Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Aku bergidik mendengarnya. Perlakuan mereka yang keji padaku terbayang kembali. Membuat hatiku perih dan sakit sekali. Aku tak bisa membayangkan sakitnya seorang perempuan diperkosa. Kehormatannya dinodai. Betapa sakitnya mereka. Gilanya aku dituduh melakukan perbuatan bejat yang menyakitkan perempuan itu. Perbuatan yang sangat kubenci dan kukutuk, tidak mungkin aku lakukan. Rasa gilu dan sakit bergumul dalam hati bercampur marah, bertumpuk-tumpuk, mendera-dera, menyesak-nyesak dalam dada.

“Sudahlah kita makan dulu. Alhamdulillah, ada sedikit rizki dari Allah Swt.!” kata Professor Abdul Rauf.

Haj Rashed mengambil bungkusan dari pojok ruangan. Tiga roti isy yang empuk dan lebar, satu ayam panggang digelar dan satu plastik apel. Aku bangkit duduk perlahan.

“Apakah semewah ini jatah dari penjara?” tanyaku.

“Tak lama lagi kau akan tahu seperti apa jatah penjara,” sahut Hamada.

“Lebih layak untuk santapan binatang!” tukas Marwan.

Haj Rashed berkata:

“Yang kita makan ini adalah kiriman dari isteri Professor Abdul Rauf. Untuk bisa memasukkan makanan ini ke penjara dia harus membayar seratus pound kepada petugas. Kirimannya juga dirampas setengahnya. Aslinya adalah dua botol susu, enam lembar roti Isy, dua buah ayam bakar dan dua kilo apel. Tapi para sipir itu minta separo bagian. Tidak setiap saat keluarga kami boleh mengirim makanan. Satu bulan hanya diizinkan dua kali saja. Makanan ini sudah datang sejak tadi pagi. Beberapa menit setelah kamu dibawa keluar. Kami tidak mungkin makan tanpa menunggumu. Kami yakin kau pasti sudah lapar. Wajahmu sedemikian pucatnya. Rasulullah tidak mengizinkan perut kita kenyang sementara orang terdekat kita kelaparan.”

Penjelasan Haj Rashed membuat diriku terharu. Bahwa diriku berada di tengah-tengah orang baik. Mereka begitu perhatian padaku. Kami pun makan bersama penuh nikmat dengan diselimuti rasa persaudaraan yang kuat. Setelah makan dan minum beberapa teguk susu tubuhku terasa memiliki kekuatan kembali.

Tak lama setelah itu seorang sipir menggedor pintu dan dari jeruji atas ia melemparkan enam roti isy kering. Ia melempar roti itu seperti melempar makanan pada anjing. Isy itu melayang bertebaran. Ada yang mengenai muka Professor. Ada yang jatuh di kaki Ismail dan ada yang masuk air yang menggenang di sebagian lantai.

“Ini jubnahnya!”[110] teriak sipir itu melempar bungkusan hitam.

Ismail memunguti isy itu dan mengumpulkannya. Yang jatuh ke genangan air ia pisahkan. Ia mengambil selembar Isya yang sudah kering itu serta bungkusan hitam dan menyerahkannya padaku.

“Inilah jatahnya. Sehari sekali. Coba kau lihat!” ujarnya padaku.

Aku pegang isy itu. Kering dan kaku. Kubuka plastik hitam, baunya sudah tidak karuan.

“Tapi kita tetap harus menerimanya dengan sabar. Yang jatuh ke dalam genangan air kotor itu pun suatu ketika ada gunanya. Dahulu baginda nabi dan para sahabat pernah sampai makan rerumputan dan akar pepohonan,” lanjut Ismail.

Kembali aku teringat hari-hari indah bersama Aisha. Makan tidak pernah kurang. Selama di Alexandria selalu di restoran hotel. Semua enak dan penuh gizi. Dan tiba-tiba kini aku harus siap dengan makanan yang layaknya untuk tikus dan kecoa. Aku masih merasakan Allah Maha Pemurah, makan pertama di penjara adalah ayam panggang lengkap dengan sebutir apel merah yang segar.

Malam harinya kami tarawih. Kami mengatur sedemikian rupa agar kami tetap bisa shalat tarawih berjamaah bersama. Haj Rashed minta satu juz dalam delapan rakaat. Inilah untuk pertama kalinya aku jadi imam tarawih di Mesir. Dan di dalam penjara. Setengah tiga kami bangun, tahajjud sebentar lalu sahur. Apalagi yang kami makan kalau bukan jatah tadi siang. Aku hampir muntah tapi kutahan-tahan. Kulihat Professor dan teman-teman lainnya makan dengan santai. Di pojok ruangan ada ember plastik. Kami bergantian minum dari air yang ada di ember itu.

