Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Di akhir sidang terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Bahadur memberikan kesaksian bahwa dia katanya pernah melihatku beberapa kali menyiuli Noura dari jendela kamarku. “Saat itu aku sebenarnya sangat marah pada penjahat itu. Tapi aku masih menghormatinya sebagai tamu di negeri ini dan aku mengira itu hanyalah iseng anak muda. Apalagi dia kulihat juga rajin ke masjid. Aku tidak menyangka kalau dia sebenarnya serigala. Dan aku yakin dialah yang menodai Noura. Dia harus dihukum yang seberat-beratnya!”

Hakim lalu bertanya pada pengacaraku apakah masih ada saksi atau bukti untuk membela diriku. Pengacaraku bilang masih. Yaitu kesaksian Syaikh Ahmad dan isterinya, surat yang ditulis Noura untukku, dan Maria. Hakim memutuskan sidang akan dilanjutkan satu minggu setelah hari raya Idul Fitri. Itu berarti aku akan menjalani hari raya terberat selama hidup.

Amru, Magdi dan paman Eqbal mengikutiku sampai ke penjara. Di ruang tamu penjara mereka mangajakku berbicara. Eqbal terus memintaku untuk tabah dan besar hati. Magdi dan Amru menganalisa jalannya sidang yang telah terjadi.

“Saksi yang kita ajukan adalah orang-orang yang sangat jujur. Mulai dari Tuan Boutros sampai teman-temanmu. Aku salut atas kejujuran itu, meskipun dalam kasus ini kejujuran teman-temanmu tidak membantu. Kalau mereka ada yang berani bohong sedikit saja, misalnya pukul tiga terbangun untuk shalat malam dan mendapati keadaan rumah dalam keadaan sepi seperti biasa tidak ada Noura di kamarmu. Karena kamarmu berdekataan dengan kamar mandi tempat wudhu, dakwaan Noura akan runtuh,” ucap Amru sambil memandang lurus kepadaku.

“Tapi insya Allah kejujuran itu tetap akan membantu. Setidaknya membantu kekuatan moral kita. Kebersihan nurani kita. Dan semoga dengan kejujuran itu Allah memberikan jalan keluar yang lebih baik,” sahut Eqbal.

“Dalam sejarah kejahatan selalu dilancarkan dengan segala cara. Dan kebenaran selalu dipertahankan dengan cara-cara yang jantan dan bersih,” imbuh Magdi.

“Bisa jadi sidang setelah hari raya adalah sidang penentuan. Dan dalam sidang itu kita harus membalik keadaan dan meruntuhkan semua tuduhan dan rekayasa mereka. Senjata kita yang tersisa adalah surat cinta Noura yang disana dia mengungkapkan semua pengakuannya secara jujur dan pengakuan Maria. Yang paling penting sebenarnya adalah kesaksian Maria. Sebab dialah yang paling tahu. Dialah—yang dalam penuturan Noura—mengantarkan dirinya ke tempatmu. Dan dia juga yang membukakan pintu ketika Noura kembali lagi naik. Adapun kesaksian Syaikh Ahmad dan isterinya kekuatannya tak akan berbeda dengan kesaksian Nurul yang memang malam itu tidak tahu apa-apa. Marialah sebenarnya saksi kunci, tapi sayang dia sekarang sedang koma.” jelas Amru.

“Bagaimana dengan surat Noura itu?” tanya Eqbal.

“Cukup kuat, jika benar-benar bisa dibuktikan itu tulisan tangannya. Tapi surat itu sekarang ada di mana masih jadi masalah. Oleh Fahri surat itu diberikan kepada Syaikh Ahmad. Syaikh Ahmad memberikan kepada isterinya. Isterinya memberikan kepada Noura waktu masih di Tafahna. Sekarang sedang dicari di Tafahna, siapa tahu ditinggal oleh Noura di sana. Jika surat itu ternyata dibawa Noura ya kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu mukjizat Maria bisa membaik dan pada sidang setelah hari raya nanti bisa memberikan kesaksian,” jelas Amru.

Mendengar semua pembicaraan itu aku merasa nasibku benar-benar berada di ujung tanduk. Jika nyawaku akhirnya harus melayang dengan sedemikian tragisnya, aku pasrah saja kepada Yang Mahakuasa. Aku teringat nasihat Syaikh Utsman agar selalu menjaga keikhlasan menerima takdir Ilahi setelah berusaha sekuat tenaga. Yang divonis salah dalam pengadilan dunia tidak selamanya salah di pengadilan akhirat. Kepala Nabi Yahya dipenggal dan dihadiahkan kepada seorang pelacur. Dalam hati aku berdoa, jika aku harus mati di tiang gantungan, maka “Allaahumma amitni alasy syahaadati fi sabilik.Amin.”[111]

“Apa tidak ada jalan lain untuk membuktikan bahwa yang menghamili Noura bukan Fahri? Bagaimana dengan test DNA? Bukankah Noura menemukan orang tua kandungnya karena test DNA?” ucap Eqbal dengan mata berbinar.

