Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

“Meski berliku, aku yakin kebenaran akan menang. Apa pun yang terjadi pada akhirnya kebenaran akan menang. Jangan kuatir, Saudaraku. Nanti malam perbanyaklah shalat dan memohon pertolongan kepada Allah.” Kata Amru mengingatkan. Mereka pamitan. Seperti saat mengunjungi sebelumnya sebelum pergi, Aisha mengajakku ke pojok ruangan. Dia membuka cadarnya agar aku dapat melihat wajahnya. Kami berangkulan dalam tangis.

“Fahri, kuatkanlah dirimu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan dirimu. Aku tak ingin bayiku ini lahir tanpa dirimu disisiku.” Isak Aisha yang membuat hatiku bagai diremas-remas. Aku merasa langit-langit ruangan itu basah, dan dinding-dindingnya melelehkan air mata. Kuusap air matanya dengan ujung jilbabnya, pelan kubisikkan padanya sebuah harapan:

Sayang, tancapkan dalam hati

walau tak kini

esok insya Allah terjadi

kita akan bulan madu lagi berkali kali lebih indah dari yang telah kita lalui apalagi di sorga nanti walau tak kini esok insya Allah terjadi selama cinta kita tak pernah mati selama iman masih terpatri dalam diri

 

25. Persidangan

“Nona Noura, saya persilakan Anda mengisahkan apa yang menimpa pada diri Anda?” Hakim gemuk dengan rambut hitam bercampur uban mempersilakan Noura yang sudah berdiri dipodium untuk berbicara. Sementara aku berada di tempat terdakwa yang berbentuk seperti kerangkeng. Ratusan mata memandang Noura dengan seksama. Aku melihat orang-orang yang kukenal turut serta menghadiri sidang pertamaku ini. Teman-teman satu rumah di Hadayek Helwan ; Rudi, Saiful, Hamdi dan Mishbah duduk dibagian agak belakang. Beberapa puluh mahasiswa Indonesia, Ketua dan pengurus PPMI, Pengurus Wihdah—termasuk Nurul sang ketua—juga datang. Sekitas aku memandang ke arah Nurul, mata kami bertemu. Ia tak bisa menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Pengacaraku duduk bersama Maqdi. Di belakangnya ada Aisha, paman Eqbal, Syaikh Ahmad dan isterinya. Bibi Sarah tidak datang. Keluarga Tuan Boutros juga tidak satu pun yang kelihatan. Di barisan dekat jaksa penuntut banyak sekali orang Mesir. Mungkin mereka keluarga Noura. Beberapa wartawan sibuk merekam dan membidikkan kamera. Aku pasrah pada apa yang akan ditulis mereka. Jika ada ketidakadilan dalam tulisan mereka aku akan menuntutnya kelak di akherat sana.

“Saya akan menceritakan dengan sejujurnya tragedi yang menimpa diri saya. Tragedi yang menginjak-injak kehormatan saya dan menghancurkan masa depan saya.” Kata Noura dengan terisak. Air matanya meleleh. Aku tidak tahu apa yang akan dia katakan. Apakah dia akan mengatakan dengan sejujurnya siapa yang mengamili dirinya ataukah justru akan menghabisi diriku dengan sandiwaranya seperti Zulaikha pura-pura menangis dan menjebloskan Yusuf ke dalam penjara.

