Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Tidak,” Ron mengaku. “Parah juga waktu dia teriak-teriak, tapi paling tidak bukan aku yang mengakhirinya.”

“Pengecut,” kata Hermione, meskipun dia tampak geli. “Yah, rupanya semalam memang malam sial untuk roman. Ginny dan Dean juga putus, Harry.”

Harry merasa Hermione memandangnya penuh arti ketika memberitahukan itu, namun mana mungkin dia bisa tahu bahwa organ-organ dalam tubuhnya mendadak menari-nari. Berusaha sebisanya agar wajahnya tanpa ekspresi dan suaranya tidak peduli, dia bertanya, “Kok bisa putus?”

“Oh, gara-gara sesuatu yang betul-betul konyol … Ginny bilang Dean selalu berusaha membantunya masuk lubang lukisan, seakan dia tak bisa masuk sendiri … tapi sudah lama hubungan mereka tak terlalu mulus.” Harry mengerling Dean di sisi lain kelas. Dean memang tampak murung.

“Tentu saja ini membuatmu jadi sedikit berdilema, ya?” kata Hermione.

“Apa maksudmu?” kata Harry cepat-cepat.

“Tim Quidditch,” kata Hermione. “Kalau Ginny dan Dean diam-diaman …”

“Oh-oh yeah,” kata Harry.

“Flitwick,” kata Ron dengan nada memperingatkan. Guru Mantra yang mungil , berjalan ke arah mereka dan Hermione-lah satu-satunya yang telah berhasil mengubah cuka menjadi anggur. Botol kacanya dipenuhi cairan berwarna merah tua, sementara isi botol Harry dan Ron masih cokelat kelam.

“Nah, anak-anak,” tegur Profesor Flitwick. “Sedikit bicara, banyak bekerja … coba kulihat kalian mencoba …”

Bersama-sama mereka mengangkat tongkat sihir, berkonsentrasi sekuat tenaga, dan mengacungkan tongkat ke botol masing-masing. Cuka Harry berubah menjadi es; botol Ron meledak.

“Ya … untuk PR …” kata Profesor Flitwick, muncul dari bawah meja dan mencabuti serpihan kaca dari atas topinya, “latihan.”

Mereka sama-sama bebas setelah Mantra–salah satu dari jam bebas-bersamaan yang jarang terjadi—dan berjalan kembali ke ruang rekreasi bersama-sama. Ron tampaknya senang-senang saja putus dengan Lavender dan Hermione juga tampak ceria, meskipun ketika ditanya kenapa dia tersenyum-senyum, Hermione cuma berkata, “Hari yang cerah.” Tak seorang pun dari mereka tampaknya menyadari bahwa peperangan hebat sedang berkecamuk dalam pikiran Harry.

Dia adik Ron.

Tapi dia sudah menyingkirkan Dean.

Dia tetap saja masih adik Ron.

Aku sahabat karibnya!

Itu membuat keadaan makin parah.

Kalau aku bicara dulu dengan Ron.

Dia akan memukulmu.

Bagaimana kalau aku tidak peduli?

Dia kan sahabat karibmu!

Harry nyaris tak menyadari mereka memanjat masuk lewat lubang lukisan ke dalam ruang rekreasi yang cerah disinari cahaya matahari, dan hanya samar-samar melihat sekelompok kecil anak-anak kelas tujuh berkerumun di sana, sampai Hermione berseru, “Katie! Kau pulang! Kau sudah sembuh?”

Harry terbelalak. Ternyata benar-benar Katie Bell, tampak sehat walafiat dan dikerumuni teman-temannya yang sangat gembira.

“Aku sudah sehat betul!” katanya hang. “Mereka mengizinkanku pulang dari St Mungo hari Senin. Aku tinggal di rumah selama beberapa hari dengan Mum dan Dad, dan kemudian kembali ke sini pagi ini. Leanne baru saja menceritakan tentang McLaggen dan pertandingan terakhir, Harry …”

“Yeah,” kata Harry, “nah, sekarang kau sudah kembali dan Ron sudah sehat, kita akan punya kesempatan baik untuk mengalahkan Ravenclaw, yang berarti masih ada harapan bagi kita untuk mendapatkan Piala. Dengar, Katie …”

Dia harus segera mengajukan pertanyaan ini kepada Katie; keingintahuannya bahkan membuat Ginny untuk sementara terlupakan. Dia merendahkan suaranya ketika teman-teman Katie mulai mengemasi barang-barang mereka, rupanya mereka sudah terlambat untuk kelas Transfigurasi.

“… kalung itu … bisakah sekarang kau ingat siapa yang memberikannya kepadamu?”

