney tampak cemas ketika Harry berlari melewatinya, membelok ke koridor Dumbledore, yang dijaga gargoyle tunggal. Harry meneriakkan kata kuncinya kepada si gargoyle dan berlari menaiki tangga spiral yang bergerak, tiga anak tangga sekali lompat. Dia tidak mengetuk pintu kantor Dumbledore, dia menggedornya; dan suara tenang menjawab “Masuk” setelah Harry menerabas masuk ke dalam ruangan.

Fawkes si burung phoenix menoleh, mata hitamnya berkilauan, memantulkan cahaya keemasan matahari yang sedang terbenam di balik jendela. Dumbledore sedang berdiri di depan jendela, memandang ke halaman, mantel bepergian hitam panjang tersampir di lengannya.

“Nah, Harry, aku sudah berjanji kau boleh ikut bersamaku.”

Sesaat Harry tidak paham. Pembicaraannya dengan Trelawney telah menyingkirkan segala yang lain dari dalam kepalanya dan otaknya rasanya bergerak sangat lambat.

“Ikut … Anda …?”

“Hanya kalau kau mau, tentu.”

“Kalau saya …”

Dan kemudian Harry ingat kenapa dia tadi sangat bersemangat pergi ke kantor Dumbledore.

“Anda sudah menemukannya? Anda sudah menemukan Horcrux?”

“Kukira begitu.”

Kegusaran dan kekesalan bertarung dengan shock dan kegairahan selama beberapa saat, Harry tak bisa bicara.

“Wajar kalau takut,” kata Dumbledore.

“Saya tidak takut!” kata Harry segera, dan itu memang benar. Saat itu dia sama sekali tidak merasa takut. “Horcrux yang .mana ini? Di mana?”

“Aku tak yakin ini yang mana-meskipun kukira kita bisa mengesampingkan si ular-tapi aku percaya Horcrux ini disembunyikan dalam gua di pantai berkilo-kilometer jauhnya dari sini, gua yang sudah lama kucari-cari, gua yang pernah digunakan Tom Riddle untuk meneror dua anak dari panti asuhannya ketika mereka piknik tahunan, ingat?”

“Ya,” kata Harry. “Bagaimana Horcrux ini dilindungi?”

“Aku tak tahu; aku punya kecurigaan yang bisa saja keliru sama sekali.” Dumbledore bimbang, kemudian berkata, “Harry, aku telah berjanji kepadamu bahwa kau boleh ikut denganku, dan aku akan menepati janji itu, tetapi aku akan salah besar kalau tidak memperingatkanmu bahwa ini akan sangat berbahaya.”

“Saya ikut,” kata Harry, hampir sebelum Dumbledore selesai bicara. Mendidih dengan kemarahan terhadap Snape, keinginannya untuk melakukan sesuatu yang nekat dan berisiko telah meningkat berpuluh kali lipat. Rupanya itu terpancar dari wajah Harry, karena Dumbledore minggir dari jendela dan memandang Harry lebih cermat, ada kernyit kecil di antara alisnya yang keperakan.

“Apa yang terjadi padamu?”

“Tidak ada apa-apa,” dusta Harry segera.

“Apa yang membuatmu terganggu?”

“Saya tidak terganggu.”

“Harry, kau tak pernah benar-benar menguasai Ocdumenc-”

Kata itu menjadi percik api yang mengobarkan kemarahan Harry.

“Snape!” katanya, sangat keras, dan Fawkes berkuak lembut di belakang mereka. “Snape-lah yang terjadi! Dia yang memberitahu Voldemort tentang ramalan itu, ternyata dia, dia yang mendengarkan di balik pintu. Trelawney memberitahu saya!”

Ekspresi Dumbledore tidak berubah, namun Harry merasa wajahnya memucat di bawah pancaran kemerahan sinar matahari yang terbenam. Lama Dumbledore tidak mengatakan apa-apa.

“Kapan kau tahu semua ini?” Dumbledore akhirnya menanyainya.

