Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Dumbledore mengacungkan jari-jarinya yang menghitam ke dinding di belakangnya, tempat sebilah pedang bertatahkan batu delima tersimpan dalam lemari kaca.

“Apakah menurut Anda itulah sebabnya dia ingin betul kembali ke Hogwarts, Sir?” tanya Harry. “Untuk mencoba mencari sesuatu dari salah satu pendiri yang lain?”

“Persis begitulah dugaanku, kata Dumbledore. “Tetapi sayangnya, itu tidak membuat kita lebih maju, karena dia ditolak, atau begitulah yang kukira, tanpa kesempatan menggeledah sekolah. Aku terpaksa menyimpulkan bahwa dia tak pernah berhasil memenuhi ambisinya mengoleksi empat benda milik empat pendiri. Dia jelas memiliki dua dia mungkin menemukan tiga itu yang terbaik yang bisa kita lakukan sekarang.”

“Bahkan kalau dia mendapatkan sesuatu milik Ravenclaw atau Gryffindor, masih ada Horcrux keenam” kata Harry, menghitung dengan jari-jarinya “Kecuali dia mendapatkan dua-duanya?”

“Kukira tidak,” kata Dumbledore. “Kupikir aku tahu apa Horcrux yang keenam. Aku ingin tahu apa yang akan kau katakan kalau kuakui aku sudah agak lama penasaran tentang tingkah laku si ular, Nagini?”

“Ular itu?” kata Harry, tercengang. “Binatang bisa digunakan sebagai Horcrux?”

“Yah, tidak disarankan untuk melakukannya,” kata Dumbledore, “karena memercayakan sebagian jiwamu kepada sesuatu yang bisa berpikir dan berjalan sendiri jelas sekali hal yang sangat berisiko. Meskipun demikian, jika kalkulasiku betul, Voldemort paling tidak masih kurang satu Horcrux dari targetnya yang enam ketika dia memasuki rumah orangtuamu dengan tujuan membunuhmu.”

“Dia tampaknya mencadangkan proses pembuatan Horcrux teristimewa untuk kematian-kematian yang punya arti penting. Kau jelas termasuk kategori itu. Dia percaya bahwa dengan membunuhmu, dia memusnahkan bahaya yang telah digariskan ramalan. Dia percaya dia sedang membuat dirinya tak terkalahkan. Aku yakin dia bermaksud membuat Horcrux terakhirnya dengan kematianmu.”

“Seperti yang kita tahu, dia gagal. Meskipun demikian, setelah jeda beberapa tahun, dia menggunakan Nagini untuk membunuh Muggle laki-laki tua, dan kemungkinan saat itulah terpikir olehnya untuk menggunakan ular betina ini sebagai Horcrux terakhirnya. Nagini menekankan hubungannya dengan Slytherin, dengan demikian mempertinggi mistik Lord Voldernort. Kukira dia barangkali menyukai ular itu lebih dari apa pun; dia jelas senang menahan Nagini berada di dekatnya dan dia tampaknya memiliki kendali luar biasa atas ular itu, bahkan bagi seorang Parselmouth.”

“Jadi,” kata Harry, “buku harian sudah tak ada, cincin sudah tak ada. Piala, kalung, dan ular masih utuh dan Anda berpendapat mungkin ada Horcrux yang dulunya benda milik Ravenclaw atau Gryffindor?”

“Ringkasan mengagumkan, singkat dan akurat, ya,” kata Dumbledore, menundukkan kepalanya.

“Jadi … apakah Anda masih mencarinya, Sir? Ke tempat-tempat itukah Anda pergi jika Anda meninggalkan sekolah?”

“Betul,” kata Dumbledore. “Aku sudah lama sekali mencari. Kurasa … barangkali … aku sudah hampir menemukan satu lagi. Ada tanda-tanda yang memberi harapan.”

“Dan jika Anda menemukannya,” kata Harry cepat-cepat, “bolehkah saya ikut dengan Anda dan membantu menyingkirkannya?”

Dumbledore memandang Harry lekat-lekat selama beberapa saat sebelum menjawab, “Ya, kukira begitu.”

“Saya boleh ikut?” kata Harry, terperangah.

“Oh, ya,” kata Dumbledore, tersenyum kecil. “Kurasa kau layak mendapatkan hak itu.”

Harry merasa semangatnya bangkit. Senang sekali tidak mendengar kata-kata agar berhati-hati dan melindungi diri, paling tidak kali itu. Para kepala sekolah di sekeliling dinding tampaknya tak begitu setuju dengan keputusan Dumbledore. Harry melihat beberapa di antaranya menggelengkan kepala dan Phineas Nigellus malah mendengus.

“Apakah Voldemort tahu kalau ada Horcrux-nya yang dihancurkan, Sir? Apakah dia merasakannya?” Harry bertanya, tidak mengindahkan lukisan-lukisan itu.

