Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

“Sst..Fahri ceritakan padaku kau diinterogasi bagaimana?”

Aku menceritakan semuanya. Paksaan untuk mengakui perbuatan itu dan aku bersikukuh tidak mau mengakuinya.

“Keputusan yang tepat sekali. Sebab jika kau mengaku dan menandatangani berkas pengakuan maka sangat sulit diselamatkan. Aku dan Eqbal akan mencari pengacara yang baik untukmu. Kapan sidangnya?”

“Tiga hari lagi.”

“Siksaan apa yang kau terima selama tiga hari ini?”

Aku menceritakan semuanya. Termasuk kekurangajaran Si Kumis mempermainkan kemaluanku. Juga siksaan setiap pagi.

“Tapi kumohon kau jangan ceritakan siksaan-siksaan ini pada Aisha atau paman Eqbal mereka akan sedih. Biarlah nanti kuceritakan sendiri setelah keluar dari penjara ini.”

“Yang kau terima itu masih termasuk ringan. Jangan kuatir. Sakit hatimu pada Si Kumis itu biar teman-temanku yang nanti membalasnya. Dia memang polisi kurang ajar. Aku akan mencoba berbicara pada kepala penjara ini. Dan makanan ini, jika dirampas sama sipir penjara nanti bilang. Terus ciri-ciri sipir itu bagaimana? Aku akan mengurusnya. Sudah ya satu hari sebelum sidang, insya Allah aku dan pengacara yang akan membelamu akan datang kemari. Aku pamit dulu. Selamat beribadah oh ya ada salam dari Syaikh Abdurrahim Hasuna, imam masjid kita. Beliau ikut berbela sungkawa atas musibah yang menimpamu dan beliau akan ikut serta mendoakanmu.”

“Terima kasih atas segalanya Magdi, salam balik untuk beliau.”

Magdi pergi. Aku kembali ke sel. Aku beritahu mereka apa yang terjadi. Mereka semua ikut senang dan berdoa semoga aku cepat bebas dari penjara ini. Bisa kembali belajar dan pulang ke Indonesia mengamalkan ilmu yang kudapat di bumi para nabi ini. Ismail membuka bungkusan besar yang kubawa. Ia heran bagaimana aku bisa membawa makanan sebanyak itu. Kujelaskan semuanya.

“Alhamdulillah, di dunia ini masih ada polisi baik seperti Magdi,” gumam Ismail.

“Dia SLTA di ma’had Al Azhar Damanhur,” sahutku.

“Pantas.”

“Tapi Si Noura, gadis itu juga ma’had Al Azhar, kenapa dia bisa berbuat sejahat itu?” heranku.

“Aku yakin itu bukan semata-mata kemauan Noura. Setidaknya ada sesuatu yang menekannya. Puteriku yang nomor tiga juga di Al Azhar, dan dia sangat jujur,” tukas Haj Rashed.

Belum puas kami berbincang terdengar langkah sepatu bot dan pintu kami digedor.

“Tahanan 879!” teriaknya seperti anjing menyalak.

“Ya!” jawabku dengan suara keras.

“Ayo ikut!”

Aku dibawa ke ruang penerimaan tamu. Di sana sudah ada Staf Konsuler KBRI dan Ketua PPMI. Keduanya memelukku erat-erat. Mereka berdua ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi denganku. Aku ceritakan kronologis penangkapanku dan dakwaan yang dialamatkan kepadaku. Staf konsuler berjanji akan membantu sekuat tenaga membebaskan aku dengan upaya diplomatis, meskipun dengan nada yang agak pesimis,

“Tahun 1995 pernah ada mahasiswa kita yang mengalami nasib mirip denganmu. Dia naik lift. Di dalam lift ada anak kecil Mesir. Entah kenapa anak kecil itu menangis. Anak kecil itu melapor pada kedua orang tuanya takut pada mahasiswa kita itu. Orang tuanya melapor pada polisi menuduh mahasiswa kita mencoba mencabuli anaknya. Padahal mahasiswa kita tidak berbuat demikian, dia hanya menyapanya dan mengajaknya bicara seperti kalau bertemu dengan anakanak di Indonesia. Polisi lebih percaya pada pengaduan orang tua anak itu. Orang Mesir jika sudah menyinggung kehormatan perempuan sangat sensitif. Menyiul perempuan berjalan saja bisa ditangkap polisi jika perempuan itu merasa terhina dan tidak terima. Akhirnya mahasiswa kita itu dipenjara beberapa bulan. Ia dikeluarkan dari Al Azhar dan dideportasi. Ia tidak dihukum gantung karena setelah divisum anak kecil itu memang tidak apa-apa. Bayangkan, hanya karena mengajak bicara anak kecil di dalam lift, mahasiswa kita dipenjara. Dan pihak KBRI tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya mahasiswa kita itu harus keluar dari Mesir. Sekarang ia belajar di Turki. Bahkan ikut membantu staf KBRI di sana. Juga menjadi pemandu travel bagi orang Indonesia yang melancong ke Turki yang biasanya satu paket dengan umrah. Di sana dia malah kaya dan makmur sekarang. Untuk kasusmu ini, kita akan berusaha sekuat tenaga. Tapi kita tidak bisa menjamin keberhasilannya.”