“Baru saja!” kata Harry, yang susah payah berusaha agar tidak berteriak. Dan kemudian, tiba-tiba saja, dia tak bisa menahan diri lagi. “DAN ANDA MEMBIARKANNYA MENGAJAR DI SINI DAN DIA MEMBERITAHU VOLDEMORT UNTUK MENCARI IBU DAN AYAH SAYA!”

Terengah-engah seolah dia sedang berkelahi, Harry berpaling dari Dumbledore, yang masih tidak menggerakkan satu otot pun, dan berjalan hilir-mudik dalam ruangan, menggosokkan buku-buku jarinya ke tangannya dan berusaha sekuat tenaga tidak menerjang barang-barang di situ. Dia ingin marah dan menyerang Dumbledore, tetapi dia juga ingin pergi bersamanya dan mencoba menghancurkan Horcrux itu. Dia ingin mengatakan kepada Dumbledore bahwa dia laki-laki tua bodoh telah memercayai Snape, tetapi dia takut Dumbledore tidak mau mengajaknya, kecuali dia bisa menguasai kemarahannya …

“Harry,” kata Dumbledore tenang. “Tolong dengarkan aku.”

Menghentikan hilir-mudiknya sama sulitnya dengan menahan diri agar tidak berteriak. Harry berhenti, menggigit bibir, dan menatap wajah keriput Dumbledore.

“Profesor Snape membuat kekeliru-”

“Jangan katakan kepada saya itu kekeliruan, Sir, dia mencuri-dengar di pintu!”

“Tolong biarkan aku selesai dulu.” Dumbledore menunggu sampai Harry sudah mengangguk kaku, baru kemudian melanjutkan. “Profesor Snape membuat kekeliruan besar. Dia masih bekerja untuk Lord Voldemort pada malam dia mendengar paro-pertama ramalan Profesor Trelawney. Wajar kalau dia bergegas memberitahu tuannya apa yang telah didengarnya, karena ramalan itu sangat berkaitan dengan tuannya. Tetapi dia tidak tahu tak ada kemungkinan dia bisa tahu anak laki-laki mana yang akan diburu Voldemort sejak saat itu, atau bahwa orangtua yang akan dibinasakannya dalam pencariannya adalah orang-orang yang dikenal Profesor Snape, bahwa mereka ibu dan ayahmu”

Harry mengeluarkan tawa hambar.

“Dia membenci ayah saya sama seperti dia membenci Sirius! Tidakkah Anda perhatikan, Profesor, bagaimana orang-orang yang dibenci Snape pada akhirnya cenderung mati?”

“Kau tak tahu betapa menyesalnya Profesor Snape ketika menyadari bagaimana Lord Voldemort menginterpretasikan ramalan itu, Harry. Aku percaya itu penyesalan terbesar dalam hidupnya dan alasan dia kembali”

“Tetapi dia Ocdumens yang sangat andal, kan, Sir?” kata Harry, yang suaranya bergetar dalam usahanya untuk membuatnya tenang. “Dan bukankah Voldemort yakin bahwa Snape berada di pihaknya, bahkan sekarang? Profesor … bagaimana Anda bisa yakin Snape ada di pihak kita?”

Dumbledore tidak berbicara selama beberapa saat. Tampaknya dia sedang berusaha memutuskan sesuatu. Akhirnya dia berkata, “Aku yakin. Aku memercayai Severus Snape sepenuhnya.”

Harry menghela napas dalam-dalam selama beberapa saat, berusaha menenangkan diri. Tidak berhasil.

“Saya tidak memercayai dia!” katanya, sama kerasnya seperti sebelumnya. “Dia sedang merencanakan sesuatu dengan Draco Malfoy sekarang ini, di depan hidung Anda, dan Anda masih”

“Kita sudah membicarakan ini, Harry,” kata Dumbledore, dan sekarang sikapnya keras lagi. “Aku sudah memberitahumu pandanganku.”

“Anda akan meninggalkan sekolah malam ini dan saya berani taruhan Anda bahkan belum mempertimbangkan bahwa Snape dan Malfoy barangkali memutuskan untuk-”

“Untuk apa?” tanya Dumbledore, alisnya terangkat. “Kau mencurigai mereka akan melakukan apa, persisnya?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.