Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Wajah Slughorn berkerut dan Harry jadi teringat kata-kata yang didengarnya hampir dua tahun sebelumnya.

“Aku tercabik dari tubuhku, aku lebih rendah dari arwah, lebih rendah dari hantu yang paling hina … tetapi aku masih hidup.”

“… hanya sedikit yang mau, Tom, sangat sedikit. Kematian masih lebih baik.”

Namun nafsu Riddle sekarang kentara sekali; ekspresinya tamak, dia tak bisa lagi menyembunyikan keinginannya.

“Bagaimana Anda membelah jiwa Anda?”

“Yah,” kata Slughorn tak nyaman, “kau harus mengerti bahwa jiwa dimaksudkan untuk tetap lengkap dan utuh. Membaginya adalah tindakan pelanggaran, melawan kodrat alam.”

“Tetapi bagaimana Anda melakukannya?”

“Dengan tindak kejahatan — tindak kejahatan yang paling jahat. Dengan melakukan pembunuhan. Membunuh mencabik jiwa. Penyihir yang bermaksud menciptakan Horcrux akan menggunakan kerusakan ini untuk kepentingannya dia akan menyimpan cabikan”

“Menyimpan? Tapi bagaimana?”

“Ada mantranya, jangan tanya aku, aku tak tahu!” kata Slughorn, menggelengkan kepala seperti gajah tua yang terganggu nyamuk. “Apa aku tampak seperti pernah mencobanya apakah aku tampak seperti pembunuh?”

“Tidak, Sir, tentu saja tidak,” kata Riddle cepat-cepat. “Maaf … saya tidak bermaksud menyinggung perasaan …”

“Sama sekali tidak, aku sama sekali tidak tersinggung,” kata Slughorn tajam. “Wajar merasa penasaran tentang hal-hal begini … para penyihir kaliber tertentu selalu tertarik pada aspek sihir ini …”

“Ya, Sir,” kata Riddle. “Yang saya. tak paham adalah — hanya sekadar ingin tahu — maksud saya, apakah satu Horcrux banyak gunanya? Apakah Anda hanya bisa membelah jiwa sekali? Tidakkah lebih baik, membuat Anda lebih kuat, jika jiwa Anda terbagi menjadi beberapa bagian? Maksud saya, misalnya, bukankah tujuh angka yang kekuatan sihirnya paling hebat, bukankah tujuh?”

“Jenggot Merlin, Tom!” dengking Slughorn. “Tujuh! Bukankah sudah cukup mengerikan memikirkan membunuh satu orang? Lagi pula … sudah mengerikan membelah jiwa menjadi dua … tapi mencabik-cabiknya menjadi tujuh …”

Slughorn tampak sangat terganggu sekarang. Dia menatap Riddle seakan belum pernah melihatnya sejelas itu dan Harry bisa melihat dia menyesali masuk ke dalam percakapan ini.

“Tentu saja,” dia bergumam, “ini semua hanya hipotetis, apa yang kita bicarakan ini, kan? Semua hanya teori akademis …”

“Ya, Sir, tentu saja,” kata Riddle cepat-cepat.

“Meskipun demikian, Tom … jangan beritahu siappun, apa yang kusampaikan — maksudku, apa yang telah kita bicarakan. Orang tak akan suka memikirkan kita ngobrol tentang Horcrux. Ini topik terlarang di Hogwarts, kau tahu … Dumbledore tegas sekali soal ini …”

“Saya tak akan bicara sepatah pun soal ini, Sir,” kata Riddle dan dia pergi, tetapi tidak sebelum Harry melihat sekilas wajahnya, yang dipenuhi kebahagiaan liar seperti ketika dia pertama kali tahu bahwa dia ternyata penyihir, jenis kebahagiaan yang tidak membuat wajahnya semakin tampan, melainkan membuatnya, entah kenapa, semakin tidak manusiawi …

“Terima kasih, Harry,” kata Dumbledore pelan. “Mari kita pergi …”

Ketika Harry mendarat kembali di lantai kantor, Dumbledore sudah duduk lagi di belakang mejanya. Harry juga duduk, dan menunggu Dumbledore bicara.

“Aku sudah lama sekali mengharapkan bukti ini” kata Dumbledore akhirnya. “Ini mengonfirmasi teori yang sedang kususun, memberitahuku bahwa aku benar, dan juga bahwa masih banyak sekali yang harus dilakukan …”

Harry mendadak menyadari bahwa para mantan kepala sekolah dalam lukisan yang berjajar di dinding yang mengelilingi ruangan semuanya bangun dan mendengarkan pembicaraan mereka. Seorang penyihir gemuk berhidung merah malah mengeluarkan terompet-bantu-dengar.

