Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

“Menurutmu, flat di pinggir Nil seperti ini nyaman apa tidak?” Aisha malah balik bertanya.

“Nyaman.”

“Aman tidak?

“Aman.”

“Kondusif tidak untuk belajar, menulis atau menerjemah?”

“Sangat kondusif.”

“Kalau begitu aku ingin tinggal di flat ini selama ada di Cairo, Sayang.”

Mendengar jawaban Aisha itu aku bagaikan disambar geledek. Kaget bukan main. Dari mana aku akan mendapatkan biaya untuk menyewa flat yang sangat mewah ini. Meskipun aku baru melihat ruang tamu, kamar utama, balkon dapur dan kamar mandi dan belum melihat kamar-kamar yang lain tapi flat ini sangat mewah. Kamar utamanya saja yang kini jadi kamar pengantin tak kalah mewahnya dengan kamar Sheraton Hotel yang pernah kulihat saat menemui seorang anggota DPR yang sedang melakukan lawatan di Cairo. Ruang tamunya lebih mewah dari ruang tamu rumah Bapak Atdikbud. Berapa sewanya perbulan? Rumah Pak Atdikbud saja yang letaknya di Dokki harga sewanya katanya tak kurang dari enam ribu pound perbulan. Dan flat mewah ini yang terletak di pinggir sungai Nil bisa tiga kali lipat mahalnya. Delapan belas ribu pound atau sekitar lima ribu dollar perbulan. Bahkan bisa lebih. Itu adalah honor menerjemah mati-matian selama dua tahun full. Tiba-tiba aku merasa sangat malang. Aku tidak mungkin bisa memenuhi permintaan Aisha. Aku sangat sedih. Air mataku meleleh.

“Kenapa kau menangis Sayang?”

Aku menjelaskan semuanya pada Aisha yang bergolak dalam hatiku. Aku sangat mencintainya. Tapi aku tidak akan mampu menuruti keinginannya.

Kujelaskan kembali siapa diriku dan sebatas mana kemampuanku. Aisha malah menangis.

“Suamiku, alangkah celakanya aku kalau sampai aku membuatmu sedih. Kalau sampai aku meminta sesuatu yang di luar kemampuanmu. Alangkah celakanya diriku. Suamiku, kita akan tinggal di sini tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun kecuali biaya listrik, gas, air, keamanan, dan kebersihan. Hanya itu yang akan kita keluarkan perbulan. Tidak lebih?”

“Maksudmu kita tinggal di sini gratis?”

Aisha menganggguk.

“Aku tak bisa kita tinggal atas belas kasih orang lain Aisha.”

“Apakah bagimu aku orang lain suamiku?”

“Jadi kau yang membayar sewanya Aisha. Tidak bisa Aisha, itu akan sangat menyiksa diriku?”

“Bukan aku yang membayarnya suamiku.”

“Lantas siapa?”

“Tak ada yang membayarnya.”

“Itu namanya gratis, dan aku tidak mau kita tinggal di rumah orang lain gratis.”

“Meskipun rumah itu rumah milik isterimu, dan isterimu adalah milikmu?”

“Apa maksudmu Aisha, aku jadi bingung.”

Aisha bangkit dari sajadah dan menarik lenganku. Dia membawaku memasuki kamar di samping kamar utama. Lihatlah isi kamar ini. Ini adalah perpustakaan dan ruang kerjamu. Aku melihat kamar dengan kitab-kitab dan buku-buku yang tersusun rapi. Kitab-kitab itu aku mengenalnya. Itu kitab-kitabku. Juga ada komputer di dekat jendela. Itu komputer bututku. Aku mendekati jendela, menyibak gordennya dan melongok. Panorama sungai Nil di waktu dhuha sangat indahnya.

“Di sinilah insya Allah kau akan menulis tesismu, menerjemah dan menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi umat. Dan aku akan menjadi pendampingmu siang malam. Suamiku, flat ini dibeli oleh ibuku dua tahun sebelum beliau meninggal. Ketika beliau diminta mengajar di Fakultas Kedokteran Cairo University selama tiga semester. Waktu itu aku baru berumur sebelas tahun. Selama enam bulan kami tinggal di rumah ini. Dan kamar yang kita jadikan perpustakaan ini adalah kamar tidurku waktu itu. Setelah kami kembali ke Jerman, rumah ini disewakan kepada home staff Kedutaan Jerman. Yang terakhir menyewa adalah Mr. Edward Minnich, Atase Perdagangan. Apartemen ini memang dihuni oleh orang-orang penting. Tepat di bawah kita adalah pejabat kedutaan Argentina. Di atas kita sutradara terkemuka Mesir. Di samping kita, flat nomor 20, pemilik Wadi Nile Travel.”