Amru dan Magdi mengangguk-anggukkan kepala. Aku merasa di dalam dadaku ada cahaya. “Benar test DNA!” lirihku.

“Ini ide yang sangat menggembirakan. Aku nanti akan mencoba bertanya pada dokter apakah janin yang dikandung Noura bisa diperiksa DNA-nya. Agar ketahuan siapa sebenarnya ayahnya? Jika bukan Fahri yang menghamili tentu DNA janin itu akan berbeda dengan DNA Fahri. Sebentar aku mau mengontak Dokter Fatema Zaki, apakah janin bisa diperiksa DNA-nya.” Kata Amru sambil memenjet handphone-nya dan meletakkan di telinganya. Amru lalu terlibat pembicaraan dengan orang yang ditujunya. Tiba-tiba mukanya agak pucat, ia berkata setengah berteriak, “Apa? Tidak bisa! Menunggu sampai lahir?! Oh, begitu. Ya, terima kasih atas informasinya.”

“Bagaimana Amru?” tanya Eqbal.

“Menurut keterangan Dokter Fatema Zaki, janin yang masih berada di dalam kandungan tidak bisa diperiksa DNA-nya. Karena harus pakai sampel jaringan/sel tubuh. Janin tidak bisa diambil jaringan tubuhnya. Yang bisa diambil cuma sampel air ketuban, tidak bisa untuk pemeriksaan DNA. Jadi harus menunggu janin itu dilahirkan baru bisa diperiksa DNA-nya,” jelas Amru yang membuat diriku lemas kembali. Menunggu Noura sampai melahirkan janinnya, bukan waktu yang singkat di dalam penjara buruk seperti ini. Tapi aku tetap merasa lebih berbesar hati bahwa jalan untuk membebaskan diri dari tuduhan dan fitnah itu masih ada.

“Aku akan membuat surat permohonan kepada pengadilan agar sidang selanjutnya diundur sampai Noura melahirkan bayinya untuk pemeriksaan DNA.” Ujar Amru dengan wajah optimis.

“Jika pengadilan tidak mengabulkan?” sahut Magdi.

“Kita lihat nanti. Oh ya Magdi, tolong bagaimana caranya keamanan Maria terjamin. Sebab walau bagaimana pun sebelum test DNA, Maria adalah saksi kunci. Kau tentu tahu maksudku?” kata Amru.

“Insya Allah,” jawab Magdi pelan.

Mereka bertiga lalu pamintan. Amru berjanji akan menengok ke penjara lagi jika ada perkembangan.

* * *

Sampai di dalam sel, sebelum Profesor Abdul Rauf dan teman-teman menanyakan yang terjadi di dalam sidang kedua, aku langsung mengisahkan semuanya. Termasuk pembicaraan berempat dengan Amru, Magdi dan Eqbal di ruang tamu penjara.

“Bolehkan aku membuat suatu analisa? Siapa tahu ada gunanya,” ujar Profesor Abdul Rauf begitu aku selesai bercerita.

“Tentu, Profesor,” jawabku senang.

“Pemohonanmu untuk mengundurkan sidang setelah Noura melahirkan bayinya agar bisa diperiksa DNAnya tidak akan dikabulkan pengadilan. Pengadilan akan tetap berjalan sesuai yang diinginkan hakim. Dan hakim berjalan sesuai yang diinginkan oleh keluarga Noura. Mereka sudah tahu saksi kunci sudah tidak berdaya. Seandainya pun Maria bisa memberikan kesaksian mereka sudah mempersiapkan jurus yang akan mengejutkan. Selama ini yang terjadi, tertuduh yang berada dalam posisi seperti dirimu jarang bisa menang. Apalagi kau orang asing. Mereka juga tahu akan adanya test DNA, maka mereka akan menggunakan cara agar di pengadilan ini kau kalah. Tindakan yang akan kau ambil adalah naik banding, menunggu bayi Noura bisa ditest DNAnya. Begitu kau kalah, maka setelah itu rekayasa yang akan mereka mainkan susah diprediksi. Bisa jadi diamdiam mereka akan menggugurkan kandungan Noura dengan alasan keguguran dan membuangnya entah di mana yang penting tidak bisa ditest DNAnya. Dan kau tidak akan bisa menuntut apa-apa. Atau tidak begitu, tetap membiarkan bayi itu lahir tapi permohonan bandingmu tidak dikabulkan dengan alasan yang seringkali tidak masuk. Atau dikabulkan tapi setelah menunggu sekian tahun, setelah dirimu mengalami penderitaan luar biasa dan sekarat di dalam penjara. Sebab begitu kau diputuskan pengadilan bersalah kau akan diperlakukan sebagai orang bersalah meskipun sedang mengajukan banding. Itu analisaku. Aku tidak ingin menakutimu tapi agar pengacaramu dan pihak kedutaanmu berusaha lebih maksimal untuk membebaskan dirimu dalam pengadilan terakhir nanti.”

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.