Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

“Baarakallaahu likulli waahidin minna fi shaahibihi. Semoga Allah membarakahi masing-masing di antara kita terhadap teman hidupnya.”

Lalu kukecup ubun-ubunnya sambil menangis dan mengulang doa itu berkali-kali. Aisha terus mengucapkan amin..amin..amin, dengan air mata meleleh di pipinya. Barulah kuajak Aisha untuk mengambil air wudhu dan shalat maghrib berjamaah. Setelah shalat maghrib membaca dzikir, shalat sunnah ba’diyah, membaca wirid dan doa rabithah. Menjelang Isya kuajak Aisha untuk shalat sunnah bersama sebagaimana dilakukan salafush shalih, agar pernikahan kami ini penuh barakah. Selesai shalat aku membaca doa sebagaimana diajarkan baginda nabi dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud,

“Allaahumma baarik li fi ahli, wa baarik lahum fiyya. Allaahumma ijma’ bainana ma jama’ta bikhair, wa farriq bainana idza farraqta ila khair. Ya Allah, barakahilah bagiku dalam keluargaku, dan berilah barakah mereka kepadaku. Ya Allah, kumpulkan antara kami apa yang engkau kumpulkan dengan kebaikan, dan pisahkan antara kami jika engkau memisahkan menuju kebaikan. Amin.”

Di belakangku Aisha khusyu mengucapkan amin..amin..amin, kabulkan ya Allah, kabulkan ya Allah, kabulkan ya Allah, dengan rahmat dan kasih-Mu.

Usai shalat dan berdoa aku berbalik menghadap Aisha, aku hendak mengelus kepalanya. Aisha malah mencium tanganku sambil terisak-isak. Adzan Isya berkumandang. Kupegang kepala Aisha dengan kedua tanganku. Kupandangi lekat-lekat wajahnya yang jelita. Kuseka air mata yang melelah di pipinya.

“Fahri, aku mencintaimu.” Ia mengucapkannya dengan penuh kesungguhan.

“Aku juga mencintaimu, Aisha,” jawabku sambil mengecup keningnya penuh cinta.

“Kecupan pertama yang tak akan pernah kulupa,” lirih Aisha.

“Aisha, cinta Tuhan memanggil-manggil kita. Saatnya shalat Isya. Aku ke masjid dulu untuk shalat berjamaah. Kau shalat di rumah saja ya. Dalam suasana seperti apapun shalat fardhu adalah utama.”

Dia mengangguk.

“Tapi selesai shalat langsung pulang. Jangan lama-lama di masjid. Shalat sunnahnya di rumah saja.”

 

18. Saat-saat Indah di Tepi Sungai Nil

Di masjid aku bertemu Magdi penjaga apartemen. Aku sangat senang ada polisi yang rajin berjamaah seperti dia. Aku berbincang dengannya sebentar. Dia ternyata sekolah menengahnya dulu di Ma’had Al Azhar, Damanhur. Dan dia bukan satpam biasa, tapi polisi khusus yang ditugaskan untuk menjaga keamanan beberapa diplomat yang tinggal di apartemen itu. Ketika kukenalkan diriku dia sangat senang sekali. Lalu aku dikenalkan pada imam masjid yang bernama Syaikh Abdurrahim Hasuna. Beliau senang sekali berkenalan denganku. Beliau bahkan mempersilakan diriku untuk melihat perpustakaan pribadinya jika aku memerlukannya. Aku senang dengan tawarannya.

Selesai shalat berjamaah dan berdzikir secukupnya aku langsung pulang. Shalat sunnah di rumah saja. Aku tak ingin Aisha menunggu lama. Usai shalat sunnah Aisha telah siap dengan penampilan yang membuat seorang suami senang. Penuh pesona. Parfumnya segar. Ia benar-benar mengerti hukum memakai parfum. Selama memakai gaun pengantin di acara walimah, ia sama sekali tidak memakai parfum. Justru ketika di rumah berduaan denganku ia memakainya.

Aisha mengajakku ke balkon. Ia telah mempersiapkan segalanya. Isteri yang baik. Lampu balkon ia matikan. Kaca riben menutup balkon rapat.

“Ini kaca khusus, aman dari pandangan luar tapi tidak mengurangi jernihnya kita memandang keluar, bahkan menambah kejernihan pandangan di malam hari. Kalau mau kita juga bisa membuka kaca ini.” Kata Aisha sambil seluruh menyibak sebagian gorden yang masih menutupi balkon. Dan tampaklah panorama sungai Nil malam hari.

