Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Dalam keadaan sesibuk itu, ibu masih sangat perhatian pada ayah. Bagi ibu ayah adalah segalanya. Ayah adalah cintanya yang pertama dan terakhir. Ini tentu membuat ayah merasa tersanjung bukan main. Jika suatu ketika ayah mengadakan pertemuan dengan koleganya, banyak koleganya yang iri pada ayah yang memiliki seorang isteri yang cantik, masih muda, berpendidikan tinggi, dan sangat setia. Ayah sendiri yang menuturkan hal ini padaku. Ibu tidak pernah menuntut atau meminta sesuatu pada ayah. Dan semua keinginan ayah jika ibu mampu, dan selama tidak melanggar syariat ibu pasti akan memenuhinya. Bagi ibu memuliakan suami adalah dakwah paling utama bagi seorang isteri.

Hasilnya, ayah seringkali menjadi pembela kepentingan kaum muslim di Jerman. Ayah juga memberikan beasiswa untuk mahasiswa muslim yang belajar di Jerman. Banyak mahasiswa muslim yang meraih doktornya di Jerman dengan tunjangan beasiswa dari ayah. Dan mereka saat ini memiliki peran-peran signifikan di negaranya. Kalau boleh aku mengatakan, secara tidak langsung itu semua adalah atas keikhlasan hati ibu mewakafkan dirinya di jalan dakwah. Kalau seandainya ibu mau menikah dengan ayah karena materi, maka ibu sendiri tidak kekurangan materi. Ketika ibu menikah dengan ayah, perusahaan kakek di Turki telah maju pesat. Perusahaan garmennya telah mengisi pasar di seluruh penjuru Timur Tengah dan Asia Selatan. Dan ibu mampu untuk mencari suami yang lebih muda dan lebih kaya dari ayah di Turki. Tapi pertimbangan ibu pada waktu itu adalah konstribusinya di jalan dakwah. Itu yang aku kagumi dari ibu dan aku tidak akan mampu menirunya. Aku tidak mungkin mau menikah dengan seorang lelaki yang telah tiga kali kawin cerai dan umurnya 20 tahun lebih tua dariku. Ayah sangat beruntung sekali memperistri ibu.”

“Bagaimana kau tahu begitu banyak tentang ibumu, tentang pikirannya dan lain sebagainya padahal kau masih belia saat ibumu meninggal?”

“Sebagian aku tahu dari apa yang kulihat dan kudengar dari ibu. Sebagian dari paman Akbar, dari nenek, dari bibi Sarah, dari ayah, dan dari beberapa muslimah di Jerman yang menjadi teman baik ibu serta dari belasan diary ibu. Ibu orang yang paling suka mencurahkan isi hatinya, dan hari-hari yang dialaminya ke dalam diarynya.”

“Aku jadi sangat kagum pada ibumu.”

“Seandainya dia masih hidup kau akan sangat bahagia bertemu dengannya. Dia tumbuh di Turki, memperoleh pendidikan tinggi dan berkiprah di Jerman, tapi dia tetap titisan perempuan Palestina. Jiwanya jiwa pejuang sejati.”

“Kalau ayahmu, masih ada?”

“Masih.”

“Kenapa dia tidak datang?”

“Inilah yang ingin aku ceritakan. Ayahku sekarang tidak seperti ayah waktu ibu masih hidup.”

“Maksudmu?”

“Aku sedih setiap kali mengingatnya. Ayah telah rusak kembali seperti sebelum menikah dengan ibu. Ia telah meninggalkan Islam dan suka bergontaganti pasangan hidup.”

“Bagaimana hal ini bisa terjadi?”

“Mulanya adalah kecelakaan yang menewaskan ibu pada tahun 1995. Saat itu hujan lebat, ibu pulang dari mengisi seminar keislaman di pinggir kota Munchen. Dia mengendarai mobil sendiri. Ada mobil melaju kencang di belakang ibu. Mobil itu selip dan menambrak mobil ibu. Mobil ibu terbalik dan terlempar lima meter dari ruas jalan. Ibu meninggal seketika. Saat itu umurku baru empat belas tahun. Mendengar kabar itu ayah sangat terpukul. Ayah merasa kehilangan cahaya hidupnya dan kehilangan segalanya. Berbulan-bulan lamanya ayah linglung. Untung paman Akbar Ali mengetahui kondisi yang tidak baik bagiku ini. Beliau akhirnya mengambilku dan menitipkan pada sahabat karib ibu waktu di Istanbul yang tinggal di Zurich, Swiss. Juga seorang dokter. Namanya Khaleda. Aku memanggilnya Madame Khaleda. Kebetulan beliau tidak memiliki anak. Beliau mencurahkan segala kasih sayangnya padaku. Munchen-Zurich tidak jauh. Ayah sering menengok aku. Dan Madame Khaleda juga sering mengajakku menengok ayah. Aku melanjutkan pendidikan di Zurich. Sementara ayah masih belum bisa menerima kenyataan yang dialaminya sampai dua tahun setelah itu.

