Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Apa yang terjadi, Profesor?”

“Sungguh keterlaluan!” katanya nyaring. “Aku sedang berjalan, merenungkan pertanda Kegelapan yang kebetulan kulihat …”

Namun Harry tidak terlalu memperhatikan. Dia baru saja menyadari meereka berdiri di mana, di sebelah kanan mereka adalah permadani hias bergambar troll yang sedang menari balet, dan di sebelah kirinya, hamparan dinding batu tak tertembus yang menyembunyikan-

“Profesor, apakah Anda tadi mencoba masuk ke Kamar Kebutuhan?”

“pertanda yang sudah disampaikan kepadaku apa?”

Dia mendadak tampak mau mengelak.

“Kamar Kebutuhan,” ulang Harry. “Apakah Anda tadi mencoba masuk?”

“Aku-yah-aku tak tahu murid-murid tahu tentang-”

“Tidak semua murid tahu,” kata Harry. “Tapi apa yang terjadi? Anda berteriak … kedengarannya Anda terluka …”

“Aku yah,” kata Profesor Trelawney, menyelimutkan syal-syalnya ke tubuhnya dengan defensif dan menunduk menatap Harry dengan matanya yang sangat membesar di balik kacamatanya. “Aku ingin-ah-menyimpan-um-beberapa barang pribadi di kamar …” Dan dia menggumamkan sesuatu tentang “tuduhan kelewatan”.

“Baik,” kata Harry, mengerling botol-botol sherry itu. “Tetapi Anda tidak bisa masuk dan menyembunyikannya?”

Harry beranggapan ini aneh sekali. Kamar itu membuka untuknya, ketika dia ingin menyembunyikan buku Pangeran Berdarah-Campuran.

“Oh, aku bisa masuk,” kata Profesor Trelawney, mendelik pada dinding. “Tetapi di dalam sudah ada orang.”

“Ada orang di-? Siapa?” tuntut Harry. “Siapa yang ada di dalam?”

“Entahlah,” kata Profesor Trelawney, tampak agak heran dengan urgensi dalam suara Harry. “Aku masuk ke dalam Kamar dan kudengar suara, yang tak pernah terjadi sebelumnya selama bertahun-tahun aku menyembunyikan menggunakan Kamar itu, maksudku.”

“Suara? Mengatakan apa?”

“Aku tak tahu apakah suara itu mengatakan sesuatu,” kata Profesor Trelawney. “Dia … bersorak.”

“Bersorak?”

“Gembira,” katanya, mengangguk.

Harry menatapnya lekat-lekat. “Laki-laki atau perempuan?”

“Dugaanku laki-laki,” kata Profesor Trelawney.

“Dan dia kedengarannya senang?”

“Sangat senang,” kata Profesor Trelawney mendengus.

“Sepertinya merayakan sesuatu?”

“Ya, jelas sekali begitu.”

“Lalu?”

“Lalu aku berseru, ‘Siapa itu?ยด”

“Anda tak bisa tahu siapa dia tanpa bertanya?” Harry bertanya, agak frustrasi.

“Mata Batin;” kata Profesor Trelawney bergengsi, merapikan syalnya dan untaian kalung-kalungnya yang berkelap-kelip, “terarah pada hal-hal yang jauh di luar alam keduniaan seperti suara teriakan.”

“Baik,” kata Harry buru-buru. Dia sudah terlalu sering mendengar tentang Mata Batin Profesor Trelawney. “Dan apakah suara itu menjawab siapa dia?”

“Tidak,” katanya. “Segalanya menjadi gelap-gulita, dan hal berikut yang kutahu, aku dilempar keluar Kamar dengan kepala lebih dulu!”

“Dan Anda sebelumnya tidak tahu akan dilempar?” tanya Harry, tak bisa menahan diri.

“Tidak, seperti yang kukatakan tadi, gelap-” Dia berhenti dan memandang Harry dengan curiga.

“Menurut saya Anda sebaiknya memberitahu Profesor Dumbledore,” kata Harry. “Dia harus tahu Malfoy merayakan maksud saya, ada orang yang melempar Anda keluar dari Kamar.”

Betapa herannya Harry, Profesor Trelawney berdiri tegak mendengar sarannya, tampak angkuh.

“Kepala Sekolah sudah mengisyaratkan bahwa dia lebih suka aku mengurangi kunjunganku,” katanya dingin. “Aku bukan orang yang memaksakan kehadiranku kepada mereka yang tidak menghargainya. Kalau Dumbledore memilih tidak mengindahkan peringatan-peringatan yang telah diperlihatkan kartu-kartu”

Tangannya yang kurus mendadak mencengkeram pergelangan tangan Harry.

