Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

Goyle mengeluarkan jerit nyaring ketakutan, melemparkan timbangannya ke udara dan berlari pergi, menghilang dari pandangan lama sebelum suara timbangannya yang terbanting berhenti bergema di koridor itu. Tertawa, Harry berbalik untuk berkonsentrasi pada dinding kosong, yang di baliknya, dia yakin, Draco Malfoy sekarang sedang berdiri membeku, sadar bahwa ada orang tak diinginkan di luar sana, tetapi tak berani menampakkan diri. Harry merasa senang dan berkuasa ketika dia berusaha mengingat-ingat kalimat seperti apa yang belum dicobanya.

Meskipun demikian suasana penuh harapan ini tidak berlangsung lama. Setengah jam kemudian, setelah mencoba banyak variasi permohonan untuk melihat apa yang sedang dilakukan Malfoy, dinding itu tetap saja tak berpintu seperti semula. Harry bukan main frustrasinya. Malfoy barangkali hanya semeter darinya, dan tetap saja tak ada bukti sekecil apa pun tentang apa yang dilakukannya di dalam sana. Kehilangan kesabarannya sama sekali, Harry berlari ke dinding dan menendangnya.

“OUCH!”

Dia menduga barangkali jari kakinya patah. Ketika dia mencengkeramnya dan melompat-lompat dengan satu kaki, Jubah Gaib-nya merosot darinya. “Harry?”

Harry berputar, di atas satu kaki, dan terguling. Bukan main herannya dia melihat Tonks berjalan ke arahnya, seolah dia sudah sering berjalan-jalan di koridor ini.

“Ngapain kau di sini?” tanya Harry, merangkak bangun lagi. Kenapa sih Tonks selalu mendapatinya sedang terkapar di lantai?

“Aku datang untuk menemui Dumbledore,” kata Tonks.

Harry berpikir Tonks tampak parah sekali; lebih kurus daripada biasanya, rambutnya yang berwarna bulu-tikus lemas.

“Kantornya bukan di sini,” kata Harry. “Di sisi lain kastil, di belakang gargoyle”

“Aku tahu,” kata Tonks. “Dia tidak ada. Rupanya dia pergi lagi.”

“Pergi lagi?” kata Harry, meletakkan kakinya yang memar dengan amat hati-hati di lantai. “Hei kau tak tahu ke mana dia pergi, kukira?”

“Tidak,” kata Tonks. “Untuk apa kau ingin menemuinya?”

“Tidak ada hal khusus,” kata Tonks, seraya tanpa sadar menarik-narik lengan jubahnya. “Aku cuma berpikir dia barangkali tahu apa yang sedang terjadi … aku mendengar desas-desus … orang-orang terluka …”

“Yeah, aku tahu, semuanya ada di koran,” kata Harry. “Anak kecil yang mencoba membunuh kak-”

“Prophet acap kali ketinggalan berita,” kata Tonks, yang tampaknya tidak mendengarkan Harry. “Kau tidak menerima surat dari anggota Orde belakangan ini?”

“Tak ada lagi orang dari Orde yang menulis kepadaku” kata Harry, “tidak sejak Sirius”

Harry melihat mata Tonks telah dipenuhi air mata.

“Maaf,” gumamnya salah tingkah. “Maksudku … aku juga kehilangan dia …”

“Apa?” tanya Tonks tak mengerti, seolah dia tidak mendengarnya. “Nah … sampai ketemu lagi, Harry …”

Dan dia mendadak berbalik dan berjalan menyusuri koridor, meninggalkan Harry menatapnya. Selewat beberapa saat dia memakai Jubah Gaib-nya lagi dan melanjutkan usahanya untuk memasuki Kamar Kebutuhan, namun hatinya sudah tidak di situ. Akhirnya, perut yang lapar dan kesadaran bahwa Ron dan Hermione akan segera pulang untuk makan siang membuatnya menyerah dan meninggalkan koridor itu, dengan harapan Malfoy terlalu takut untuk meninggalkan Kamar sampai beberapa jam lagi.

Ternyata Ron dan Hermione sudah di Aula Besar, sudah separo jalan menyantap makan siang yang awal.

“Aku berhasil yah, boleh dibilang begitu!” Ron memberitahu Harry dengan antusias ketika melihat Harry. “Aku diminta ber-Apparate ke depan rumah minum teh Madam Puddifoot dan aku kejauhan sedikit, muncul di dekat Scrivenhaft’s, tapi paling tidak aku berpindah!”