Lalu ada sebuah peristiwa kecil yang menggoncang iman ayah. Pada tahun 1997 ayah mengunjungi keluarga di Turki. Saat itu bibi Sarah kebetulan sedang pulang berlibur dari Mesir. Bibi Sarah memang sangat mirip dengan ibu. Ayah melihat bibi Sarah seperti melihat ibu. Saat itu umur bibi Sarah tepat 24 tahun. Dan saat ibu menikah dengan ayah tahun 1979 umurnya 25 tahun. Jadi ayah seolah melihat ibu ketika baru menjadi isterinya dulu. Seketika itu juga ayah melamar bibi Sarah untuk dijadikan isteri menggantikan ibu. Sebelumnya ayah memang tidak pernah melihat bibi Sarah. Waktu ayah sering berkunjung berkunjung ke Turki awal-awal delapan puluhan bibi Sarah masih ingusan. Dan ketika berjumpa dengan bibi tahun 1997, bibi telah menjelma menjadi gadis dewasa yang matang dan telah menyelesaikan Licencenya di Al Azhar. Wajahnya, suaranya dan lemah lembutnya sangat mirip dengan ibu. Ayah benar-benar tergila-gila pada bibi Sarah. Ayah menganggap bibi Sarah adalah reinkarnasi ibu. Saat itu ayah sudah 63 tahun, sama dengan umur baginda Nabi saat meninggal dunia.

Dengan tegas bibi menjawab tidak bisa menerima lamaran ayah. Dan itu sangat masuk akal. Bagaimana mungkin bibi mau menikah dengan seorang kakek-kakek. Jawaban bibi ternyata tidak bisa dimaklumi ayah. Ayah merasa direndahkan dan tidak dihargai. Ayah merasa orang yang terhormat di Jerman. Belum pernah ditolak wanita. Menurut ayah seharusnya bibi Sarah yang telah belajar di Al Azhar seperti ibu. Bersedia menjadi isteri ayah dan mencari suami tidak memandang umur. Tapi memandang prospek dakwah dan pengabdian seperti ibu. Bibi membantah anggapan ayah itu, pintu dakwah terbuka lebar-lebar di mana saja. Prospek dakwah tidak hanya dengan menikah dengan ayah yang telah renta. Ayah sangat terpukul dengan jawaban bibi.

Sebagai pelariannya, tanpa pikir panjang, ayah menikah dengan siapa saja yang mau menikah dengannya. Keislaman ayah ternyata belum kuat meskipun telah hidup 16 tahun bersama ibu. Lama-lama karena hidup sering berganti pasangan hidup keislamanannya luntur. Dan tahun 1999 beliau menikah dengan seorang gadis di sebuah gereja di Yunani. Itu terjadi tepatnya dua bulan setelah aku kembali ke Jerman. Madame Khalida kembali ke Turki saat aku selesai sekolah menengahku. Beliau menyarankan agar aku melanjutkan kuliah di Jerman sambil menjaga ayah yang sudah tua. Aku sangat sedih mendapati ayah yang sangat lain dengan yang kukenal dulu. Beliau tidak lagi menyayangiku seperti dulu. Beliau lebih bersikap acuh tak acuh. Aku berusaha mengembalikan ayahku yang hilang. Tapi usaha kerasku kelihatannya tidak akan membuahkan hasil. Pernikahan itu tidak berumur panjang.

Akhirnya ayah menikahi seorang janda setengah baya berambut pirang bernama Jeany. Janda ini pandai sekali mengambil hati ayah. Sekuat tenaga dia mempertahankan perkawinannya dengan ayah. Ia menginginkan harta ayah. Di luar sepengetahuan ayah Jeany memiliki teman kumpul kebo di Stuttgart. Setiap kali aku mengingatkan baik-baik hal ini ayah marah besar. Ia menuduhku hendak merusak hubungannya dengan Jeany. Ayah sudah melupakan ibu sama sekali sejak ditolak oleh bibi Sarah. Semua permintaan Jeany dituruti oleh ayah. Ayah bahkan sudah membuat wasiat di notaris jika ia mati semua aset kekayaan yang tertulis atas namanya akan menjadi hak Jeany. Ayah memang tergila-gila pada Jeany. Untungnya klinik, empat swalayan di Munchen dan Hamburg, pabrik farmasi, dan rumah mewah yang saat ini ditempati ayah telah diatasnamakan diriku oleh mendiang ibu. Jeany terus berusaha agar semua harta yang telah teratasnamakan diriku bisa jadi miliknya. Dia menggunakan cara yang tidak sehat dan sangat memusuhiku. Dalam kondisi yang sedemikian tidak nyamannya aku tetap berusaha bertahan, demi bakti seorang anak pada ayahnya. Meskipun ayah tidak lagi satu iman denganku. Aku ingin menjadi anak ibu yang shalihah yang berbakti pada ayahnya.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.