Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Sore itu selepas ashar beliau datang. Aisha dan Ummu Aiman, isteri beliau, berbincang di ruang tamu. Sementara beliau kuajak ke perpustakaan, aku ceritakan semua masalahku pada beliau terutama masalah amanat yang dibebankan Aisha.

“Syaikh, aku sangat takut dengan sindiran Allah dalam Al-Qur’an, Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran.[101] Aku takut kalau sampai melampaui batas Syaikh,” ucapku pada Syaikh Utsman.

“Akhi, yang melampaui batas adalah mereka yang tidak memiliki rasa takwa dan tidak merasa diawasi oleh Allah. Selama seseorang masih memiliki rasa takut dan diawasi Allah maka, insya Allah, dia tidak akan sampai melampaui batas. Masalah menginfakkan harta yang dalam tuntunan Al-Qur’an kau pasti sudah tahu,” jawab beliau.

Kemudian beliau banyak memberikan nasihat dan saran, terutama yang berkaitan dengan perjalanan hidup dengan seorang isteri. Bahwa dalam bersuamiisteri ada selalu ada dua kemauan, watak, sifat yang terkadang berbeda. Seni mengolah perbedaan menjadi sebuah keharmonisan ibadah itulah yang harus diperhatikan.

Menurut beliau aku tidak perlu pindah dari flat yang telah aku tempati. Karena tidak menyewa dan milik Aisha. Ini sekaligus untuk menyenangkan hati Aisha yang memiliki kenangan indah di flat ini bersama ibunya. Apalagi flat ini terletak di tempat yang sangat tenang dan kondusif untuk menulis tesis. Tak jauh dari flat ini ada perpustakaan IIIT. Hanya dengan berjalan kaki sepuluh menit sudah sampai ke sana. Juga dekat dengan salah satu kampus Universitas Helwan. Masjid juga dekat. Tinggal bersyukur kepada Allah. Beliau juga meminta kepadaku untuk terus menggali semua pengalaman hidup yang telah dijalani Aisha. Agar aku bisa bersikap arif pada Aisha. Beliau meminta kepadaku untuk mengetahui gaya hidupnya sejak kecil. Beliau meminta agar aku bijaksana tidak memaksakan Aisha mengikuti gaya dan standar hidupku yang memang sangat sejak kecil sederhana. Beliau meminta untuk hidup sewajarnya. Zuhud tidak berarti tidak mau menyentuh sama sekali nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt, tapi zuhud adalah mempergunakan nikmat itu untuk ibadah. Tidak selamanya orang yang makan dengan hanya roti kering dan seteguk air lebih baik dari orang yang makan roti cokelat dan segelas susu. Jika dengan makan roti cokelat badan menjadi sehat dan segar, ibadah khusyu dan tenang, bisa bekerja dengan lebih baik dan bersemangat serta merasakan keagungan Allah yang telah memberikan nikmat tentu lebih baik dengan yang makan roti kering tapi lemas dan berkeluh kesah saja kerjanya. Tidak selamanya yang berjalan kaki lebih baik dari yang naik mobil. Jika dengan naik mobil lebih bisa mengefisienkan waktu, ibadah lebih tenang karena tidak capek dan lebih bisa banyak melakukan kegiatan yang bermanfaat tentu sangat baik.

“Jangan terlalu pelit dan jangan terlalu boros. Dua kelakuan itu berakibat penyesalan dan sangat dicela Allah Swt, firman-Nya dalam Al-Qur’an, ‘Dan jangan kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.’[102]

Beliau lalu memberi tahu hal-hal yang sangat disukai oleh seorang isteri. Beliau menyuruh agar tidak segan-segan mengungkapkan perasaan cinta. Seorang isteri paling suka dipuja dan dicinta. Juga tidak segan mengajak isteri ke toko pakaian dan toko perhiasan. Sering-sering minta pendapat, suatu kehormatan bagi seorang isteri merasa dirinya sangat penting bagi pengambilan keputusan sang suami. Dari kunjungan Syaikh Ahmad aku banyak mendapatkan banyak sekali pelajaran kehidupan yang berarti. Aku merasa lebih siap dengan hidup yang sedang aku jalani. Ada kata-kata beliau yang sangat menyentuh diriku,

