Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“… aku betul-betul berterima kasih kau mau meluangkan waktu, Pomona,” Slughorn berkata amat sopan. “Para ahli mengatakan, mereka paling mujarab kalau dipetik di senja hari.”

“Oh, aku sepakat,” kata Profesor Sprout hangat. “Itu sudah cukup?”

“Banyak, banyak,” kata Slughorn, Yang Harry lihat membawa sepelukan tanaman berdaun. “Ini cukup untuk masing-masing anak kelas tiga kebagian beberapa helai, dan masih ada sisa untuk berjaga-jaga kalau ada yang merebusnya terlalu matang … nah, selamat malam, dan sekali lagi banyak terima kasih!”

Profesor Sprout menuju ke arah rumah-rumah kacanya yang mulai diselimuti kegelapan dan Slughorn mengarahkan langkahnya ke tempat Harry berdiri, tak kelihatan.

Mendadak dilanda keinginan untuk memperlihatkan diri, Harry menarik lepas Jubah-nya dengan bergaya.

“Selamat malam, Profesor.”

“Jenggot Merlin, Harry, kau ini bikin aku kaget saja” kata Slughorn, berhenti di tempatnya dan tampak waspada. “Bagaimana kau bisa keluar dari kastil?”

“Saya kira Filch pastilah lupa mengunci pintu,” kata Harry riang, dan senang melihat Slughorn membersut marah.

“Kulaporkan orang itu nanti, dia lebih sibuk mengurus sampah daripada keamanan sekolah menurutku … tapi kenapa kau ada di sini, Harry?”

“Ini karena Hagrid, Sir,” kata Harry, yang tahu bahwa hal benar yang harus dilakukannya saat ini adalah berkata jujur. “Dia sedih … tapi Anda tak akan memberitahu siapa-siapa, kan, Profesor? Saya tak ingin Hagrid mendapat kesulitan …”

Rasa penasaran Slughorn kentara sekali bangkit.

“Aku tak bisa menjanjikan itu,” katanya tegas. “Tapi aku tahu Dumbledore sangat memercayai Hagrid, maka aku yakin dia tak mungkin melakukan sesuatu yang amat parah-”

“Yah, ini soal labah-labah raksasa, yang sudah bertahun-tahun dimilikinya … tinggalnya di dalam Hutan … labah-labah itu bisa bicara dan macam-macam”

“Aku mendengar desas-desus ada Acromantula di dalam Hutan,” kata Slughorn pelan, menatap gerumbulan gelap pepohonan di kejauhan. “Desas-desus ini benar, kalau begitu?”

“Ya,” kata Harry. “Tetapi yang satu ini, Aragog, yang pertama yang dimiliki Hagrid, mati semalam. Hagrid terpukul sekali: Dia ingin ditemani selagi menguburkannya dan saya memutuskan datang.”

“Mengharukan, mengharukan,” kata Slughorn sambil melamun, matanya yang besar kuyu terpaku menatap lampu pondok Hagrid di kejauhan. “Tapi bisa Acromantula sangat berharga … kalau binatang itu baru mati semalam, mungkin bisanya belum mengering … tentu saja, aku tak ingin melakukan sesuatu yang menyinggung perasaan kalau Hagrid sedang sedih … tapi kalau ada cara untuk mendapatkannya sedikit … maksudku, nyaris tak mungkin mendapatkan bisa dari Acromantula yang masih hidup …”

Slughorn tampaknya bicara lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Harry sekarang.

“… rasanya sayang sekali kalau tidak diambil… bisa laku seratus Galleon setengah liternya … jujur saja, gajiku tidak besar …”

Dan sekarang Harry melihat jelas apa yang harus dilakukannya.

“Yah” katanya dengan keragu-raguan yang sangat meyakinkan, “yah, jika Anda ingin datang, Profesor, Hagrid barangkali akan senang sekali … melepas Aragog dengan lebih baik, Anda tahu …”

“Ya, tentu saja,” kata Slughorn, matanya sekarang berkilat-kilat saking antusiasnya. “Begini saja, Harry, kutemui kau di sana dengan membawa satu atau dua botol minuman … kita akan minum untuk binatang itu yah bukan untuk kesehatannya tapi kita akan melepasnya dengan berkelas, setelah dia dikubur. Dan aku akan menukar dasinya, yang ini terlalu ceria untuk peristiwa ini …”

Dia buru-buru kembali ke kastil, dan Harry bergegas ke pondok Hagrid, dengan hati puas.

