Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

“Aisha isteriku, apakah kau benar-benar mencintaiku?” tanyaku.

Aisha menganggukkan kepala.

“Aku juga sangat mencintaimu. Dan aku tak ingin kita yang sekarang ini saling mencintai kelak di akhirat menjadi orang yang saling membenci dan saling memusuhi.”

“Apa maksudmu? Apakah ada dua orang yang di dunia saling mencintai di akhirat justru saling memusuhi?” tanyanya.

“Jika cinta keduanya tidak berlandaskan ketakwaan kepada Allah maka keduanya bisa saling bermusuhan kelak di akhirat. Apalagi jika cinta keduanya justru menyebabkan terjadinya perbuatan maksiat baik kecil maupun besar. Tentu kelak mereka berdua akan bertengkar di akhirat. Seseorang yang sangat mencintai kekasihnya sering melakukan apa saja demi kekasihnya. Tak peduli pada apa pun juga. Terkadang juga tidak peduli pada pertimbangan dosa atau tidak dosa. Jika yang dilakukan adalah dosa tentu akan menyebabkan keduanya akan bermusuhan kelak di akhirat. Sebab mereka akan berseteru di hadapan pengadilan Allah Swt. Inilah yang telah diperingatkan oleh Allah Swt dalam surat Az Zuhruf ayat 67: ‘Orang-orang yang akrab saling kasih mengasihi, pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.’ Isteriku, aku tak ingin kita yang sekarang ini saling menyayangi dan saling mencintai kelak di akhirat justru menjadi musuh dan seteru. Aku ingin kelak di akhirat kita tetap menjadi sepasang kekasih yang dimuliakan oleh Allah Swt. Aku tak menginginkan yang lain kecuali itu isteriku. Hidup dan mati sudah ada ajalnya. Allahlah yang menentukan bukan keluarga Noura juga bukan hakim pengadilan itu. Jika memang kematianku ada di tiang gantungan itu bukan suatu hal yang harus ditakutkan. Beribu-ribu sebab tapi kematian adalah satu yaitu kematian. Yang membedakan rasanya seseorang mereguk kematian adalah besarnya ridha Tuhan kepadanya. Isteriku, aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan dirimu di dunia ini dan aku lebih tak ingin kehilangan dirimu di akhirat nanti. Satu-satunya jalan yang harus kita tempuh agar kita tetap bersama dan tidak kehilangan adalah bertakwa dengan sepenuh takwa kepada Allah Azza Wa Jalla.”

Tangis Aisha semakin menjadi-jadi.

“Ka…kau benar Suamiku, terima kasih kau telah mengingatkan diriku. Sungguh beruntung aku memiliki suami seperti dirimu. Aku mencintaimu suamiku. Aku mencintaimu karena kau adalah suamiku. Aku juga mencintaimu karena Allah Swt. Ayat yang kau baca dan kau jelaskan kandungannya adalah satu ayat cinta di antara sekian juta ayat-ayat cinta yang diwahyukan Allah kepada manusia. Keteguhan imanmu mencintai kebenaran, ketakwaan dan kesucian dalam hidup adalah juga ayat cinta yang dianugerahkan Tuhan kepadaku dan kepada anak dalam kandunganku. Aku berjanji akan setia menempatkan cinta yang kita bina ini di dalam cahaya kerelaan-Nya.”

Kalimat-kalimat yang terucap dari mulut Aisha menjadi penyejuk jiwa yang tiada pernah kurasa sebelumnya. Ia seorang perempuan yang lunak hatinya dan bersih nuraninya.

“Kisah percintaan kalian membuat hatiku sangat terharu. Aisha, memiliki rasa cinta dan kesetiaan pada suami yang luar biasa. Kau seperti ibumu. Kau mewarisi kelembutan hati seperti nenekmu yang asli Palestina. Jika beliau masih ada pasti akan sangat bangga memiliki cucu sepertimu. Dan kau Fahri, aku belum pernah melihat seorang lelaki yang seteguh dirimu dan sekuat dirimu dalam bertanggung jawab mempertahankan cinta suci di dunia dan di akhirat. Kau benar, hidup yang sebenarnya adalah hidup di akhirat. Hidup yang kekal abadi tiada penghabisannya. Sesungguhnya sore ini aku mendapatkan nasihat agung yang tiada ternilai harganya.”

