Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Di mana dia?” tanya Harry, hatinya melonjak gembira.

“Oh, mengerang-erang dan berkelontangan di Menara Astronomi, kan rekreasi favoritnya me-”

“Bukan si Baron Berdarah, Dumbledore!”

“Oh di kantornya,” kata Nick. “Kukira, dari apa yang dikatakan si Baron, ada urusan yang harus dibereskannya sebelum dia ti-”

“Yeah, ada,” kata Harry, gairah berkobar di dadanya pada prospek memberitahu Dumbledore dia telah berhasil mendapatkan kenangan itu. Dia berputar dan berlari lagi, tidak memedulikan si Nyonya Gemuk yang memanggil-manggilnya.

“Kembali! Oke, ngaku, aku bohong! Aku sebal kau membangunkanku! Kata kuncinya masih ‘cacing pita’!”

Namun Harry sudah berlari sepanjang koridor dan, dalam beberapa menit, dia sudah mengatakan ‘permen karamel’ kepada gargoyle Dumbledore, yang langsung melompat minggir, mengizinkan Harry masuk menaiki tangga spiral.

“Masuk,” kata Dumbledore ketika Harry mengetuk. Kedengarannya dia sangat letih.

Harry mendorong pintunya terbuka. Kantor Dumbledore tampak sama seperti biasanya, namun dilatarbelakangi langit gelap bertabur bintang di luar jendelanya.

“Astaga, Harry,” kata Dumbledore keheranan. “Apa yang membuatku mendapat kehormatan menerima kunjunganmu selarut ini?”

“Sir saya sudah mendapatkannya. Saya sudah mendapatkan kenangan dari Slughorn.”

Harry mengeluarkan botol kaca mungil itu dan memperlihatkannya kepada Dumbledore. Selama beberapa saat Kepala Sekolah tampak terpesona. Kemudian senyum lebar merekah di wajahnya.

“Harry, ini kabar spektakuler! Benar-benar bagus sekali! Aku tahu kau bisa melakukannya!”

Soal betapa larutnya sudah malam itu tampaknya terlupakan, Dumbledore bergegas mengitari mejanya, mengambil botol berisi kenangan Slughorn dengan tangannya yang tak terluka dan berjalan ke lemari tempatnya menyimpan Pensieve.

“Dan sekarang,” kata Dumbledore, meletakkan baskom batu itu di atas mejanya dan menuang isi botol ke dalamnya, “sekarang, akhirnya, kita akan melihat, Harry, cepat …”

Harry membungkuk patuh di atas Pensieve dan merasa kakinya meninggalkan lantai kantor … sekali lagi dia terjatuh melewati kegelapan dan mendarat di kantor Horace Slughorn bertahun-tahun sebelumnya.

Tampak Horace Slughorn yang jauh lebih muda, dengan rambut tebal, berkilat, berwarna-jerami dan kumis yang berwarna jingga-pirang, sedang duduk lagi di kursi berlengan yang nyaman di kantornya, kakinya diistirahatkan pada tumpuan kaki beludru, satu tangan memegang gelas anggur kecil, tangan yang lain merogoh kotak permen nanas. Dan tampak enam remaja pria duduk mengelilingi Slughorn, dengan Tom Riddle di tengah-tengah mereka, cincin emas Marvolo yang berbatu hitam berkilau di jarinya.

Dumbledore mendarat di sebelah Harry tepat ketika Riddle bertanya, “Sir, betulkah Profesor Merrythought akan pensiun?”

“Tom, Tom, kalaupun tahu aku tak bisa memberitahumu,” kata Slughorn, menegur dengan menggoyangkan jari ke arah Riddle, meskipun mengedip pada saat yang bersamaan. “Terus terang, aku ingin tahu dari mana kau dapatkan informasimu, Nak; kau ini lebih tahu daripada separo staf guru.”

Riddle tersenyum; anak-anak yang lain tertawa dan melempar pandang kagum kepadanya.

“Dengan kemampuanmu yang luar biasa untuk mengetahui hal-hal yang seharusnya tak boleh kau ketahui, dan sanjungan penuh perhitungan kepada orang-orang yang penting-oh ya, terima kasih untuk permen nanas ini, kau benar, ini favoritku-”

Beberapa anak terkekeh lagi.

“aku yakin kau akan bisa menjadi Menteri Sihir dalam waktu dua puluh tahun. Lima belas, kalau kau terus mengirimiku permen nanas. Aku punya hubungan luar biasa baik dengan orang-orang di Kementerian.”

