Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Saya tak bermaksud tidak sopan” dia memulai, dengan nada yang menyiratkan ketidaksopanan dalam setiap suku kata.

“sayangnya, ketidaksopanan yang tak disengaja terjadi cukup sering,” Dumbledore menyelesaikan kalimat Mr Dursley dengan muram. “Paling baik jangan berkata apa-apa, Saudara. Ah, ini pastilah Petunia.”

Pintu dapur membuka dan tampaklah bibi Harry berdiri di sana, memakai sarung tangan karet dan gaun rumah di atas baju tidurnya, jelas sedang setengah jalan melakukan rutinitas sebelum tidurnya, mengelap semua permukaan di dapurnya. Wajahnya yang agak mirip kuda tampak shock.

“Albus Dumbledore,” kata Dumbledore, ketika Paman Vernon tidak memperkenalkannya. “Kita sudah berkorespondensi, tentu saja.” Harry berpendapat ini cara yang aneh untuk mengingatkan Bibi Petunia bahwa dia pernah mengirimnya surat meledak, namun Bibi Petunia tidak menyangkal istilah ini. “Dan ini pastilah anak kalian Dudley?”

Dudley saat itu mengintip dari balik pintu ruang keluarga. Kepalanya yang besar berambut pirang yang muncul dari kerah piama bergarisnya tidak tampak seperti bagian dari tubuhnya, mulutnya menganga lebar, saking takut dan kagetnya. Dumbledore menanti beberapa saat, kalau-kalau salah satu dari suami-istri Dursley akan mengatakan sesuatu, namun ketika kesunyian berlanjut dia tersenyum.

“Bagaimana kalau kita andaikan kalian telah mempersilakan saya masuk ke ruang keluarga kalian?”

Dudley buru-buru menyingkir ketika Dumbledore melewatinya. Harry, masih memegangi teleskop dan sepatu, melompati beberapa anak, tangga terakhir dan menyusul Dumbledore, yang telah duduk di kursi berlengan paling dekat perapian dan sedang mengamati sekelilingnya dengan penuh perhatian. Dia tampak janggal sekali berada di situ.

“Kita tidak-tidak berangkat sekarang, Sir?” tanya Harry cemas.

“Ya, sebentar lagi, ada beberapa masalah yang harus kita bicarakan dulu,” kata Dumbledore. “Dan aku lebih suka tidak membicarakannya di tempat terbuka. Kita hanya akan menyalahgunakan keramahan bibi dan pamanmu sebentar lagi.”

“Begitu, ya?”

Vernon Dursley telah memasuki ruangan. Petunia di balik bahunya dan Dudley mengendap-endap di belakang keduanya.

“Ya,” kata Dumbledore singkat.

Dia mencabut tongkat sihirnya cepat sekali sehingga Harry nyaris tak melihatnya. Dengan jentikan santai, sofa meluncur maju dan menabrak lutut ketiga Dursley sehingga mereka berjatuhan di atasnya. Satu jentikan yang lain membuat sofa meluncur kembali ke tempatnya semula.

“Sebaiknya kita duduk nyaman,” kata Dumbledore ramah.

Ketika dia memasukkan kembali tongkat sihirnya ke dalam saku, Harry melihat tangannya hitam dan kisut, seakan dagingnya terbakar.

“Sir apa yang terjadi dengan ta?”

“Nanti, Harry,” kata Dumbledore. “Silakan duduk.”

Harry duduk di kursi berlengan yang tersisa, memilih tidak memandang keluarga Dursley, yang tampaknya jadi bisu saking terpesonanya.

“Saya tadinya menyangka kalian akan menyuguhkan minuman untuk saya,” kata Dumbledore kepada Paman Vernon, “namun bukti-bukti sejauh ini menunjukkan bahwa asumsi saya terlalu optimistik bahkan bisa dibilang bodoh.”

Jentikan ketiga tongkat sihir membuat sebuah botol berdebu dan lima gelas muncul di udara. Botolnya merebah dan dengan murah hati menuangkan cairan berwarna-madu ke dalam masing-masing gelas, yang kemudian melayang ke masing-masing orang dalam ruangan itu.

“Mead aroma ek terbaik Madam Rosmerta,” kata Dumbledore, mengangkat gelasnya kepada Harry, yang menangkap gelasnya sendiri dan menghirupnya. Harry belum pernah minum mead-minuman dari air dan madu yang difermentasikan dalam tong kayu ek namun dia sangat menyukainya. Keluarga Dursley, setelah saling pandang dengan cepat dan ketakutan, berusaha mengabaikan sama sekali gelas mereka, hal yang sulit, karena gelas-gelas itu menyenggol-nyenggol pelan sisi kepala mereka. Harry tak bisa menahan kecurigaan bahwa Dumbledore agak menikmati hal ini.