“Pertanyaan yang sangat menarik, Harry. Menurutku tidak. Menurutku Voldemort sekarang sangat terbenam dalam kejahatan, dan bagian-bagian penting dirinya ini sudah terpisah darinya sangat lama, dia tidak lagi merasa seperti kita. Barangkali, saat maut menjelang, dia mungkin menyadari kehilangannya … tetapi dia tidak sadar, misalnya, bahwa buku harian itu telah dihancurkan sampai dia memaksa Lucius Malfoy mengatakan yang sebenarnya. Ketika Voldemort tahu buku harian itu telah dimutilasi dan semua kekuatannya hilang, aku diberitahu bahwa kemarahannya sangatlah mengerikan.”

“Tapi saya sangka dia memaksudkan Lucius Malfoy menyelundupkan buku itu ke Hogwarts?”

“Memang, bertahun-tahun yang lalu, ketika dia yakin dia akan bisa menciptakan lebih banyak lagi Horcrux, tetapi tetap saja Lucius harus menunggu Voldemort memerintahkannya demikian, dan Lucius tak pernah menerima perintah itu, karena Voldemort menghilang tak lama setelah memberikan buku harian itu kepadanya. Tak diragukan lagi dia mengira Lucius tidak akan berani melakukan apa pun dengan Horcrux itu kecuali menjaganya dengan hati-hati, tetapi dia terlalu mengandalkan ketakutan Lucius terhadap tuan yang telah pergi selama bertahun-tahun dan yang Lucius percaya telah mati. Tentu saja Lucius tidak tahu apa sebenarnya buku harian itu. Setahuku Voldemort memberitahunya bahwa buku harian itu akan menyebabkan Kamar Rahasia terbuka lagi, karena buku itu sudah dimantrai dengan hebat. Seandainya Lucius tahu sebagian jiwa tuannya ada di tangannya, niscaya dia akan memperlakukan buku itu dengan lebih hormat-namun alih-alih begitu dia melaksanakan rencana yang akan menguntungkannya sendiri dengan memasang buku itu agar ditemukan anak perempuan Arthur Weasley, dia berharap mendiskreditkan Arthur, membuatku dikeluarkan dari Hogwarts, dan sekaligus menyingkirkan benda yang sangat memberatkan. Ah, kasihan Lucius … menghadapi kemarahan Voldemort atas fakta bahwa dia membuang Horcrux itu untuk kepentingannya sendiri, dan kegagalan total di Kementerian tahun lalu, aku tak akan heran kalau diam-diam dia senang aman berada di Azkaban saat ini.”

Harry duduk berpikir selama beberapa waktu, kemudian bertanya, “Jadi, jika semua Horcrux-nya dihancurkan, Voldemort bisa dibunuh?”

“Ya, kukira begitu,” kata Dumbledore. “Tanpa Horcrux-Horcrux-nya, Voldemort hanyalah manusia fana dengan jiwa yang sudah cacat dan berkurang. Jangan pernah lupa, tapi, bahwa sementara jiwanya cacat tak mungkin diperbaiki lagi, otaknya dan kemampuan sihirnya tetap utuh. Perlu kecakapan dan kekuatan luar biasa untuk membunuh penyihir seperti Voldemort, bahkan tanpa Horcrux-Horcrux-nya.”

“Tetapi saya tidak memiliki kecakapan dan kekuatan luar biasa,” kata Harry, sebelum bisa menahan diri.

“Ya, kau memilikinya,” kata Dumbledore tegas. “Kau memiliki kekuatan yang tak pernah dimiliki Voldemort. Kau bisa”

“Saya tahu!” kata Harry kehilangan kesabaran. “Saya bisa mencintai!” Hanya dengan susah payah dia berhasil menahan diri untuk tidak menambahkan, “Hebat sekali!”

“Ya, Harry, kau bisa mencintai,” kata Dumbledore, yang tampaknya tahu betul apa yang tidak jadi dikatakan Harry. “Yang, mengingat apa yang telah terjadi padamu, adalah hal yang hebat dan luar biasa. Kau masih terlalu muda untuk memahami betapa luar biasanya kau, Harry.”

“Jadi, ketika ramalan mengatakan bahwa saya akan mempunyai ‘kekuatan yang tidak diketahui Pangeran Kegelapan’, yang dimaksud hanya cinta?” tanya Harry, merasa sedikit kecewa.

“Ya hanya cinta,” kata Dumbledore. “Tetapi, Harry, jangan pernah lupa bahwa apa yang dikatakan ramalan menjadi berarti hanya karena Voldemort membuatnya demikian. Sudah kukatakan ini kepadamu pada akhir tahun ajaran lalu. Voldemort memilihmu sebagai orang yang akan paling berbahaya baginya dan dengan berbuat demikian, dia membuatmu menjadi orang yang akan paling berbahaya baginya!”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.