Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Metro kembali melaju. Perempuan bercadar dan perempuan bule masih berbincang-bincang dengan akrabnya. Tapi kali ini aku tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka perbincangkan. Angin panas masuk melalui jendela. Aku memandang ke luar. Rumah-rumah penduduk tampak kotak-kotak tak teratur seperti kardus bertumpukan tak teratur. Metro masuk ke lorong bawah tanah. Suasana gelap sesaat. Lalu lampu-lampu metro menyala. Tak lama kemudian metro sampai mahattah Saad Zaghloul dan berhenti. Beberapa orang turun dan naik. Tiga bule itu bersiap hendak turun, juga perempuan bercadar. Berarti mereka mau turun di Tahrir. Perempuan bercadar masih bercakap dengan perempuan bule. Keduanya sangat dekat denganku. Aku bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Tentang asal mereka masing. Perempuan bercadar itu ternyata lahir di Jerman, dan besar juga di Jerman. Namun ia berdarah Jerman, Turki dan Palestina. Sedangkan perempuan bule lahir dan besar di Amerika. Ia berdarah Inggris dan Spanyol. Keduanya bertukar kartu nama.

Perempuan bule tepat berada di depanku. Wajahnya masih menghadap perempuan bercadar. Metro bercericit mengerem. Gerbong sedikit goyang. Tubuh perempuan bule bergoyang. Saat itulah dia melihat diriku. Ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepadaku dan berkata,

“Hai Indonesian, thank’s for everything. My name’s Alicia.”

“Oh, you’re welcome. My name is Fahri,” jawabku sambil menangkupkan kedua tanganku di depan dada, aku tidak mungkin menjabat tangannya.

“Ini bukan berarti saya tidak menghormati Anda. Dalam ajaran Islam, seorang lelaki tidak boleh bersalaman dan bersentuhan dengan perempuan selain isteri dan mahramnya.” Aku menjelaskan agar dia tidak salah faham.

Alicia tersenyum dan berseloroh, “Oh, never mind. And this is my name card, for you.” Ia memberikan kartu namanya.

“Thank’s,” ujarku sambil menerima kartu namanya.

“It’s a pleasure.”

Metro berhenti.

Alicia, neneknya dan saudaranya mendekati pintu hendak keluar. Perempuan bercadar masih berdiri di tempatnya. Ia melihat ke arah orang-orang yang hendak turun. Perlahan pintu dibuka. Ketika orang-orang mulai turun, perempuan bercadar itu bergerak melangkah, ia menyempatkan untuk menyapaku,

“Indonesian, thank you.”

Aku teringat dia orang Jerman. Aku iseng menjawab dengan bahasa Jerman,

“Bitte!”

Agaknya perempuan bercadar itu kaget mendengar jawabanku dengan bahasa Jerman. Ia urung melangkah ke pintu. Ia malah menatap diriku dengan sorat mata penuh tanda tanya.

“Sprechen Sie Deutsch?”[37] tanyanya dengan bahasa Jerman. Ia mungkin ingin langsung meyakinkan dirinya bahwa apa yang tadi ia dengarkan dariku benar-benar bahasa Jerman. Bahwa aku bisa berbahasa Jerman. Bahwa ia tidak salah dengar.

“Ja, ein wenig.[38] Alhamdulillah!” jawabku tenang. Kalau sekadar bercakap dengan bahasa Jerman insya Allah tidak terlalu susah. Kalau aku disuruh membuat tesis dengan bahasa Jerman baru menyerah.

“Sind Sie Herr Fahri?”[39]

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Ia bertanya seperti itu. Berarti ia benar-benar mendengarkan dengan baik pendebatanku dengan tiga orang Mesir tadi sehingga tahu namaku. Atau dia mendengarkan aku berkenalan dengan Alicia.

“Ja. Mein name ist Fahri.”[40] Jawabku.

“Mein name ist Aisha,” sahutnya sambil menyerahkan kartu nama. Ia lalu menyodorkan buku notes kecil dan pulpen.

“Bitte, schreiben Sie ihren namen!”[41] katanya.

