Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Dan yang tak kalah bahagianya hatiku adalah kunjungan Syaikh Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far bersama puteranya yang bernama Umar. Beliau berpesan agar aku bersabar dan tidak pernah putus asa sedetikpun atas datangnya rahmat Allah Swt. Beliau meminta maaf atas ketidakberdayaan beliau mempertahankan diriku atas pengeluaranku dari Al Azhar. Beliau juga menjelaskan bahwa sebenarnya Al Azhar mendapatkan tekanan dari keamanan untuk melakukan hal itu padaku. Sebelum pulang beliau memelukku erat-erat lalu mengecup ubunubun kepalaku.

“Ingat baik-baik Anakku, wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja!”[114] Pesan beliau kepadaku. Kunjungan Guru Besar Tafsir Universitas Al Azhar itu membuat diriku memang benar-benar terasa ada. Orang sepenting dia masih berkenan menengokku di penjara. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupa.

Menjelang Isya’, Syaikh Ahmad dan isterinya, Ummu Aiman datang. Syaikh Ahmad sedikit membawa berita baik untukku. Yaitu saudara sepupunya, Ridha Shahata, yang ditugaskan keluar Mesir pulang lebih awal dari jadwal yang ditetapkan karena dia telah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Ridha Shahata berjanji akan membantu sebisanya. Yang paling penting menurut Ridha Shahata dari cerita Syaikh Ahmad adalah bagaimana caranya Maria bisa memberikan kesaksiannya di depan pengadilan. Aku lebih banyak diam, dalam hati kukatakan, ‘Maria sangat susah diharapkan, jika memang aku harus mati di tiang gantungan berarti memang Tuhan berkehendak demikian.’

Sejujurnya kukatakan, selama merayakan Iedul Fitri di Mesir aku belum pernah mendapatkan kunjungan sebanyak itu. Meskipun berada di penjara, namun hari raya yang kulewati cukup mengesan. Aku ikhlas seandainya hari raya yang aku lewati adalah hari raya terakhirku di dunia.

 

27. Diary Maria

Hari berikutnya, pagi-pagi sekali, Tuan Boutros dan Madame Nahed datang. Aku sama sekali tidak menyangka mereka akan datang menjenguk dan mengucapkan selamat hari raya. Ternyata maksud kedatangan mereka tidak semata-mata berkunjung. Tuan Boutros berkata, “Kedatangan kami berdua kemari mau minta pertolonganmu sekali lagi untuk kesembuhan Maria.”

“Aku tidak mengerti maksud Tuan. Apa yang bisa aku lakukan dalam keadaan seperti ini?” jawabku.

“Kaset rekaman suaramu itu bisa menyadarkan Maria beberapa menit. Begitu sadar ia menanyakan dirimu. Ia terus menanyakan dirimu sampai tak sadarkan diri kembali. Dokter ahli syaraf yang menanganinya meminta agar bisa mendatangkan dirimu beberapa saat untuk menyadarkan Maria. Dengan suara dan dengan sentuhan tanganmu ada kemungkinan Maria bisa sadar. Dan ketika mendapatkan dirimu berada di sisinya, dia akan memiliki semangat hidup kembali. Maria itu ternyata persis seperti ibunya yang tidak mudah jatuh cinta. Namun sekali jatuh cinta dia tak bisa melupakan sama sekali orang yang dicintainya. Madame Nahed ini dulu juga sakit seperti Maria sekarang, cuma tidak separah Maria,” kata Tuan Boutros.

“Tolonglah Anakku, aku tak mau kehilangan Maria. Aku sudah pernah mengalami apa yang dialami Maria. Hanya suaramu, sentuhanmu dan kehadiranmu di sisinya yang akan membuat dirinya kembali memiliki cahaya hidup yang telah redup,” desak Madame Nahed.

“Kalau hanya memperdengarkan suaraku padanya, insya Allah aku bisa. Tapi kalau sampai menyentuhnya aku tidak bisa. Anda tentu sudah tahu kenapa? Tapi bagaimana aku bisa melakukan itu sementara aku berada di dalam penjara. Apakah akan rekaman lagi?” jawabku.

“Kami akan minta izin kepada pihak kepolisian untuk membawamu ke rumah sakit beberapa saat lamanya dengan jaminan,” kata Tuan Boutros.

“Semoga bisa,” sahutku pelan.

