Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Aku merasa apa yang disampaikan profesor benar. Dalam pengadilan Mesir seringkali terjadi hal-hal yang tidak masuk akal. Adanya saksi seorang lelaki yang hobinya berburu burung hantu adalah suatu yang ganjil. Dan sejak kapan di suthuh apartemen di Hadayek Helwan itu ada burung hantu?

“Menurut Profesor apa yang harus kami lakukan?” tanyaku dengan hati cemas.

“Minta pertolongan Tuhan. Dan terus berusaha untuk menang!” ucap Profesor mantap.

“Aku punya sesuatu yang ingin aku katakan, Akhi.” sahut Ismail.

“Boleh.” kataku pelan.

“Mendengar semua kisahmu sejak kau ditangkap sampai sekarang, aku melihat ada satu kekuatan yang mengaturnya. Mintalah kepada Magdi untuk menyelidiki kekuatan backing dibelakang keluarga Noura. Kau masih beruntung karena kasusmu bukan kasus yang oleh pihak keamanan dianggap mengancam kekuasaan seperti Profesor Abdul Rauf. Asal bisa menjinakkan kekuatan di belakang Noura maka jalan pembebasanmu menjadi lebih mudah. Firasatku mengatakan, yang menghamili Noura adalah seseorang yang sangat memalukan untuk disebut, jadi mereka mencari kambing hitam. Dan kambing hitamnya adalah dirimu.Yang aku kuatirkan jika backing Noura adalah orang penting di Keamanan Negara yang memang sangat berkuasa di negara ini.”

“Namun kau jangan kecil hati Fahri, di atas segalanya Allahlah yang menentukan. Daya dan kekuatan manusia tiada berarti apa-apa di hadapan kemahakuasaan Allah. Jika Dia berkehendak apa pun bisa terjadi.” Haj Rashed menghibur. Aku diam saja. Semuanya lalu diam. Ruangan sel bawah tanah yang pengap dan dingin itu dicekam suasana senyap sesaat. Keheningan menebarkan aroma ketakutan yang menguji keimanan. Kini dalam ruangan sempit itu tinggal kami berempat. Marwan sejak diambil sipir bersuara cempreng itu tak ketahuan nasibnya. Apakah dipindahkan ke penjara lain? Ataukah dibebaskan? Atau malah telah menemui kematian. Hamada juga tidak lagi terdengar beritanya sejak dua hari lalu. Yang paling cemas atas nasib Hamada adalah Ismail. Katanya ia bermimpi melihat Hamada berpakaian putih di sebuah tanah yang sangat lapang. Ia kuatir itu adalah pertanda keburukan. Tapi Profesor malah menafsirkan mimpi itu dengan hal yang menyenangkan, tanah lapang adalah kebebasan. Hamada berarti sudah dibebaskan.

* * *

Hari berikutnya, kira-kira pukul sepuluh pagi, aku dibawa sipir hitam ke kantor. Di sana kepala penjara menyerahkan sepucuk surat. “Ini surat dari Universitas Al Azhar. Selamat!” Kata kepala penjara dengan nada yang sangat sinis. Aku menerima surat itu dengan tangan bergetar. Aku teringat peristiwa tahun 1995 seperti yang diceritakan staf konsuler KBRI. Kubuka amplop surat cokelat buram itu dan kukeluarkan isinya. Lalu kubaca huruf demi huruf. Selesai membaca surat itu aku tak mampu menahan isak tangisku. Usahaku sekian tahun belajar mati-matian seakan sia-sia belaka. “Karena tidak asusila yang Anda lakukan, maka Anda dikeluarkan dari Universitas Al Azhar dan gelar licence yang telah Anda dapat dicabut sejak surat ini dibuat!” Demikian salah satu baris surat dari Universitas Al Azhar itu. Melihat aku sedih dan meneteskan air mata, kepala penjara malah tertawa mengejek. Ia tentu sudah tahu isi surat itu. Aku kembali ke penjara dengan memendam kesedihan tiada tara. Al Azhar yang kucintai itu tidak lagi menganggapku sebagai bagian dari anak muridnya. Alangkah malang nasibku.

Di dalam sel aku menangis sejadi-jadinya. Aku belum pernah menangis sesedu itu. Profesor Abdul Rauf menghiburku seperti seorang ayah menghibur anaknya. Ia bertanya ada apa? Aku tak kuasa menceritakannya. Aku terus menangis dengan sesak dada yang tiada terkira. Aku teringat semua pengorbanan orang tua. Sawah warisan kakek, harta satu-satunya, dijual demi agar aku bisa kuliah di Al Azhar Mesir. Dan kini semuanya seperti sia-sia. Aku merasa menjadi manusia yang paling tiada gunanya di dunia. Hampir satu jam aku menangis. Profesor Abdul Rauf masih terus menghibur dan membesarkan hatiku. Akhirnya aku ceritakan berita duka itu padanya, dengan isak tangis yang tersisa.

