Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Kemudian kau memberitahuku, dua tahun sesudah itu, bahwa pada malam Voldemort kembali ke tubuhnya, dia membuat pernyataan yang paling menjelaskan dan paling menakutkan kepada para Pelahap Maut-nya. ‘Aku, yang telah menapaki jalan menuju keabadian lebih jauh daripada siapa pun.’ Itulah yang kau sampaikan kepadaku dikatakannya. ‘Lebih jauh daripada siapa pun.’ Dan kupikir aku tahu apa maksudnya itu, meskipun para Pelahap Maut tidak. Dia mengacu kepada Horcrux-Horcrux-nya. Horcrux-Horcrux, bentuk jamak, Harry, yang aku yakin tak ada penyihir lain pernah memilikinya. Tetapi ini cocok. Lord Voldemort tampak semakin tidak manusiawi bersama berlalunya waktu, dan transformasi yang dialaminya bagiku hanya bisa dijelaskan jika jiwanya dimutilasi jauh melampaui batas-batas apa yang bisa kita sebut kejahatan yang biasa …”

“Jadi, dia membuat dirinya tak mungkin dibunuh dengan membunuh orang-orang?” kata Harry. “Kenapa dia tidak membuat saja Batu Bertuah, atau mencurinya, kalau dia begitu ingin hidup selamanya?”

“Nah, kita tahu dia mencoba melakukan itu, lima tahun lalu,” kata Dumbledore. “Tetapi ada beberapa alasan kenapa, menurutku, Batu Bertuah kurang menarik dibanding Horcrux bagi Lord Voldemort.”

“Sementara Cairan Kehidupan memang memperpanjang hidup, eliksir ini harus diminum secara teratur, sepanjang waktu, jika peminumnya ingin menjamin keabadiannya. Karena itu, Voldemort akan tergantung sepenuhnya pada Cairan Kehidupan ini, dan jika dia kehabisan, atau eliksir ini terkontaminasi, atau jika Batu-nya dicuri, dia akan mati seperti orang lain. Voldemort senang bertindak sendiri, ingat. Aku percaya bahwa baginya, pikiran bahwa dia tergantung, bahkan pada Cairan Kehidupan itu, tak bisa ditoleransi. Tentu saja dia bersedia meminumnya jika eliksir itu bisa membebaskannya dari keadaan mengerikan setengah-hidup seperti nasib yang dialaminya setelah dia menyerangmu, namun hanya sekadar untuk mendapatkan kembali tubuhnya. Setelah itu, aku yakin, dia bermaksud melanjutkan bergantung pada Horcrux-Horcrux-nya dia tidak akan memerlukan apa-apa lagi, kalau saja dia sudah mendapatkan kembali sosok manusianya. Dia sudah tak bisa mati, soalnya … atau sedekat mungkin pada keabadian yang bisa dicapai manusia.”

“Tetapi sekarang, Harry, dipersenjatai dengan informasi ini, kenangan penting yang telah berhasil kau peroleh untuk kita, kita lebih dekat ke rahasia bagaimana menghabisi Lord Voldemort daripada yang pernah dicapai orang lain sebelumnya. Kau mendengarnya, Harry, ┬┤Tidakkah lebih baik, membuat Anda lebih kuat, jika jiwa Anda terbagi menjadi beberapa bagian… bukankah tujuh angka yang kekuatan sihirnya paling hebat…’ Bukankah tujuh angka yang kekuatan sihirnya paling hebat. Ya, kurasa ide jiwa terbelah-tujuh akan sangat menarik bagi Lord Voldemort.”

“Dia membuat tujuh Horcrux?” kata Harry, dilanda kengerian, sementara beberapa lukisan di dinding membuat celetukan serupa, yang mengutarakan shock dan kemarahan. “Tetapi Horcrux-Horcrux itu bisa di mana saja di dunia, tersembunyi-dikubur atau tak tampak-”

“Aku senang melihatmu mengapresiasi besarnya problem kita,” kata Dumbledore kalem. “Tapi pertama-tama, tidak, Harry, bukan tujuh Horcrux, enam. Bagian ketujuh jiwanya, betapapun rusaknya, tinggal di dalam tubuh-regenerasinya. Itu bagian yang hidup sebagai spektrum bertahun-tahun selama dia dalam pengasingan; tanpa itu, dia tak punya diri sama sekali. Bagian ketujuh jiwa itu akan jadi yang terakhir yang harus diserang siapa pun yang ingin membunuh Voldemort bagian yang hidup di dalam tubuhnya.”

“Tetapi keenam Horcrux lainnya, kalau begitu,” kata Harry, sedikit putus asa, “bagaimana kita bisa menemukannya?”

“Kau lupa … kau sudah menghancurkan salah satunya. Dan aku sudah menghancurkan satu.”

“Anda sudah menghancurkan satu?” tanya Harry bersemangat.