Azan berkumandang dan kami bersiap untuk buka. Sambil menjawab azan, lirih kudengar Aisha berdoa, “Ya Allah kekalkan cinta kami di dunia dan di akhirat. Ya Allah masukkan kami ke dalam surga Firdaus-Mu agar kami dapat terus bercinta selama-lamanya. Amin.”

Setelah mereka pulang di dalam sel penjara aku menyatukan diri dalam rengkuhan tangan Tuhan. Meskipun berada di dalam penjara aku masih merasakan kenikmatan-kenikmatan yang kelihatannya biasa-biasa namun luar biasa agungnya. Tuhan masih memberikan sentuhan cinta dan kasih sayang-Nya. Aku tiada kuasa berbuat apa-apa kecuali meletakkan kening bersujud kepada-Nya.

Ilahi, setiap kali,

bila kurenungkan kemurahanMu

yang begitu sederhana mendalam

akupun tergugu

dan membulatkan sembahku padaMu[113]

* * *

Hari raya Idul Fitri tiba. Aku merayakannya di dalam penjara berteman duka dan air mata. Tidak seperti hari raya yang telah lalu. Aku tidak bisa berbicara langsung dengan kedua orang tua di Indonesia. Aku hanya berpesan kepada Aisha agar minta tolong kepada Rudi membelikan kartu lebaran di Attaba dan mengirimnya tanpa memberitahukan keadaanku sebenarnya. Aku tak ingin membuat mereka berdua berduka tiada terkira. Aku telah berpesan pada Ketua PPMI agar jika ada teman mahasiswa dari Jawa pulang berkenan mampir ke rumah orang tuaku dan menceritakan masalah yang menimpaku dengan baik dan bijaksana.

Yang sedikit mengurangi kesedihanku pada hari raya itu adalah kunjungan yang datang silih berganti dari pagi sampai sore. Pagi sekali, tak lama setelah shalat Ied selesai Aisha, paman Eqbal dan bibi Sarah menjenguk. Setelah itu teman-teman satu rumah alias Rudi dkk. Lalu Mas Khalid dan anak buahnya. Ketua Kelompok Studi Walisongo (KSW) dan bala kurawanya. Takmir masjid Indonesia. Beberapa staf KBRI yang rendah hati. Teman-teman S2 dan S3. Dan beberapa kenalan lainnya.

Yang cukup mengejutkan diriku adalah kunjungan Nurul bersama Ustadz Jalal dan isterinya. Nurul menyampaikan rasa terima kasihnya atas surat yang aku tulis untuknya. Dia minta doanya tiga hari lagi akan melangsungkan akad nikah dengan salah seorang mahasiswa Indonesia.

“Siapa dia calon suamimu yang beruntung itu, kalau aku boleh tahu?” Tanyaku pada Nurul. Dia menundukkan kepala dan dia diam saja. Malu.

“Dia juga sedang menulis tesis. Juga kawan dekatmu.” Kata Ustadz Jalal menanggapi pertanyaanku. Aku berpikir sesaat mencari seseorang yang diisyaratkan oleh Ustadz Jalal.

“Apakah dia itu Mas Khalid?” tebakku.

“Tebakkanmu tidak salah,” jawab Ustadz Jalal.

“Dia orang yang shaleh, baik dan memiliki karakter dan dedikasi tinggi.” kataku.

“Tapi cinta pertama sangat susah dilupakan.” Lirih Nurul.

“Sekali lagi cinta sejati adalah yang telah diikat dengan tali suci pernikahan. Jadikanlah Mas Khalid sebagai cinta pertama dan terakhirmu.” pelanku.

“Insya Allah, aku sedang berusaha untuk melakukan itu dengan segenap usaha. Doakanlah pernikahan kami barakah, dan kami bahagia dan menemukan mawaddah,” lirih Nurul.

“Sama-sama. Kita saling mendoakan,” jawabku.

Aku bahagia mendapat kunjungan yang membawa berita baik itu. Mas Khalid memang pasangan yang cocok untuk Nurul. Keduanya sama-sama berasal dari keluarga pesantren. Dan kepiawaian Mas Khalid dalam membaca kitab kuning ala pesantren salaf akan sangat berguna bagi pengembangan pesantren milik ayah Nurul. Mas Khalid bisa menjadi pengasuh pesantren yang baik. Dalam banyak acara diskusi di Cairo dia paling sering diminta untuk memimpin doa. Doanya panjang namun mampu membuat orang meneteskan air mata di hadapan Tuhannya.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.