Keduanya lalu keluar. Aku menunggu di ruang tamu penjara dengan penuh harap berdoa mereka diizinkan membawaku ke rumah sakit menemui Maria. Dan semoga aku bisa menyadarkan Maria sehingga nanti dia bisa menjadi saksi dalam persidangan penentuan yang tidak lama lagi akan dilangsungkan. Entah bagaimana diplomasi mereka pada pihak kepolisian dan jaminan apa yang mereka berikan akhirnya mereka diizinkan membawaku ke rumah sakit sampai maghrib tiba. Saat azan maghrib berkumandang aku harus sudah berada di dalam penjara lagi. Borgolku dilepas. Aku melihat jam dinding yang ada di ruangan itu. Baru pukul setengah delapan pagi. Maghrib sekitar pukul lima empat lima. Ada waktu sembilan jam setengah. Semoga waktu yang ada itu cukup untuk membantu Maria.

Tuan Boutros dan Madame Nahed membawaku ke mobil mereka. Aku heran, sama sekali kami tidak dikawal. Apa mereka tidak takut aku akan melarikan diri. Aku tanyakan hal itu pada Tuan Boutros. Beliau menjawab, “Jika kau lari maka kami sekeluarga akan mati. Kami sekeluarga yang menjadi jaminanmu.”

“Apa Tuan tidak kuatir aku akan melarikan diri?” tanyaku.

“Aku sudah mengenal siapa dirimu. Kau bukan seorang pengecut yang akan melakukan hal itu,” jawab Tuan Boutros mantap.

“Terima kasih atas kepercayaannya,” tukasku.

Rumah sakit tempat Maria dirawat adalah rumah sakit tempat aku dulu dirawat. Begitu sampai di sana Madame Nahed yang juga seorang dokter langsung meminta temannya untuk memeriksa kesehatanku. Aku sempat minta pada Madame Nahed menghubungi Aisha yang tinggal di rumah paman Eqbal yang tak jauh dari rumah sakit. Seorang dokter memeriksa tekanan darahku dan lain sebagainya dengan proses yang cepat. Dia minta aku mandi dengan air kemerahan yang telah disiapkan seorang perawat. Lalu salin pakaian rumah sakit. Aku mandi dengan cepat. Setelah itu aku disuntik. Barulah aku diajak ke kamar di mana Maria tergeletak seperti mayat. Aku tak kuasa menatapnya. Maria yang kulihat itu tidak seperti Maria yang dulu. Ia tampak begitu kurus. Mukanya pucat dan layu. Tak ada senyum di bibirnya. Matanya terpejam rapat. Air matanya terus meleleh. Entah kenapa tiba-tiba mataku basah. Seorang dokter setengah baya memintaku untuk berbicara dengan suara yang datang dari jiwa agar bisa masuk ke dalam jiwa Maria. “Ini penyakit cinta, hanya bisa disembuhkan dengan getaran-getaran cinta,” katanya padaku.

Aku duduk di kursi dekat Maria berbaring. Mulutku tak jauh dari telinga Maria. Aku memanggil-manggil namanya. Menyuruhnya untuk membukakan mata. Aku bercerita dan lain sebagainya. Satu jam sudah aku berbicara tapi Maria tetap tidak sadar juga. Dokter setengah baya mengajakku bicara. Dia minta agar aku mengucapkan kata-kata yang mesra, kata-kata pernyataan cinta pada Maria sambil memegang-megang tangannya atau menyentuh keningnya.

Kujawab, “Maafkan diriku atas ketidakmampuanku melakukan hal itu. Aku tidak mungkin menyatakan cinta dan menyentuh bagian tubuh seorang wanita, kecuali pada isteriku saja.”

“Tolonglah, lakukan itu untuk merangsang syarafnya dan membuatnya sadar. Kau harus mengatakan dan melakukan sesuatu yang memiliki efek pada syaraf dan memorinya. Dan lebih dari itu pada jiwanya. Utarakanlah rasa cintamu padanya, mungkin itu akan menolongnya.”

“Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak menyesal.”

“Ini tidak sungguhan.”

“Aku harus bersikap bagaimana? Aku tidak bisa melakukan hal itu, juga tidak bisa untuk melakukan suatu kebohongan. Bagaimana jika aku mengungkapkan rasa cinta lalu dia sadar. Kemudian dia tahu aku membohonginya apakah itu bukan suatu penyiksaan yang kejam padanya?”

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.