Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Ah, Potter,” kata Snape, ketika Harry mengetuk pintunya dan memasuki kantor tidak menyenangkan yang sudah tak asing baginya. Walaupun Snape sudah mengajar di lantai atas sekarang, dia tetap mempertahankan kantor lamanya. Penerangan kantor itu masih sama suramnya seperti dulu dan makhluk-makhluk mati berlendir masih tetap melayang dalam ramuan berwarna-warni di sepanjang dinding. Di meja bertumpuk kotak yang diselimuti sarang labah-labah. Pemandangan tak menyenangkan, karena jelas Harry harus duduk di depan meja itu, dan kotak-kotak itu mengeluarkan aura kerja yang membosankan, sulit, dan tak ada gunanya.

“Mr Filch sudah lama mencari orang untuk membereskan arsip-arsip lama ini,” kata Snape pelan. “Ini catatan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan murid-murid Hogwarts lain dan hukuman yang diberikan kepada mereka. Di tempat-tempat yang tintanya luntur atau kartunya rusak digerigiti tikus, kami ingin kau menyalin pelanggaran dan hukumannya di kartu yang baru dan setelah kau pastikan tersusun secara alfabetis, masukkan lagi ke dalam kotak-kotaknya. Kau tak boleh menggunakan sihir.”

“Baik, Profesor,” kata Harry, dengan nada sangat merendahkan pada tiga suku kata terakhir.

“Kupikir kau bisa mulai,” kata Snape, senyum jahat menghiasi bibirnya, “dengan kotak seribu dua belas sampai seribu lima puluh enam. Kau akan menemukan nama-nama yang tak asing di sana, yang akan menambah daya tarik tugasmu. Ini, coba lihat …”

Dia menarik sehelai kartu dari kotak paling atas dengan bergaya dan membaca, “James Potter dan Sirius Black. Tertangkap menggunakan kutukan ilegal terhadap Bertram Aubrey. Kepala Aubrey merabesar dua kali ukuran normal. Detensi ganda.” Snape menyeringai. “Pastilah menyenangkan sekali memikirkan bahwa, meskipun mereka sudah pergi, catatan prestasi hebat mereka masih ada …”

Harry merasakan sensasi yang tak asing, sepertinya dasar perutnya mendidih. Menggigit lidah untuk mencegah dirinya membalas, dia duduk di depan tumpukan kotak itu dan menarik satu kotak ke dekatnya.

Seperti sudah diantisipasi Harry, pekerjaan itu tak berguna dan membosankan, dari waktu ke waktu diselingi oleh sentakan di perutnya yang berarti dia baru saja membaca nama ayahnya atau Sirius, biasanya muncul bersamaan dalam berbagai kenakalan sepele, kadang-kadang ditemani nama Remus Lupin dan Peter Pettigrew. Dan sementara dia menyalin berbagai pelanggaran dan hukuman yang mereka terima, dia bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang berlangsung di luar sana. Pertandingan pastilah baru dimulai … Ginny sebagai Seeker melawan Cho …

Harry berkali-kali mengerling jam besar di dinding. Rasanya jam itu bergerak separo lebih lambat daripada jam yang biasa. Barangkali Snape sudah menyihir agar jam itu berjalan ekstra lambat? Mana mungkin sih dia baru berada di sini selama setengah jam … satu jam … satu jam setengah …

Perut Harry mulai keroncongan ketika jam menunjukkan pukul setengah satu. Snape, yang tidak berbicara sepatah pun setelah memberi tugas Harry, akhirnya mengangkat muka pada pukul satu lewat sepuluh menit.

“Kurasa sudah cukup;” katanya dingin. “Tandai sampai mana. Kau akan melanjutkan pada pukul sepuluh hari Sabtu depan.”

“Ya, Sir.”

Harry menjejalkan kartu terlipat ke dalam kotak asal saja dan bergegas keluar dari pintu sebelum Snape berubah pikiran, berlari menaiki tangga batu, menajamkan telinga untuk mendengar suara dari lapangan, tetapi semuanya sunyi … pertandingan sudah selesai, kalau begitu …

Di luar Aula Besar yang penuh, dia bimbang, kemudian berlari menaiki tangga pualam. Apakah Gryffindor kalah atau menang, tim biasanya merayakan atau menyesalinya di ruang rekreasi mereka sendiri.

