Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Selesai membersihkan badan dengan air hangat kami shalat berjamaah. Selesai shalat aku turun ke bawah membawa oleh-oleh untuk Hosam dan Magdi. Dua bungkus ayam panggang dan dua jaket baru. Mereka senang sekali menerimanya. Aku kembali naik dan mengajak Aisha istirahat. Ketika mata baru saja akan terlelap, Aisha terbangun dan berlari ke kamar mandi. Ia muntahmuntah. Kubuntuti dia. Kupijit-pijit tengkuknya. Mukanya pucat. Dalam pikiranku dia masuk angin dan kelelahan. Ia telah bekerja keras, memforsir tenaga dan pikirannya untuk menulis biografi ibunya selama di Alexandria. Ia juga harus konsentrasi selama tiga jam mengendarai mobil. Aku merasa sangat kasihan pada isteriku. Aku berniat aku harus bisa menyetir agar isteriku tidak kelelahan. Kugosok punggungnya dengan minyak kayu putih. Telapak tangan, kaki, perut dan lehernya kuolesi minyak kayu putih. Kubuatkan ramuan obat andalanku jika lelah dan meriang. Segelas madu hangat diberi habbah barakah. Rasulullah pernah memberi tahu bahwa habbah barakah bisa menjadi obat segala penyakit. Setelah meminum ramuan itu Aisya kuajak tidur.

Pagi hari ia tampak segar. Pukul sembilan saat aku bersiap mengajaknya ke rumah sakit Maadi. Tiba-tiba dia kembali muntah-muntah. Aku bingung. Aku takut ia terkena penyakit yang orang Jawa bilang masuk angin kasep, yaitu masuk angin yang bertumpuk-tumpuk dan parah. Aku urung ke Maadi, dengan taksi kubawa Aisha ke klinik terdekat. Seorang dokter berjilbab memeriksanya. Hampir setengah jam lamanya Aisha berada dalam kamar periksa dengan dokter berjilbab. Ketika keduanya keluar, dokter berjilbab itu tersenyum, “Selamat! Setelah kami periksa air seninya dan kami lanjutkan dengan USG, isteri anda positif hamil!”

Wajah Aisha cerah. Kepadaku ia mengerlingkan mata kanannya. Aku merasakan kebahagiaan luar biasa. Begitu sampai di flat Aisha berkata dengan wajah cerah,

“Melodi cinta yang kau mainkan sungguh ampuh suamiku. Dan memang saat malam pertama dan malam-malam indah setelah itu adalah saat aku sedang berada dalam masa subur. Allah telah mengatur sedemikian indahnya. Segala puji bagi-Nya yang telah memberikan anugerahNya yang agung ini pada kita berdua.”

Aku tersenyum dan langsung mencium pipinya yang bersih. Aisha menggeliat manja. Ia lalu mengangkat telpon memberi tahu bibinya, Sarah. Ia juga memberi tahu Akbar Ali, pamannya di Turki. Aku melihat kalender. Tak terasa kami telah hidup bersama sejak malam pertama itu selama satu bulan lebih. Hari-hari indah selalu berlalu begitu saja tanpa terasa. Rasanya aku baru sehari bersama Aisha.

Untuk menghayati keagungan nikmat yang telah Tuhan berikan, kuajak Aisha sujud syukur dan shalat dhuha. Kepadanya aku berpesan untuk tidak banyak beraktifitas keluar rumah. Menjelang zhuhur aku bersiap untuk menjenguk Maria yang sakit. Aisha kuminta di rumah. Dia pesan dibelikan buah pir dan korma. Tiba-tiba ada orang membunyikan bel dengan kasar sekali. Aku bergegas membuka pintu dibuntuti Aisha yang penasaran siapa yang membunyikan bel seperti orang gila itu. Begitu pintu kubuka. Tiga orang polisi berbadan kekar menerobos masuk tanpa permisi dan menghardik,

“Kau yang bernama Fahri Abdullah?!”

“Ya benar, ada apa?”

“Kami mendapatkan perintah untuk menangkapmu dan menyeretmu ke penjara, ya Mugrim!”[109] bentak polisi yang berkumis tebal.

“Kalian bawa surat penangkapan dan apa kesalahanku?”

“Ini suratnya, dan kesalahanmu lihat saja nanti di pengadilan!”

Aku membaca selembar kertas itu. Aku ditangkap atas tuduhan memperkosa. Bagaimana ini bisa terjadi.

“Ini tidak mungkin! Ini pasti ada kesalahan. Saya tidak mau ditangkap!” bantahku.

“Jangan macam-macam, atau kami gunakan kekerasan!” bentak polisi Mesir. Aku sangat geram pada sikapnya yang sangat jauh dari sopan dan kelihatan sangat angkut. Aisha cemas dan memegangi tanganku. Polisi Mesir itu berkatakata dengan suara keras seperti anjing menyalak.

“Ayo ikut kami!” tegas polisi kurus hitam sambil memegang erat-erat tangan kananku. Aku menarik tanganku tapi polisi hitam mencengkeramnya kuatkuat dan memasang borgol. Tangan kiriku dipegang Aisha, dia menangis.