“Nah, Harry,” kata Dumbledore, menoleh kepada Harry, “telah muncul masalah yang kuharap bisa kau pecahkan untuk kami. Yang kumaksud dengan kami adalah Orde Phoenix. Tetapi sebelumnya harus kuberitahukan kepadamu bahwa surat wasiat Sirius ditemukan seminggu lalu dan bahwa dia mewariskan segala miliknya kepadamu.”

Di sofa kepala Paman Vernon menoleh, namun Harry tidak memandangnya. Dia pun tak tahu harus berkata apa, kecuali, “Oh. Baiklah.”

“Intinya jelas,” Dumbledore melanjutkan. “Tabungan emasmu di Gringotts bertambah cukup banyak dan kau mewarisi semua barang pribadi Sirius. Bagian surat warisan yang agak bermasalah –”

“Walinya mati?” kata Paman Vernon keras dari sofa. Dumbledore dan Harry dua-duanya menoleh memandangnya. Gelas mead sekarang membentur-bentur bandel sisi kepala Paman Vernon, dia berusaha memukul-mukul menyingkirkannya. “Dia mati? Walinya?”

“Ya,” kata Dumbledore. Dia tidak bertanya kepada Harry kenapa dia tidak memberitahu keluarga Dursley. “Masalah kami,” dia melanjutkan kepada Harry, seakan tak ada interupsi, “adalah bahwa Sirius juga mewariskan kepadamu Grimmauld Place nomor dua belas.”

“Dia diwarisi rumah?” kata Paman Vernon tamak, matanya yang kecil menyipit, namun tak ada yang menanggapinya.

“Kalian bisa tetap menggunakannya sebagai Markas Besar,” kata Harry. “Saya tak peduli. Rumah itu boleh untuk kalian, saya tidak menginginkannya.” Harry tak ingin menginjakkan kaki lagi di Grimmauld Place nomor dua belas, kalau bisa. Pikirnya dia akan dihantui seumur hidup oleh kenangan akan Sirius yang seorang diri berkeliling dari kamar-ke-kamar, terpenjara dalam rumah yang ingin sekali ditinggalkannya.

“Kau baik sekali,” kata Dumbledore. “Meskipun demikian kami untuk sementara ini mengosongkan rumah itu.”

“Kenapa?”

“Yah,” kata Dumbledore, mengabaikan gumam Paman Vernon, yang sekarang diketuk-ketuk dengan tangkas di atas kepalanya oleh gelas mead yang pantang menyerah. “Tradisi keluarga Black memutuskan bahwa rumah itu diwariskan kepada turunan langsung, kepada keturunan pria berikut yang menyandang nama Black. Sirius adalah Black terakhir dalam garis keturunan ini, karena adiknya, Regulus, meninggal lebih dulu darinya, dan keduanya tidak mempunyai anak. Kendatipun surat wasiatnya menyebutkan dengan jelas bahwa dia menginginkanmu memiliki rumah itu, mungkin saja ada mantra atau jampi yang khusus dipasang di tempat itu untuk memastikan bahwa rumah itu tidak bisa dimiliki orang lain selain yang berdarah murni Black.”

Bayangan lukisan ibu Sirius yang tergantung di aula Grimmauld Place nomor dua belas yang menjerit-jerit dan meludah terlintas jelas di benak Harry. “Pasti ada mantranya,” katanya.

“Betul,” kata Dumbledore. “Dan kalau memang ada, maka kepemilikan rumah ini kemungkinan besar jatuh ke tangan kerabat Sirius yang paling tua, dalam hal ini berarti sepupunya, Bellatrix Lestrange.”

Tanpa menyadari apa yang dilakukannya, Harry melompat bangun; teleskop dan sepatu di pangkuannya menggelinding di lantai. Bellatrix Lestrange, pembunuh Sirius, mewarisi rumahnya?

“Tidak,” katanya.

“Yah, kami juga jelas lebih suka jika dia tidak mendapatkan rumah itu,” kata Dumbledore tenang. “Situasinya penuh komplikasi. Kami tidak tahu apakah mantra yang kami sendiri tempatkan di rumah itu, misalnya, yang membuatnya tidak terdeteksi, masih berlaku sekarang setelah kepemilikannya sudah bukan di tangan Sirius. Bisa saja Bellatrix muncul di depan pintu kapan saja. Wajar kalau kami harus pindah sampai sudah ada kejelasan soal rumah ini.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.