“Pada hari Rabu, 7 Agustus yang lalu saya masih hidup bersama keluarga Bahadur. Hari itu sore hari setelah aku shalat ashar, Bahadur yang saat itu masih saya anggap sebagai ayah memaksaku untuk ikut Mona selepas maghrib ke sebuah Nigh Club mengapung di sungai Nil, tempat di mana Badahur dan Mona bekerja. Bahadur sebagai pukang tukul dan Mona sebagai penari dan wanita penghibur. Saya tidak mau. Bahadur mengancam akan membunuh saya jika sampai jam sembilan malam tidak sampai di sana bersama Mona. Saat itu juga ia menjambak rambut saya kuat-kuat dan menyambuk punggung saya dengan ikat pinggang. Saya tidak tahan, akhirnya saya pura-pura mau. Bahadur lalu berangkat kerja dengan sebuah ancaman saya akan mati jika tidak datang. Saya bertanya pada Mona apa kerja saya di sana. Dia bilang, ‘Seperti pertama aku kerja di sana. Menyerahkan keperawanan pada turis bule dengan imbalan sepuluh ribu pound!’ Jawaban Mona membuat saya merinding. Saya tidak mungkin melakukan perbuatan terkutuk itu. Saya bertekad lebih baik mati daripada menjual diri. Akhirnya begitu shalat maghrib saya mengurung diri di kamar. Pintu kamar dan jendela saya kunci. Mona berteriak-teriak dan menggedor-gedor tidak saya pedulikan. Mona pun berangkat sendirian. Saya terus di kamar sampai tengah malam. Jam setengah satu ayah pulang bersama Noura dengan kemarahan meluap. Pintu kamarku didobrak dan saya disiksanya habis-habisan lalu diusir dan diseret ke jalan. Ternyata saya tidak dibunuhnya hanya diusir saja. Tapi malam itu saya merasa sangat merana. Saya meratapi nasib saya sambil memeluk tiang lampu di jalan, depan apartemen. Saya meratap sendirian agak lama. Lalu, kirakira pukul setengah dua datanglah Maria menghibur saya. Ia juga mengajak saya naik dan tidur di kamarnya, saya pun ikut. Di kamar Maria aku mencurahkan semua kesedihanku padanya. Yang tidak kuduga Maria menceritakan sebenarnya yang membuatnya turun menghiburku adalah Fahri, mahasiswa dari Indonesia yang malam itu kebetulan tidak tidur. Sebenarnya Maria takut sekali pada Bahadur. Keluarga Maria juga tidak mau berurusan dengan Bahadur. Maria meminta bagaimana kalau malam itu menginap sementara di rumah Fahri. Saya merasa kediaman Fahri adalah tempat yang aman untuk sementara. Akhirnya tepat pukul tiga Maria mengantarkan aku turun ke tempat Fahri. Fahri sendiri yang masih bangun. Ia membukakan pintu dan mempersilakan aku masuk ke kamarnya. Maria kembali ke rumahnya. Mulanya Fahri banyak menghibur. Dia lalu merayuku dan membujukku dengan kata-kata Manis. Entah dari mana ia tahu kalau aku mau dijual pada turis bule. Fahri menawari saya untuk kawin dengannya dan akan diajak hidup bahagia di Indonesia. Ia berjanji akan membuat hidupku bahagia. Akan mencurahkan segala kasih sayang dan cintanya padaku. Fahri juga mengungkapkan sebenarnya dia telah lama jatuh cinta pada saya. Fahri mampu memanfaatkan keadaan saya yang sedih, yang selama itu belum pernah merasakan kasih sayang dan cinta. Malam itu saya menangis dalam pelukan Fahri. Saya merasakan Fahri adalah dewa penyelamat. Entah bagaimana prosesnya malam itu saya telah menyerahkan kehormatan saya padanya. Saya terhipnotis oleh manisnya janji yang ia berikan. Ketika masjid melantunkan azan pertama saya tersadar. Saya menangis sejadi-jadinya atas apa yang menimpa diri saya. Saya melihat Fahri sedang tertidur. Saya pun keluar dan kembali ke tempat Maria. Saya menangis Maria bertanya pada saya ada apa. Saya tidak menjawabnya. Saya malu untuk menceritakannya. Pukul tujuh pagi Fahri datang ke tempat Maria. Keluarga Maria minta agar saya meninggalkan rumah mereka sebelum Bahadur bangun. Akhirnya Fahri menyuruh saya untuk menginap di tempat mahasiswi Indonesia bernama Nurul. Sebelum berangkat Fahri memberi uang sebanyak dua puluh pound untuk ongkos jalan. Beberapa hari di rumah Nurul saya dijemput Syaikh Ahmad dan isterinya dan diamankan di Tafahna, Zaqaziq. Syaikh Ahmad membantu saya menemukan saya dengan orang tua saya asli yang ternyata bernama Adel dan Yasmin. Beliau berdua dosen di Ain Syams University. Sejak itu saya tinggal bersama mereka. Suatu hari setelah satu minggu tinggal bersama mereka saya muntah-muntah. Mama Yasmin membawa saya ke dokter dan saya ketahuan hamil satu bulan setengah. Mama mendesak untuk mengatakan siapa yang menghamili saya. Saya tidak mau mengatakannya. Ayah mengancam akan mengusir saya jika tidak mengatakan siapa yang menghamili saya. Terpaksa saya jelaskan siapa sebenarnya yang menghamili saya. Tak lain dan tak bukan adalah Fahri Abdullah. Dia manusia berhati serigala pura-pura menolong ternyata menerkam. Saya telah beberapa kali minta pertanggung jawabannya dan menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. Saya menuntut janjinya mau mengawini saya ternyata ia berkelit. Ia bahkan menuduh saya pelacur. Uang dua puluh pound yang dia berikan itu ternyata dianggap sebagai harga diri saya. Betapa remuk dan hancur hati saya. Dia malah menikah dengan seorang gadis Turki. Dia benar-benar manusia yang sangat busuk hatinya. Saya minta kepada pengadilan untuk memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatan terkutuknya!”

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.