“Nah, Harry,” kata Dumbledore, “aku yakin kau memahami arti penting apa yang baru saja kita dengar. Pada usia yang sama denganmu sekarang, berbeda kurang-lebih beberapa bulan, Tom Riddle sudah melakukan sebisanya untuk mencari tahu bagaimana membuat dirinya abadi.”

“Anda berpendapat dia berhasil kalau begitu, Sir?” tanya Harry. “Dia membuat Horcrux? Dan itukah sebabnya dia tidak mati ketika dia menyerang saya? Dia punya Horcrux yang disembunyikan di suatu tempat? Sebagian jiwanya aman?”

“Sebagian … atau beberapa,” kata Dumbledore. “Kau mendengar Voldemort, apa yang khususnya diinginkannya dari Horace adalah pendapat tentang apa yang akan terjadi pada penyihir yang menciptakan lebih dari satu Horcrux, apa yang akan terjadi pada penyihir yang bertekad menghindari kematian sehingga dia bersedia membunuh berkali-kali, mencabik jiwanya berulang-ulang, sehingga bisa menyimpannya dalam banyak Horcrux yang disembunyikan secara terpisah. Tak ada buku yang akan memberinya informasi itu. Sejauh yang aku tahu sejauh, aku yakin, yang Voldemort tahu belum ada penyihir yang pernah melakukan lebih daripada mencabik jiwanya menjadi dua.”

Dumbledore berhenti sejenak, menyusun pikirannya, dan kemudian berkata, “Empat tahun yang lalu, aku menerima apa yang kuanggap sebagai bukti nyata bahwa Voldemort telah membelah jiwanya.”

“Di mana?” tanya Harry. “Bagaimana?”

“Kau yang menyerahkannya kepadaku, Harry,” kata Dumbledore. “Buku harian, buku harian Riddle, yang memberi instruksi bagaimana membuka Kamar Rahasia.”

“Saya tidak mengerti, Sir,” kata Harry.

“Meskipun aku tidak melihat si Riddle yang keluar dari buku harian itu, yang kau deskripsikan kepadaku adalah fenomena yang belum pernah kusaksikan. Kenangan yang mulai bertindak dan berpikir sendiri? Kenangan yang mengisap kehidupan dari gadis kecil yang terjatuh ke dalam tangannya? Tidak, sesuatu yang jauh lebih jahat hidup dalam buku itu … kepingan jiwa, aku hampir pasti akan itu. Buku harian itu adalah Horcrux. Tetapi ini menimbulkan banyak pertanyaan, sebanyak pertanyaan yang terjawab olehnya. Yang paling menggugah minat dan menakutkanku adalah bahwa buku harian itu dimaksudkan sebagai senjata sekaligus perlindungan.”

“Saya masih tidak mengerti,” kata Harry.

“Buku harian itu berfungsi sebagaimana Horcrux seharusnya berfungsi dengan kata lain, kepingan jiwa yang disembunyikan di dalamnya tersimpan aman dan niscaya telah memainkan perannya dalam mencegah kematian pemiliknya. Tetapi tak diragukan lagi bahwa Riddle betul-betul ingin buku harian itu dibaca, ingin kepingan jiwanya mendiami atau menguasai orang lain, sehingga monster Slytherin akan terlepas lagi.”

“Yah, dia tak ingin kerja kerasnya sia-sia,” kata Harry. “Dia ingin orang-orang tahu dia pewaris Slytherin, karena dia tak bisa mengakuinya saat itu.”

“Ada betulnya,” kata Dumbledore, mengangguk. “Tetapi tidakkah kau lihat, Harry, bahwa jika dia bermaksud buku harian itu diberikan, atau dipasang, untuk murid Hogwarts di masa mendatang, dia sungguh teledor akan kepingan jiwa amat berharga yang disembunyikan di dalamnya. Tujuan Horcrux adalah, seperti dijelaskan Profesor Slughorn, untuk menyimpan sebagian dari diri tersembunyi dan aman, bukan untuk dilemparkan kepada orang lain dan menghadapi risiko orang itu menghancurkannya seperti yang betul-betul terjadi kepingan jiwa yang itu sudah tak ada lagi kau telah membinasakannya.

“Sikap ceroboh Voldemort terhadap Horcrux itulah yang paling membuatku cemas. Itu menunjukkan bahwa dia pastilah telah membuat atau merencanakan membuat lebih banyak Horcrux, sehingga kehilangan Horcrux-nya yang pertama tidak akan terlalu mengganggu. Aku tak ingin memercayainya, tetapi tak ada penjelasan lain yang bisa masuk akal.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.