Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Harry berlari ke toilet di lantai di bawahnya, sambil menjejalkan buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut Ron ke dalam tasnya. Semenit kemudian dia sudah berada kembali di depan Snape, yang mengulurkan tangannya tanpa kata meminta tas sekolah Harry. Harry menyerahkannya, tersengal, dadanya perih, dan menunggu.

Satu per satu Snape mengeluarkan buku-buku Harry dan memeriksanya. Akhirnya satu-satunya buku yang tersisa hanyalah buku Ramuan, yang diperiksanya dengan cermat sebelum dia bicara.

“Ini buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut-mu, kan, Potter?”

“Ya,” kata Harry, masih ngos-ngosan.

“Kau yakin, Potter?”

“Ya,” kata Harry, dengan nada sedikit menantang.

“Ini buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut yang kau beli dari Flourish and Blotts?”

“Ya,” kata Harry tegas.

“Kalau begitu kenapa,” kata Snape, “ada nama ‘Roonil Wazlib’ -tertulis di bagian dalam sampul depannya?”

Hati Harry mencelos.

“Itu nama panggilan saya,” katanya.

“Nama panggilanmu” ulang Snape.

“Yeah … begitulah teman-teman memanggil saya,” kata Harry.

“Aku tahu apa artinya nama panggilan,” kata Snape. Mata hitamnya yang dingin sekali lagi mengebor ke dalam mata Harry. Harry berusaha tidak memandang mata Snape. Tutup pikiranmu … tutup pikiranmu … tetapi dia belum pernah belajar bagaimana melakukannya dengan benar …

“Tahukah kau apa pendapatku, Potter?” kata Snape, sangat pelan. “Menurutku kau pembohong, dan licik, dan kau layak mendapat detensi dariku setiap Sabtu sampai akhir semester ini. Bagaimana menurutmu, Potter?”

“Saya–saya tidak setuju, Sir,” kata Harry, masih menghindari memandang mata Snape.

“Kita lihat saja nanti bagaimana perasaanmu setelah kau menjalani detensi,” kata Snape. “Pukul sepuluh Sabtu pagi, Potter. Kantorku.”

“Tetapi, Sir …” kata Harry, mengangkat muka dengan putus asa. “Quidditch … pertandingan terakhir musim ini”

“Pukul sepuluh,” bisik Snape dengan senyum yang memamerkan gigi-giginya yang kuning. “Kasihan Gryffindor … tempat keempat tahun ini, aku khawatir …”

Dan dia meninggalkan toilet tanpa berkata apa-apa lagi, meninggalkan Harry memandang cermin retak, merasa lebih mual, dia yakin, daripada yang pernah dirasakan Ron seumur hidupnya.

“Aku tak akan mengatakan ‘sudah kubilang, kan?'” kata Hermione, satu jam kemudian di ruang rekreasi.

“Sudahlah, Hermione,” kata Ron berang.

Harry tadi tidak jadi makan malam; nafsu makannya hilang. Dia baru saja selesai menceritakan kepada Ron, Hermione, dan Ginny apa yang telah terjadi, meskipun tak begitu perlu lagi. Kabar itu telah tersebar sangat cepat. Myrtle muncul di semua toilet di kastil untuk menceritakan kejadian itu. Di rumah sakit, Malfoy sudah dikunjungi Pansy Parkinson, yang langsung saja menjelek-jelekkan Harry panjang-lebar, dan Snape sudah memberitahu para guru apa persisnya yang terjadi. Harry sudah dipanggil dari ruang rekreasi untuk melewatkan lima belas menit yang sangat tidak mengenakkan bersama Profesor McGonagall, yang memberitahunya dia beruntung tidak dikeluarkan dan yang mendukung sepenuh hati hukuman detensi Snape setiap Sabtu sampai akhir semester.

“Kan sudah kubilang ada yang tidak beres dengan si Pangeran itu,” kata Hermione, rupanya tak bisa lagi menahan diri. “Dan aku benar, kan?”

“Tidak, menurutku kau tidak benar,” kata Harry keras kepala.

