Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

“Aku ini orang paling besar cemburunya di dunia. Sebenarnya aku sudah bersabar dan beberapa memberi peringatan pada pria kurang ajar itu. Tapi dia sungguh keterlaluan. Rumah kami dua tingkat di atasnya. Suatu ketika isteriku belanja, ketika pulang satu lift dengannya. Di dalam lift itulah dia menggerayangi isteriku. Isteriku lapor padaku. Seketika itu juga kudatangi dia dan kupancung dia. Dia keliru kalau menganggap diriku tidak bisa berbuat sesuatu. Seandainya dengan perbuatanku ini aku akan dihukum mati aku akan menerimanya dengan senang hati. Aku merasa puas karena aku telah membela kehormatan isteriku.”

Cerita Marwan langsung mengingatkan diriku pada Aisha. Oh Aisha, dia tentu sangat sedih sekarang. Dia sendirian di flat memikirkan nasibku dengan penuh kecemasan. Aku menitikkan air mata dan berdoa kepada Allah agar memberikan ketabahan pada Aisha dan agar melindunginya dari segala mara bahaya.

“Orang Indonesia, siapkanlah mentalmu! Kau akan menghadapi hari-hari yang mencekam. Hari-hari yang tidak kau ketahui apakah kau masih hidup atau telah mati. Kamar kita ini hanya berukuran tiga kali tiga. Kau lihat aku berdiri di atas genangan Air. Padahal sekarang sudah mulai masuk musim dingin. Setengah ruangan ini tergenang air. Kau kini duduk dibagian yang kering. Selama ini kita tidur bergantian. Terkadang tidur sambil berdiri. Kita diberi kesempatan ke WC dan kamar mandi sehari sekali menjelang shubuh. Itupun dalam antrean yang panjang dan terkadang kita sama sekali tidak punya kesempatan ke WC karena waktu yang diberikan telah habis. Siapkanlah mentalmu!” kata Professor Abdul Rauf.

“Gelap dan pengap. Apakah kita berada di bawah tanah?” tanyaku.

“Benar! Oh ya, tadi kau pingsan cukup lama. Kelihatannya kau belum shalat ashar,” jawab Professor Abdul Rauf.

“Astaghfirullah. Pukul berapa sekarang?” tanyaku.

“Pastinya tidak tahu, tapi sebentar lagi maghrib datang.”

“Tayammum?”

“Ya.”

Aku lalu tayammum dan shalat. Selesai shalat Professor Abdul Rauf memimpin kami membaca doa dan dzikir sore hari. Ditutup doa rabithah yang dibaca oleh Haj Rashed. Tak lama setelah itu azan maghrib berkumandang. Adil bergumam lirih,

“Ya Allah, inilah saat malam-Mu datang menjelang, dan siang-Mu telah berlalu, dan inilah suara dari para penyeru-Mu maka ampunilah kami.”

Karena tempat yang sempit kami tidak bisa berjamaah sekaligus. Terpaksa dibagi dua jamaah bergantian. Aku diminta menjadi imam jamaah kedua, dengan alasan aku satu-satunya yang dari Al Azhar. Aku membaca surat Yusuf, ayat-ayat yang menceritakan nabi mulia itu dipenjara di Mesir karena tuduhan Zulaikha. Sungguh nasibku tak jauh berbeda dengan Yusuf. Noura mengaku aku telah memperkosanya. Aku menangis dalam shalat.

“Bacaan Al-Qur’anmu indah dan tartil, di mana kau talaqqi?” tanya Haj Rashed

“Di Shubra. Pada Syaikh Ustman Abdul Fattah.”

“Yang di masjid Abu Bakar itu?”

“Benar.”

“Pantas. Besok malam sudah mulai tarawih. Kau saja imamnya ya?”

Pertanyaannya kembali mengigatkan aku pada Aisha. Dia akan menjalani Ramadhan sendirian dengan hati sedih. Rencana umrah ke tanah suci dan berhari raya di Indonesia tidak jadi. Oh begitu cepat perubahan terjadi. Kemarin malam aku masih tidur nyaman di hotel berbintang di Alexandria bercinta dengan Aisha begitu mesranya. Malam ini aku meringkuk kedinginan di penjara bawah tanah. Aku nyaris tidak bisa memejamkan mata. Seluruh tulang terasa ngilu, kulit kedinginan, punggung perih bukan main, dan kemaluan sakit luar biasa. Bayangbayang kematian mengintai di semua sudut ruangan, tapi aku bersikeras untuk bertahan.

Keesokan harinya terdengar langkah sepatu bot. Lalu suara orang membentak sambil menggedor pintu sel, “Tahanan nomor 879!”

