Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Kau baik sekali,” kata Hagrid. “Terima kasih banyak. Dan terima kasih tidak beri Harry detensi …”

“Tidak akan,” kata Slughorn. “Malam yang sedih malam yang sedih … di mana makhluk malang itu?”

“Di luar sana,” kata Hagrid dengan suara bergetar. “Bagaimana-bagaimana kalau kita lakukan sekarang?”

Ketiganya ke kebun belakang. Bulan berkilau pucat di antara pepohonan dan sinarnya berbaur dengan cahaya lampu yang terpancar dari jendela Hagrid, menyorot tubuh Aragog yang tergeletak di tepi lubang superbesar, di samping gundukan tanah yang baru digali setinggi tiga meter.

“Luar biasa,” kata Slughorn, mendekati kepala labah-labah, dengan delapan matanya yang seputih susu menatap kosong langit dan dua capit besar melengkung berkilau, tak bergerak, dalam sinar bulan. Harry merasa mendengar denting botol ketika Slughorn membungkuk di atas capit itu, kelihatannya seperti mengamati kepala besar berbulu itu.

“Tidak semua orang menghargai betapa indahnya mereka,” kata Hagrid ke punggung Slughorn, air mata mengalir dari sudut-sudut matanya yang berkerut. “Aku tak tahu kau tertarik pada makhluk seperti Aragog, Horace.”

“Tertarik? Hagrid yang baik, aku memuja mereka,” kata Slughorn, melangkah mundur dari tubuh itu. Harry melihat kilatan botol menghilang di balik mantelnya, meskipun Hagrid, yang mengusap matanya sekali lagi, tidak memperhatikan apa-apa. “Nah … bagaimana kalau kita lanjutkan dengan pemakaman?”

Hagrid mengangguk dan maju. Diangkatnya labah-labah raksasa itu ke dalam pelukannya, dan dengan dengus keras, digulingkannya ke dalam lubang gelap.

Tubuh labah-labah itu menghantam dasar lubang dengan bunyi debam agak mengerikan. Hagrid mulai menangis lagi.

“Tentu saja, sulit bagimu, yang mengenalnya dengan baik,” kata Slughorn, yang seperti Harry, tak bisa menjangkau lebih tinggi daripada siku Hagrid, tapi toh membelainya juga. “Bagaimana kalau aku mengucapkan sedikit kata-kata perpisahan?”

Pastilah dia memperoleh banyak bisa berkualitas bagus dari Aragog, Harry membatin, karena wajah Slughorn dihiasi senyum puas ketika dia melangkah ke tepi lubang dan berkata lambat-lambat, dengan suara impresif, “Selamat tinggal, Aragog, raja arakhnida. Persahabatanmu yang lama dan setia takkan dilupakan oleh mereka yang mengenalmu! Meskipun tubuhmu akan rusak, jiwamu tetap hidup di rumah jaringmu yang tenang dalam Hutan. Semoga keturunanmu yang bermata-banyak semakin berkembangbiak dan teman-teman manusiamu menemukan penghiburan bagi kehilangan yang mereka derita.”

“Itu … itu … indah sekali!” lolong Hagrid dan dia terpuruk di atas gundukan kompos, menangis lebih keras daripada sebelumnya.

“Sudah, sudah;” kata Slughorn, melambaikan tongkat sihirnya sehingga gundukan besar tanah itu terangkat dan kemudian jatuh, dengan debam seperti teredam di atas bangkai labah-labah itu, membentuk gundukan rapi. “Ayo kita masuk dan minum. Papah sisi satunya, Harry … yak, begitu … ayo bangun, Hagrid … bagus …”

Mereka mendudukkan Hagrid di atas kursi di depan meja makan. Fang, yang bersembunyi di dalam keranjangnya selama acara pemakaman, sekarang berjalan pelan mendekati mereka dan meletakkan kepalanya yang berat di atas pangkuan Harry seperti biasanya. Slughorn membuka gabus penutup salah satu botol anggur yang dibawanya.

“Semuanya sudah dites tidak beracun,” dia meyakinkan Harry, menuang sebagian besar isi botol pertama ke dalam salah satu cangkir Hagrid yang sebesar ember dan menyerahkannya kepada Hagrid. “Kusuruh peri-rumah mencicipi semua botol setelah apa yang terjadi pada temanmu yang malang Rupert.”

Harry melihat, dalam benaknya, ekspresi di wajah Hermione, jika dia sampai mendengar tentang perlakuan semena-mena terhadap peri-rumah ini, dan memutuskan tak akan pernah menceritakannya kepadanya.

