Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

“Meski kau bercadar dan membawa mushaf ke mana-mana, nilaimu tak lebih dari seorang syarmuthah!”[31] umpat lelaki berpakaian abu-abu.

Ini sudah keterlaluan. Menuduh seorang perempuan baik-baik sehina pelacur tidak bisa dibenarkan.

Aku membaca istighfar dan shalawat berkali-kali. Aku sangat kecewa pada mereka. Perempuan bercadar itu diam seribu bahasa. Matanya berkaca-kaca. Bentakan, cacian, tudingan dan umpatan yang ditujukan padanya memang sangat menyakitkan. Aku tak bisa diam. Kucopot topi yang menutupi kopiah putihku. Lalu aku mendekati mereka sambil mencopot kaca mata hitamku.

“Ya jama’ah, shalli ‘alan nabi, shalli ‘alan nabi!”[32] ucapku pada mereka sehalus mungkin. Cara menurunkan amarah orang Mesir adalah dengan mengajak membaca shalawat. Entah riwayatnya dulu bagaimana. Di mana-mana, di seluruh Mesir, jika ada orang bertengkar atau marah, cara melerai dan meredamnya pertama-tama adalah dengan mengajak membaca shalawat. Shalli ‘alan nabi, artinya bacalah shalawat ke atas nabi. Cara ini biasanya sangat manjur.

Benar, mendengar ucapanku spontan mereka membaca shalawat. Juga para penumpang metro lainnya yang mendengar. Orang Mesir tidak mau dikatakan orang bakhil. Dan tiada yang lebih bakhil dari orang yang mendengar nama nabi, atau diminta bershalawat tapi tidak mau mengucapkan shalawat. Begitu penjelasan Syaikh Ahmad waktu kutanyakan ihwal cara aneh orang Mesir dalam meredam amarah. Justru jika ada orang sedang marah lantas kita bilang padanya, La taghdhab! (yang artinya: jangan marah!) terkadang malah akan membuat ia semakin marah.

Lalu aku menjelaskan pada mereka bahwa yang dilakukan perempuan bercadar itu benar. Bukanya menghina orang Mesir, justru sebaliknya. Dan umpatan-umpatan yang ditujukan padanya itu sangat tidak sopan dan tidak bisa dibenarkan. Aku beberkan alasan-alasan kemanusiaan. Mereka bukannya sadar, tapi malah kembali naik pitam. Si pemuda marah dan mencela diriku dengan sengit. Juga si bapak berpakaian abu-abu. Sementara Ashraf bilang, “Orang Indonesia, sudahlah, kau jangan ikut campur urusan kami!”

Aku kembali mengajak mereka membaca shalawat. Aku nyaris kehabisan akal. Akhirnya kusitir beberapa hadits nabi untuk menyadarkan mereka. Tapi orang Mesir seringkali muncul besar kepalanya dan merasa paling menang sendiri.

Pemuda Mesir malah menukas sengak, “Orang Indonesia, kau tahu apa sok mengajari kami tentang Islam, heh! Belajar bahasa Arab saja baru kemarin sore. Juz Amma entah hafal entah tidak. Sok pintar kamu! Sudah kau diam saja, belajar baik-baik selama di sini dan jangan ikut campur urusan kami!”

Aku diam sesaat sambil berpikir bagaimana caranya menghadapi anak turun Fir’aun yang sombong dan keras kepala ini. Aku melirik Ashraf. Mata kami bertatapan. Aku berharap dia berlaku adil. Dia telah berkenalan denganku tadi. Kami pernah akrab meskipun cuma sesaat. Kupandangi dia dengan bahasa mata mencela. Ashraf menundukkan kepalanya, lalu berkata,

“Kapten, kau tidak boleh berkata seperti itu. Orang Indonesia ini sudah menyelesaikan licence-nya di Al Azhar. Sekarang dia sedang menempuh program magisternya. Walau bagaimana pun, dia seorang Azhari. Kau tidak boleh mengecilkan dia. Dia hafal Al-Qur’an. Dia murid Syaikh Utsman Abdul Fattah yang terkenal itu.”

Pembelaan Ashraf ini sangat berarti bagiku. Pemuda berbaju kotak-kotak itu melirik kepadaku lalu menunduk. Mungkin dia malu telah berlaku tidak sopan kepadaku. Tetapi lelaki berpakaian abu-abu kelihatannya tidak mau menerima begitu saja.

“Dari mana kau tahu? Apa kau teman satu kuliahnya?” tanyanya.

Ashraf tergagap, “Tidak. Aku tidak teman kuliahnya. Aku tahu saat berkenalan dengannya tadi.”