“Kita beruntung minum dari ember. Di kamar paling pojok sana tempat airnya adalah kaleng bekas yang sudah karatan,” kata Hamada. Aku teringat Aisha, bagaimanakah dia sekarang. Apakah juga sedang sahur, ataukah sedang menangis sendirian. Aku sangat merindukannya.

* * *

Sampai hari ketiga ditahan, belum juga ada yang menjengukku. Meskipun diinterogasi dan dipaksa seperti apapun aku tetap bersikukuh tidak mau mengakui dakwaan itu. Aku tetap memilih membuktikan tidak bersalah di pengadilan. Pengadilan pertama akan digelar tiga hari lagi. Aku cemas. Aku perlu pengacara dan saksi yang membelaku bahwa aku tidak bersalah. Teman-teman satu rumah di Hadayek Helwan. Kelurga Tuan Boutros. Nurul dan teman-temannya. Dan Syaikh Ahmad. Mereka bisa menjadi saksi. Tapi bagaimana aku bisa menghubungi mereka. Isteriku, Aisha yang sangat kurindukan belum juga datang menjenguk. KBRI atau PPMI belum juga tampak batang hidungnya. Aku sangat gelisah dan sedih. Aku kuatir mereka tidak mau mengerti karena termakan oleh fitnah keji itu. Aku takut Aisha tidak percaya padaku dan membenciku. Aku tak kuat memendam semua kegelisahan dan kekuatiran ini. Akhirnya kuutarakan semuanya pada Profesor Abdul Rauf dan teman-teman.

“Fahri, kau jangan kuatir. Aku yakin mereka semua sudah tahu dan sudah bergerak. Cuma memang pihak kepolisian yang sengaja mengulur waktu agar kau tidak segera bisa bertemu dengan mereka. Dulu, waktu aku ditangkap, satu bulan keluargaku mencariku ingin bertemu tapi tidak bisa. Baru bulan kedua mereka menemukanku. Isterimu mungkin sekarang sedang pontang-panting dipermainkan para polisi tidak bertanggung jawab itu. Mungkin sudah sampai di kantor penjara ini. Tapi pihak keamanan akan bilang sudah dipindah ke Tahrir. Nanti yang Tahrir akan bilang dipindah ke Nasr City. Dan seterusnya. Begini saja nanti ibuku mau menjengukku. Berikanlah nomor handphone isterimu, biar ibuku memberitahu dia bahwa kau ada dipenjara ini,” kata Ismail memberi saran. Untung aku ingat nomor handphone Aisha. Aku beritahu nomor itu pada Ismail sampai dia hafal betul. Dan nanti ibunya akan menghafal nomor itu. Jika satu angka saja salah maka nasibku akan semakin buruk.

* * *

Hari keempat.

Setelah menerima sarapan pagi dari sipir penjara berupa cambukan, pukulan dan tamparan aku mendapat panggilan. Seorang sipir menggelandangku dengan tergesa-gesa ke balai pengobatan penjara. Seorang dokter militer dan dua perawat membersihkan muka dan beberapa bagian tubuhku yang luka. Penampilanku mereka perbaiki sedemikian rupa. Lalu aku diajak ke sebuah ruangan. Di sana ada tiga sosok menungguku, Paman Eqbal, Magdi penjaga apartemen kami dan seorang perempuan bercadar yang aku yakin dia adalah Aisha. Begitu melihat sosokku perempuan bercadar itu berhambur ke arahku. Ia memelukku erat-erat sambil menangis. Aku pun menangis. Ia menatapku dalamdalam dan meraba wajahku dengan kedua tangannya yang halus.

“Bagaimana keadaanmu, Fahri, Suamiku?”

“Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?”

Aisha menangis tersedu-sedu dalam pelukanku. “Apa dosa kita berdua Fahri sampai kita harus menanggung cobaan seberat ini. Aku nyaris kehilangan sesuatu yang paling berharga yang aku miliki kalau seandainya tidak diselamatkan oleh Magdi. Kau harus berterima kasih padanya. Dia telah menyelamatkan kesucian isterimu ini Fahri.” Aisha berkata sambil terisak-isak.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.