“Kau datang,” kata Hagrid parau, ketika dia membuka buka pintu dan melihat Harry muncul di depannya dari dalam Jubah Gaib.

“Yeah-tapi Ron dan Hermione tidak bisa ikut,” kata Harry. “Mereka ikut berduka cita.”

“Tak — tak apa … tapi dia akan terharu kau di sini, Harry …”

Hagrid tersedu. Lengannya dililit gelang hitam yang tampaknya dibuat dari carikan kain yang dicelup ke dalam semir sepatu dan matanya bengkak dan merah. Harry membelai menghiburnya pada sikunya, tempat tertinggi di tubuh Hagrid yang bisa dengan mudah dijangkaunya.

“Di mana kau akan menguburnya?” tanyanya, “Di Hutan?”

“Astaga, bukan,” kata Hagrid, mengusap air matanya yang bercucuran dengan ujung kemejanya. “Para labah-labah yang lain tidak akan izinkan aku dekat-dekat sarang mereka sekarang, setelah Aragog pergi. Ternyata mereka tidak makan aku hanya karena dia larang! Kau bisa percaya itu, Harry?”

Jawaban yang jujur adalah “ya”. Walaupun kini lega, Harry masih sakit hati teringat adegan ketika dia dan Ron berhadapan dengan Acromantula: mereka dengan jelas menyatakan bahwa Aragog-lah yang membuat mereka tidak melahap Hagrid.

“Tak ada area di Hutan yang tak bisa kudatangi sebelumnya!” kata Hagrid, menggelengkan kepala. “Tak mudah bawa keluar jasad Aragog dari sana, mereka biasanya makan sesama yang mati, soalnya … tapi aku ingin beri dia pemakaman yang baik … lepas dia dengan pantas …”

Dia terisak-isak lagi dan Harry melanjutkan membelai sikunya, sambil berkata (karena ramuan tampaknya memberi indikasi ini hal yang benar untuk dilakukan), “Profesor Slughorn bertemu aku ketika berjalan ke sini, Hagrid.”

“Kau tidak dapat kesulitan, kan?” kata Hagrid, mengangkat muka, cemas. “Kau seharusnya tak boleh keluar kastil di malam hari, aku tahu, ini salahku”

“Tidak, tidak, waktu dia dengar alasan kenapa aku ke sini, dia bilang dia mau ikut datang dan memberikan penghormatan terakhir kepada Aragog juga,” kata Harry. “Dia sedang berganti pakaian yang lebih pantas, kurasa … dan dia bilang dia akan membawa beberapa botol minuman, supaya kita bisa minum untuk mengenang Aragog.”

“Begitu?” kata Hagrid, tampak heran sekaligus terharu. “Dia — dia betul-betul baik, dan tidak laporkan kau juga. Aku sebetulnya tak pernah banyak urusan dengan Horace Slughorn sebelumnya … mau datang lepas si Aragog, tapi, eh? Wah … dia akan senang, Aragog akan senang …”

Dalam hati Harry membatin bahwa apa yang akan paling disukai Aragog tentang Slughorn adalah daging berlimpah-ruah yang bisa dimakannya, namun dia hanya bergerak ke jendela belakang pondok Hagrid. Dari situ dia bisa melihat pemandangan agak mengerikan bangkai si labah-labah raksasa yang terbaring terbalik, kaki-kakinya melengkung dan, saling lilit.

“Apakah kita akan menguburnya di sini, Hagrid, di kebunmu?”

“Di luar petak labu itu, kupikir,” kata Hagrid dengan suara tercekat. “Aku sudah menggali-kau tahukuburnya. Kupikir kita akan ucapkan beberapa hal bagus tentang dia kenangan manis, kau tahu-”

Suaranya bergetar, lalu terputus. Terdengar ketukan di pintu dan dia berbalik untuk membukanya, seraya membuang ingus di saputangan polkadotnya yang besar. Slughorn ada di depan pintu, beberapa botol minuman dalam pelukannya, dan memakai dasi hitam suram.

“Hagrid,” katanya dengan suara dalam, sedih. “Ikut sangat berduka cita atas kehilanganmu.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.