Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

“Kapten, aku memilih membuktikan di pengadilan bahwa aku tidak bersalah. Aku yakin negara ini punya undang-undang dan hukum. Aku minta disediakan pengacara!”

“Tindakan bodoh! Di pengadilan kau akan kalah! Kau akan dihukum gantung! Lebih dari itu kau akan masuk surat kabar! Kau akan diteriaki orang-orang sebagai pemerkosa! Kenapa kau tidak memilih mengakuinya dan kita tutup kasus ini diam-diam. Kita buat kesepakatan-kesepakatan dengan keluarga Noura sekarang. Kalau mereka memaafkan kau mungkin akan bernasib lebih baik.Kami masih sedikit berbelas kasihan padamu karena kau orang asing. Kalau kau orang Mesir sudah kami binasakan!” bentak polisi hitam dengan mata melotot.

“Aku bukan pelaku pemerkosaan itu Kapten! Aku akan buktikan bahwa aku tidak bersalah!” tegasku.

“Baiklah aku akan memberimu waktu berpikir dua hari. Jika kau tetap bersikeras tidak mau mengaku dan mengambil jalan kompromi maka terpaksa kau kami seret ke meja hijau dan jangan salahkan kami jika nasibmu berakhir di tiang gantungan dan namamu dilaknat semua orang!”

“Yang berhak melaknat hanya Allah. Dan hanya Allahlah yang tahu segalanya. Aku tidak akan takut dengan caci maki manusia selama aku merasa berada di jalan yang benar!”

“Hahaha…kau ini sok pintar! Jalan benar apa? Apa memperkosa itu jalan yang benar? Kau ini sudah selesai S.1. di Al Azhar. Gadis-gadis Indonesia saja banyak kenapa ketika itu kau tidak memilih menikah dengan salah satu dari mereka. Kenapa kau malah memilih memperkosa gadis malang itu dengan purapura mau menolong? Dan itu kau anggap jalan yang benar? Dasar anak anjing!

Dasar anak pelacur!” Polisi hitam itu mengumpat-umpat kasar. Entah kenapa mendengar kalimat umpatan terakhir darahku mendidih.

“Kau yang anak anjing! Wajahmu hitam penuh dosa! Kau yang anak pelacur! Yakhrab baitak!” balasku mengumpat dengan sama kasarnya. Wajah polisi itu semakin gosong. Giginya gemerutuk seperti monster mau menelanku. Ia pun melayangkan tangan kanannya ke mukaku.

“Bawa dia ke penjara dan cambuk sepuluh kali atas penghinaannya padaku!” Perintahnya pada tiga anak buahnya yang tadi menangkapku. Tiga polisi itu lalu menggelandangku ke penjara. Inilah untuk pertama kalinya aku masuk penjara. Kami melewati sel-sel yang berisi tahanan yang semuanya orang Mesir. Mereka semua terheran-heran melihat kehadiranku. Tiga polisi itu terus menggelandangku hingga sampai disebuah ruangan kosong. Ada sebuah kursi kayu kusam dan didindingnya tergantung beberapa alat penyiksa. Cambuk. Pentungan dari karet. Ganco. Tali. Dan lain sebagainya.

Polisi gendut melepas pakaianku. Lalu menyuruhku berdiri menghadap tembok. Setelah itu aku merasakan sabetan cambuk yang perih di punggungku. Tidak sepuluh kali tapi lima belas kali. Aku merasakan sakit luar biasa. Mereka lalu melepas borgolku dan menyeretku ke sebuah ruangan, melucuti semua pakaianku kecuali pakaian dalam. Juga sepatuku. Dalam keadaan hanya memakai celana dalam mereka menggunduliku. Lalu melempar seragam tahanan ke arahku. Cepat-cepat aku menutup aurat. Si Kumis menyuruh aku berdiri tegap dengan tangan diletakkan dibelakang punggung. Si Hitam memegang kedua tanganku yang kulipat dibelakang punggung kuat-kuat. Sementara Si Gendut mengikat kedua kakiku. Lalu dengan sangat kurang ajar Si Kumis mempermainkan kemaluanku. Aku menjerit-jerit dan meronta-ronta. Meludahi Si Kumis. Tapi mereka terus saja terbahak-bahak seperti setan. “Ini yang digunakan untuk memperkosa itu oh..oh..oh! Burung kakak tua..hehehe..kecil sekali tak ada apaapanya dengan milikku…hehehe..tapi berani kurang ajar ya hehehe..hahaha!”