“Bagus,” kata Harry. “Bagaimana kau, Hermione?”

“Oh, dia sempurna, jelas,” kata Ron, sebelum Hermione bisa menjawab. “Semuanya sempurna, deliberasi, deteksi, depresi, atau entah apalah namanya kami semua minum sebentar di Three Broomsticks setelah latihan dan Twycross tak henti-hentinya memujinya aku akan heran kalau sebentar lagi dia tidak melamarnya”

“Dan bagaimana denganmu?” tanya Hermione, tidak menghiraukan Ron. “Apakah kau di Kamar Kebutuhan sepanjang waktu?”

“Yep,” kata Harry. “Dan coba tebak aku ketemu siapa di sana? Tonks!”

“Tonks?” ulang Ron dan Hermione bersamaan, keheranan.

“Yeah, dia bilang dia datang untuk mengunjungi Dumbledore …”

“Kalau kau tanya aku,” kata Ron setelah Harry selesai menuturkan percakapannya dengan Tonks, “dia agak terganggu. Jadi ketakutan setelah apa yang terjadi di Kementerian.”

“Agak aneh,” kata Hermione, yang entah kenapa tampak sangat cemas. “Dia mestinya menjaga sekolah, kenapa dia tiba-tiba meninggalkan posnya untuk datang menemui Dumbledore, yang bahkan tidak ada di sini?”

“Aku punya dugaan,” kata Harry coba-coba. Dia merasa aneh menyuarakan dugaannya, ini lebih merupakan teritori Hermione daripada dia. “Menurutmu tak mungkinkah dia … kau tahu … mencintai Sirius?” Hermione terbelalak menatapnya. “Apa yang membuatmu berkata begitu?” “Entahlah,” kata Harry, mengangkat bahu, “tapi dia tadi nyaris menangis waktu aku menyebutkan nama Sirius … dan Patronus-nya sekarang besar berkaki empat … aku ingin tahu apakah Patronus-nya berubah menjadi … kau tahu … dia.”

“Bisa jadi,” kata Hermione lambat-lambat. “Tapi aku masih tetap tak tahu kenapa dia datang di kastil untuk menemui Dumbledore, kalau memang itu alasannya berada di sini …”

“Seperti yang kukatakan tadi, kan?” kata Ron, yang sekarang menyuapkan kentang tumbuk ke dalam mulutnya. “Dia jadi agak aneh. Ketakutan. Perempuan,” katanya sok bijak kepada Harry. “Mereka gampang bingung.”

“Tapi,” kata Hermione, sadar dari lamunannya, “aku ragu kalian akan menemukan perempuan yang merajuk selama setengah jam karena Madam Rosmerta tidak tertawa mendengar leluconnya tentang penyihir, Penyembuh, dan Mimbulus mimbletonia.”

Ron cemberut.

-oO0O0-

22. SETELAH PEMAKAMAN

Bidang-bidang langit biru cerah mulai bermunculan di atas menara-menara kecil kastil, namun tanda-tanda bahwa musim panas telah mendekat tidak membuat suasana hati Harry lebih cerah. Usahanya gagal, dua-duanya, baik upaya untuk mengetahui apa yang dilakukan Malfoy maupun usahanya untuk memulai percakapan dengan Slughorn yang bisa membuat, entah bagaimana, Slughorn memberikan kenangan yang rupanya sudah disembunyikannya selama puluhan tahun.

“Untuk terakhir kalinya, lupakan saja Malfoy,” Hermione tegas memberitahunya.

Mereka sedang duduk dengan Ron di sudut halaman yang tertimpa sinar matahari setelah makan siang. Hermione dan Ron memegang selebaran Kementerian Sihir: Kesalahan-Kesalahan Umum Apparition dan Bagaimana Menghindarinya, karena mereka akan ujian sore itu, namun secara umum selebaran itu tidak menenangkan saraf. Ron mendadak kaget dan berusaha bersembunyi di belakang Hermione ketika ada anak perempuan muncul di kelokan.

“Bukan Lavender,” kata Hermione jemu.

“Oh, bagus,” kata Ron, santai lagi.

“Harry Potter?” kata anak perempuan itu. “Aku diminta memberikan ini kepadamu.”

“Terima kasih…”

Hati Harry mencelos ketika dia mengambil gulungan kecil perkamen itu. Begitu anak perempuan itu sudah di luar jangkauan pendengaran dia berkata, “Dumbledore bilang tidak akan ada pelajaran lagi sampai aku mendapatkan kenangan itu!”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.