Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Tidak” Harry memekik tertahan.

Tergelincir dan terhuyung, Harry bangkit berdiri dan berjalan mendekati Malfoy, yang wajahnya sekarang sudah berkilat merah bersimbah darah, kedua tangannya yang putih susah payah menggapai dadanya yang basah oleh darah.

“Tidak-aku tidak-”

Harry tidak tahu apa yang dikatakannya. Dia jatuh berlutut di sebelah Malfoy, yang gemetar tak terkontrol dalam kubangan darahnya sendiri. Myrtle Merana meneriakkan jeritan yang memekakkan telinga.

“PEMBUNUHAN! PEMBUNUHAN DI TOILET! PEMBUNUHAN!”

Pintu menjeblak terbuka di belakang Harry dan dia mengangkat mukanya, ketakutan. Snape menerobos masuk, wajahnya pucat pasi. Mendorong minggir Harry dengan kasar, dia berlutut di depan Malfoy, mencabut tongkat sihirnya dan menjalankannya di atas luka-luka dalam yang diakibatkan kutukan Harry, melantunkan mantra yang terdengar hampir seperti lagu. Aliran darah mulai mereda. Snape menyeka sisanya dari wajah Malfoy dan mengulangi mantranya Sekarang luka-lukanya menutup.

Harry masih mengawasi, ngeri sendiri akan apa yang telah dilakukannya, nyaris tak sadar bahwa dia sendiri juga basah kuyup kena darah dan air. Myrtle Merana masih tersedu dan meratap di atas. Setelah Snape melaksanakan kontra-kutukan untuk ketiga kalinya, dia separo-mengangkat Malfoy ke posisi berdiri.

“Kau perlu ke rumah sakit. Mungkin akan ada bekas luka, tapi kalau kau langsung pakai dittany, kita barangkali bahkan bisa menghindari itu … ayo …” Dittany adalah tanaman aromatis yang mengeluarkan minyak yang mudah menguap.

Snape memapah Malfoy meninggalkan toilet, menoleh di pintu untuk berkata dengan dingin penuh kemarahan, “Dan kau, Potter … tunggu aku di sini.”

Tak sedetik pun terpikir oleh Harry untuk tidak mematuhinya. Dia bangkit berdiri perlahan, gemetar, dan menunduk memandang lantai yang tergenang. Noda-noda darah mengambang pada permukaannya seperti bunga-bunga merah. Dia bahkan tak sanggup menyuruh Myrtle Merana diam, sementara Myrtle terus saja meraung dan terisak, kentara sekali semakin lama dia semakin menikmatinya.

Snape kembali sepuluh menit kemudian. Dia masuk ke toilet dan menutup pintu di belakangnya.

“Pergi,” katanya kepada Myrtle dan Myrtle langsung terjun kembali ke dalam kloset, meninggalkan keheningan yang berdering.

“Saya tidak sengaja,” kata Harry segera. Suaranya bergaung di dalam ruangan yang dingin dan tergenang air itu. “Saya tidak tahu apa yang dilakukan mantra itu.”

Namun Snape tidak mengacuhkannya.

“Rupanya aku terlalu menganggap remeh kau, potter,” katanya pelan. “Siapa yang akan menyangka kau tahu Sihir Hitam seperti itu? Siapa yang mengajarimu mantra itu?”

“Saya-membacanya di suatu tempat.”

“Di mana?”

“Di buku perpustakaan,” Harry menjawab asal saja. “Saya tak ingat lagi judulnya-”

“Pembohong,” kata Snape. Kerongkongan Harry terasa kering. Dia tahu apa yang akan dilakukan Snape dan dia belum pernah sanggup mencegahnya …

Toilet seperti berkilau di depan matanya; dia berusaha keras memblokir semua pikiran, namun betapapun kerasnya usahanya, buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut milik Pangeran Berdarah-Campuran muncul kabur ke bagian terdepan pikirannya …

Dan kemudian dia sedang menatap Snape lagi, di tengah toilet yang berantakan dan tergenang air. Dia menatap tajam mata hitam Snape, tetap berharap Snape tidak melihat apa yang ditakutkannya, namun.

“Bawa ke sini tas sekolahmu,” kata Snape pelan, “dan semua buku pelajaranmu. Semua. Bawa semuanya kepadaku di sini. Sekarang!”

Tak ada gunanya membantah. Harry langsung berbalik dan keluar dari toilet. Begitu tiba di koridor, dia berlari menuju Menara Gryffindor. Kebanyakan anak berjalan ke arah yang berlawanan. Mereka melongo melihatnya basah kuyup kena air dan darah, tetapi dia tak menjawab satu pun pertanyaan yang dilontarkan kepadanya selagi dia berlari.