“Lagi dan lagi, tak peduli bagaimana aku menyusunnya”

Dan dia menarik sehelai kartu dengan dramatis dari bawah syal-syalnya.

“menara tersambar petir,” bisiknya. “Malapetaka. Bencana besar. Makin lama makin dekat …”

“Baik,” kata Harry lagi. “Yah … tetapi saya tetap berpendapat Anda harus memberitahu Dumbledore tentang suara ini dan segalanya menjadi gelap-gulita dan Anda dilempar keluar dari Kamar …”

“Menurutmu begitu?” Profesor Trelawney tampaknya mempertimbangkan saran ini sejenak, namun Harry bisa melihat dia menyukai ide menceritakan kembali petualangan kecilnya tadi.

“Saya kebetulan akan menemui beliau,” kata Harry. “Saya ada janji bertemu beliau. Kita bisa ke sana bersama-sama.”

“Oh, baiklah kalau begitu,” kata Profesor Trelawney sambil tersenyum. Dia membungkuk, memungut botolbotol sherry-nya dan memasukkannya begitu saja ke dalam vas besar berwarna biru-putih di ceruk di dekat situ.

“Aku kehilangan kau di kelasku, Harry,” katanya penuh perasaan ketika mereka berjalan bersama-sama.

“Kau memang bukan Pelihat yang hebat … tapi kau Objek yang luar biasa …”

Harry tidak menanggapi; dia benci terus-menerus dijadikan Objek ramalan malapetaka Profesor Trelawney.

“Aku kuatir,” dia melanjutkan, “bahwa kuda tuasori, si centaurus-tak tahu apa-apa soal meramal dengan kartu. Aku tanya dia-antar sesama Pelihatapakah dia, juga, tidak merasakan vibrasi jauh akan datangnya malapetaka? Tetapi dia tampaknya menganggapku menggelikan. Ya, menggelikan!” Suaranya meninggi agak histeris dan Harry menghirup bau keras sherry, meskipun botolnya sudah ditinggalkan.

“Mungkin kuda itu sudah mendengar orang-orang mengatakan aku tidak mewarisi bakat nenek-canggahku. Desas-desus itu sudah bertahun-tahun disebarluaskan oleh orang-orang yang iri hati. Kau tahu apa yang kukatakan kepada orang-orang seperti itu, Harry? Apakah Dumbledore akan mengizinkanku mengajar di sekolah yang hebat ini, begitu memercayaiku selama bertahun-tahun ini, jika aku belum membuktikan kemampuanku kepadanya?”

Harry menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.

“Aku masih ingat jelas wawancara pertamaku dengan Dumbledore,” Profesor Trelawney melanjutkan, dengan suara serak-serak basah. “Dia sangat terkesan, tentu saja, sangat terkesan … Aku waktu itu menginap di Hog’s Head, tapi ini tidak kusarankan-banyak kutu busuk, Nak-tapi aku tak punya banyak uang waktu itu. Dumbledore berbaik hati menemuiku di kamarku di losmen itu. Dia menanyaiku … aku harus mengakui bahwa, awalnya, kupikir dia tampaknya kurang begitu suka pada Ramalan … dan aku ingat aku mulai merasa agak aneh, aku cuma makan sedikit hari itu … tetapi kemudian …”

Dan sekarang Harry benar-benar memperhatikan untuk pertama kalinya, karena dia tahu apa yang terjadi kemudian, Profesor Trelawney membuat ramalan yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya, ramalan tentang dia dan Voldemort.

“… tetapi kemudian kami digerecoki dengan tidak sopan oleh Severus Snape!”

“Apa?”

“Ya, ada keributan di luar pintu, dan pintu menjeblak terbuka, dan di sana ada pelayan bar yang agak tak tahu adat dengan Snape yang merepet yang bukanbukan, katanya dia salah jalan, tetapi kukira dia tertangkap ketika sedang mencuri-dengar wawancaraku dengan Dumbledore maklum, dia sendiri sedang mencari pekerjaan waktu itu, dan tak diragukan lagi dia berharap bisa mendapatkan petunjuk! Nah, setelah itu, kau tahu, Dumbledore tampaknya lebih ingin memberiku pekerjaan, dan mau tak mau aku berpikir, Harry, bahwa itu karena dia menghargai kontras yang amat tajam antara sikapku yang bersahaja dan kemampuan terpendamku, dibanding dengan laki-laki muda yang memaksa dan menyodorkan diri, yang bahkan sampai mau menguping di lubang kunci-Harry, Nak?”

Dia menoleh, karena baru saja menyadari bahwa Harry tak lagi bersamanya. Harry telah berhenti melangkah dan sekarang mereka berjarak tiga meter.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.