“Ya betul,” kata Dumbledore, dan dia mengangkat tangannya yang hitam seperti terbakar. “Cincin itu, Harry, cincin Marvolo. Dan ada kutukan sangat mengerikan di cincin itu juga. Seandainya saja bukan maafkan kalau kedengarannya tidak rendah hati berkat kemampuanku yang luar biasa dan tindakan Profesor Snape yang tepat pada waktunya ketika aku kembali ke Hogwarts, terluka parah, aku mungkin tak lagi hidup untuk menuturkan kisah ini. Meskipun demikian, tangan yang kisut rasanya pertukaran yang layak untuk sepertujuh jiwa Lord Voldemort. Cincin itu sudah bukan lagi Horcrux.”

“Tetapi bagaimana Anda menemukannya?”

“Seperti yang sekarang kau ketahui, sudah selama bertahun-tahun aku membiasakan diri menemukan sebanyak yang aku bisa tentang kehidupan Voldemort di masa lalu. Aku banyak bepergian, mengunjungi tempat-tempat yang pernah dikenalnya. Aku menemukan cincin ini secara kebetulan tersembunyi di reruntuhan pondok keluarga Gaunt. Rupanya begitu Voldemort sudah berhasil menyegel sebagian jiwanya di dalamnya, dia tak ingin memakainya lagi. Dia menyembunyikannya, diproteksi oleh banyak mantra yang kuat, dalam pondok yang pernah ditinggali leluhurnya (Morfin sudah diangkut ke Azkaban, tentu), tak pernah menduga bahwa aku mungkin suatu hari akan bersusah payah mengunjungi reruntuhannya, atau bahwa aku mungkin mengawasi jejak-jejak penyembunyian secara sihir.”

“Meskipun demikian, kita tak boleh terlalu bergirang hati memberi selamat kepada diri sendiri. Kau menghancurkan buku harian dan aku menghancurkan cincin, tetapi kalau kita benar dalam teori kita tentang jiwa terbelah-tujuh, masih ada empat Horcrux yang tinggal.”

“Dan mereka bisa apa saja?” kata Harry. “Mereka bisa kaleng tua, atau, saya tak tahu, botol ramuan kosong …?”

“Kau memikirkan Portkey, Harry, yang memang harus berupa benda-benda biasa, yang mudah terabaikan. Tetapi Lord Voldemort menggunakan kaleng atau botol ramuan tua untuk menyimpan jiwanya yang berharga? Kau melupakan apa yang sudah kuperlihatkan kepadamti. Lord Voldemort senang mengoleksi benda yang ada kenangannya, dan dia lebih suka benda-benda dengan sejarah sihir yang hebat. Kebanggaannya, kepercayaannya pada superioritasnya, tekadnya untuk mengukir bagi dirinya tempat yang mengejutkan di dalam sejarah sihir; hal-hal ini memberitahuku bahwa Voldemort akan memilih Horcrux-Horcruxnya dengan hati-hati, memilih benda-benda yang layak mendapat kehormatan ini.”

“Buku harian itu tidak seistimewa itu.”

“Buku harian itu, seperti tadi kau katakan sendiri, adalah bukti bahwa dia pewaris Slytherin; aku yakin Voldemort menganggapnya luar biasa penting.”

“Jadi, Horcrux yang lain?” kata Harry. “Apakah menurut Anda, Anda tahu mereka berbentuk apa, Sir?”

“Aku hanya bisa menduga-duga,” kata Dumbledore. “Untuk alasan yang telah kuberikan, aku yakin Lord Voldemort akan lebih menyukai benda-benda yang memiliki kehebatan sendiri. Karena itu aku telah menelusuri masa lalu Voldemort untuk melihat kalaukalau aku bisa menemukan bukti-bukti bahwa benda-benda berharga semacam itu telah menghilang di sekitarnya.”

“Kalung itu!” seru Harry keras. “Piala Huflepuff!”

“Ya,” kata Dumbledore, tersenyum, “aku akan bersedia mempertaruhkan-barangkali bukan tanganku yang satunya tapi beberapa jariku, bahwa keduanya menjadi Horcrux nomor tiga dan empat. Dua lainnya, mengasumsikan lagi bahwa dia menciptakan enam Horcrux, lebih sulit diduga, tetapi aku akan coba-coba menebak bahwa, setelah berhasil mendapatkan benda-benda dari Hufflepuff dan Slytherin, dia mulai mencari benda-benda yang dimiliki oleh Gryffindor atau Ravenclaw. Empat benda dari empat pendiri akan, aku yakin, menjadi daya tarik luar biasa bagi imajinasi Voldemort. Aku tak bisa menjawab apakah dia berhasil menemukan sesuatu milik Ravenclaw. Meskipun demikian aku yakin bahwa satu-satunya peninggalan Gryffindor masih aman.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.