“Kau percayalah padaku, Al Azhar sebenarnya tidak semudah itu mengeluarkanmu. Di sana masih banyak ulama dan guru besar yang arif bijaksana. Tapi Al Azhar tidak bisa berbuat apa-apa jika mendapat tekanan dari penguasa. Apalagi jika datang dari Amn Daulah[112]. Aku sangat yakin Al Azhar mengeluarkanmu karena mendapat tekanan. Itu sama seperti Universitas El-Menya waktu mengeluarkan diriku dan mencopot gelar guru besarku. Jadi sebenarnya sekarang ini saya bukan seorang profesor lagi, karena gelar guru besarku telah dicabut. Rektor Universitas El-Menya adalah temanku waktu mengambil doktor di Universits Lyon, Perancis. Dia tidak mungkin berbuat buruk padaku, tapi dia mendapat tekanan dari penguasa agar memecatku dari dosen dan menandatangani surat pencabutan guru besarku. Untungnya aku mendapat gelar doktor dari Perancis, kalau aku mendapatkan gelar doktor dari salah satu universitas di sini maka seluruh gelar akademisku juga akan dipreteli. Ah sebenarnya gelar itu tidaklah segalanya yang paling penting adalah kemampuan kita. Meskipun kau dikeluarkan dan gelarmu dicopot tapi ilmu yang telah melekat dalam otakmu tidak bisa mereka copot. Seandainya nanti kau bebas dan kembali ke tanah airmu kau masih bisa mengamalkan ilmumu meskipun tanpa gelar. Di dunia ini sangat banyak orang yang sukses tanpa gelar akademis. Aku malah pernah membaca sejarah Indonesia, bahwa salah seorang Wakil Presiden Indonesia yang sangat disegani yaitu Adam Malik, tidak memiliki gelar akademis apapun. Tapi kemampuannya tidak diragukan. Jadi janganlah masalah sekecil itu kau tangisi. Kau harus menjadi seorang lelaki sejati yang berjiwa besar. Dan aku yakin kau mampu untuk itu.”

Kata-kata profesor Abdul Rauf mampu menyeka air mata sedihku. Aku semestinya malu pada diriku sendiri jika menangisi hilangnya sebuah gelar. Jika aku diharamkan belajar di Al Azhar, maka Allah mungkin akan membuka jalan untuk belajar di tempat yang lain, termasuk belajar di dalam penjara. Bahkan bisa jadi penjara adalah universitas paling dahsyat di dunia. Banyak terjadi orang-orang besar di dunia melahirkan karya-karya monumental di penjara. Ibnu Taimiyah, ulama terkemuka pada zamannya yang mendapat gelar “Syaikhul Islam” menulis Fatawanya yang berjilid-jilid di dalam penjara. Sayyid Qutb menulis tafsir Zhilalnya yang sangat indah bahasa dan isinya, juga di dalam penjara. Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi juga menulis karya-karyanya yang monumental di dalam penjara. Kenapa aku tidak berpikiran positif seperti mereka? Penjara bukanlah penghalang untuk berkarya dan berbuat. Seandainya aku tidak bisa menelorkan karya di dalam penjara, kenapa aku tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk belajar pada Profesor Abdul Rauf. Beliau adalah guru besar bidang ilmu ekonomi. Beliau juga pernah belajar di Perancis. Dengan beliau aku semestinya bisa belajar satu rumus ilmu ekonomi, atau bahasa Perancis menskipun cuma satu kosa kata.. Rasanya mempersiapkan diri saja untuk menikmati hidup di dalam penjara, itu lebih realistis dan lebih baik daripada bersedih, berkeluh kesah dan meratapi nasib. Kuutarakan kemauanku pada beliau. Hari itu juga aku mulai menimba ilmu pada beliau. Lumayan selain ‘bonjour’ aku mendapatkan sebuah kalimat dari Victor Hugo saat merenungi suatu keadaan nyata bahwa tangan manusia banyak melakukan suatu kejahilan. Hugo mengatakan: Tempos edax, home edacior! Artinya: Waktu kejam tapi manusia lebih kejam lagi!

* * *

Tiga hari setelah itu, kira-kira satu jam menjelang buka puasa, sipir bersuara cempreng memanggilku. Aku yang biasanya tidak pernah takut kali ini menyahut panggilannya dengan bulu kuduk merinding. Aku bersyukur ketika Si Cempreng tidak berbuat macam-macam padaku, ia hanya membawaku ke ruang tamu penjara. Di sana ada Aisha, paman Eqbal, Maqdi, dan Amru yang telah menunggu.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.