Aku baru mengerti. Dan aku tidak tahu apa yang kurasakan dalam hati. Bagaimana gegernya teman-teman mahasiswa nanti mengetahui di mana aku tinggal.

“Berapa harga sewa flat ini, Sayang?”

“Mr. Minnich menyewa dengan harga sembilan ribu dollar perbulan.”

“Ha? Sembilan ribu dollar perbulan?” Aku kaget mendengar angka nominal itu.

“Ya. Sembilan ribu dollar perbulan. Dan itu termasuk murah. Sebab pasaran harganya semestinya sepuluh ribu dollar ke atas. Ini karena kami samasama dari Jerman jadi sedikit di bawah standar.”

“Aisha, isteriku yang kucintai, harga sewa flat ini begitu tinggi. Apa tidak sebaiknya kita sewakan saja. Lalu kita menyewa flat di Nasr City yang lebih murah. Dengan seribu dollar saja, kita sudah bisa menyewa flat yang tak kalah mewahnya di kawasan Abbas El-Akkad. Hanya saja di sana kita tidak bisa melihat panorama sungai Nil. Tapi kenyamanan dan ketenangannya tak jauh berbeda. Sisanya bisa kita gunakan untuk bermacam amal di jalan Allah,” ucapku sambil memandang ke arah sungai Nil. Kurasakan Aisha memelukku dari belakang. Dagunya ia letakkan di pundakku. Tingginya memang hampir sama denganku. Aku hanya lebih tinggi tiga senti darinya.

“Sudah kuduga. Kau akan mengatakan demikian. Suamiku, seandainya bukan ibuku yang membeli flat ini dan seandainya tidak ada kenangan yang indah dalam flat ini, tentu sebelum kau sarankan aku sudah melakukannya. Aku sangat mencintai ibu dan setelah rumah di Jerman itu, flat ini adalah tempat kedua yang paling indah dalam kenanganku bersama ibu. Aku ingin kita berdua tinggal di sini selama di Cairo. Dan flat ini milik kita, kita lebih tenang daripada menyewa. Kau tahu sifat orang Mesir ‘kan? Tidak semuanya baik. Tidak semua tuan rumah baik. Aku tidak mau membuang energi dan ketenangan karena masalah sepele dengan tuan rumah yang tidak baik. Kau tahu teman paman Eqbal ada yang diusir tuan rumahnya tengah malam musim dingin, tanpa sebab yang jelas. Aku tak mau itu terjadi pada kita. Kalau kita menemukan tuan rumah yang baik alhamdulillah, kalau kebetulan menemukan tuan rumah yang suka rewel, tentu sangat tidak enak. Tapi kau adalah imamku, suamiku. Jika kau tetap memutuskan tidak tinggal di flat ini aku akan menurutimu. Kaulah yang harus memutuskan apa yang menurutmu terbaik untuk hidup kita berdua, dan untuk anak-anak kita seandainya kita punya anak. Sebagai isteri aku telah memberikan masukan. Aku yakin kau akan memutuskan yang terbaik.” Aisha lalu memelukku erat-erat.

“Nanti kita istikharah,” jawabku lirih.

Aisha lalu membawaku melihat-lihat seluruh sisi rumah. Sebuah rumah yang mewah dan sangat nyaman untuk tempat tinggal. Ruang tamu yang luas dengan shofa khusus didatangkan dari Perancis. Dua balkon. Ruang santai. Satu kamar utama dengan kamar mandi di dalamnya. Dua kamar mandi, di dekat ruang tamu dan dekat dapur. Dan tiga kamar ukuran sedang. Yang satu telah disulap Aisha menjadi ruang kerja dan perpustakaan. Kamar paling dekat dengan ruang tamu telah dipersiapkan oleh Aisha seandainya ada keluarga, atau teman yang ingin menginap. Aisha lalu kembali mengajakku ke perpustakaan dan mengajakku duduk di lantai yang dialasi karpet tebal. Ia duduk bersila di hadapanku.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.