Posisi balkon rumah kami sangat strategis. Tepat menghadap ke sungai Nil Dari ketinggian lantai tujuh kami bisa melihat kerlap-kerlip lampu gedung-gedung nun jauh di sana. Kami bisa melihat indahnya riak sungai Nil tertimpa cahaya lampu kota. Gemerlap lampu-lampu hias dari perahu-perahu kecil yang bergerak pelan. Mobil-mobil yang seperti semut di sepanjang kornes Nil sana. Pesona Cairo Plaza Tower yang menjulang megah. Juga Imbaba Brige, salah satu jembatan terpenting yang melintas di atas sungai Nil.

Apartemen di mana kami berada memang terletak di ujung utara pulau di tengah sungai Nil. Inilah salah satu keindahan kota Cairo. Kota Cairo dibelah oleh sungai Nil yang mengalir dari selatan ke utara. Dan di tengah kota Cairo sungai Nil ini terbelah menjadi dua, di mulai dari selatan di dekat Tahrir dan kembali menyatu di dekat Imbaba. Daratan mirip pulau Samosir berbentuk pisang yang berada ditengah belahan sungai Nil ini terbagi dua kawasan, yang selatan disebut El-Gezira dan yang utara di sebut El-Zamalik. Di daratan—yang aku lebih suka menyebut pulau di tengah sungai Nil—ini berdiri bangunan-bangunan penting. Di ujung selatan berdiri hotel mewah Gezira Sheraton dan El-Burg. Juga Cairo Opera House, Cairo Tower, Egyptian Civilization Musium, National Sporting Club dan Nile Aquarium and Grotto ada di pulau ini. Sekali lagi aku lebih senang menyebutnya pulau. Di dekat 26 July Bridge yang melintas di atas pulau ini berdiri Cairo Marriott Hotel yang mewah. Beberapa kedutaan negara asing seperti Jerman, Belanda, Swedia, Albania, Argentina, Pakistan dan lain sebagainya ada di pulau ini. Di ujung utara, tak terlalu jauh dari aparteman kami berdiri President Hotel. Memang sangat nyaman menghabiskan malam di tempat yang nyaman dan romantis seperti ini.

Di balkon, ada kursi malas khas Mesir yang sangat nyaman untuk bermesraan berdua. Orang-orang menyebutnya kursi Cleopatra. Ada dua bantal di atasnya. Di sampingnya ada meja kayu kecil di mana Aisha meletakkan dua gelas susu. Mula-mula kami berdua duduk biasa. Kami masih canggung. Kami salah tingkah. Kami tak tahu dari mana kami mulai. Tak sepatah kata pun keluar menjadi perantara. Tak terasa keringat dingin malah mulai keluar. Ada rasa gelisah yang entah menyusup dari mana. Mungkin Aisha mengalami hal yang sama. Tak mungkin dia yang memulai.

Aku mencoba menghilangkan kegelisahan dan kecanggunganku dengan mengambil minuman yang dibuat Aisha. Kucicipi sedikit.

“Kenapa susunya rasanya asin seperti diberi garam ya?” Pelanku pada Aisha.

“Be..benarkah?” Aisha sedikit kaget.

“Iya. Coba kau rasakan!”

Aisha mengambil gelas dari tanganku dan merasakannya.

“Ah, manis. Tidak asin,” katanya.

Gelas itu kembali kuminta dan kurasakan.

“Sayang, asin begini kok dibilang manis. Mungkin bukan gula yang kau masukkan tapi garam. Coba kau rasakan lagi!” Aisha kembali mencicipi. Dia memandangku dengan sedikit heran.

“Ini manis Fahri, tidak asin!”

“Aishaku sayang ini asin! Cobalah julurkan lidahmu dan masukkan ke dalam minuman itu. Lalu rasakanlah dengan seksama. Pasti kau akan merasakan asinnya. Kau terlalu sedikit mencicipinya. Lidahmu mungkin kurang peka.”

Aisha menuruti kata-kataku. Ia menjulurkan lidahnya ke dalam gelas. Sesaat lidahnya seperti mengaduk-aduk air susu di dalam gelas itu.

“Tidak Fahri, tidak asin! Lidahmu yang mati rasa, bukan lidahku!” Suaranya terdengar lebih tegas.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.