Baca Novel Online

Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Campuran

“Tapi apa yang dikatakan Harry sangat berguna jika kita ingin membedakan mereka!” kata Ron. “Kalau kita bertemu dengan salah satu dari mereka di jalan kecil yang gelap, praktisnya kita melihat apakah dia padat, kan? Masa kita akan bertanya, ‘Maaf, apakah Anda jejak jiwa orang yang meninggal?ยด”

Gelak tawa yang menyusul langsung dipadamkan oleh pandangan Snape kepada mereka.

“Potong sepuluh angka lagi dari Gryffindor,” kata Snape. “Aku tidak mengharapkan hal yang lebih canggih darimu, Ronald Weasley. Anak yang begitu padat sampai tak bisa ber-Apparate satu senti pun di dalam ruangan.”

“Jangan!” bisik Hermione, mencengkeram lengan Harry ketika dia membuka mulutnya dengan marah. “Tak ada gunanya, kau cuma akan kena detensi lagi. Biarkan saja!”

“Sekarang buka buku kalian pada halaman dua ratus tiga belas,” kata Snape, menyeringai sedikit, “dan baca dua paragraf pertama tentang Kutukan Cruciatus …”

Ron sangat diam sepanjang pelajaran. Ketika bel berbunyi pada akhir pelajaran, Lavender mendatangi Ron dan Harry (Hermione menghilang dengan misterius ketika Lavender mendekat) dan memaki-maki Shape atas ejekannya terhadap Apparition Ron, namun ini tampaknya malah semakin membuat Ron jengkel, dan Ron melepaskan diri dari Lavender dengan berbelok ke toilet anak laki-laki dengan Harry.

“Snape benar, kan?” kata Ron, setelah menatap cermin retak selama beberapa saat. “Aku tak tahu, pantas tidak aku ikut ujian. Aku tak kunjung bisa menguasai Apparition.”

“Ada baiknya kau ikut sesi latihan tambahan di Hogsmeade dan melihat sampai sejauh mana kau berhasil,” kata Harry bijaksana. “Bagaimanapun itu jauh lebih menarik daripada mencoba masuk ke dalam lingkaran hulahop seperti orang bego. Kemudian, kalau kau masih belum kau tahu sebaik yang kau harapkan, kau bisa menunda ujian, dan ikut ujian bareng aku di musim pan-Myrtle, ini kan toilet cowok!”

Hantu seorang anak perempuan muncul dari dalam kloset di bilik di belakang mereka dan sekarang melayang-layang di udara, menatap mereka melalui kacamata putih bundar dan tebal.

“Oh,” katanya muram. “Ternyata kalian berdua.”

“Siapa yang kau tunggu?” tanya Ron, memandangnya dalam cermin.

“Tidak siapa-siapa,” kata Myrtle, dengan murung mengorek-ngorek jerawat di dagunya. “Dia bilang akan kembali dan menemuiku, tapi kau dulu juga bilang akan datang dan mengunjungiku …” dia menatap Harry dengan pandangan mencela. “… dan aku tidak melihatmu selama berbulan-bulan. Aku sudah belajar untuk tidak mengharap terlalu banyak dari cowok.”

“Kupikir kau tinggal di toilet cewek?” kata Harry, yang sudah selama beberapa tahun berhati-hati menjauhi tempat itu.

“Memang,” kata Myrtle, sedikit cemberut dan mengangkat bahu, “tapi itu tidak berarti aku tak bisa mengunjungi tempat lain. Aku pernah datang dan melihatmu sedang mandi, ingat?”

“Ingat banget,” kata Harry.

“Tapi kusangka dia menyukaiku,” katanya sedih. “Barangkali kalau kalian berdua pergi, dia akan datang lagi … kami punya banyak persamaan … aku yakin dia merasakannya …”

Dan dia memandang penuh harap ke pintu.

“Waktu kau bilang kalian punya banyak persamaan,” kata Ron, terdengar agak geli sekarang, “apakah maksudmu dia juga tinggal di leher angsa kloset?”

“Bukan,” bantah Myrtle menantang, suaranya bergaung keras di dalam kamar mandi-ubin tua itu. “Maksudku dia sensitif, orang-orang juga menakut-nakutinya, dan dia kesepian dan tak punya teman yang bisa diajak bicara, dan dia tidak takut memperlihatkan perasaannya dan menangis!”

“Ada cowok menangis di dalam sini?” tanya Harry ingin tahu. “Remaja?”