“Kau terlalu mudah percaya. Bisa saja dia berbohong. Program magister di Al Azhar tidak mudah. Jadi murid Syaikh Utsman juga tidak mudah.” Lelaki itu mencela Ashraf. Dia lalu berpaling ke arahku dan berkata, “Hei orang Indonesia, kalau benar kau S.2. di Al Azhar mana kartumu!?”

Lelaki itu membentak seperti polisi intel. Berurusan dengan orang awam Mesir yang keras kepala memang harus sabar. Tapi jika mereka sudah tersentuh hatinya, mereka akan bersikap ramah dan luar biasa bersahabat. Itulah salah satu keistimewaan watak orang Mesir. Terpaksa kubuka tas cangklongku. Kuserahkan dua kartu sekaligus. Kartu S.2. Al Azhar dan kartu keanggotaan talaqqi qiraah sab’ah dari Syaikh Utsman. Tidak hanya itu, aku juga menyerahkan selembar tashdiq[33] resmi dari universitas. Tasdiq yang akan kugunakan untuk memperpanjang visa Sabtu depan.

Lelaki setengah baya lalu meneliti dua kartu dan tashdiq yang masih gres itu dengan seksama. Ia manggut-manggut, kemudian menyerahkannya pada pemuda berbaju kotak-kotak yang keras kepala yang ada di sampingnya.

“Kebetulan saat ini saya sedang menuju masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk talaqqi. Kalau ada yang mau ikut menjumpai Syaikh Utsman boleh menyertai saya.” Ujarku tenang penuh kemenangan.

Kulihat wajah mereka tidak sepitam tadi. Sudah lebih mencair. Bahkan ada gurat rasa malu pada wajah mereka. Jika kebenaran ada di depan mata, orang Mesir mudah luluh hatinya.

“Maafkan kelancangan kami, Orang Indonesia. Tapi perempuan bercadar ini tidak pantas dibela. Ia telah melakukan tindakan bodoh!” kata pemuda Mesir berbaju kotak-kotak sambil menyerahkan kembali dua kartu dan tashdiq kepadaku.

Aku menghela nafas panjang. Metro melaju kencang menembus udara panas. Sesekali debu masuk berhamburan.

“Terus terang, aku sangat kecewa pada kalian! Ternyata sifat kalian tidak seperti yang digambarkan baginda Nabi. Beliau pernah bersabda bahwa orang-orang Mesir sangat halus dan ramah, maka beliau memerintahkan kepada shahabatnya, jika kelak membuka bumi Mesir hendaknya bersikap halus dan ramah. Tapi ternyata kalian sangat kasar. Aku yakin kalian bukan asli orang Mesir. Mungkin kalian sejatinya sebangsa Bani Israel. Orang Mesir asli itu seperti Syaikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi yang ramah dan pemurah,” ucapku datar. Aku yakin akan membuat hati orang Mesir yang mendengarnya bagaikan tersengat aliran listrik.

“Maafkan kami, Orang Indonesia. Kami memang emosi tadi. Tapi jangan kau katakan kami bukan orang Mesir. Jangan pula kau katakan kami ini sebangsa Bani Israel. Kami asli Mesir. Kami satu moyang dengan Syaikh Sya’rawi rahimahullah,” lelaki setengah baya itu tidak terima. Syaikh Sya’rawi memang seorang ulama yang sangat merakyat. Sangat dicintai orang Mesir. Hampir semua orang Mesir mengenal dan mencintai beliau. Mereka sangat bangga memiliki seorang Sya’rawi yang dihormati di seantero penjuru Arab.

“Yang aku tahu, selama ini, orang Mesir asli sangat memuliakan tamu. Orang Mesir asli sangat ramah, pemurah, dan hatinya lembut penuh kasih sayang. Sifat mereka seperti sifat Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub. Syaikh Sya’rawi, Syaikh Abdul Halim Mahmud, Syaikh Muhammad Ghazali, Syaikh Muhammad Hasan, Syaikh Kisyk, Syaikh Muhammad Jibril, Syaikh Athea Shaqr, Syaikh Ismail Diftar, Syaikh Utsman dan ulama lainnya adalah contoh nyata orang Mesir asli yang berhati lembut, sangat memuliakan tamu dan sangat memanusiakan manusia. Tapi apa yang baru saja kalian lakukan?! Kalian sama sekali tidak memanusiakan manusia dan tidak punya rasa hormat sedikit pun pada tamu kalian. Orang bule yang sudah nenek-nenek itu adalah tamu kalian. Mereka bertiga tamu kalian. Tetapi kenapa kalian malah melaknatnya. Dan ketika saudari kita yang bercadar ini berlaku sebagai seorang muslimah sejati dan sebagai seorang Mesir yang ramah, kenapa malah kalian cela habis-habisan!? Kalian bahkan menyumpahinya dengan perkataan kasar yang sangat menusuk perasaan dan tidak layak diucapkan oleh mulut orang yang beriman! ”

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.