Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Kami lalu merancang agenda setengah tahun ini. Awal bulan depan Aisha minta ke Alexandria, satu minggu saja, masih dalam rangkaian bulan madu. Dia juga minta umrah dan selama bulan puasa sampai hari raya ada di tengah keluarga di Indonesia. Akhirnya sepakat awal Ramadhan pergi umrah, sepuluh hari di tanah suci dan langsung terbang ke Indonesia.

Lalu kami membuat rencana satu bulan ke depan. Lebih banyak di rumah. Aisha membuat jadwal kami bermain cinta. Naik perahu berdua di sungai Nil. Menyaksikan pagelaran musik rakyat Palestina di Opera House. Melihat pertunjukan drama komedi di Ballon Teater. Pergi ke El-Mo’men Restaurant. Ke Masjid Musthofa Mahmud mendengarkan ceramah Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi yang rencananya lima hari lagi akan datang dari Syiria. Aku menambah jadwal talaqqi qiraah sab’ah pada Syaikh Utsman dan berkunjung ke rumah Syaikh Abdul Ghafur Ja’far. Aisha menekankan: Dan ke Alexandria!

Kami lalu membuat jadwal harian. Kapan baca Al-Qur’an dan tadabbur bersama. Shalat dhuha. Shalat malam. Waktu menerjemah dan waktu yang tepat untuk bercinta. Begitu selesai membuat rancangan peta hidup Aisha berkata,

“Sayang, aku punya puisi indah untukmu dengarkan:

agar dapat melukiskan hasratku, kekasih,

taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu

Aku langsung menyahut dengan suara lantang seperti Antonius merayu Cleopatra:

ciuman dalam malam yang hidup,

dan deras lenganmu memeluk daku

seperti suatu nyala bertanda kemenangan

mimpikupun berada dalam

benderang dan abadi

Di tepi sungai Nil, hari-hari yang indah kami lalui bersama. Semua serba indah. Dunia terasa milik kami berdua. Kenikmatan demi kenikmatan, kebahagiaan demi kebahagiaan kami reguk bersama. Seperti di surga. Muncul kebiasaan baru Aisha, ia tidak bisa tidur kecuali aku membelai-belai rambutnya dan mengelus-elus ubun kepalanya, seperti seorang ibu menidurkan bayinya. Aku juga semakin banyak tahu watak dan karakter Aisha, tingkahnya kalau merajuk, tidak suka, marah, caranya memuji, hal-hal yang ia sukai dan ia benci, juga pengalaman hidupnya sejak kecil. Suatu kali sebelum tidur Aisha bercerita, “Ibu sering mengajariku agar berdoa dalam sujud saat shalat malam: Ya Allah, letakkanlah dunia di tanganku, jangan di hatiku.”

 

20. Surat dari Nurul

Dua hari menjelang keberangkatan ke Alexandria kami belanja ke Attaba. Pasar rakyat paling besar di Mesir. Tak ada trasnportasi langsung dari ke sana. Kami naik bis mini dari mahattah Abul Fida yang tak begitu jauh dari apartemen kami menuju Tahrir. Sampai di Tahrir kami naik metro bawah tanah ke Attaba. Aisha iseng minta diajak melihat toko-toko buku loakan. Dua jam kami di sana. Aku menemukan beberapa buku yang bisa dijadikan referensi. Aisha hanya melihat-lihat dan membolak-balik buku. Akhirnya ia membeli empat bundel komik Donald Bebek.

“Kau aneh sekali, untuk apa Sayang?” heranku. Bagaimana tidak heran, orang secerdas dan sedewasa dia kok beli komik Donald Bebek.

“Untuk belajar bahasa Arab. Ini ‘kan komik bahasa Arab. Aku ingin tahu kalimat-kalimat yang lucu. Nanti kalau kita punya anak ini juga ada gunanya. Aku suka anakku nanti tertawa-tawa renyah. Karena tertawa adalah musiknya jiwa. Dan rumah kita nanti tidak sepi,” jawab Aisha santai. Cara berpikir Aisha yang mahasiswi psikologi terkadang menarik dan mengejutkan.