“Ada apa ini Fahri, ada apa!?” tanya Aisha dengan muka pucat.

Polisi berkumis menarik tangan kiriku dari pegangan Aisha dan memaksa memborgolku.

“Sebentar Kapten biarkan aku sedikit bicara pada isteriku!?” ucapku dengan suara tegas.

“Boleh. Dua menit saja!” kata Si Kumis.

Aku lalu menjelaskan pada Aisha, hal seperti ini sering terjadi di Mesir. Polisi Mesir tidak memakai azas praduga tak bersalah. Tapi praduga bersalah. Jika dicurigai langsung ditangkap akan dibebaskan kalau terbukti tidak bersalah. Aku berpesan pada Aisha untuk bersabar dan langsung menghubungi Paman Eqbal, teman-teman PPMI, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia. Surat penangkapannya kuminta untuk aku berikan kepada Aisha. Tujuanku agar nanti mudah dilacak keberadaanku. Tapi polisi itu tidak memperbolehkannya. Aku pun pasrah digelandang tiga polisi itu. Kulihat Aisha terisak-isak. Aku dibawa turun melalui lift. Di halaman mobil kerangkeng besi menungguku. Sebelum masuk mobil kerangkeng aku sempat mendongakkan kepala ke arah jendela flat lantai 7. Di sana kulihat wajah Aisha yang basah air mata. Aku tidak tahu akan dibawa ke mana. Dalam beberapa jam saja kegembiraan yang aku rasakan berubah menjadi kesedihan dan kecemasan. Kota Cairo yang indah tiba-tiba terasa seperti sarang monster yang menakutkan.

 

23. Dalam Penjara Bawah Tanah

Aku dibawa ke markas polisi Abbasea. Diseret seperti anjing kurap. Lalu diinterogasi habis-habisan, dibentak-bentak, dimaki-maki dan disumpahserapahi dengan kata-kata kotor. Dianggap tak ubahnya makhluk najis yang menjijikkan. Tuduhan yang dialamatkan kepadaku sangat menyakitkan: memperkosa seorang gadis Mesir hingga hamil hampir tiga bulan.

“Orang Indonesia kau sungguh anak haram. Saat mengandung dirimu, ibumu makan apa heh? Makan bangkai anjing ya? Kau pura-pura menolong gadis malang itu ternyata kau menerkamnya. Kau berani menginjak-injak kehormatan perempuan kami. Kau ini mahasiswa Al Azhar, katanya belajar agama, ternyata manusia bejat berwatak serigala!” Seorang polisi hitam besar membentakku lalu menampar mukaku dengan seluruh kekuatan tangannya. Kurasakan darah mengalir dari hidungku.

“Akui saja, kau yang memperkosa gadis bernama Noura yang jadi tetanggamu di Hadayek Helwan pada jam setengah empat dini hari Kamis 8 Agustus yang lalu? Akui saja, atau kami paksa kau untuk mengaku! Jika kau mengakuinya maka urusannya akan cepat.”

Kata-kata polisi itu membuatku kaget bukan main. Noura hamil dan aku yang dituduh memperkosanya. Sungguh celaka!

Dengan tetap berusaha berkepala dingin aku mencoba menjelaskan kepada mereka itu adalah sebuah tuduhan keji. Lalu kujelaskan semua kronologis kejadian malam itu. Sejak mendengar jeritan Noura disiksa ayah dan kakaknya sampai paginya dititipkan ke rumah Nurul. Tapi penjelasanku dianggap seolah suara keledai. Mereka malah tertawa. Dan menjadikan aku bulan-bulanan oleh hinaan, makian dan tamparan yang membuat bibirku pecah.

“Kami memiliki bukti kuat kaulah pemerkosa gadis malang itu. Dia sangat menyesal mengikuti bujuk rayumu. Dia telah menceritakan semuanya. Dan dia juga punya saksi kau melakukan perbuatan terkutuk yang merusak masa depannya itu. Kau sudah tahu bahwa hukuman pemerkosa di negara ini adalah hukuman gantung. Sekarang kau hanya memiliki dua pilihan. Mengakui perbuatanmu itu, dan kau mungkin akan mendapat keringanan atas kerja samamu. Sehingga kau mungkin tidak akan dihukum gantung. Atau kau tetap bersikeras mengingkarinya dan terpaksa nanti pengadilan akan menggantungmu. Pilih mana?” Polisi hitam besar kembali menggertak. Hatiku sempat ciut. Aku teringat ulama-ulama yang mengalami nasib tragis di tangan para algojo negara ini. Apa pun jalannya, kematian itu satu yaitu mati. Allah sudah menentukan ajal seseorang. Tak akan dimajukan dan dimundurkan. Maka tak ada gunanya bersikap lemah dan takut menghadapi kematian. Dan aku tidak mau mati dalam keadaan mengakui perbuatan biadab yang memang tidak pernah aku lakukan.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.