Kuterima buku notes kecil dan pulpen itu. Aku paham maksud Aisha, tentu tidak sekadar nama tapi dilengkapi dengan alamat atau nomor telpon. Masinis metro membunyikan tanda alarm bahwa sebentar lagi pintu metro akan ditutup dan metro akan meneruskan perjalanan. Aku hanya menuliskan nama dan nomor handphone-ku. Lalu kuserahkan kembali padanya. Aisha langsung bergegas turun sambil berkata,

“Danke, auf wiedersehn!”[42]

“Auf wiedersehn!” jawabku.

Metro kembali berjalan. Ada tempat kosong. Saatnya aku duduk. Sudah separuh perjalanan lebih. Sudah setengah dua lebih lima menit. Waktu masih cukup. Insya Allah sampai di hadapan Syaikh Utsman tepat pada waktunya. Kalaupun terlambat hanya beberapa menit saja. Masih dalam batas yang bisa dimaafkan. Dengan duduk aku merasa lebih tenang. Ini saatnya aku mengulang dan memperbaiki hafalan Al-Qur’an yang akan aku setorkan pada Syaikh Utsman.

 

3. Keributan Tengah Malam

Aku sampai di flat jam lima lebih seperempat. Siang yang melelahkan. Ubun-ubun kepalaku rasanya mendidih. Cuaca benar-benar panas. Yang berangkat talaqqi pada Syaikh Utsman hanya tiga orang. Aku, Mahmoud dan Hisyam. Syaikh Utsman jangan ditanya. Disiplin beliau luar biasa. Meskipun cuma tiga yang hadir, waktu talaqqi tetap seperti biasa. Jadi, kami bertiga membaca tiga kali lipat dari biasanya. Jatah membaca Al-Qur’an sepuluh orang kami bagi bertiga. Untungnya masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq ber-AC. Jika tidak, aku tak tahu seperti apa menderitanya kami. Mungkin konsentrasi kami akan berantakan, dan kami tidak bisa membaca seperti yang diharapkan.

Seperti mengerti keinginan kami, begitu selesai talaqqi, Amu Farhat, takmir masjid yang baik hati itu membawakan empat gelas tamar hindi[43] dingin. Bukan main segarnya ketika minuman segar itu menyentuh lidah dan tenggorokan. Selesai minum aku pulang. Mahmoud, Hisyam, Amu Farhat dan Syaikh Utsman meneruskan perbincangan menunggu ashar.

Perjalanan pulang ternyata lebih panas dari berangkat. Antara pukul setengah empat hingga pukul lima adalah puncak panas siang itu. Berada di dalam metro rasanya seperti berada dalam oven. Kondisi itu nyaris membuatku lupa akan titipan Maria. Aku teringat ketika keluar dari mahattah Hadayek Helwan. Ada dua toko alat tulis. Kucari di sana. Dua-duanya kosong.. Aku melangkah ke Pyramid Com. Sebuah rental komputer yang biasanya juga menjual disket. Malang! Rental itu tutup. Terpaksa aku kembali ke mahattah dan naik metro ke Helwan. Di kota Helwan ada pasar dan toko-toko cukup besar. Di sana kudapatkan juga disket itu. Aku beli empat. Dua untuk Maria. Dan dua untuk diriku sendiri. Kusempatkan mampir ke masjid yang berada tepat di sebelah barat mahattah Helwan untuk shalat ashar.

Terik matahari masih menyengat ketika aku keluar masjid untuk pulang. Di tengah perjalanan aku melewati Universitas Helwan yang lengang. Hanya seorang polisi berpakaian lusuh yang menjaga gerbangnya. Tampangnya mengenaskan. Masih muda, tapi kurus kering. Seperti pohon pisang kering. Atau seperti dendeng di Saudi kala musim haji. Mukanya tampak kering. Panas sahara seperti menghisap habis darahnya. Ia pasti prajurit wajib militer yang biasa disebut duf’ah. Polisi paling menderita karena bertugas dengan sangat terpaksa. Tanpa gaji memadai. Hanya beberapa pound saja. Wajar jika tampangnya mengenaskan. Bisa jadi ia masih berstatus mahasiswa. Karena memang seluruh laki-laki Mesir terkena wajib militer. Seorang kumsari[44]mendekat. Ia gemuk, kepalanya bulat penuh keringat. Perutnya buncit seperti balon mau meletus. Beda sekali dengan polisi penjaga gerbang universitas itu. Dunia ini memang penuh perbedaan-perbedaan dan hal-hal kontras yang terkadang tidak mudah dimengerti. Metro terus melaju.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.