“Satu untuk Harry …” kata Slughorn, membagi isi botol kedua dalam dua cangkir, “… dan satu untukku. Nah,” dia mengangkat cangkirnya tinggi-tinggi, “untuk Aragog.” “Aragog,” kata Harry dan Hagrid bersama-sama.

Baik Slughorn maupun Hagrid minum banyak-banyak. Namun Harry, yang langkah-langkahnya diterangi oleh Felix Felicis, tahu bahwa dia tak boleh minum, maka dia hanya berpura-pura meneguk dan kemudian meletakkan cangkirnya di atas meja di depannya.

“Aku miliki dia dari telur, kau tahu,” kata Hagrid muram. “Kecil-mungil waktu dia baru menetas. Kira-kira sebesar anjing Peking.”

“Manis sekali,” kata Slughorn.

“Tadinya kupelihara dalam lemari sekolah sampai … yah”

Wajah Hagrid menjadi suram dan Harry tahu kenapa. Tom Riddle mengatur agar Hagrid dikeluarkan dari sekolah, dipersalahkan dengan tuduhan membuka Kamar Rahasia. Meskipun demikian, Slughorn tampaknya tidak mendengarkannya. Dia memandang ke langit-langit, tempat sejumlah panci tergantung, dan juga segunting rambut panjang putih sehalus sutra.

“Itu bukan rambut unicorn kan, Hagrid?”

“Oh, yeah,” kata Hagrid tak peduli. “Tertarik lepas dari ekor mereka, tersangkut di ranting-ranting atau apa di Hutan, kau tahu …”

“Tapi, sobat, tahukah kau berapa harganya itu?”

“Aku gunakan untuk ikat perban atau apa kalau ada hewan yang luka,” kata Hagrid, mengangkat bahu.

“Sangat bermanfaat … luar biasa kuat, soalnya.”

Slughorn menghirup banyak-banyak lagi dari cangkirnya, matanya bergerak hari-hati mengelilingi pondok sekarang, mencari, Harry tahu, harta lain yang bisa ditukarnya menjadi persediaan mead aroma-ek, permen nanas, dan jas beludru. Dia mengisi ulang cangkir Hagrid dan cangkirnya sendiri, dan menanyainya tentang hewan-hewan yang hidup dalam Hutan sekarang ini dan bagaimana Hagrid bisa memelihara mereka semua. Hagrid, yang sudah menjadi bersemangat di bawah pengaruh minuman dan minat Slughorn yang membuatnya tersanjung, berhenti menyeka matanya dan dengan riang memulai penjelasan panjang-lebar tentang perkembangbiakan Bowtruckle.

Felix Felicis menjawil Harry saat itu dan Harry melihat bahwa persediaan minuman yang dibawa Slughorn sudah menyusut dengan cepat. Harry belum berhasil menguasai pelaksanaan Mantra Pengisian Ulang tanpa mengucapkan mantranya keras-keras, namun ide bahwa dia tak bisa melakukannya malam ini sungguh menggelikan. Harry nyengir sendiri ketika, tanpa disadari oleh Hagrid maupun Slughorn (yang sekarang sedang bertukar cerita tentang perdagangan ilegal telur naga), dia mengacungkan tongkat sihirnya di bawah meja ke arah botol-botol yang hampir kosong, dan botol-botol itu langsung mulai terisi kembali.

Selewat kira-kira satu jam, Hagrid dan Slughorn mulai bersulang gila-gilaan: untuk Hogwarts, untuk Dumbledore, untuk anggur buatan-peri, dan untuk-

“Harry Potter!” seru Hagrid, menumpahkan anggur dari ember keempat belasnya di dagunya ketika meminumnya.

“Ya, betul,” timpal Slughorn, suaranya mulai tak jelas. “Parry Otter, Anak Terpilih yang-yah-begitulah pokoknya,” dia bergumam, dan mengosongkan cangkirnya juga.

Tak lama sesudah ini, Hagrid bercucuran air mata lagi dan memberikan semua ekor unicorn-nya kepada Slughorn, yang mengantonginya dengan seruan, “Demi persahabatan! Demi kebaikan hati! Demi sepuluh Galleon per helai rambut-!”

Dan selama beberapa waktu setelah itu, Hagrid dan Slughorn duduk berdampingan, saling rangkul, menyanyikan lagu sedih berirama pelan tentang penyihir yang hampir mati bernama Odo.

“Aaargh, orang baik mati muda,” gumam Hagrid, menelungkup di atas meja, matanya sedikit juling, sementara Slughorn terus menyanyikan refreinnya. “Ayahku belum pantas pergi … begitu juga ibu dan ayahmu, Harry …”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.