Tom Riddle hanya tersenyum sementara yang lain tertawa lagi. Harry memperhatikan bahwa dia sama sekali bukan yang tertua dalam rombongan remaja itu, namun mereka semua tampaknya menganggap dia sebagai pemimpin mereka.

“Saya tak tahu apakah politik cocok untuk saya, Sir,” katanya ketika tawa telah mereda. “Saya tidak memiliki latar belakang yang sesuai, itu alasan pertama.”

Beberapa anak di sekelilingnya saling menyeringai. Harry yakin mereka menikmati lelucon antar mereka; tak diragukan lagi tentang apa yang mereka ketahui, atau curigai, sehubungan dengan leluhur kenamaan pimpinan geng mereka.

“Omong kosong,” kata Slughorn tegas, “tak bisa lebih jelas lagi kau keturunan penyihir hebat, dengan kemampuan sepertimu. Tidak, kau akan jadi orang hebat, Tom, aku belum pernah keliru menilai muridku.”

Jam meja emas kecil di atas meja Slughorn berdentang sebelas kali di belakangnya dan dia menoleh.

“Astaga, sudah semalam ini?” kata Slughorn. “Kalian sebaiknya pergi, anak-anak, kalau tidak kita semua bisa mendapat kesulitan. Lestrange, aku menginginkan esaimu besok pagi, kalau tidak detensi. Sama, kau juga, Avery.”

Satu demi satu anak-anak meninggalkan ruangannya. Slughorn bangkit dari kursi berlengannya dan membawa gelas kosongnya ke mejanya. Gerakan di belakangnya membuatnya berpaling. Riddle masih berdiri di sana.

“Hati-hati, Tom, kau tak ingin tertangkap masih belum di tempat tidur di luar jam yang ditentukan, dan kau prefek …”

“Sir, saya ingin menanyakan sesuatu kepada Anda.”

“Tanyakan saja, kalau begitu, Nak, tanyakan saja …”

“Sir, saya ingin tahu apa yang Anda ketahui tentang … tentang Horcrux?”

Slughorn menatapnya, jari-jarinya yang gemuk tanpa sadar mengelus-elus gagang gelas anggurnya.

“Proyek untuk Pertahanan terhadap Ilmu Hitamkah ini?”

Namun Harry bisa melihat bahwa Slughorn tahu betul bahwa ini bukan tugas sekolah.

“Sebetulnya bukan, Sir,” kata Riddle. “Saya menemukan istilah ini sewaktu membaca dan saya tidak sepenuhnya mengerti.”

“Tentu … yah … kau juga akan sulit sekali menemukan buku di Hogwarts yang bisa memberimu keterangan rinci tentang Horcrux, Tom. Itu ilmu yang sangat Hitam, betul-betul sangat Hitam,” kata Slughorn.

“Tapi Anda pasti tahu tentang itu, kan, Sir? Maksud saya, penyihir seperti Anda — maaf, maksud saya, jika Anda tidak bisa memberitahu saya, tentu saya hanya tahu bahwa kalau ada orang yang bisa memberitahu sa, Anda-lah orangnya — jadi, saya pikir saya tanyakan saja-”

Dilakukan dengan sangat baik, pikir Harry, keragu-raguan, nadanya yang biasa, pujian yang hati-hati, tak ada yang berlebihan. Harry telah punya banyak pengalaman dalam berusaha memancing informasi dari orang-orang yang enggan, sehingga dia bisa mengenali ahli yang sedang beraksi. Dia bisa melihat bahwa Riddle sangat, sangat menginginkan informasi itu; barangkali dia telah bekerja keras selama berminggu-minggu menyiapkan momen ini.

“Yah,” kata Slughorn, tidak memandang Riddle, melainkan memainkan pita di atas kotak permen nanasnya, “yah, tak ada salahnya memberimu gambaran ikhtisar, tentu, hanya supaya kau memahami istilah ini. Horcrux adalah sebutan bagi benda yang digunakan orang untuk menyembunyikan sebagian jiwanya.”

“Tapi saya tak begitu mengerti bagaimana itu bisa dilakukan, Sir,” kata Riddle.

Kata-katanya terkontrol cermat, namun Harry bisa merasakan kegairahannya.

“Oh, kau membelah jiwamu,” kata Slughorn, “dan menyembunyikan belahannya dalam benda di luar tubuh. Kemudian, bahkan jika tubuh orang itu diserang atau dihancurkan, orang itu tak bisa mati, karena sebagian jiwanya tetap terikat kepada bumi dan utuh. Tetapi, tentu saja, eksistensi dalam bentuk seperti itu …”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.