Dia sudah cukup menderita tanpa Hermione menguliahinya. Tampang anggota tim Gryffindor ketika dia memberitahu mereka dia tak akan bisa ikut bermain pada hari Sabtu adalah hukuman yang paling berat untuknya. Dia bisa merasakan mata Ginny menatapnya sekarang, namun tidak dibalasnya; dia tak ingin melihat kekecewaan atau kemarahan di sana. Dia baru saja memberitahu Ginny bahwa dia akan bermain sebagai Seeker pada hari Sabtu dan bahwa Dean akan bergabung kembali dengan tim sebagai Chaser menggantikannya. Barangkali, kalau mereka menang, Ginny dan Dean akan baikan lagi dalam euforia paska-pertandingan … pikiran ini menyayat hati Harry seperti sembilu dingin …

“Harry,” kata Hermione, “bagaimana kau masih membela buku itu, padahal mantra-”

“Tolong berhenti menyebut-nyebut buku itu deh!” bentak Harry. “Pangeran hanya menyalinnya! Dia kan tidak menyarankan kepada siapa pun untuk menggunakannya! Siapa tahu dia hanya mencatat sesuatu yang telah digunakan terhadapnya!”

“Aku tidak percaya ini” kata Hermione. “Kau benar-benar membela-”

“Aku tidak membela diri atas apa yang kulakukan!” kata Harry cepat-cepat. “Aku menyesal telah melakukannya, dan bukan karena aku harus menjalani kirakira selusin detensi. Kau tahu aku tak akan menggunakan mantra semacam itu, bahkan terhadap Malfoy sekalipun, tapi kau tak bisa menyalahkan Pangeran, dia tidak menulis, ‘Cobalah ini, ini benar-benar hebat’–dia hanya membuat catatan untuk dirinya sendiri, kan, bukan untuk orang lain …”

“Apakah kau sedang memberitahuku,” kata Hermione, “bahwa kau akan kembali?”

“Dan mengambil buku itu? Yeah, aku akan mengambilnya kembali,” kata Harry tegas. “Dengar, tanpa si Pangeran aku tak akan pernah memenangkan Felix Felicis. Aku tak akan pernah tahu bagaimana menyelamatkan Ron dari keracunan, aku tak akan pernah”

“mendapat reputasi cemerlang untuk Ramuan yang tak layak kau peroleh,” kata Hermione keji.

“Sudahlah, Hermione!” kata Ginny, dan saking herannya, saking bersyukurnya, Harry mengangkat muka. “Kalau mendengar ceritanya, Malfoy akan menggunakan Kutukan Tak Termaafkan, kau mestinya senang Harry punya sesuatu untuk membela diri!”

“Tentu saja aku senang Harry tidak kena kutukan!” kata Hermione, kentara sekali tersinggung. “Tapi kau tak bisa menyebut mantra Sectumsempra itu bagus, Ginny, lihat saja akibatnya untuknya! Dan kupikir, mengingat apa pengaruhnya terhadap kesempatan kalian dalam pertandingan”

“Oh, jangan mulai bersikap sepertinya kau mengerti Quidditch,” tukas Ginny, “kau hanya akan mempermalukan diri sendiri!”

Harry dan Ron memandang tercengang. Hermione dan Ginny, yang selama ini selalu sangat rukun, sekarang duduk dengan lengan terlipat, saling membelalak. Ron memandang Harry dengan gugup, kemudian menyambar buku asal saja dan bersembunyi di baliknya. Tetapi Harry, walaupun tahu dia tak layak menerima pembelaan ini, mendadak merasa luar biasa riang, kendati tak seorang pun dari mereka bicara lagi selama sisa malam itu.

Keriangannya tak berlangsung lama. Dia harus menerima ejekan-ejekan anak-anak Slytherin hari berikutnya, belum lagi kemarahan besar dari teman-teman Gryffindor-nya, yang kecewa bukan kepalang Kapten mereka membuat dirinya kena larangan ikut main dalam pertandingan final musim itu. Sabtu paginya, apa pun yang mungkin pernah dikatakannya kepada Hermione, Harry dengan senang hati bersedia menukar semua Felix Felicis yang ada di dunia untuk bisa berjalan menuju lapangan Quidditch bersama Ron, Ginny, dan yang lain. Nyaris tak tertahankan rasanya ketika dia harus berbelok menjauh dari kerumunan anak-anak yang keluar menyongsong sinar matahari, semuanya memakai bros mawar dan topi, dan melambai-lambaikan panji-panji dan syal; sementara dia sendiri terpaksa menuruni tangga batu menuju kelas bawah tanah dan berjalan sampai suara kerumunan itu menjauh dan nyaris lenyap, tahu bahwa dia tak akan bisa mendengar komentar sepatah kata pun, ataupun sorakan, ataupun keluhan.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.