Harry merasa sangat terpukul; seolah hewan peliharaan kesayangannya tiba-tiba menjadi buas. Apa yang dipikirkan Pangeran mencatat mantra seperti itu di dalam bukunya? Dan apa yang akan terjadi kalau Snape melihatnya? Apakah dia akan memberitahu Slughorn — perut Harry serasa bergolak bagaimana Harry berhasil mendapatkan nilai-nilai sebagus itu dalam pelajaran Ramuan sepanjang tahun? Apakah dia akan menyita atau menghancurkan buku yang telah mengajari Harry sebanyak itu … buku yang telah menjadi semacam panduan dan sahabat? Harry tak bisa membiarkannya terjadi … dia tak bisa …

“Dari mana kau? Kenapa kau basah ku? Apakah itu darah?”

Ron berdiri di puncak tangga, tampak bingung melihat keadaan Harry.

“Aku perlu bukumu,” Harry tersengal. “Buku Ramuan-mu. Cepat … berikan padaku …” “Memangnya kenapa buku Pangeran Ber-?”

“Nanti kujelaskan!”

Ron mengeluarkan buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut-nya dari dalam tas dan menyerahkannya kepada Harry. Harry berlari melewatinya dan kembali ke ruang rekreasi. Disambarnya tas sekolahnya. Mengabaikan pandangan kaget beberapa anak yang sudah selesai makan malam, dia melompat keluar lagi dari lubang lukisan dan berlari sepanjang koridor di lantai tujuh.

Dia berhenti di sebelah permadani hias bergambar troll yang sedang menari balet, memejamkan matanya, dan mulai berjalan.

“Aku perlu tempat untuk menyembunyikan bukuku … aku perlu tempat untuk menyembunyikan bukuku … aku perlu tempat untuk menyembunyikan bukuku …”

Tiga kali dia berjalan hilir-mudik di depan hamparan dinding kosong. Ketika dia membuka matanya, dilihatnya akhirnya pintu Kamar Kebutuhan. Harry menariknya terbuka, melempar dirinya ke dalam, lalu membantingnya menutup.

Dia terpana. Kendati dia sedang terburu-buru, panik, dan ketakutan akan apa yang terjadi padanya di toilet, mau tak mau dia terpesona akan apa yang dilihatnya. Dia sedang berdiri di ruangan seukuran katedral besar; jendela-jendelanya yang tinggi mengirim berkas-berkas cahaya menerangi tempat yang layaknya kota dengan tembok-tembok menjulang tinggi, terbuat dari apa yang Harry ketahui pastilah barang-barang yang disembunyikan oleh bergenerasi penghuni Hogwarts. Ada lorong-lorong dan jalan-jalan yang diapit tumpukan perabot, yang disimpan, barangkali, untuk menyembunyikan bukti-bukti sihir yang salah-kaprah, atau disembunyikan oleh peri-rumah yang bangga akan kastil ini. Ada ribuan buku, tak diragukan terlarang, atau dicorat-coret, atau dicuri. Ada katapel bersayap dan Frisbee Bertaring, sebagian masih memiliki cukup kehidupan sehingga mereka melayang-layang ragu-ragu di atas gunungan barangbarang terlarang lainnya. Ada botol-botol gompal berisi ramuan yang telah membeku, topi, permata, mantel. Ada yang tampaknya seperti kulit telur naga, botol-botol tersumbat gabus yang isinya masih berkilat jahat, beberapa pedang berkarat, dan sebuah kapak berat bernoda darah.

Harry bergegas menuju salah satu dari banyak lorong di antara semua harta tersembunyi ini. Dia berbelok melewati boneka besar troll, berlari sebentar, berbelok ke kiri di Lemari Pelenyap tempat Montague menghilang tahun sebelumnya, akhirnya berhenti di sebelah lemari besar yang permukaannya melepuh seperti disiram air keras. Dibukanya salah satu pintunya yang berkeriut. Lemari itu sudah digunakan sebagai tempat persembunyian sesuatu di dalam sangkar yang sudah lama mati, jerangkongnya memiliki lima kaki. Dijejalkannya buku si Pangeran Berdarah-Campuran di belakang sangkar dan dibantingnya pintunya. Sejenak dia berdiri diam, jantungnya berdentum-dentum keras, memandang ke tumpukan barang di sekitarnya … apakah dia akan berhasil menemukan tempat ini lagi, di tengah semua sampah ini? Disambarnya patung dada penyihir tua jelek yang sudah gompal dari atas peti di dekat situ, ditaruhnya di atas lemari tempat dia menyembunyikan bukunya, dipasangnya wig tua berdebu dan tiara di atas kepala patung itu untuk membuatnya lebih mudah dikenali, kemudian Harry berlari secepat mungkin sepanjang lorong barang-barang sembunyian, kembali ke pintu, kembali keluar ke koridor. Dibantingnya menutup pintu di belakangnya, dan pintu itu langsung berubah kembali menjadi dinding batu.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.