Kata-kata staf konsuler KBRI itu membuat hatiku ciut. Aku tiba-tiba ingin jadi warga negara Amerika saja. Jika aku warga negara Amerika pasti polisi Mesir tidak berani berbuat macam-macam. Menyentuh kulitku saja mereka tidak akan berani apalagi mengancam hukuman gantung. Jika aku jadi warga negara Amerika, mungkin seandainya benar-benar memperkosa pun, tetap selamat. Sebab presiden Amerika akan ikut bicara membela warganya seperti ketika Clinton membela warganya yang dicambuk di Singapura. Lain Amerika lain Indonesia. Apa yang dibela oleh presiden Indonesia kalau bukan jabatan dan perutnya sendiri? Mana mungkin dia mendengar rintihan dan rasa sakitku dicambuk tiap pagi dan membeku kedinginan di bawah tanah dalam musim dingin yang membuat tulang ngilu? Apalagi diriku yang jauh di Mesir. Sedangkan ribuan gadis Indonesia dijual, dirobek-robek kehormatannya dan diperlakukan seperti binatang di Singapura saja presiden diam saja? Kapan dalam sejarahnya ada Presiden Indonesia membela rakyatnya? Kecuali Soekarno di zaman mempertahankan kemerdekaan.

“Kalau kami, apa yang bisa kami bantu menurut Mas Fahri?” kata Ketua PPMI.

“Pertama, aku ingin dukungan seluruh teman-teman dari Indonesia. Demi Allah yang mengetahui apa yang tersembunyi di langit dan di bumi, aku tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan kepadaku itu. Aku ingin dukungan moral dari teman-teman semua. Tolong disosialisasikan kisah yang sebenarnya. Orang satu rumah denganku dan Nurul tahu akan hal itu. Jika nanti ada wartawan Mesir mewawancarai tolong opinikan yang baik mengenai diriku, tolong! Juga temanteman yang jadi koresponden media massa di tanah air tolong kisahkan yang sebenarnya jangan yang malah menimbulkan interpretasi yang macam-macam. Kedua, kepada PPMI dan KBRI mohon kerjasama dengan pengacaraku nanti. Sekarang isteriku dan seorang polisi Mesir yang baik sedang mencari pengacara untuk membelaku. Tolong bantu mereka. Ketiga, mohon doa teman-teman Indonesia semuanya, ketika sahur, ketika tarawih, ketika shalat malam. Doakan aku selamat dari ujian berat ini. Itu saja harapanku saat ini.” Jelasku dengan sedikit terisak, sebab masalah yang aku hadapi sangat serius. Nyawaku sedang terancam. Staf KBRI dan Ketua PPMI berjanji akan memenuhi keinginanku itu. Aku mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka. Mereka minta maaf terlambat tapi itu karena pihak kepolisian Mesir yang membuat urusan berbelitbelit.

Sesedih apapun, kunjungan KBRI dan PPMI menambah kekuatan dalam diri. Kedatangan mereka berdua seolah berisi dorongan moral dari seluruh saudara setanah air di Indonesia. Di negeri orang, orang satu tanah air yang berlainan pulaupun menjadi seperti saudara sendiri. Apalagi yang satu pulau. Satu propinsi. Satu kabupaten. Satu kecamatan. Aku merasa diperhatikan oleh dua ribu lima ratus lebih mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Rasa cintaku pada mereka semakin membulat, juga pada segenap saudara di KBRI.

* * *

Satu hari menjelang sidang Aisha, paman Eqbal, dan Magdi datang membawa seorang pengacara bernama Amru. Dia menginginkan diriku menceritakan semua hal yang kira berkaitan dengan masalah yang sedang aku hadapi. Aku menceritakan semuanya dari kejadian ribut malam itu sampai berita terakhir dari Syaikh Ahmad bahwa Noura telah menemukan orang tuanya yang asli setelah melalui test DNA. Amru dan Magdi akan membantu sekuat tenaga untuk membebaskan aku dari segala tuduhan itu. Semua saksi dan bukti yang kira-kira bisa membela diriku akan dia gunakan. Amru juga mengingatkan diriku agar dalam sidang besok bersikap tenang dan tidak terpancing emosi. Sebab jaksa penuntut akan menggunakan teror kata-kata dan psikologis untuk melemahkan diriku dan menjebakku. Aku mungkin akan sangat dihina oleh kepandaiannya bersilat lidah dan berargumentasi tapi aku tidak boleh terbawa oleh irama permainannya. Kemungkinan besar besok adalah sidang untuk mendengarkan pengakuan Noura dan pengakuanku. Serta teror investigasi dengan perkataan dan pertanyaan di depan sidang. Aku mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya. Amru tersenyum.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.