Sampai di rumah kulihat Aisha sangat kelelahan. Perjalanan dari Attaba sampai rumah memang sangat melelahkan. Padahal sebenarnya tidak terlalu jauh. Transportasinya yang memang melelahkan. Metro bawah tanah penuh sesak orang yang pulang kerja. Juga bis mininya. Kami berdua berdesakan. Aku sangat hatihati menjaga Aisha. Aku tak ingin ada tangan jahil menyentuhnya. Setelah membuka cadar dan jilbabnya, Aisha langsung menyalakan AC dan membanting tubuhnya di sofa. Ia mengatur nafasnya. Mukanya yang putih memerah dan pucat. Kuambilkan air mineral dingin untuknya. Ia menerima dengan tersenyum.

“Danke, mein Mann,” [104] lirihnya.

“Bitte.”[105]

Selama ini kami memang berkomunikasi dengan tiga bahasa; Jerman, Arab, dan Inggris. Lebih banyak pakai bahasa Arab. Aisha yang memintanya untuk terus memperbaiki bahasa Arabnya. Jika dia kehabisan kosa kata ia akan mengatakannya dalam bahasa Inggris atau Jerman.

“Sayang, capek ya berdiri dan berdesakan,” tanyaku sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas.

“Ya.”

“Di Jerman kalau berangkat kuliah gimana? Sering berdesakan seperti tadi nggak?”

“Transportasi di Jerman sangat baik tidak seperti di Mesir. Dan kebetulan aku jarang naik angkutan umum.”

“Terus? Jalan kaki? Apa kontrakanmu dekat dengan kampus?”

“Tidak juga. Aku menyewa rumah lima kilo dari kampus. Dan alhamdulillah aku punya mobil sendiri.”

Aku langsung tahu apa yang harus aku lakukan. Sangatlah zhalim diriku kalau aku membiarkan isteriku sedemikian tersiksa dan berdesakan sementara di tanganku ada tiga juta dollar lebih. Aku jadi teringat nasihat Syaikh Ahmad, “Jangan kau paksakan isterimu mengikuti standar hidupmu yang sangat sederhana. Jangan pelit dan jangan boros!”

“Mobilmu apa, Sayang?”

“Land Cruiser. Aku suka model Jeep.”

Aku menawarkan, bagaimana kalau membeli mobil. Ternyata sebenarnya itu juga ingin dia bicarakan padaku sejak tiga hari yang lalu. Cuma dia maju mundur akhirnya tidak berani bicara. Takut kalau aku tidak setuju. Aku tekankan padanya untuk tidak menyembunyikan keinginan apa pun dariku.

“Meskipun kusembunyikan toh kelihatannya kau bisa membaca keinginanku. Kau memang suami yang baik,” pujinya.

Aku harus mencari orang yang tahu seluk beluk mobil di Mesir. Biar tidak kena tipu. Biar urusan dengan kepolisian mudah dan lain sebagainya. Aku teringat Yousef, adiknya Maria. Bagaimana kabar mereka? Sudah pulang dari Hurgada apa belum ya? Sudah tahu aku menikah apa belum? Aku perlu menghubungi Yousef. Ia kelihatannya tahu seluk beluk mobil. Selama jadi tetangganya kulihat sudah tiga kali ganti mobil.

“Hallo. Yousef?”

“Ya. Ini siapa?”

“Fahri. Kapan pulang?”

“Baru tadi pagi. Selamat ya atas pernikahannya. Aku sudah diberi tahu sama Rudi. Sayang sekali. Kami menyesal. Seharusnya kami menelpon kalian begitu tiba di sana dan memberikan nomor telpon hotel kami menginap.”

“O tidak apa-apa. Mama dan papa juga sudah pulang juga?”

“Belum. Mereka masih akan di sana satu minggu lagi. Tapi Maria sudah pulang. Mau bicara sama dia?”

“Tidak. Lain kali saja. Salam buat dia. Oh ya, aku mau minta tolong padamu. Bagaimana kita secepatnya bisa bertemu?”

“Kau sekarang ada di mana?”

“Di Zamalik. Muhammad Mazhar Street.”

“Kedutaan Swedia?”

“Lurus ke utara ada Apartemen tertinggi di ujung pulau. Flat nomor 21.”

“Malam ini juga aku ke sana. Aku sudah rindu ingin ketemu padamu sekalian aku bawakan kado istimewa.”

“Terima kasih, kutunggu.”

* * *

Pukul delapan malam Yousef datang bersama Maria. Yousef masih seperti biasa, cerah dan ceria melihatku. Maria agak lain, dia sama sekali tidak cerah. Dingin. Tersenyum pun tidak. Mungkin belum hilang lelahnya dari Hurgada.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.