“Quid agis?” katanya coba-coba kepada si Nyonya Gemuk, bertanya dalam hati, apa yang akan ditemukannya di dalam. Kata kunci dalam bahasa Latin itu bisa berarti sapaan “Apa kabar?”

Ekspresi si Nyonya Gemuk tak dapat ditebak ketika dia menjawab, “Kau akan lihat sendiri.”

Dan dia mengayun ke depan.

Riuh-rendah pesta kemenangan menyambutnya dari lubang di belakang si Nyonya Gemuk. Harry melongo ketika orang-orang mulai menjerit melihatnya. Beberapa tangan menariknya masuk ke dalam ruangan.

“Kita menang!” teriak Ron, yang muncul sambil mengacung-acungkan Piala perak ke depan Harry. “Kita menang! Empat ratus lima puluh lawan seratus empat puluh! Kita menang!”

Harry memandang berkeliling. Ginny sedang berlari ke arahnya; wajahnya seperti berkobar menyala ketika dia melempar kedua lengannya memeluk Harry. Dan tanpa berpikir, tanpa direncanakan, tanpa mencemaskan fakta bahwa lima puluh orang mengawasi mereka, Harry menciumnya.

Selewat beberapa waktu yang lama — atau barangkali sudah setengah jam — atau mungkin malah beberapa hari yang cerah — mereka saling melepaskan diri. Ruangan sunyi senyap. Kemudian beberapa orang bersuit dan di mana-mana terdengar cekikikan salah tingkah. Harry memandang melewati atas kepala Ginny dan melihat Dean Thomas memegangi gelas yang sudah remuk di tangannya dan Romilda Vane sepertinya siap melempar sesuatu. Hermione berseri-seri, namun mata Harry mencari Ron. Akhirnya dia menemukannya, masih memegangi Piala dan ekspresinya seperti habis dihantam pada kepalanya. Selama sepersekian detik mereka saling pandang, kemudian Ron mengedikkan kepalanya sedikit, yang dipahami Harry berarti, “Yah kalau memang harus begitu.”

Makhluk di dalam dadanya meraung penuh kemenangan, Harry menunduk nyengir menatap Ginny, dan memberi isyarat tanpa kata untuk keluar dari lubang lukisan. Mereka berjalan-jalan lama di halaman, dan selama berjalan-jalan itu kalau sempat mereka mungkin membicarakan pertandingan.

-oO0O0-

25. SANG PELIHAT DICURI-DENGAR

Fakta bahwa Harry Potter jadian dengan Ginny Weasley menarik perhatian banyak orang, sebagian besar di antaranya cewek. Meskipun demikian, ternyata Harry senang-senang saja dan tahan-gosip selama beberapa minggu berikutnya. Bagaimanapun juga, ini perubahan yang sangat menyenangkan, jadi bahan omongan karena sesuatu yang membuatnya sangat berbahagia, bukannya karena dia terlibat adegan-adegan sihir Hitam yang mengerikan. Seingatnya sudah lama sekali dia tak pernah merasa sebahagia itu

“Heran, kayak tidak punya bahan gosip lain yang lebih menarik saja,” kata Ginny, ketika dia duduk di lantai ruang rekreasi, bersandar ke kaki Harry dan membaca Daily Prophet. “Tiga serangan Dementor dalam seminggu, dan yang ditanyakan Romilda Vane kepadaku hanyalah apakah benar kau punya tato Hippogriff di dada.”

Ron dan Hermione terbahak-bahak. Harry tidak menghiraukan mereka.

“Apa yang kau katakan kepadanya?”

“Kubilang naga Ekor-Berduri Hungaria,” kata Ginny, membalik korannya dengan santai. “Jauh lebih macho.”

“Trims,” kata Harry, nyengir. “Dan kaubilang kepadanya tato Ron apa?”

“Pygmy Puff, tapi aku tidak bilang di mana.”

Ron mendelik sementara Hermione berguling-guling tertawa geli.

“Awas saja,” kata Ron, mengacungkan jari memperingatkan Harry dan Ginny. “Hanya karena aku sudah memberikan izinku tidak berarti aku tak bisa mencabutnya kem-”

“‘Izinmu’,” cemooh Ginny. “Sejak kapan kau memberiku izin untuk melakukan sesuatu? Lagi pula, kau sendiri yang bilang kau lebih suka yang jadi cowokku Harry daripada Michael atau Dean.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.