“Sudahlah!” kata Myrtle, matanya yang kecil dan bersimbah air mata menatap Ron, yang sekarang benar-benar nyengir. “Aku sudah berjanji tidak akan bilang siapa-siapa dan rahasianya akan kubawa ke-”

“… bukan liang kubur, pastinya?” kata Ron dengan dengus tawa. “Pembuangan air kotor, barangkali …”

Myrtle melolong murka dan terjun kembali ke dalam kloset, membuat airnya meluap dan tumpah ke lantai. Menggoda Myrtle rupanya membuat Ron kembali bersemangat.

“Kau benar,” katanya, menyandangkan tas sekolahnya di bahunya. “Aku akan ikut sesi latihan di Hogsmeade sebelum memutuskan akan ikut ujian atau tidak.”

Maka, akhir minggu berikutnya, Ron bergabung dengan Hermione dan anak-anak kelas enam lainnya yang akan berusia tujuh belas tahun pada saat ujian dua minggu lagi. Harry merasa agak iri memandang mereka semua bersiap-siap berangkat ke desa. Dia sudah rindu berjalan-jalan ke sana, dan hari itu kebetulan hari yang cerah di musim semi, salah satu langit tak berawan pertama yang mereka lihat setelah lama sekali suram terus. Meskipun demikian, dia telah memutuskan akan menggunakan waktunya untuk berusaha usaha masuk Kamar Kebutuhan lagi.

“Akan lebih baik bagimu,” kata Hermione, ketika Harry memberitahukan rencananya ini kepadanya dan Ron di Aula Depan, “jika kau langsung ke kantor Slughorn dan mencoba mendapatkan kenangan itu darinya.”

“Aku sudah mencoba terus!” kata Harry jengkel, dan ini memang benar. Dia telah sengaja berlamalama setiap kali usai pelajaran Ramuan selama seminggu ini dalam usahanya untuk menyudutkan Slughorn, tetapi guru Ramuan itu selalu meninggalkan kelas bawah tanah cepat sekali sehingga Harry tak bisa mengejarnya. Dua kali Harry ke kantornya dan mengetuk, tetapi tak mendapat jawaban, meskipun pada kali kedua dia yakin dia mendengar suara gramofon tua yang buru-buru diredam.

“Dia tak mau bicara denganku, Hermione! Dia tahu aku sedang berusaha menemuinya saat dia sendirian lagi dan dia tidak akan membiarkan itu terjadi!”

“Yah, kalau begitu harus dicoba terus, kan?”

Antrean pendek anak-anak yang menunggu giliran melewati Filch, yang sedang melakukan pemeriksaan yang biasa dengan menusuk-nusuk dengan Sensor Rahasia-nya, bergerak maju beberapa langkah, dan Harry tidak menjawab karena takut terdengar si penjaga sekolah. Dia mengucapkan “semoga sukses” kepada Ron dan Hermione, kemudian berbalik dan menaiki tangga pualam lagi, bertekad, tak peduli apa pun yang dikatakan Hermione, untuk melewatkan satu atau dua jam untuk Kamar Kebutuhan.

Begitu sudah tak terlihat dari Aula Depan, Harry mengeluarkan Peta Perampok dan Jubah Gaib dari tasnya. Setelah menyembunyikan diri, dia mengetuk peta itu, seraya bergumam, “Aku bersumpah dengan sepenuh hati bahwa aku orang tak berguna,” dan meneliti peta itu dengan saksama.

Berhubung saat itu hari Minggu pagi, hampir semua anak ada di ruang rekreasi masing-masing. Anak-anak Gryffindor di salah satu menara, anak-anak Ravenclaw di menara yang lain, anak-anak Slytherin di ruang bawah tanah yang aslinya adalah ruang tahanan di kastil itu, dan anak-anak Hufflepuff di ruang bawah tanah dekat dapur. Di sana-sini ada anak yang berkeliaran di sekitar perpustakaan atau di koridor … ada beberapa anak di halaman … dan di sana, sendirian di koridor lantai tujuh, tampak Gregory Goyle. Tak tampak tanda-tanda adanya Kamar Kebutuhan, tetapi Harry tidak khawatir soal itu. Kalau Goyle sedang berjaga di luar, berarti Kamar itu terbuka, tak peduli apakah peta itu sadar atau tidak Kamar itu ada. Karena itu Harry berlari menaiki tangga, dan baru memelankan langkah setelah tiba di tikungan yang menuju koridor itu. Saat itu barulah dia mulai berindap-indap, sangat perlahan, ke arah anak perempuan kecil yang sama, memegangi timbangan kuningannya yang berat, yang dua minggu lalu ditolong Hermione dengan baik hati. Harry menunggu sampai berada tepat di belakang anak itu sebelum membungkuk amat rendah dan berbisik, “Halo … kau cantik amat sih?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.