Sungguh perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Aku merasakan penghinaan yang luar biasa. Aku belum pernah merasakan diriku dihina dan kehormatanku dinistakan senista itu. Aku lebih suka dirajam daripada dihina seperti itu. Jika aku sampai terlihat mengucurkan air mata, maka ketiga setan itu akan semakin gila tertawanya. Aku merintih dalam hati. Batinku menangis sejadijadinya memohon keadilan kepada Allah. Agar mereka diganjar atas kekurangajaran mereka. Aku terus menjadi bulan-bulanan mereka sampai aku tidak sadarkan diri.

* * *

Ketika sadar, aku berada di sebuah kamar gelap dan pengap.

“Alhamdulillah, kau sudah sadar.” Suara orang yang kurasa sangat tua. Di keremangan cahaya buram lampu di luar kamar yang masuk melalui jeruji pintu sel aku bisa menangkap wajah orang tua berjenggot putih duduk di dekatku.lalu empat orang lainnya. Dua setengah baya dan dua lainnya muda. Mereka semua memakai pakaian tahanan yang lusuh.

“Kelihatannya kau bukan orang Mesir?” tanya kakek tua ramah. Aku sedikit tenang mendengar suaranya yang lembut. Tapi aku kuatir dengan yang empat, kalau mereka orang-orang yang jahat aku bisa jadi bulan-bulanan di penjara ini. Aku pernah mendengar adanya hukum rimba di dalam penjara. Apalagi aku asing sendiri di sini.

“Dari Indonesia.”

“Siapa namamu?”

“Fahri Abdullah Shiddiq.”

“Nama yang bagus. Namaku Abdur Rauf.”

“Apa yang kau lakukan di Mesir?”

“Hanya belajar.”

“Di mana?”

“Di Al Azhar.”

“Masya Allah. Lantas bagaimana ceritanya kau bisa masuk penjara ini?”

“Musibah ini datang begitu saja. Aku dituduh memperkosa gadis Mesir, padahal aku tidak pernah melakukan perbuatan keji itu. Bagaimana mungkin aku akan melakukannya padahal aku memiliki seorang ibu, bibi, isteri dan nanti mungkin seorang anak perempuan. Aku terkadang tidak bisa memahami sistem yang berlaku di negara ini?”

“Di mana kau ditangkap?”

“Di rumah.”

“Nasibmu masih lebih bagus dariku Anak muda. Aku ditangkap disaat sedang menguji tesis magister di universitas. Di depan sekian banyak orang aku diperlakukan seperti tikus.”

“Jadi Anda seorang guru besar?”

Pemuda berwajah putih yang sejak tadi mematung di pojok ruangan menyahut sambil mendekat, “Beliau adalah Prof. Dr. Abdur Rauf Manshour, guru besar ekonomi pembangunan di Universitas El-Menya. Beliau kemungkinan ditangkap karena kritik-kritik tajamnya di koran! Oh ya perkenalkan namaku Ismail, mahasiswa kedokteran tahun ketiga Universitas Ains Syam, ditangkap karena memimpin demonstrasi di dalam kampus mengutuk tindakan Ariel Sharon menginjak-injak Masjidil Aqsha dan perlakuan kejam tentara Israel pada anakanak Palestina terutama penembakan Muhammad Al Dorrah dua tahun lalu.”

“Jadi kau sudah dua tahun mendekam di sini?”

“Ya.”

“Dan hanya karena memimpin demonstrasi di dalam kampus?”

“Ya.”

“Aku lebih tragis lagi!” Pemuda yang satunya menyahut, “aku tidak melakukan apa-apa juga ditangkap. Kau tentu tahu demonstrasi di masjid Al Azhar usai shalat Jum’at satu tahun yang lalu yang menentang agresi Amerika ke Afganistan. Demonstrasi itu tidak besar. Bisa dikatakan bukan demonstrasi malah. Lebih tepat dikatakan protes. Ketika orang-orang bertakbir aku ikut bertakbir. Hanya itu. Keluar masjid aku ditangkap dan mendekam di sini sampai sekarang. Kenalkan namaku Ahmad biasa dipanggil Hamada. Aku tidak kuliah, lulus SLTA langsung bekerja di penerbit Muassasa Resala.”

“Muassasa Resala di dekat Abidin Attaba itu?” tanyaku.

“Benar.”

Kami lalu berbincang banyak dan saling mengenal satu sama lain. Dua lelaki setengah baya bernama Haj Rashed, dia kepala sekolah SD dan imam sebuah masjid kecil di Mathariyah. Ditangkap dua bulan lalu karena khutbah Jum’atnya yang pedas. Yang satunya bernama Marwan, mantan pegawai jawatan kereta api, dipenjara sejak setengah tahun lalu karena membunuh tetangganya yang menggoda isterinya.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.