Tak ada yang menjawab. Semua diam. Ismail dan Haj Rashed berpandangan.

“Hai tahanan 879! Anjing! Dungu ya?” Sipir penjara itu marah sekali.

Ismail menepuk pundakku. “Coba lihat nomormu!” Pelannya. Ia lalu mendekatkan matanya ke dadaku. Dalam keremangan gelap tertulis di sana nomor 879. Berarti aku yang dimaksud. Aku lalu beranjak menuju pintu yang telah dibuka. Sipir itu langsung menarikku dengan kasar dan menendangku, “Dungu kau!”

Aku kembali dibawa ke ruang interogasi. Polisi hitam besar yang kemarin mengintrogasiku telah menunggu dengan segelas teh kental di tangan kanannya. Begitu aku masuk ia tersenyum sinis. Dua orang polisi yang kemarin menangkapku juga ada di situ. Si Hitam dan Si Gendut. Aku tidak melihat Si Kumis yang kurang ajar itu.

“Bagaimana orang Indonesia? Kau mau mengakui perbuatanmu? Aku berjanji akan mengusahakan keringanan hukumannya?” tanyanya.

“Aku tidak berubah pikiran. Aku tidak melakukan perbuatan dosa itu. Bagaimana mungkin aku akan mengakuinya. Aku akan buktikan bahwa aku tidak bersalah!” jawabku tegas.

“Semua penjahat selalu berkata begitu. Kau sungguh bodoh! Jika kau sampai ke meja hijau kau akan kalah. Bukti kau bersalah sangat kuat! Kau akan digantung! Kau masih punya kesempatan satu hari untuk berpikir. Sipir beri dia sedikit sarapan pagi biar pikirannya cerah!”

Dua anak buahnya itu lalu membawaku ke ruangan penyiksaan. Aku disuruh berdiri tegak. Si hitam mengangkat kursi kayu, dua kaki belakang kursi itu diletakkan diatas telapak kakiku. Dan Si Polisi Gendut lalu menduduki kursi itu. Terang saja aku menjerit kesakitan. Telapak kakiku terasa remuk tulangtulangnya. Dan ketika aku menjerit Si Hitam menjejalkan roti keras ke mulutku hingga menyodok tenggorokanku. Aku mau muntah tapi raoti kering itu tetap dijejalkan ke mulutku. Ketika aku sudah tidak tahan dan nyaris pingsan ia menarik roti itu dan si gendut bangkit dari kursi itu. Aku dibiarkan istirahat sebentar, lalu disuruh menghadap ke dinding dan dicambuk lima kali. Belum juga puas, mereka lalu menyodok perutku yang masih kosong dengan popor bedil tiga kali sampai aku muntah. Rupanya itu yang dimaksud dengan sedikit sarapan pagi. Dengan tubuh lemas aku diseret dan dilempar kembali di sel bawah tanah. Dan aku jatuh tertelungkup di dalam sel tak sadarkan diri.

 

24. Tangis Aisha

Yang kulihat pertama kali adalah wajah Ismail ketika aku bangun. Kepalaku ada di atas pahanya. Ia tersenyum padaku. Aku merasa haus sekali. Sejak kemarin tenggorokanku belum terkena setetes air sama sekali.

“Aku haus sekali,” lirihku sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhku.

“Hamada, ambilkan susu itu!” Kata Professor Abdul Rauf.

Hamada mengambil botol berisi susu dan meminumkan padaku. Aku menenggak tiga teguk. “Sudah,” kataku.

“Minumlah lagi, biar tubuhmu segar!” paksa Ismail.

Aku menenggak tiga teguk lagi. “Sudah!” kataku.

“Apa yang mereka perlakukan terhadapmu?”

Dengan suara terbata aku menceritakan semua bentuk penyiksaan yang aku terima sejak kemarin sampai tadi pagi. Juga perlakuan mereka yang keji atas kemaluanku.

“Mereka sungguh biadab!” geram Ismail mendengar ceritaku.

“Mereka memang sangat biadab. Lebih biadab dari Iblis! Dan apa kau terima masih belum seberapa dibandingkan para ulama yang disiksa habis-habisan tahun enam puluhan. Bahkan ada dua orang ulama yang ditelanjangi dan dipaksa melakukan perbuatan kaum nabi Luth. Tentu saja mereka tidak mau melakukan perbuatan terkutuk itu. Akhirnya mereka berdua mati syahid jadi santapan anjing ganas yang lapar.” Kisah Professor Abdul Rauf dengan suara bergetar.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.