“Aku pernah mengalami hal yang sama dengan dirimu. Ummu Aiman adalah puteri tunggal konglomerat di Maadi. Ia menyerahkan kekayaannya sepenuhnya di tanganku. Aku dulu juga bingung, aku pergi ke tempat seorang ulama dan beliau memberikan nasihat seperti apa yang aku nasihatkan padamu. Ada satu hal yang harus kau ingat baik-baik. Banyak lelaki yang menjadi kerdil setelah memiliki isteri yang cantik dan kaya raya. Semangat juang dan kerja kerasnya luntur. Tapi kita mempunyai teladan yang mulia yaitu Rasulullah Saw. Isteri beliau, Sayyeda Khadijah, adalah konglomerat Makkah pada zamannya, dan itu tidak membuat beliau kerdil tapi justeru sebaliknya dengan kekayaan isterinya itu beliau menegakkan agama Allah. Maka kau tidak boleh kerdil. Kau harus terus bekerja, menerjemah dan berkarya lebih keras!”

Malamnya aku ajak Aisha berbincang-bincang di perpustakaan sambil mendengarkan dendangan nasyid Rasailul Asywaq[103] yang indah dibawakan anakanak Mesir. Kami duduk di lantai beralas karpet. Aku bentangkan dua kertas karton berisi rancangan peta hidup yang telah aku buat beberapa bulan yang lalu sebelum menikah. Peta hidup sepuluh tahun ke depan. Dan rancangan satu tahun. Tentunya peta hidup itu harus dirubah. Melihat apa yang aku gelar mata Aisha terbelalak.

“Subhanallah! Bagaimana mungkin kita memiliki kebiasaan yang sama. Ibuku sejak kecil telah mengajarkan hal seperti ini padaku. Dan aku juga memiliki peta dan rancangan seperti ini. Rancangan peta hidup sepuluh tahun ke depan. Rancangan kegiatan tahunan, bulanan, mingguan, dan harian. Tunggu sebentar ya Sayang!” Aisha beranjak menuju kamar utama. Lalu kembali dengan membawa agenda biru.

“Ini telah peta hidupku sepuluh tahun ke depan. Memang kita harus membuat peta hidup bersama,” kata Aisha gembira.

Kami pun lalu merancang bersama. Dalam rancangan Aisha, awal April kembali ke Munchen untuk menyelesaikan S1. Lalu S2 di Sorbonne University dan S3 di Bonn University. Sementara aku masih harus menulis tesis, kalau lancar baru dua tahun lagi selesai dan langsung S3 di Al Azhar. Harus ada kompromikompromi. Jika Aisha transfer S1 ke Mesir, bukan tidak mungkin tapi sangat susah. Proses administrasi universitas-universitas Mesir sangat melelahkan. Jika aku ikut ke Jerman juga bukan tidak mungkin, tapi susah, target selesai master dua tahun lagi bisa molor. Di Jerman tidak ada bahan yang cukup untuk menulis tesis disiplin ilmu tafsir. Harus ada jalan keluar.

Akhirnya kami sepakat melakukan kompromi. Jalan tengahnya adalah Turki. Di Turki semua target bisa dikejar. Rencananya bulan April tahun depan berangkat ke sana. Aisha bisa transfer S1 ke Istanbul University. Prosesnya mudah. Aisha bahkan tidak perlu repot mengurus sendiri. Ia bisa minta tolong seorang temannya di Munchen untuk mengurus berkasnya yang mengirimnya ke alamat pamannya di Istanbul. Jadi Aisha bisa tetap selesai S1 tahun depan dan selama di Turki aku bisa mendapatkan bahan tentang Syaikh Said An-Nursi. Selama di Turki juga akan menambah eratnya persaudaraan dengan keluarga besar di Turki. Setelah selesai S1 Aisha mengalah untuk kembali ke Mesir menemani aku sampai selesai S2. Sebenarnya aku mempersilakan kalau dia mau langsung ke Sorbonne, tapi dia tidak mau berpisah denganku sama sekali. Tapi setelah master aku yang harus mengalah. Aku harus mengikuti Aisha ke Sorbonne. Setelah kupikir tidak masalah S3 di Sorbonne sementara Aisha S2. Toh, Almarhum Syaikh Abdullah Darraz, Guru Besar Tafsir Universitas Al Azhar mengambil S3 nya juga di Sorbonne. Setelah selesai S3 barulah pulang dan merencanakan hidup di Indonesia, Aisha mengalah untuk tidak langsung S3. Bahkan seandainya terpaksa S3 di Indonesia tidak apa-apa. Tapi dia membuat cadangan S3 di Australia yang dekat dengan Indonesia.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.