“Tidak,” kata Katie, menggelengkan kepalanya dengan menyesal. “Semua orang menanyaiku, tapi aku sama sekali tak tahu. Hal terakhir yang kuingat adalah berjalan ke dalam toilet perempuan di Three Broom sticks.”

“Kau betul-betul masuk ke toilet, kalau begitu?” kata Hermione.

“Yah, aku tahu aku mendorong pintunya sampai terbuka,” kata Katie, “jadi, kuduga siapa pun yang meng-Imperius-ku berdiri di balik pintu. Setelah itu memoriku kosong, sampai kira-kira dua minggu lalu di St Mungo. Eh, Harry, sebaiknya aku pergi, McGonagall pasti tega menghukumku menulis kalimat sekalipun ini hari pertamaku masuk lagi …”

Katie mengambil tas dan buku-bukunya, lalu bergegas menyusul teman-temannya, meninggalkan Harry, Ron, dan Hermione duduk di meja dekat jendela dan merenungkan apa yang telah disampaikannya.

“Jadi, pastilah cewek atau ibu-ibu yang memberikan kalung itu kepada Katie,” kata Hermione, “soalnya dia di dalam toilet cewek”

“Atau orang yang kelihatannya seperti cewek atau ibu-ibu,” kata Harry. “Jangan lupa ada sekuali penuh Polijus di Hogdwarts. Kita tahu sebagian sudah dicuri …”

Di dalam benaknya Harry menyaksikan parade berbagai versi Crabbe dan Goyle berjingkrakan lewat, semuanya dalam transformasi sebagai cewek.

“Kupikir aku akan minum Felix lagi,” kata Harry, “dan mencoba masuk Kamar Kebutuhan lagi.”

“Itu berarti kau membuang-buang ramuan,” kata Hermione tegas, sambil meletakkan buku Susunan Suku-kata Spellman yang baru saja dikeluarkannya dari dalam tasnya. “Keberuntungan hanya bisa membawamu sejauh itu, Harry. Situasi dengan Slughorn berbeda, kau memang selalu bisa membujuknya, kau hanya perlu mengubah sedikit keadaan. Tetapi keberuntungan tidak akan cukup untuk menembus sihir yang kuat. Jangan membuang-buang sisa ramuan itu! Kau akan memerlukan seluruh keberuntungan yang bisa kaudapat jika Dumbledore mengajakmu bersamanya …” Dia merendahkan suaranya sampai menjadi bisikan.

“Apa kita tidak bisa membuatnya?” Ron menanyai Harry, mengabaikan Hermione. “Kan asyik kalau punya stok Felix … coba lihat dalam bukumu …”

Harry mengeluarkan buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut-nya dari tas dan membuka halaman Felix Felicis.

“Astaga, rumit benar,” katanya, membaca daftar bahan yang diperlukan. “Dan perlu enam bulan … kau harus merebusnya pelan-pelan …”

“Khas begitu,” kata Ron.

Harry sudah akan menaruh bukunya lagi ketika dia melihat ujung halaman yang terlipat. Dia membuka halaman itu dan dilihatnya mantra Sectumsempra, yang dijuduli ‘Untuk Musuh’, yang telah ditandainya beberapa minggu sebelumnya. Dia masih belum tahu apa yang dilakukan mantra itu, terutama karena dia tak ingin mencobanya di dekat Hermione, namun dia mempertimbangkan untuk mencobanya pada McLaggen lain kali, kalau dia berada di belakangnya tanpa disadari McLaggen.

Satu-satunya orang yang tidak begitu senang melihat Katie Bell kembali ke sekolah adalah Dean Thomas, karena dia tak lagi diperlukan untuk menggantikannya sebagai Chaser. Dia menerima pukulan ini dengan cukup tenang, hanya mendengus dan mengangkat bahu, namun Harry merasa, ketika dia menjauh, bahwa Dean dan Seamus mengomel di belakangnya.

Selama dua minggu sesudahnya, latihan-latihan Quidditch mereka adalah latihan terbaik yang pernah disaksikan Harry selama dia menjadi Kapten. Timnya sangat senang McLaggen sudah tersingkir, gembira Katie akhirnya kembali, sehingga mereka terbang bukan main baiknya.

Ginny sama sekali. tak tampak sedih putus dari Dean. Sebaliknya malah, dia jadi motor penggembira timnya. Dia menirukan Ron yang terbang naik-turun dengan cemas di depan tiang-tiang gawang ketika Quaffle meluncur ke arahnya, atau menirukan Harry meneriakkan perintah-perintah kepada McLaggen sebelum pingsan terpukul, membuat mereka semua sangat terhibur. Harry, tertawa bersama yang lain, senang punya alasan sah untuk memandang Ginny. Dia sudah beberapa kali lagi luka terhantam Bludger selama latihan, karena matanya tidak melulu tertuju pada Snitch.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.